
Bagus adalah seorang duda tanpa anak. Istrinya meninggal dunia karena kecelakaan yang juga merenggut nyawa calon anaknya. Semenjak kejadian itu, Bagus menutup hati nya untuk wanita mana pun.
Terkadang ia seperti orang gila yang masih merindukan mendiang istrinya. Padahal kejadian itu sudah dua tahun yang lalu. Jika berada di tempat umum, ia bersikap biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa padanya. Kepribadiannya berubah menjadi dingin, ia tidak segan-segan memecat karyawannya jika melakukan kesalahan. Namun jika ia sedang sendirian, Bagus sering melamun dan menangis.
Tapi semua itu berakhir ketika dia bertemu dengan seorang wanita berparas cantik bernama Lena. Kala itu mereka tidak sengaja bertemu di sebuah jalan dekat taman. Bagus yang sedang mengendarai mobilnya sambil melamun tidak mengetahui jika ada orang yang ingin menyeberang jalan.
Bughhh.... Suara mobil menabrak seseorang. Bagus segera keluar dan melihat apakah yang ia tabrak baik-baik saja. Darah keluar dari lutut kaki Lena.
“Apakah kamu tidak apa-apa?” Bagus bertanya pada Lena.
“Kamu buta ya! Lihat ini lutut aku berdarah. Semua bahan kue ku hancur tidak bisa di gunakan lagi.” Lena marah karena bahan-bahan yang ia beli berceceran.
“Maaf, aku tidak sengaja. Biar aku bawa kamu ke rumah sakit.” Bagus segera menggendong Lena ke dalam mobilnya.
Lena yang di perlakukan seperti itu hanya bisa pasrah. Lena tahu jika ia tidak akan bisa pulang ke rumah dalam keadaan terluka seperti ini. Lutut Lena yang terluka di periksa dan segera di perban oleh dokter.
“Ini, bahan-bahan kue yang kamu perlukan. Aku sudah menggantinya. Lihatlah mungkin ada yang kurang.” Ucap bagus setelah memberikan beberapa kantong plastik berisi bahan-bahan kue.
Lena menerimanya dan memeriksa takut ada yang terlupakan. “Sepertinya sudah semua, terima kasih.” Lena tersenyum.
Bagus terdiam sesaat ketika melihat senyuman Lena. Senyuman itu persis sama dengan wanita yang ia cintai. Mengingatkan kembali akan istrinya yang telah pergi.
“Lena, kamu siapa?” Lena mengenalkan dirinya.
“Kamu bisa memanggilku Bagus.” Ucap Bagus menerima uluran tangan Lena.
“Oke, terima kasih ya sudah mau mengantarku ke rumah sakit dan membeli semua ini.” Lena menunjuk ke bahan-bahan kue tersebut.
__ADS_1
“Ya, itu sudah kewajibanku karena telah menabrakmu tadi. Apa kamu mau pulang sekarang? Aku antar kamu pulang.” Bagus menawarkan diri.
Lena hanya mengangguk tanda setuju. Mereka melangkah menuju mobil Bagus. Bagus mengendarai mobilnya mengikuti instruksi Lena yang menjadi penunjuk jalan.
Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah rumah kecil namun terlihat indah. Di depan rumah terdapat poster bertuliskan Rumah Kue Elena.
Bagus membantu Lena keluar dari mobil dan masuk ke rumah. Setelah melihat Lena yang baik-baik saja, Bagus pun berpamitan. Tak lupa juga ia mengambil nomor hape Lena di poster tersebut.
Sesampai di kantor bagus menghubungi nomor Lena. Bagus berencana akan menggunakan jasa Lena untuk kue-kue yang disediakan di kantornya setiap hari. Ini adalah sebagai tanggung jawabnya karena telah menabrak Lena. Semenjak kejadian itu lah Bagus menjadi akrab dengan Lena. Setiap pagi Lena selalu mengantarkan kue-kuenya ke kantor Bagus, kecuali hari minggu tentunya karena itu hari libur kantornya Bagus.
Semua karyawan Bagus pun memuji kue buatan Lena. Bahkan ada beberapa karyawan Bagus yang memesan kue-kue itu untuk di bawa ke rumah mereka. Dan Karyawan Bagus yang mengetahui kedekatan Lena dan bosnya bersyukur, karena Lena dapat mengubah kembali sifat asli bos mereka. Bos mereka kembali tersenyum dan baik terhadap karyawannya.
Bagus merasakan bahwa Lena membawa dampak baik baginya. Bila bersama Lena, ia bisa melupakan kesedihan tentang mendiang istrinya.
Meskipun Bagus mengetahui jika Lena mempunyai tiga anak. Bagus tetap saja mencoba mendekati Lena. Ia senang melihat Lena tersenyum. Senyuman Lena membuat hidup Bagus berwarna kembali.
