
Dua minggu setelah kejadian di apartemen Farel, hal yang membuat hidup Lena pun terjadi.
“Egghhh.... kepalaku sakit sekali.” Lena bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia teringat sudah sebulan tamu bulanannya belum datang.
Ia juga merasa akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat. Ia pun menggelengkan kepalanya, untuk menghilangkan pikiran negatifnya sekarang. Hari ini ia harus membeli test pact agar rasa penasarannya terjawab.
Hari ini adalah jadwal Rani ujian meja, Lena pun segera berangkat ke universitas untuk bertemu Rani. Sebelum sampai ia singgah di sebuah apotek untuk membeli test pact. Usai membelinya ia segera menuju tempat Rani. Tampak terlihat Lisa berada di sana bersama Rani yang gugup.
Lena segera menghampiri mereka berdua. “Hai Ran, Lis. Jangan gugup, kamu pasti bisa Ran”
“Bagaimana aku tidak gugup Len, kamu tahu sendiri kan dosen penguji aku itu terkenal dosen killer.” Rani mulai mengeluh.
“Semangat dong Ran, sebulan lebih lagi kita bakal wisuda dan lulus bareng.” Lisa memberi semangat.
“Iya, tapi yang lulus bareng itu Cuma aku sama Lena doang, kamu nya enggak.” Rani mulai tertawa melihat Lisa yang mulai jengkel.
“Makanya doa in dong biar dosen aku cepat balik kesini, biar aku bisa lulus bareng kalian.” Lisa cemberut.
“Amin.” Ucap lena dan Rani bersamaan.
Kedua sahabatnya mengerti kondisi Lisa saat ini. Seharusnya ia hari ini juga ujian sidang, tapi tertunda karena dosen pembimbingnya berada di luar kota dan akan kembali 3 minggu lagi.
Rani pun masuk ke ruangan sidang ketika dosen pengujinya telah datang. Lena pamit pulang, ketika ia merasakan kepalanya kembali pusing. Lisa menawarkan untuk mengantarkannya, namun ia menolak karena takut Rani mencari mereka ketika selesai ujian.
Sesampainya di apartemen, Lena masuk ke kamar mandi dan mencoba ke lima alat yang dibelinya tadi. Betapa terkejutnya ia ketika melihat dari kelima alat tersebut, semuanya memiliki dua garis merah yang artinya positif.
Ia merasa takut jika Farel mengetahuinya dan tidak ingin bertanggung jawab. Lena terdiam, ia bingung apakah akan memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya. Namun ia harus tetap memberitahukan tentang ini kepada
Farel, ia yakin Farel akan senang dengan ini. Lena pun segera menuju kamar dan beristirahat karena pusing kembali melandanya.
Tiinnngg.... Terdengar suara handphone Lena. Ia pun terbangun dan mengangkat telepon tersebut.
“Assalamualaikum.” Ujar seseorang setelah Lena menggeser tombol terima.
“Wa ’alaikumsalam kak Farel.”
“Bagaimana keadaanmu?”
__ADS_1
“Sudah makan?” Seperti biasa Farel selalu perhatian pada Lena.
“Alhamdulillah baik kak, aku sudah makan tadi di kampus.”
“Kakak lagi apa?” Lena bertanya.
“Kakak lagi di restoran, sebentar lagi mau pulang ke rumah.” Farel menjawab dengan lembut, meskipun Lena tahu bahwa ia sedang lelah karena bekerja seharian namun sempat memberikan waktunya untuk Farel.
“Ya sudah, kakak siap-siap pulang, istirahat yah?” Lena memberikan perhatiannya.
“Iya, sebentar malam kakak jemput ya?
Ada yang ingin kakak bicarakan denganmu.”
“Oke kak, aku juga mau bicara sesuatu sama kakak.” Tersenyum bahagia sambil mengelus perutnya.
“Oke, kakak jemput jam 7 malam. Kakak matikan dulu ya, sudah waktunya pulang. I love you sayang.”
“I love you too kak.” Lena meletakkan kembali handphone nya.
Ia pun melirik jam di dinding menunjukkan pukul 5 sore, sepertinya ia tidur cukup lama. Ia mulai bangun dan menuju dapur untuk memasak makan malam kedua sahabatnya. Selesai memasak ia membersihkan diri dan bersiap-siap untuk makan malam bersama Farel.
