
Lena dan kedua sahabatnya sedang berkumpul di aula. Tidak hanya mereka bertiga tapi hampir seluruh mahasiswa angkatan mereka berkumpul. Hari ini adalah hari yang dinantikan oleh semua mahasiswa. Mereka semua memakai pakaian yang seragam yaitu hitam dengan toga di atas kepala mereka.
Terlihat senyum seluruh mahasiswa di sana, tak terkecuali Lena dan kedua sahabatnya. Ia sangat menantikan hari ini, karena akhirnya ia bisa mendapatkan gelar sarjana nya.
Rektor memasuki ruangan dan itu artinya acara akan segera dimulai. Satu persatu nama mereka dipanggil ke depan untuk menerima ijazah dan bersalaman dengan rektor. Acara tersebut berjalan dengan hikmat dan lancar.
Setelah tiga jam berlalu, acara wisuda tersebut pun selesai. Lena dan kedua sahabatnya keluar bersama-sama. Mereka segera menuju tempat di mana orang tua mereka menunggu.
“Selamat ya sayang, mama sama papa bangga padamu.” Ibu dan Ayah Lisa mengecup pipi anaknya.
Begitu pun kedua orang tua Rani memberikan ucapan selamat pada anaknya dan memberikan bunga pada mereka bertiga.
“Lena selamat ya dan terima kasih sudah membantu anak tante sehingga kalian bisa lulus bersama.” Ucap Mama Lisa.
“Tante juga mau terima kasih dan selamat atas kelulusan kalian.” Ucap Ibu Rani sambil memeluk Lena.
Lena yang dipeluk pun merasa bahagia, karena Ibu Rani sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri. Meskipun kedua orang tua nya tidak bisa hadir dan melihat ia lulus kuliah, tapi ia tetap merasa bahagia.
Tak terasa air matanya pun jatuh, segera ia mengusapnya agar sahabatnya dan kedua orang tua sahabatnya tidak melihat.
“Selamat ya Lena.” Seseorang datang menghampirinya. Ia tahu itu adalah suara ayah dari janinnya. Sekuat tenaga ia mencoba tidak untuk menangis. Ia mengelus perutnya sebentar dan berbalik tersenyum ke arah Farel.
“Terima kasih Kak.” Lena menerima uluran tangan tersebut.
Tak lupa Sarah yang menggandeng tangan Farel pun memberikan ucapan selamat kepada mereka bertiga. Lena terdiam melihat kemesraan mereka berdua. Kedua orang tua
Rani melihat kecanggungan yang terjadi di antara mereka segera mengajak mereka semua makan siang di restoran Farel yang tidak jauh dari kampus mereka, untuk merayakan kelulusan anak-anaknya.
Ketiga sahabat tersebut langsung menyetujuinya karena mereka memang sudah lapar. Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di restoran Farel. Restoran tersebut baru seminggu yang lalu dibuka, terlihat dari banyaknya karangan bunga ucapan selamat dari para kolega nya.
“Silahkan masuk Pak, Bu. Pelayan kami akan mengantarkan kalian.” Manajer restoran mempersilahkan mereka dan menunjuk seorang pelayan agar mengantarkan keluarga Farel.
__ADS_1
Semua orang pun mengikuti pelayan yang menuju satu ruangan. Sepertinya ruangan tersebut sudah disiapkan oleh keluarga Rani. Seorang pelayan membawakan buku menu setelah mereka duduk di kursi masing-masing.
“Kalian pesan apa saja, ini gratis.” Farel berbicara pada adik dan kedua sahabatnya.
“Terima kasih.” Ucap ketiganya bersamaan.
“Aku ayam bakar madu dan cumi bakar minumnya es capucino.” Rani memesan makanannya.
“Aku gurame cabe ijo, nasi bakar teri, minumnya jus jambu.” Dilanjut dengan Lisa.
“Aku sop iga bakar, dan udang bakar minumnya jus alpukat saja.” Pelayan mencatat pesanan Lena.
“Samakan saja pesananku dengan dia.” Tunjuk Farel pada Lena.
Semua orang di kursi itu kaget, termasuk Lena. Mereka tahu bahwa Farel memiliki alergi terhadap udang dan jenis sea food. Dan sekarang ia memesan pesanan yang sama persis dengan Lena.
