
Hari ini terlihat cerah, matahari bersinar terang, burung-burung terdengar berkicauan. Satu bulan adalah hal yang cukup buat Lena beristirahat setelah kelulusannya.
Hari ini ia akan memeriksakan kandungannya untuk pertama kali ke dokter kandungan. Perutnya mulai terlihat berisi meskipun masih kecil, tetap saja jika orang lain meneliti dengan baik, mereka akan tahu bahwa Lena sedang mengandung. Perkiraan kandungan Lena sudah memasuki bulan ke-4.
“Len, apa kamu sudah memikirkan kembali keinginanmu itu?” Tanya Lisa sambil mengunyah sarapan yang telah dibuat oleh Rani.
“Iya Len, apa itu keputusan tepat?” Rani juga bertanya.
“Iya, menurut aku ini keputusan yang tepat, aku tidak ingin kak Farel mengetahui kandunganku yang semakin membesar.” Lena menjawab sambil menganggukkan kepalanya dan mengelus perutnya yang sedikit besar.
“Kamu tidak ingin bersama kami lagi? Apa kamu ingin meninggalkan kami? Apakah kamu ingin membuat kami khawatir disini?” Rani kembali bertanya sambil mengunyah sarapannya dan menatap Lena.
“Ihhh... Jorok banget sih kamu Rani.” Lisa menatap jijik Rani yang mengeluarkan makanannya ketika berbicara.
“Hehehehe.... Maaf ya.” Rani tertawa kecil sambil mengacungkan dua jarinya.
“Pelan-pelan makannya. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkan kalian ataupun membuat kalian khawatir."
Aku hanya ingin menghindari kak Farel saja. Lagian kalian bisa ke toko kue milikku nanti jika kangen padaku kan? Dan jangan khawatirkan aku, aku akan selalu memberikan kabar pada kalian. Aku mohon?” Lena menjelaskannya dan memohon dengan mata yang membuat kedua temannya tidak bisa menolaknya.
“Janji ya, bakalan selalu beri kabar pada kami berdua.” Ucap Lisa yang diangguk oleh Lena tanda setuju.
Lena memilih meninggalkan kota yang penuh kenangan ini, karena ia tidak bisa melihat Farel dan Sarah bersama-sama ketika ia bertamu ke rumah orang tua Rani.
Ia akan membuka usaha toko kue miliknya sendiri lusa di kota lain. Sebulan yang lalu ia sudah mencari dan mendapatkan tempat yang cocok untuk membuka usahanya tersebut.
Tempat yang strategis, karena merupakan tempat nongkrong anak-anak remaja juga berada dekat dengan kampus dan sekolah menengah atas. Ia sengaja mencari tempat yang dekat dengan sekolah, karena target penjualannya adalah untuk anak-anak remaja.
Meskipun awalnya kedua sahabatnya tidak memberikan izin padanya, tapi akhirnya mereka menyetujuinya. Kedua sahabatnya tahu bahwa itu adalah cita-cita Lena untuk membuka toko kue sendiri.
“Len, nanti aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit, tapi tidak masalahkan jika aku tidak menemanimu ke dokter kandungan? Hari ini ada rapat dadakan.” Lisa berkata dengan nada menyesal.
“Tidak masalah Lis, aku bisa pergi sendirian. Semangat ya.” Lena memberi semangat pada sahabatnya tersebut.
Lisa sudah sebulan ini bekerja di kantor ayahnya. Ia mulai belajar untuk meneruskan perusahaan ayahnya. Sedangkan Rani juga sama seperti Lisa bekerja di kantor ayahnya. Setelah lulus kuliah kedua sahabatnya itu langsung bekerja di perusahaan ayah masing-masing.
Mereka segera melanjutkan sarapan yang tertunda karena perbincangan mereka. Setelah selesai makan mereka segera bergegas menuju ke kantor masing-masing. Lisa segera mengantarkan Lena menuju rumah sakit tempat memeriksakan kandungannya.
“Hati-hati dijalan ya.” Lena melambaikan tangannya ketika ia sudah sampai dan turun dari mobil.
__ADS_1
“Iya, kamu juga ya Len.” Lisa membalas lambaian tangan Lena dan melajukan mobilnya menuju kantornya.
Lena memasuki rumah sakit dan menuju ruangan tempat pemeriksaan kandungan setelah bertanya pada suster yang ada di situ. Ketika ia sampai, terlihat ada beberapa ibu-ibu yang ingin mengecek kandungan juga.
Lena pun duduk di kursi kosong samping seorang ibu muda. Sepertinya kandungan ibu tersebut sudah memasuki bulan 9, terlihat dari perutnya yang besar.
“Mau periksa kandungan juga ya? Tanya ibu itu ramah.
“Iya Bu.” Lena tersenyum.
“sudah berapa bulan Dek?” tanya Ibu itu lagi.
“Sudah 4 bulan Bu, kalau Ibu sudah berapa bulan? Tanya lena penasaran..
“Sudah 9 bulan, tinggal menunggu hari saja Dek.”
