
“Apa tidak masalah, mereka berdua kita tinggalkan Len?” Tanya Rani.
Lena menjitak pelan dahi Rani. “Aku rasa tidak masalah, kamu pikir Reno akan memakan Lisa.”
“Aduh sakit Len.”
“Ayo kita ke kantin cari minuman, aku sedang haus sekarang.” Lena menarik tangan Rani menuju kantin.
Kantin rumah sakit tersebut terlihat bersih. Banyak perawat dan pengujung sedang makan di situ. Lena menolehkan kepalanya ke seluruh arah mencari meja yang kosong. Setelah dapat, Lena segera menuju ke meja tersebut sebelum orang lain mendahului mereka berdua. Tak lama setelah mereka duduk, Lena memanggil seorang penjual yang dekat dengan mereka.
“Aku mau jus alpukat satu pak, kamu mau apa Ran?” tanya Lena setelah memberitahukan pesanannya pada penjual tersebut.
“Aku jus mangga satu pak.” Rani berbicara dengan sopan pada penjual tersebut.
“Itu saja mbak?”
“Iya pak.” Ucap Lena.
Penjual tersebut pun segera pergi dan membuat jus pesanan Lena dan Rani. Sekitar lima menit kemudian pesanan mereka pun sampai. Mereka berdua membayar minuman tersebut di awal agar setelah minuman mereka habis, bisa langsung pergi ke ruangan Lisa.
Sesekali mereka berdua berbincang-bincang, hingga tak terasa jika sudah tiga puluh menit mereka berada di kantin tersebut.
“Ayo Ran, kita kembali ke ruangan Lisa. Aku pikir sudah cukup waktu yang kita berikan pada mereka.” Lena berdiri dan di ikuti oleh Rani.
Di tengah perjalanan, Lena merasakan perutnya sakit. Air mulai mengalir keluar ke lantai. Sepertinya ia akan melahirkan.
“Ran, sepertinya aku mau melahirkan.” Lena berkata dengan dahi berkerut menahan sakit.
“Apa yang harus aku lakukan Len?” Rani membantu Lena ke pinggir lorong.
“Dokter..... Suster... Tolong sahabat saya mau melahirkan.” Teriak Rani dengan panik.
“Lena, sabar ya. Aduh pada ke mana sih dokter di rumah sakit ini. Dokter......” Teriak Rani lagi.
Tak lama dokter pun dan suster datang membawa kursi roda. Lena segera di angkat ke kursi roda dan dibawa ke ruang bersalin. Di dalam perjalanan Lena pingsan karena tidak bisa menahan rasa sakitnya. Dokter yang menangani pun langsung mengambil tindakan operasi untuk menyelamatkan bayi Lena.
“Dok tolong selamatkan sahabat dan keponakan saya.” Rani memohon pada dokter tersebut.
__ADS_1
“Baik Mbak, kita akan usahakan yang terbaik. Mbak tidak perlu khawatir.” Dokter mencoba membuat Rani tenang.
Setelah Dokter yang menangani Lena masuk untuk melakukan operasi, Rani menghubungi Lisa. Ia memberitahukan jika Lena sekarang berada diruang operasi. Beberapa menit kemudian Lisa datang menggunakan kursi roda dengan Reno mendorong di belakang.
“Rani, tenang ya. Aku yakin Lena dan ketiga bayi nya akan selamat.” Lisa memeluk Rani yang mulai menangis.
“Tapi aku takut, tadi Lena tidak sadarkan diri.”
“Sebaiknya kita berdoa yang terbaik untuk Lena.” Ucap Reno memberi semangat pada kedua wanita tersebut.
Jam telah menunjukkan pukul 8 malam, namun belum ada tanda-tanda dokter akan keluar dari ruang operasi tersebut. Ketiga orang yang sedang menunggu duduk dengan tidak tenang. Pikiran mereka berkelana jauh memikirkan apakah Lena selamat atau tidak.
Kedua sahabat Lena yang begitu cemas, tak henti-henti nya mereka berdoa agar Lena dan bayi-bayinya selamat. Tak lama kemudian pintu operasi terbuka, dokter yang menangani pun keluar.
“Bagaimana dok, mereka semua baik-baik saja kan?“ tanya Lisa.
“Keadaan ketiga bayi Bu Lena sehat, tapi....”
“Tapi apa dok?” Lisa mencela ketika dokter ingin menjelaskan.
“Lisa, sabar. Dokternya baru mau menjelaskan.” Reno memegang pundak Lisa dan diangguk oleh Lisa.
Rani yang berdiri pun terduduk ke lantai, sementara Lisa menangis di pelukan Reno.
“Kapan dia akan bangun dok? Tanya Reno.
