Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
Chapter 8


__ADS_3

Sebuah mobil melaju dan berhenti tepat di depan kantor besar. Seseorang memakai jas rapi turun dan masuk ke sebuah kantor cabang milik ayahnya dengan tergesa-gesa. Ia menghiraukan seluruh karyawan yang memberikan hormat padanya.


Semua orang yang ada di sana kebingungan melihat salah satu anak pemilik perusahaan yang terburu-buru menuju ruang CEO. Tanpa mengetuk pintu, ia segera membuka dan masuk untuk bertemu CEO tersebut.


Tampak terlihat seorang wanita berambut panjang, memakai pakaian kerja yang pas ditubuhnya sedang menatap laptopnya dengan serius. Dahinya yang mengerut menandakan bahwa ia pusing memikirkan sesuatu.


“Ada apa kakak datang kesini?” Ucap Rani terkejut dengan kedatangan kakaknya. Tidak biasanya kakaknya datang di jam kerja seperti ini.


“Ada yang ingin aku tanyakan Rani.” Farel segera duduk di sofa tamu.


Rani segera menghentikan pekerjaannya dan duduk berhadapan dengan kakaknya.” Apa yang mau kakak tanya?”


“Siapa ayah dari janin yang dikandung Lena?” Tanya Farel tho the point.


Rani membelalakkan matanya karena terkejut akan pertanyaan saudaranya itu. Farel tahu Rani menyimpan rahasia dari nya, tampak terlihat sikap Rani yang terkejut dan mulai mencoba bersikap biasa kembali.


“Aku tidak mengerti maksud kakak.” Rani berkata sedikit gugup.


“Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu.” Farel menatap lawan bicaranya serius.


“Aku tidak menyembunyikan sesuatu.” Rani berkilah.


Farel terus menatap dingin adiknya tersebut. Rani yang tidak tahan akan tatapan kakaknya, membuka suaranya. Tatapan mata kakaknya seolah-olah pisau yang siap menancapkan ke jantung Rani dalam hitungan detik.


“Ok, lalu apa hubungannya denganmu kak?” Rani mencoba membalas tatapan kakaknya.


“Apakah ia anakku!?”


“Tentu saja bukan, memangnya Lena hanya tidur denganmu saja! Ucap Rani tegas sambil meminta maaf dalam hatinya pada Lena karena sudah mengatakan hal yang tidak benar.


“Lalu kalau bukan aku, siapa yang bertanggung jawab pada janin itu!” Farel mulai meninggikan suaranya.


“Itu bukan urusan kakak!”


“Maaf sebaiknya kakak pergi, aku sedang sibuk. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini.” Ucap Rani sambil berdiri dan kembali ke kursi kerjanya.


Farel segera keluar dari ruangan tersebut, ia merasa marah karena tidak mendapat jawaban yang ia inginkan. Ia sempat berpikir bahwa janin itu adalah anaknya. Pintu pun tertutup mengeluarkan suara keras dan mengagetkan Rani.

__ADS_1


Setelah kepergian Farel, Rani mencoba menghubungi Lena. Ia harus meminta penjelasan kenapa kakaknya bisa mengetahui jika Lena hamil. Tak lama kemudian, seseorang mengangkat telepon dari Rani.


Belum sempat Rani mengutarakan maksudnya, seseorang yang di seberang sana terdengar sedang menangis. Rani yang mendengar itu langsung menutup teleponnya dan mengemasi barang-barangnya. Ia akan segera menemui Lena di apartemen.


Tak lupa ia juga memberikan kabar dan menceritakan kejadian di kantornya tersebut pada Lisa, dan mengajak Lisa untuk menemui Lena. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada sahabat dan keponakannya.


Tiga puluh menit kemudian, mereka berdua sampai di apartemen. Keduanya bergegas masuk dan mencari Lena. Ketika berada di kamar Lena, kedua sahabat tersebut langsung memeluk Lena yang menangis di atas tempat tidur.


“Aku takut.” Tubuh Lena bergetar.


“Jangan takut, kami berdua akan menjagamu.” Ucap Lisa mencoba menenangkan.


“Aku tidak akan membiarkan kak Farel menyentuhmu dan keponakan kami, aku janji Lena.” Rani menghapus air mata Lena.


“Bagai.........bagaimana jika ia mengetahuinya?”


“Bagaimana jika ia mengambil mereka dariku?”


“Bagaimana jika Sarah mengancamku lagi?”