Mereka pun berbincang-bincang tentang topik kehamilan, sampai akhirnya nama Ibu itu dipanggil untuk pemeriksaan. Tak lama kemudian Ibu itu keluar dengan senyum yang merekah, ia pun segera berpamitan pada Lena.
Sekitar 30 menit kemudian, nama Lena dipanggil. Ia memasuki ruangan tersebut, terlihat ruangannya yang bercat putih dan tertata rapi. Di sana sudah ada seorang dokter perempuan yang menunggunya.
Setelah berbincang-bincang sedikit, dokter tersebut mempersilahkan Lena untuk tiduran di tempat yang tersedia. Ia mulai menyingkap sedikit baju Lena hingga terlihat perut yang mulai membesar.
“Wah, mereka semuanya sehat Mba.”
“Mereka? Maksud dokter?” Lena merasa kebingungan tentang pernyataan dokter tersebut.
“Lihatlah, kamu mengandung 3 bayi sekaligus disini.” Dokter tersebut pun menunjuk layar monitor tersebut.
Lena tak bisa menyembunyikan kekagetannya, tiba-tiba air matanya jatuh karena ia merasa bahagia. Lena tak menyangka bahwa ia mengandung 3 bayi kembar sekaligus. Setelah pemeriksaan, ia segera keluar dan berterima kasih pada dokter tersebut.
Di luar ruangan, ia tetap tersenyum bahagia sambil memandang kertas hasil USG nya yang telah diberikan dokter tersebut. Ia ingin segera sampai di apartemen dan memberikan kejutan pada kedua sahabatnya tersebut.
“Lena.” panggil seseorang yang merasa aneh pada Lena.
“ Hai kak Farel, mbak Sarah.” Ucap Lena yang terlihat kaget. Ia tidak menyangka akan bertemu Farel di tempat ini.
“Kamu hamil?” tanya Sarah to the point.
Farel yang mendengar pertanyaan Sarah langsung meneliti tubuh Lena. Lena yang dilihat seperti itu pun tidak tahan dan langsung berpamitan pada mereka berdua.
__ADS_1
“Tunggu,” Farel mencekal tangan Lena.
“Siapa yang menghamilimu Lena?!”
“Lepaskan Kak, sakit.” Ucap Lena mencoba melepaskan genggaman Farel yang semakin kuat.
“Jawab aku, Lena! Ucap Farel meninggikan suaranya.
“Bukan urusan kamu Farel.” Lena langsung menarik tangannya ketika Farel melemahkan pegangannya karena kaget dengan pernyataan Lena.
Lena segera pergi dari tempat itu, ia tidak ingin menangis di depan pasangan tersebut. Ketika sampai di tikungan, ia berbelok dan terdiam. Ia bersandar pada tembok dan mulai menangis sendirian.
Ia merasa iri dan bersalah telah membentak Farel. Ia hanya takut jika Farel mengetahui siapa yang menghamilinya, Farel akan mengambil anaknya setelah lahir.
Tanpa sepengetahuan Lena, Sarah mengikutinya dan berhenti tepat di depan Lena. Dengan angkuhnya ia berdiri dan melihat Lena dari atas ke bawah seperti orang yang sedang meremehkan.
“Wah.... Ternyata wanita sepertimu nakal juga ya?” Ucap seseorang dibalik tubuhnya.
“Apa maksud Mbak?”
“kamu bermain dengan pria mana? Apakah ia kaya raya?”
“Itu bukan urusan Mbak”
“Well... Memang bukan urusanku. Tapi kamu harus ingat bahwa Farel sudah menjadi milikku. Jangan pernah membawa janin ini untuk mendapatkan Farel.” Sarah menarik rambut Lena dan menunjuk perut Lena.
Lena menepis tangan Sarah dari perutnya dan mencoba melepaskan cekalan tangan dari kepalanya.” Jangan pernah menyentuh anakku!”
“Mbak tenang saja, aku tidak berniat mengambil laki-laki yang sudah menjadi bekas perempuan licik sepertimu.” Lena menghempaskan tangan Sarah yang berada dikepalanya dengan kasar.
“Dan satu hal lagi, berhentilah bermain di belakang Farel. Lena bergegas pergi dari tempat itu. Mereka berdua tidak tahu jika sebenarnya Farel berada di situ dan mendengarkan percakapan mereka.
“Maafkan aku Kak, maafkan mommy sayang, sudah membentak daddy kalian.” Ucap Lena mengelus perutnya.
“Harusnya akulah yang ada di posisi mbak Sarah.” Ucap Lena dalam hatinya.
Ia segera mengusap air matanya, bangun keluar rumah sakit dan langsung memesan taksi menuju apartemennya dan kedua sahabatnya. Sesampainya di apartemen, ia segera ke kamar dan berdiam diri.
Kini perasaan takut muncul salam dirinya. Ia takut jika Sarah akan bertindak lebih pada Lena ketika mengetahui bahwa ia hamil anak Farel. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada ketiga calon bayinya tersebut. Ia mulai menangis kembali mengingat kejadian tadi di rumah sakit, hingga akhirnya ia terlelap.
__ADS_1