Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
Chapter 9


__ADS_3

Sebuah truk yang biasa digunakan untuk membawa barang terparkir di sebuah toko kecil. Meskipun kecil , toko tersebut terlihat elegan dengan dinding kaca hingga siapa saja yang berada di luar dapat melihat ke dalam. Meja dan kursi tertata rapi dengan model simpel namun cantik.


Ketika memasuki dapur, ada beberapa oven dan alat membuat kue dan roti. Di lantai dua terdapat 2 ruangan yang akan digunakan sebagai kantor dan tempat istirahat.


“Pak semua barang yang bertuliskan angka 2 langsung bawa saja ke ruangan atas.” Lena memerintahkan orang-orang yang membantu ia pindahan.


Orang-orang tersebut langsung menjalankan tugas mereka tanpa bertanya-tanya.


“Wooowwww.... Selera kamu bagus juga Len.” Rani memuji tempat Bakery Lena.


“Apa kita berdua harus pindah kesini juga?” tanya Lisa.


“Ya, itu ide yang bagus. Sepertinya aku merasa betah tinggal disini.” Rani mulai mengambil tempat duduk.


“Lalu , bagaimana dengan kerjaan kalian berdua? Apa tidak takut dimarahi kedua orang tua kalian?” Tanya Lena setelah menjitak satu persatu dahi sahabatnya.


Kedua sahabatnya mengeluh kesakitan, dan mengusap dahi mereka masing-masing. Mereka memohon pada Lena untuk membolehkan keduanya tetap tinggal selama seminggu bersamanya.


Awalnya Lena tidak menerima permohonan mereka karena ia tidak ingin kedua sahabatnya bolos bekerja, namun karena kedua sahabatnya selalu memohon, maka Lena menganggukkan kepalanya tanda setuju. Rani dan Lisa yang mendapatkannya pun bersorak kegirangan dan memeluk Lena.


“Mbak, semua nya sudah kami pindahkan. Ini bill nya mohon di tandatangani.” Ucap seorang pekerja tadi.


Lena segera mengambil dompet dan melunasi semua biaya sewa jasa tersebut, tak lupa ia tanda menandatangani tanda lunas. “Terima kasih ya pak.”


Para pekerja tersebut menganggukkan kepala, mereka segera berbalik kembali ke truk dan meninggalkan toko sekaligus rumah bagi Lena. Ketiga wanita tersebut segera naik ke lantai dua dan merapikan ruang kerja serta ruang tidur mereka.


Beberapa jam kemudian mereka selesai merapikan lantai atas, mereka turun ke bawah untuk makan malam yang sudah dipesan oleh Lena. Selesai makan mereka bergegas tidur, karena besok pagi mereka akan membeli bahan-bahan membuat kue dan roti.


Di sebuah club malam, Sarah berpakaian terbuka dan seksi sedang duduk sendiri meminum minumannya. Ia terlihat sudah mabuk berat namun itu tak menghalangi nya untuk memesan minuman lagi.


“Sarah, sebaiknya kamu pulang. Kamu terlihat cukup mabuk sekarang.” Ucap Danu pemilik sekaligus bar tender di club tersebut.


“Aku belum mabuk Dan.”


“Aku pikir Farel akan marah jika ia mengetahui kamu sedang minum dalam keadaan hamil.”

__ADS_1


“Farel tidak akan marah, ia tidak memperhatikanku. Dia masih mencintai wanita sialan itu.”


“Maksud kamu Elena?” Danu pikir bisa mencari informasi dari Sarah.


“Jangan sebut namanya dihadapanku! Aku membencinya.” Ucap Sarah geram.


“Sarah apakah benar anak yang kamu kandung adalah anak Farel?” Danu mencoba bertanya.


“Hahahaha.....Tentu saja bukan, aku tidak tahu siapa ayah dari anak ini, aku terlalu banyak tidur dengan laki-laki.” Kesadaran Sarah mulai hilang akibat pengaruh alkohol.


Danu tersenyum penuh kemenangan, ia mematikan recorder nya. Farel pasti akan sangat murka pada Sarah. Ia menggelengkan kepalanya dan berpikir bisa-bisanya sahabatnya tertipu oleh wanita ular ini.


Tak lama kemudian Farel menghampiri mereka dan membawa Sarah kembali ke rumah. Sebelumnya Danu sudah mengirimkan pesan pada Farel bahwa Sarah berada di club miliknya.