Bagus yang berada di parkiran segera keluar ketika melihat Lena di depan gedung. Cantik. Itulah kata yang terlintas setelah melihat Lena yang menggunakan gaun pesta sederhana namun terlihat elegan dengan make up tipisnya.
Bagus menghampiri Lena dan mengambil kue yang berada di tangan Lena. Ia menggenggam tangan Lena dan menariknya masuk ke dalam gedung untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Varo.
Bagus menggendong Varo dan mengucapkan ucapan selamat pada Varo, tak lupa pula ia mengecup pipi keponakannya yang manis itu. Lena juga mengucapkan selamat dan memberikan Varo sebuah hadiah.
Bagus tersenyum ketika melihat Lena tersenyum bahagia pada Varo. Varo bergerak ingin turun karena ia mengira jika uncle nya tidak memberikan hadiah. Segera setelah Varo turun dari gendongan Bagus, ia memberikan hadiah yang terbungkus kertas bergambar spiderman kesukaan Varo.
Acara pun berjalan dengan lancar. Tampak Varo tertawa senang bersama teman-temannya. Jika saja istrinya tidak mengalami kecelakaan itu, pasti ia sekarang sudah menyandang status ayah.
Bagus segera mengajak Lena berpamitan dengan keluarganya. Lalu mereka berdua pergi menuju mobil. Bagus segera mengantar Lena. Di tengah perjalanan Bagus berterima kasih pada Lena karena sudah mengantarkan pesanannya ke gedung acara.
__ADS_1
“senyumanmu mengalihkan duniaku.” Ucap Bagus gombal pada Lena.
“Gombal banget sih.”
Bagus tahu jika Lena sedang tersipu malu mendengar pujian Bagus tersebut. Tapi yang dikatakan Bagus benar apa adanya, jika senyuman Lena membuat dirinya semangat lagi.
Tak lama Lena mengalihkan pembicaraan dengan memuji keponakan Bagus. Hanya butuh waktu sebentar saja, mereka tiba di rumah Lena. Rumah minimalis namun membuat siapa saja betah berada di sana.
Lena turun dan berterima kasih pada Bagas karena sudah mengantarkannya sampai rumah. Bagus yang kangen dan ingin melihat ketiga anak Lena, meminta izin padanya agar bisa bertemu dengan mereka bertiga.
Awalnya Lena tidak ingin Bagus bertemu dengan anak-anaknya. Namun setelah di paksa, Lena menganggukkan kepalanya. Kemudian Lena berjalan masuk ke dalam rumahnya dan tanpa pikir panjang lagi Bagus mengikutinya, sebelum Lena berubah pikiran.
Bagus bergegas ke kamar dimana ketiga bayi tersebut berada. Sepertinya mereka bertiga baru saja dimandikan oleh bibi Ema. Bibi yang membantu Lena mengurus keperluan anak-anaknya.
“Hai anak-anak ayah, apa kabar kalian?” Tanya Bagus.
Bagus sengaja menggunakan kata ayah, karena ia berharap bisa menjadi ayah bagi ketiga anak Lena.
Plakkk.... Seseorang memukul kepala bagian belakang Bagus. Ia tahu jika yang melakukan itu adalah Lena. Lena memang tidak suka jika Bagus menggunakan kata ayah pada mereka. Lena beralasan jika ayah ketiga anak-anaknya masih ada.
Sebenarnya Bagus penasaran siapa orang yang tega meninggalkan Lena dan ketiga anak yang lucu itu. Namun setiap kali Bagus bertanya pada Lena, Lena selalu mengalihkan pembicaraan. Akhirnya Bagus tidak pernah bertanya lagi, ia takut jika Lena akan menjadi terbebanin.
Plakkkkk..... Untuk kedua kalinya tangan indah itu memukul kepala Bagus. Bagus hanya menyengir karena Lena marah, ia bilang jika Lena adalah singa betina.
Tak lama setelah itu, Lena mengusir Bagus dengan alasan jika malam hari akan tiba. Bagus yang di usir pun tidak tersinggung sama sekali. Mereka susah sering saling mengusir meskipun itu bercanda.
Bagus pun segera berpamitan pada Lena dan bibi Ema. Ia tidak ingin jika di perjalanan pulang ada begal yang menginginkan harta bahkan nyawanya. Perjalanan ke rumah Lena memanglah cukup menakutkan, karena jika malam tiba di sepanjang jalan akan sepi dan gelap.
__ADS_1
Ketika Bagus berjalan keluar, Lena mengikutinya dari belakang bermaksud untuk mengantarkannya. Setelah berpamitan untuk yang kedua kalinya, ia segera melajukan mobilnya pulang.