“Kami tidak tahu pasti, kita hanya bisa menunggu keajaiban. Dan jika ia terbangun kemungkinan besar Bu Lena akan mengalami amnesia. Tapi kami akan berusaha merawat ibu Lena dengan baik disini. Kami akan memindahkan ibu Lena segera ke ruang ICU. Kalau begitu saya permisi.” Dokter pun menjelaskan dan berpamitan pada Reno dan kedua sahabat Lena.
“Terima kasih dok.” Ucap Reno.
Reno mengajak Lisa kembali ke ruangannya untuk beristirahat. Reno tidak ingin Lisa menjadi stress karena masalah ini. Sementara Rani mengurus administrasi Lena dan ketiga bayinya.
Setelah selesai mengurus semuanya, Rani pergi menuju ruang bayi dimana ketiga bayi tersebut dirawat. Ia mengambil beberapa foto dari kamera hp nya untuk dikirimkan ke ibu nya. Ibu Rani tidak bisa datang, karena ia ikut dengan suaminya ke luar negeri mengurus kantor cabang di sana.
Ketika Rani pergi ke ruang Lisa, seorang laki-laki masuk dan mengambil sedikit rambut dari ketiga bayi tersebut. Kemudian rambut tersebut ia masukan ke dalam plastik kecil dan juga map kertas warna cokelat. Ia bergegas menuju rumah sakit lain untuk mengetahui D-NA dari ketiga bayi tersebut apakah cocok dengan Farel atau tidak.
Pria tersebut adalah Danu, sahabat Farel yang di bayar untuk mencari tahu tentang ayah kandung dari ketiga bayi Lena. Danu baru tadi siang tiba di kota tersebut, ia langsung mencari informasi tentang Lena. Dan mengetahui jika Lena akan melahirkan malam ini.
__ADS_1
Di kantor malam ini Farel sedang memikirkan sesuatu, berdiri di dekat jendela dan melihat hiruk pikuk jalanan kota. Ia melamun dengan gelas berisi minuman ditangannya. Tiba-tiba seorang laki-laki membuka pintu dengan kuat dan mengagetkannya, gelas yang ia pegang terjatuh ke lantai dan pecah.
Perasaan Farel menjadi tidak enak seperti akan terjadi sesuatu yang tidak baik. Ia berharap perasaannya tidak jadi kenyataan dan semua nya baik-baik saja.
“Wah... Wah.... Sepertinya kamu sedang merindukanku, hingga gelas tersebut jatuh karena terkejut melihatku.”
“Gelas itu jatuh karena kau mengagetkanku, apa yang kau lakukan disini?” Farel bertanya karena bingung tiba-tiba Danu datang ke kantornya semalam ini.
“Apa tidak boleh aku melihat kondisi dan kabar dari sahabatku?” Danu menggoda sahabatnya itu.
“Duduklah. Ada yang ingin aku tanyakan padamu.”
Danu segera duduk setelah Farel duduk. “Aku tahu apa yang kau tanyakan. Tapi sebelumnya aku ingin memberitahukanmu bahwa Lena sudah melahirkan. Dia mempunyai dua orang putra dan satu orang putri” Danu berkata dan membuat Farel kaget.
“Maksudmu Lena punya tiga bayi kembar?”
“Ya, seperti yang kau dengar. Dan aku sudah mengambil sample untuk tes D-NA denganmu. Sekitar dua minggu lagi tes nya akan keluar. Ini adalah yang ingin kamu ketahui. Danu memberikan rekaman di handphone nya.
“Rekaman apa ini?”
“Dengarkan saja, nanti kamu akan tahu sendiri itu rekaman siapa.”
Farel pun menekan layar handphone tersebut.
“*Aku pikir Farel akan marah jika ia mengetahui kamu sedang minum dalam keadaan hamil.”
“Farel tidak akan marah, ia tidak memperhatikanku. Dia masih mencintai wanita sialan itu.”
“Maksud kamu Elena?”
“Jangan sebut namanya dihadapanku! Aku membencinya.”
“Sarah apakah benar anak yang kamu kandung adalah anak Farel?”
“Hahahaha.....Tentu saja bukan, aku tidak tahu siapa ayah dari anak ini, aku terlalu banyak tidur dengan laki-laki*.”
Setelah mendengar hal itu, muka Farel mulai mengeras, ia pun mengepalkan telapak tangannya hingga kuku-kukunya memutih.. Tampak terlihat raut wajahnya yang memerah karena marah. Tanpa pikir panjang lagi ia mengambil rekaman tersebut dan pergi menuju mobilnya dan melupakan Danu yang berada di ruangan tersebut.
__ADS_1
Danu yang dilupakan pun tak ingin mengikuti Farel. Ia tahu bagaimana jika sahabatnya tersebut marah. Semua orang yang ikut campur akan terkena amukan seorang Farel Atmaja.