Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
KEPERGIAN DIRGA.


__ADS_3

Dinda mengikuti mereka dengan penuh tanda tanya dan hati yang was- was. Dia bingung sebenarnya mereka mau membawa dirinya kemana. Tak lama merekapun sampai di sebuah rumah sakit. hati Dinda semakin cemas ketika mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam halaman rumah sakit.


"Don ada apa ini..."tanya Dinda ketika Doni memarkirkan Mobilnya di parkiran rumah sakit kemudian mengajak Dinda masuk. Doni mengajak Dinda ke sebuah ruangan yang sudah banyak polisi. Dinda bagai tak punya tenaga setelah merasakan firasat apa yang terjadi.


"Don mas Dirga nggak apa-apa kan..."


tanya Dinda hampir menangis.


"Kak ayo masuk....." jawab Doni sambil membuka ruangan.


Dinda merasa kakinya tak bisa digerakkan ketika melihat tubuh yang terbujur di atas matras rumah sakit.


"Mas...." Dinda tertegun dan air mata tak dapat lagi terbendung mengalir begitu deras dari mata Dinda. Sedetik kemudian Dinda telah lari menghampiri tubuh yang terbalut perban dari dada sampai perut. Dinda memegang rtangan Dirga sambil menangis.


"Mas....apa yang terjadi mas..."


Ketika mendengar suara Dinda dan pelukan di tubuhnya Dirga membuka mata dengan perlahan.


"Yang...ma..ma..maaaf m..as ..ya..." suara Dirga tersendat.


"Jangan bicara dulu mas..." ucap Dinda sambil membelai lembut pipi Dirga.

__ADS_1


"Mas....ng..nggak bis..sa menemani mu lagi...maa..af kan.,mas ya..." Dirga berhenti bicara sejenak dan memandang Dinda sambil tersenyum. Dinda sadar sang suami tidak akan hidup lama lagi. Dia berusaha untuk tegar. mungkin takdir mereka harus berpisah. Ini sudah takdir dari Allah bahwa sang suami harus menghadap sang khaliq . Dindapun harus menguatkan diri. Walaupun air mata terus menetes Dinda memegang tangan sang suami sambil tersenyum.


"Baiklah mas adek iklas mas pergi ..." ucap Dinda sambil tersenyum dia berusaha dengan sekuat tenaga menahan air mata yang terus mengalir.


"To..long ..ja..ga anak ki..ta.. a..ku men..


cintaimu..." ucap Dirga terbatah- batah.


Banyak orang menangis melihat ketabahan Dinda.


"Iya mas...Dinda juga sangat mencintai mas..." hibur Dinda. Tiba- tiba nafas Dirga tersengal - sengal.


"Dokter....dokter......!" teriak Dinda panik.


"As..ha.duallah...illla...ha..illlallah....waaa.as...hadduanna..muhamad..daraa...sululllahh....." perlahan kepala Dirga terkulai.


Dinda yang melihatnya menjerit keras.


"Maaaaasss......!" akhirnya Dinda terkulai tak sadarkan Diri.berbarengan dengan Dinda jatuh keluarga Dirga datang. Mama Dirga langsung pingsan di ambang pintu sedang Tia lari menubruk jasad Dirga. Mereka mengangkat tubuh Dinda dan bu Susi untuk di baringkan di bed rumah sakit.Tak lama keluarga Dindapun datang bersama si keci dalam gendongan neneknya. Mereka hanya bisa menangis melihat menantu yang mereka sayangi pergi meninggalkan mereka selamanya. Gugur sudah satu putra bangsa dalam membela negara dari tangan para *******. Yach...Dirga tertembak ketika mengepung sebuah rumah yang di jadikan markas *******.


****

__ADS_1


Keesokan paginya setelah mengurus administrasi rumah sakit , jasad Dirga sudah bisa di pulangkan dari rumah sakit . setelah di semayamkan beberapa jam di rumah duka akhirnya jasad Dirga di mandikan dan di kafani. Setelah di solatkan Para pelayat sudah bersiap- siap mengantarkan Dirga ke tempat peristirahatan terakhir.


"Ndok...yang tabah sayang...ayo kita mengantarkan suamimu ketempat peristirahatan terakhirnya.." hibur sang Bunda setelah Dinda sadar dari pingsannya.


"Ingat nak...masih ada Exsal yang membutuhkan mu....". nasehat sang Ayah. Dindapun tersadar masih ada putra terkasih yang masih membutuhkan dirinya.


"Baik Ayah...." Dindapun berusaha berdiri dengan tegar. Dengan di papah Ayah dan Sela Dinda menghantarkan jasad sang suami sampai ke pemakaman umum kota. Setelah diadakan upacara pemakaman secara militer jasad Dirga di turunkan ke dalam liang lahat. Ketika jasad di turunkan Dinda mempertahankan diri agar dirinya tak jatuh pingsan. Setelah do'a di panjatkan satu- persatu pelayat pulang. Tinggal kini Dinda dan keluarganya yang ada di pemakaman itu.


"Mas kenapa kau tega tinggalkan Dinda


mas....." ucap Dinda sambil memegang batu nisan Dirga.


"Mas....apa sanggup aku hidup tanpamu mas...." Dindapun tak sanggup menahan air matanya yang jatuh deras di pipinya.


"Nak...kau harus bisa....Exsal membutuhkanmu......." ucap bu Susi yang ada di samping Dinda menyadarkan wanita itu dari keterpurukannya. Dindapun memandang sang mertua dan menangis dalam pelukan sang mama.


"Ma....tolong bantu Dinda ya ma...." ucapnya sambil masih memeluk sang mama mertua.


"Iya sayang mama akan selalu ada di sampaingmu....." ucapnya memberi semangat walaupun hatinya hancur kehilangan putranya.


"Ayo kita pulang kasihan Exsal di rumah"

__ADS_1


ajaknya lembut.


"Iya ma......mas Dinda pulang dulu ya...kasihan anak kita dirumah...selamat tinggal mas....semoga Dinda dapat melalui ini semua tanpa mas..." di ciumnya perlahan batu nisan Dirga sebelum dia pergi meninggalkan areal pemakaman.


__ADS_2