“Apa tidak masalah? Kamu kan alergi ssea food, Farel.” Ayah bertanya.
“Ya sudah.” Ayah membuka menu dan mulai memesan makanan mereka.
Tak lama kemudian beberapa pelayan mengantarkan makanan ke meja mereka. Semua memandang lapar terhadap makanan masing-masing. Setelah pelayan pergi, mereka langsung menyantap makanan.
Lena memakan makanannya dengan lahap, sama seperti Farel yang juga dengan lahap memakan makanannya. Semua yang di meja itu menatap mereka berdua dengan bingung, dan berpikir bahwa mereka berdua sepertinya sedang mengidam.
Bagaimana tidak berpikir seperti itu, Lena memakan udang bakarnya terlebih dahulu, sesekali meminum jus alpukatnya, lalu memakan sop iga bakarnya kemudian menghabiskan jus alpukatnya tanpa tersisa sedikit pun. Hal itu juga dilakukan oleh Farel dengan urutan yang sama persis seperti Lena.
Terkadang kedua nya saling membalas senyuman. Lena merasa bahagia malam ini, karena ia dan Farel bisa makan bersama, meskipun dengan keluarganya juga tentunya.
Rani yang melihat kelakuan sahabat dan kakaknya pun hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Ia tahu bahwa calon keponakannya itu ingin bersama Mommy dan Daddy nya.
Setelah acara makan siang, mereka segera kembali menuju mobil masing-masing. Namun baru saja Farel melangkah keluar, ia mengerang dan menggaruk-garuk badannya yang mulai terlihat bentol-bentol merah. Orang tua Farel dan Sarah segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
“Hahahahaha....” Suara tawa dari adiknya Farel.
“Itu kakak kamu kenapa ditertawakan?” Lisa memukul kepala Rani.
“Aduh... Sakit Lisa.” Rani merengek.
“Rani, apa kakak kamu baik-baik saja? Aku sedikit khawatir dengannya.” Lena menatap Rani.
“Tidak apa-apa, kamu tidak usah khawatirkan dia. Aunty tahu ini pasti kemauan kamu kan?” tanya Rani kepada janin Lena.
“Maksud kamu apa Ran?” Lisa menatap Rani kebingungan.
“Kamu tidak perhatikan tadi di restoran? Tadi kan Lena dan kak Farel seperti punya ikatan batin saja.”
“Iya yah. Sepertinya keponakan kita ini nakal mau menggoda ayahnya.” Lisa tertawa setelah berbicara pada perut Lena.
Lena memutar matanya jengah pada kedua sahabatnya ini. Ia pun segera beranjak dari tempat itu menuju mobil yang diparkir. Tak lama kedua sahabatnya menyusulnya menaiki mobil.
Rani mulai mengendarai mobil menuju ke apartemen mereka. Lena yang mudah kelelahan pun tidur terlelap di dalam mobil.
Sementara itu di rumah sakit, Ibu Farel merasa iba terhadap anaknya yang tidur terlelap di ruangan. Farel tertidur setelah dibius oleh dokter.
Sarah istrinya tidak bisa menemani, alasannya tidak bisa mencium bau obat-obatan di rumah sakit. Padahal mertua nya tahu bahwa itu hanya alasan Sarah agar tidak menemani suaminya dan pergi shoping di mall menghabiskan uang suaminya.
“Apakah ini balasan darimu cucuku?” Ucap Ibu Farel dalam pikirannya.
Cucu yang dimaksud tentu saja bukan dari Sarah melainkan Lena. Sebelumnya ia sudah berbicara pada Lena. Awalnya Lena tidak ingin mengaku, tapi akhirnya ia berkata jujur kepada ibu Farel bahwa sedang mengandung cucu nya.
Lena memohon padanya agar Farel tidak mengetahui nya. Ia tidak ingin menjadi perusak hubungan orang lain. Ibu Farel mengiyakan kemauan Lena dan meminta maaf padanya atas kelakuan anaknya tersebut.
Ibu Farel juga berjanji akan menyayangi cucunya ketika sudah lahir. Ia berharap jika suatu saat nanti Lena mengizinkannya untuk bertemu dengan cucunya.
__ADS_1