“Sarah kamu mabuk, ayo kita pulang.” Farel membantu Sarah berdiri.


“Farel, kamu datang untukku? Aku masih ingin disini.”


“Ingat Sarah, kamu sedang hamil. Alkohol tidak baik untuk ibu hamil.” Farel kembali menarik Sarah.


Farel mengangkat Sarah menuju keluar club tersebut, sebelumnya ia berpamitan pada Danu. Ia segera memasukkan Sarah ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah. Di tengah perjalanan Farel melihat tingkah laku Sarah yang aneh.


“Kamu kenapa Sar?” Farel merasa khawatir.


“Perut... Perutku sakit Rel.” Ucap Sarah dengan dahi mengeluarkan banyak keringat.


“Aaggghhhh.... Sakit Rel.” Teriak Sarah memegang perutnya.


“Kita ke rumah sakit sekarang.” Tanpa menunggu persetujuan Sarah, Farel memutar balik kendaraannya dan menuju rumah sakit terdekat.


Di sepanjang perjalanan, ia berdoa semoga anaknya tidak apa-apa. Ia pun menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai. Tak menunggu waktu lama, Farel membawa Sarah menuju ruang pemeriksaan.


Dokter segera datang dan menangani Sarah. Selama pemeriksaan, kedua orang tua Farel datang setelah dihubungi.


“Farel, ada apa dengan Sarah? “ Ibu Farel duduk di sampingnya.

__ADS_1


“Aku tidak tahu ibu, tiba-tiba saja perut Sarah sakit.” Farel menjawab dengan lesu. Tak lupa ia menceritakan di mana Sarah berada sebelum di rumah sakit.


“Ayah yakin Sarah dan kandungannya akan baik-baik saja, Farel.” Ayah memegang pundaknya.


Tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan dokter yang tadi menangani Sarah. Semua orang yang berada di situ langsung menuju dokter tersebut.


“Dok bagaimana keadaan Sarah dan kandungannya?” Farel bertanya dan semua yang ada di situ tidak sabar mendengar jawaban dari dokter.


“Ibu Sarah baik-baik saja, sebentar lagi ia sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap.” Dokter tersebut menjawab dengan tegas.


“Namun maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang dikandung ibu Sarah. Ibu Sarah keguguran akibat alkohol yang ia minum.” Dokter tersebut menambahkan sebelum kembali ke ruangan tadi.


Ibunya menangis sambil memeluk ayahnya. Farel terduduk ditempat-Nya, ia merasa tidak bisa melindungi anaknya. Tak terasa air matanya pun mengalir.


“Farel, kamu mau ke mana?!” Ibunya meneriakinya.


Namun Farel tak menghiraukan ibunya, ia tetap pergi dari tempat itu. Hatinya terluka, kenapa Sarah tidak bisa menjaga bayinya. Ia melajukan mobilnya menuju club sahabatnya sekaligus detektif andalan Farel.


“Beri aku minuman terbaikmu Dan.” Farel memesan minuman setelah berhadapan di meja bartender tersebut.


“Ini, dan apa yang kamu lakukan disini, bukankah kamu tadi pulang bersama Sarah?" Danu memberikan minuman itu kepada Farel.


“Sarah sekarang di rumah sakit, dia keguguran.” Farel meneguk minumannya hingga habis.


“Wowww... Santai dude.” Danu menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya seperti itu.


“Buatkan lagi minumannya.”


“Ini yang terakhir untuk kamu. Segeralah pulang ke rumah dan beristirahat. Dua hari lagi aku akan mengirimkan informasi tentang Elena.” Danu memberikan minuman itu lagi kepada Farel yang langsung meminumnya.


Farel segera beranjak dari club tersebut dan pulang ke rumahnya. Ia tidak ingin melihat Sarah yang sudah membunuh anaknya itu.


Sementara di rumah sakit, Sarah sedang menangis dipelukkan ibu Farel. Ia merasa sudah tidak ada lagi pengikat hubungan antara dia dan Farel.


Kapan pun Farel bisa menceraikan Sarah. Sarah tahu Farel menikahinya karena anak yang dia kandung, dan sekarang anak itu sudah tidak ada lagi.

__ADS_1


Seandainnya saja ia mau mendengarkan Danu, ia tidak akan kehilangan Farel. Namun sekarang nasi sudah menjadi bubur, Sarah hanya bisa pasrah pada takdirnya yang akan datang.


__ADS_2