Tin... Tin... Tin... Suara klakson mobil mengagetkan Lena. Diliriknya jam tangan, ternyata waktu menunjukkan pukul Tujuh malam. Ia pun segera merapikan gaunnya dan melihat make up nya dicermin sekali lagi lalu keluar menuju mobil Farel.
“Malam kak.” Lena menyapa setelah menutup pintu mobil tersebut.
“Malam juga.”
“Apakah kamu siap?” Farel segera mengendarai mobil setelah Lena mengangguk.
“ Kita mau makan di mana kak?”
“ Kita makan di restoran kakak saja.”
Malam ini tidak seperti hari biasanya, di antara mereka berdua tidak ada pembicaraan. Lena merasa bimbang, apakah harus memberitahu tentang janinnya atau tidak. Begitu pula Farel yang bingung, ia tidak ingin menyakiti Perasaan Lena. Lena adalah wanita yang baik, wanita yang membuat hidup nya lebih berwarna.
Tidak terasa, mereka sampai di tempat tujuan. Mereka segera turun dan masuk, semua para pelayan segera menunduk hormat pada Farel. Farel mengajak Lena ke tempat yang sudah disiapkan oleh Farel. Pelayan segera menyajikan makanan.
__ADS_1
“Yuk kita makan, nanti makanannya keburu dingin.”
“Iya kak Farel.” Lena segera menyuapkan makanannya ke mulut.
Mereka makan dengan lahap, sesekali mereka tersenyum satu sama lain.
“Kakak mau putus.” Ucap Farel sambil meletakkan sendok dan garpu.
“Maaf, kakak tadi bicara apa?” Berharap yang didengar Lena adalah salah. Namun itu benar, Farel menggenggam tangan Lena lembut.
“Kakak mau hubungan kita berakhir, Lena.”
“Kenapa kak? Beri aku alasan?”
Farel terdiam, ia tidak tega melihat mata Lena yang mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba datang seorang wanita dan menyapa mereka berdua.
“Hai Farel, Lena. Maaf aku tadi telat datangnya.” Sarah mengambil tempat duduk di samping Farel.
“Kenapa dia ada datang ke sini kak?”
“Rel kamu belum mengatakannya?” Sarah melihat Farel dan Lena yang kebingungan. Ia segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan pada Lena.
“Kak, apa maksud dari semua ini? Kenapa tertulis nama kak Farel dan mbak Sarah.”
Lena membaca undangan tersebut. Di sana tertulis akan dilangsungkan pernikahan Farel sebulan lagi. Ia menatap Farel yang menunduk dan Sarah yang sepertinya tersenyum meremehkannya.
“Maafkan kakak Lena, kakak harus melakukan ini. Kakak harus menikahi Sarah, karena ia tengah mengandung anak kakak. Kandungannya sudah dua minggu.” Ucap Farel merasa bersalah.
“Lalu bagaimana denganku kak? Kakak dengan tega meninggalkanku. Jadi selama ini hubungan kita hanya sebatas ini?” Lena mulai menangis.
“Lena kakak tahu, kakak salah. Kakak juga tidak ingin ini terjadi. Tapi kakak adalah laki-laki yang harus bertanggung jawab kepada Sarah.”
Lena merasa kecewa yang mendalam pada Farel, hatinya begitu sakit. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab padanya? Pada janinnya? Ia pun segera mengusap air matanya.
“Oke kak, selamat ya sudah menjadi ayah. Semoga hidup kalian selalu bahagia. Aku akan datang ke pernikahan kalian.” Ucap Lena tersenyum pahit. Lalu ia berdiri dan beranjak dari restoran tersebut.
“Biarkan dia pergi, beri waktu dia sendiri.” Ujar Sarah pada Farel yang ingin mengejarnya.
__ADS_1
Sarah segera merangkul lengan Farel, namun Farel melepaskannya dan pergi menuju toilet. Sarah tersenyum, ia bahagia karena telah mendapatkan Farel. Sebentar lagi ia menjadi istri sah Farel Atmaja pengusaha hotel dan restoran terkenal di kotanya.