
Farel terbangun ketika suara telepon berdering. Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi. Ia ingat bahwa setelah kejadian dimana ia mendengar rekaman pengakuan Sarah, ia pergi ke bar hingga larut malam.
Tercium bau alkohol di tubuhnya, sepertinya ia meminum banyak alkohol di bar tersebut. Beruntungnya bar tersebut dekat dengan hotelnya, hingga ia bisa kembali ke hotel dengan selamat.
Farel menghubungi sekretarisnya untuk memberitahukan bahwa ia tidak akan masuk bekerja hari ini. Ia ingin semua urusannya di batalkan. Setelah menghubungi sekretarisnya dan urusan kantor beres, ia segera menuju ke rumah orang tuanya dimana ia dan Sarah tinggal. Ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Sarah hari ini juga.
“Farel kamu sudah pulang? Kamu sudah makan nak?” Tanya mama Farel setelah melihat anaknya masuk ke dalam rumah.
“Apa terjadi sesuatu di kantor?” Tanya papa Farel.
Kedua orang tua Farel baru saja tiba dari perjalanan ke luar negeri. Sedangkan Rani datang tadi malam setelah dari rumah sakit tempat Lena berada. Mereka bingung dengan kedatangan Farel yang tiba-tiba dengan wajah menahan amarah. Rani yang sedari kecil bersama kakaknya tersebut pun yakin akan terjadi sesuatu di rumah malam ini.
“Aku sudah sarapan di hotel Ma. Di kantor juga tidak ada masalah, semua berjalan lancar.” Terlihat Farel mencoba meredam amarahnya.
“Lalu kenapa wajah kamu seperti itu kak?”
“Sarah dimana?”
“Sepertinya dia sedang tidur kak.”
“Tolong panggilkan Sarah. Ada yang ingin aku katakan pada kalian semua, termasuk Sarah.”
Rani mengangguk dan pergi menuju kamar Sarah dan Farel. Ia mengetuk kamar tersebut, tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Rani menyampaikan jika Farel ingin berbicara dengan mereka semua. Sarah yang tidak tahu apa pun segera mengikuti Rani ke ruangan dimana mereka telah berkumpul.
Sarah terkejut ketika melihat tidak hanya orang rumah yang berkumpul, melainkan kedua orang tuanya juga ada di sana. Ia bingung dan takut, karena sepertinya ada masalah yang menyangkut dirinya. Di perjalanan menuju rumahnya Farel sudah menghubungi kedua orang tua Sarah untuk datang ke rumahnya.
“Farel, ada apa sebenarnya? Mengapa kamu menyuruh kami datang kesini?” Ayah Sarah bertanya.
“Sarah, bisakah kamu menjelaskan tentang ini.” Farel mulai menekan rekaman tersebut. Terdengar suara Sarah yang berbicara tentang kandungannya.
“Da...Dari mana kamu mendapatkannya?” Sarah bertanya dengan gugup.
“Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkannya. Kamu hanya perlu menjelaskan tentang pengakuan kamu itu.” Ucap Farel yang sudah menahan amarahnya dari tadi.
“Sarah apa benar itu semua?” Mama Farel bertanya.
“Jawab Sarah!” Ayah Sarah membentak.
__ADS_1
“Kenapa?! Kamu tidak bisa menjawab pertanyaan kami!” Farel mulai mengeluarkan amarahnya.
“Kamu tega membohongi keluargaku, apa kesalahan keluargaku padamu, sehingga berani-beraninya kamu membohongi keluargaku!” Rani berteriak pada Sarah.
“Ya, semua rekaman itu benar. Janin yang aku kandung dulu bukanlah anak Farel!” Teriak Sarah.
“Mengapa kamu lakukan itu Sarah. Apa salah Farel?” Mama Farel mulai menangis di pelukan ayah.
“Semua karena Lena, aku sangat membencinya. Ia sudah mengambil Farel dariku!” Sarah berteriak marah.
“Dia adalah wanita yang merusak kebahagiaanku dan merebut orang yang aku cintai yaitu kamu Farel.” Sarah mengucapkan dengan marah.
Plaaaaakkkkkk...... Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kanan Sarah.
“Jangan pernah kamu menjelek-jelekkan sahabatku. Karena kamu, sahabatku harus menanggung semuanya sendirian!!!” Ucap Rani marah.
Sarah yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menangis memegang pipi kanannya yang mulai memerah, ia mendekati Farel dan bersujud padanya.
“Maafkan aku Farel. Aku melakukan ini karena hanya ingin bersamamu.” Sarah menangis.
