Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
DINDA HILANG.


__ADS_3

Di kota J.


Raka yang datang jam 8 pagi di kantornya tidak menemukan Dinda di meja kerjanya. Raka terdiam sejenak tak berapa lama dia masuk kedalam ruang kerjanya. Ingin menanyakan pada Hari tapi dia ingat kalau Hari dia tugaskan ke kota S menyelesaikan suatu masalah. Mungkin Dinda telat pikir Raka. Diapun menyibukkan diri dengan membuka leptopnya . tiba - tiba pintu ruanganny di ketok dari luar. Raka senang pasti Dinda sudah datang pikir Raka.


Tok...tok..tok...


"Masuk...." seru Raka. Terlihat pintu ruangan terbuka dan masuklah seorang wanita kedalam ruangan Raka.


"Permisi pak....." ucap bu Indah . ternyata bu indah yang mengetok pintu bukan Dinda.


"Ya ada apa bu ....." tanya Raka datar.


"Maaf pak saya menyerahkan surat pengunduran diri bu Dinda...." ucap bu indah pelan


"Apa....!" teriak Raka kaget. Bagai mendengar suara petir ketika mendengar bu Indah mengatakan Dinda mengundurkan Diri.


"Apa kau bilang....Dinda mengundurkan diri....?" tanya Raka tak percaya.


"Iya pak ini suratnya...." jawab bu Indah sambil menyerahkan surat pengunduran diri Dinda pada Raka.


"Shiit...." teriak Raka .


Raka meremas dan melempar kertas itu kesembarang tempat dan mengambil jas nya dan berlari keluar .dengan perasaan cemas dia berlari dari dalam kantor menuju mobilnya. Setelah masuk dalam mobil dia menjalankan mobilnya dengan kencang menuju rumah Dinda. Sesampainya di rumah Dinda terlihat rumah itu dalam keadaan sunyi. Raka keluar dari dalam mobil dan berlari menuju pintu rumah lalu menekan bel pintu berulang- ulang bahkan sambil memukul- mukul pintu.


"Din buka pintunya Din.....!" teriaknya.


"Din....sayang....buka pintunya....ayo yang...kau ada di dalam kan.... Din...!" teriak Raka gila. Setelah lama tak ada jawaban Raka berlari kembali ke mobilnya dia memacu mobilnya menuju rumah pak Damar. Sesampainya di sana terlihat rumah dalam keadaan sepi. Raka turun dari mobilnya dan berlari masuk ke teras rumah lalu membunyikan bel pintu berkali- kali tapi tak menemukan seorangpun yang membukakan pintu untuknya. Dia memanggil- manggil nama pak Damar dan Dinda berkali- kali hingga ada seorang tetangga yang ada disebelah rumah pak Damar mendengar keributan yang di lakukan Raka merasa kasihan mendekat dan bertanya.


"Maaf mas...mas cari siapa....?" tanya wanita tetangga pak Damar.

__ADS_1


"Pak Damar dan Bu Nuning Bu, beliau ada kan Bu .....?" tanya Raka penuh harap.


"Kalau jam segini mereka berdua masih di sekolah... " terang ibu itu.


"Kalau putrinya si Sela....?" tanya Raka kembali.


"Kalau nak Sela kekampus mas.."


"Maaf Bu... apakah putrinya Dinda datang kemari.... ?" tanya Raka penuh harap dan cemas.


"Waaah ....kalau mbak Dinda saya nggak lihat dia datang tu mas...sebab mulai tadi pagi saya berada di luar menanam bunga nggak lihat mbak Dinda datang tu.... oh ya kemaren siang mas dia datang kesini bersama putra dan bik Sumi dan pak Giman... sepertinya mereka mau bepergian mas, kemaren dia sempat menyapa saya..." cerita wanita tetangga pak Damar. Dirga yang mendengar penjelasan wanita itu menjadi lemas. Kesedihan dan kekecewaan menikam hatinya. Dia terduduk dibkursi yang ada di teras rumah pak Damar.


Ya Allah kemana perginya mereka.... Sayang...dimana kini kau berada...Raka terduduk lemas diteras rumah pak Damar. Dia meremas rambut dikepalanya dengan frustasi. Setelah duduk menenangkan diri hingga hampir 30 menit Raka kembali ke kantornya. Sesampainya dikantor Raka mengambil Hpnya yang ada di atas meja. Dia menelfon Hari.


"Halo Assalamualaikum..... " jawab Hari dari sebrang.


"Bos ada apa....? Kenapa suara bos lesuh begitu...? Apa bos sakit.....?" tanya Hari beruntun.


"Apakah kau sudah selesai dengan tugasmu...?" tanya Raka lesuh.


'Sudah Bos... apakah saya harus pulang...?" tanya Hari kembali.


"Kalau sudah selesai pulanglah sekarang juga.." perintah Raka.


"Baiklah Bos saya akan segera pulang." jawab Hari dengan pikiran penuh tanya.


Ada apa ini...sepertinya terjadi sesuatu dengan Raka... Ya Tuhan....apakah ini ada hubungannya dengan Dinda...wah gawat semoga bukan seperti dugaanku batin Hari. Diapun segera menyelesaikan urusannya dan segera berangkat ke bandara untuk segera pulang. Untung masih ada penerbangan jam 2 siang. Hari segera memesan tiket menuju kota J. Setelah sampai di bandara kota J Hari menaiki taxi menuju kantornya. Ketika sampai Di kantor Hari menemui Raka yang terlihat begitu memilukan. Raka tersandar di sofanya dengan wajah yang menyedihkan. Terlihat wajah yang penuh kesedihan dan keputus asaan. Ada apa ini batin Hari. Dia menghampiri Raka yang sedang termenung.


"Ka ada apa..... ?" tanya Hari perlahan. Dia sedih melihat wajah sahabatnya seperti ini.

__ADS_1


"Har....Dinda pergi..." ucapnya perlahan.


"Dinda pergi....? Maksudmu....?" tanya Hari tak mengerti.


"Dinda mengundurkan diri. Ketika kucari di rumahnya, rumahnya sudah sepi. Ketika aku pergi ke rumah orang tuanya. Ada yang bilang dia sepertinya akan bepergian jauh... Dan setelah kutelfon berkali- kali nomornya tidak aktif. .." jawab Raka putus asa.


"Kau sudah menyuruh orang mencari ?" tanya Hari kembali.


"Sudah... sampai sekarang belum ada hasil..." jawabnya sedih.


"Siapa yang mengantarkan surat pengunduran diri Dinda...?" tanya Hari.


"Aku tidak tahu...tadi bu Indah yang memberikan padaku..." jawab Raka.


"Kenapa tidak kau tanyakan siapa yang mengantarkan.....?" tanya Hari gemas.


."Aku lupa....." jawab Raka lesuh.


"Ya Allah Ka....kenapa tidak kau tanyakan....." seru Hari gemas. Raka hanya Diam. akhirnya Raka pergi keluar menemui bu Indah. tak lama Hari masuk kembali.


"Gimana....." tanya Raka lesuh.


"katanya satpam yang mengantarkan... kata satpam Dinda membedakan kemaren jam 10 pagi...." Hari menjelaskan. Raka semakin sedih mendengar perkataan Hari.


"Baiklah kita coba menambah orang untuk mencarinya..." ucap Hari ikut sedih melihat wajah Raka yang penuh frustasi. Hari pun menelfon anak buahnya agar menambah orang dalam pencarian Dinda. Tanpa di sadari Hari lupa dengan Vidio kunci dari permasalahan Raka .


.


.

__ADS_1


__ADS_2