“Ssttttttt...... Aku yakin kakakku belum mengetahuinya Len.”


Seketika itu juga Lena terdiam sambil memegang pipinya yang memerah, sedangkan Rani langsung melototkan matanya pada Lisa.


“Maafkan aku, Lena.” Ucap Lisa menyesal.


“Aku hanya ingin menyadarkanmu. Dengar ya Len, kamu tidak sendirian disini, ada kami berdua yang akan bersamamu.” Ucap Lisa dengan lembut membuat Lena mulai tenang.


“Iya Len, kami akan membantumu sebisa kami. Ucap Rani meyakinkan.


“Wait.... Tadi kamu bilang mereka? Maksud kamu? “ Lisa bertanya karena penasaran.


Lena tersenyum bahagia dan mengambil hasil USG nya.


“Lihatlah.” Lena memberikan kepada kedua sahabatnya.


Rani dan Lisa melihat kertas tersebut, tetapi mereka berdua tidak mengerti, mereka hanya melihat gambar abstrak hitam dan putih di sana. Lalu Lena mengambil kembali kertas tersebut dan menjelaskan arti dari gambar tersebut.

__ADS_1


“Apa?” tanya kedua sahabatnya bersamaan. Mulut mereka terbuka lebar karena terkejut.


“Jadi, maksud kamu kami tidak hanya mempunyai satu keponakan tapi tiga sekaligus? Rani bertanya tak percaya membuat Lena mengangguk dan tersenyum.


“Itu menakjubkan Lena, wah...aku akan punya tiga keponakan yang lucu.” Lisa bahagia dan memeluk Lena.


“Mamah juga pasti senang akan mendapatkan tiga cucu sekaligus.” Rani juga memeluk Lena.


“Len, aku penasaran kenapa kak Farel tahu jika kamu hamil? Jika kamu tidak keberatan bisakah kamu menceritakannya?” Tanya Rani hati-hati, takut Lena bersikap seperti tadi.


“Sure.” Lena tersenyum dan mulai mencari posisi duduk yang enak.


Lena menceritakan apa pun yang terjadi di rumah sakit ketika bertemu dengan suami istri tersebut, termasuk ancaman dan perlakuan Sarah padanya.


Rani juga menceritakan tentang perdebatan yang ia lakukan pada Farel. Mereka bertiga lega karena Farel masih belum mengetahuinya.


“Kurang ajar, akan aku berikan pelajaran kecil pada nenek lampir itu.” Rani tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu. Harusnya bukan nenek lampir yang berada di samping kakaknya tapi Lena lah yang lebih pantas.


“Ya, aku mendukungmu seratus persen Ran, kalau kamu kekurangan orang aku siap membantu memberikan pelajaran padanya.” Lisa mengepalkan tangannya lalu memberikan kedua jempolnya pada Rani.


Lalu mereka bertiga tertawa bersama-sama, seakan-akan yang dilakukan Lisa adalah hal lucu.


Sementara Farel merasa ada sesuatu yang dirahasiakan oleh adik dan kedua sahabatnya itu, terutama Lena. Ia tahu ketika Lena berbohong, ia tidak akan melihat mata Farel saat berbicara. Ia mengambil handphone di dalam sakunya lalu menelepon seseorang.


“Halo Farel, tidak biasanya kamu meneleponku?” Ucap seseorang di seberang telepon.


“Aku ada tugas buat kamu, Danu.”


“Tidak bisakah kamu mentraktirku dahulu?”


“Aku ingin kamu mencari tahu tentang Elena Hadianti, beri aku informasi apa saja yang ia lakukan. Aku ingin tahu siapa ayah dari janinnya.” Tanpa menjawab pertanyaan temannya.


“Siapa Elena? Dan kenapa kamu ingin tahu tentang janinnya? Apa kamu menghamilinya?”


“Jangan banyak bertanya, kerjakan saja tugasmu dengan baik.” Ucap Farel dingin.


“Dan kirim informasi yang kamu dapatkan ke emailku segera.” Farel berkata lagi.

__ADS_1


“Siap laksanakan” ucap Danu menghela napas. Temannya ini selalu seperti itu, dingin dan keras kepala.


Farel menutup teleponnya setelah berbicara pada Danu, detektif sekaligus sahabatnya. Jika janin itu adalah anaknya dan Lena, ia sangat bahagia karena Lena tidak menggugurkannya. Tanpa disadari ia tersenyum memikirkannya.


__ADS_2