“Tidak. Aku tidak ingin bercerai denganmu Farel.”
“Aku tidak pernah mencintaimu. Aku menikahimu karena bayi yang kamup kandung dulu.”
“Berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku akan menjadi istri yang baik untuk kamu, Farel.” Sarah memohon dengan berlinang air mata.
“Besok aku akan mengurus semuanya dan pastikan kau menandatangani surat tersebut. Satu lagi, pastikan jika hari ini kamu angkat kaki dari rumah ini. Aku tidak ingin melihatmu berada di rumah ini lagi.” Ucap Farel kembali.
“Kamu tidak akan bisa bersama Elena, Farel. Kamu tahu pasti itu.” Sarah berteriak kembali.
“Fareel....!” Sarah berteriak dan terduduk di tempat.
Farel berlalu tanpa mendengar ucapan Sarah dan tanpa berpamitan kepada semua di situ. Hari ini ia ingin sendirian. Farel melajukan mobil menuju sebuah taman indah tempat biasa ia bertemu dengan Lena.
Sementara kedua orang tua Sarah merasa malu dengan keluarga Farel, segera berpamitan dan membawa Sarah untuk pulang. Mereka tidak akan menghalangi kemauan Farel untuk bercerai, karena itu semua adalah kesalahan yang harus Sarah tanggung.
Malam hari nya Farel berada di bar milik temannya Danu. Ia pun memesan minuman yang banyak untuk menghilangkan pikiran kacau nya. Danu yang melihat hanya bisa diam dan menuruti maunya Farel. Ia tahu jika Farel benar-benar merasa kacau hari ini.
__ADS_1
“Hai tampan, mau aku temani?”
Begitulah kata-kata yang di dengar oleh Farel. Namun Farel segera mengusir siapa saja yang mendekatinya. Malam ini ia hanya ingin sendirian. Tidak bisa dipungkiri, jika ia membutuhkan Lena berada disisi nya sekarang.
Ia teringat jika mempunyai masalah, Lena selalu bersamanya. Lenalah yang membuat dirinya selalu tersenyum bahagia walaupun ada masalah yang dihadapi. Ia tidak menyangkal jika akhir-akhir ini selalu merindukan Lena.
“Pergilah, jangan ganggu dia.” Ucap Danu pada wanita-wanita malam yang menggoda Farel. Wanita-wanita tersebut pun langsung pergi kembali ke tempat mereka.
Di rumah sakit Lena berada, Lisa setia menemani Lena yang terbaring dengan selang infus ditubuhnya. Lisa berharap Lena cepat sadar dan bertemu dengan ketiga bayinya yang tampan dan cantik.
“Len bangun. Aku merindukanmu.”
“Apa kamu tidak ingin melihat ketiga bayimu?”
“Apa kamu tidak merindukan mereka?”
“Kami semua merindukanmu Len.” Lisa berharap Lena bisa mendengar suaranya dan akhirnya bangun.
Lisa menangis menatap Lena terbaring tidak berdaya. Ia tidak tahu apakah Lena akan mendengar apa yang ia sampaikan. Ia melihat Lena menangis mengeluarkan air matanya. Lisa mengusap air mata Lena dengan tisu yang berada didekat-Nya.
Ia selalu berdoa Lena segera sembuh dan bangun dari koma nya. Namun ia takut jika apa yang di bilang dokter lalu menjadi kenyataan, bahwa Lena akan melupakan semua orang yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Sssstttt... Jangan menangis.”
“Maafkan aku Lena, memaksamu untuk bangun.”
“Kamu pasti merindukan ketiga bayimu.”
“Mereka semua tampan dan cantik.”
“Dokter bilang, mereka bertiga sehat. Jadi kamu jangan khawatir. Kami akan menjaga ketiga bayimu.”
“Aku berharap kamu segera bangun dari tidurmu Lena.” Lisa tersenyum sedih melihat Lena.
Lisa segera pindah menuju sofa yang disediakan di ruangan itu. Setiap malam ia bertugas menjaga Lena selama kakinya belum sembuh. Tak lama kemudian Lisa terlelap dan memasuki mimpi indahnya.
Lena mendengar semua ucapan Lisa. Dia sangat ingin bertemu ketiga bayinya. Ia merindukan bayi nya. Ingin rasanya Lena menjawab semua pertanyaan Lisa, namun apa daya tubuhnya tidak bisa bergerak seakan-akan mati dan mulutnya tidak bisa mengucapkan kata-kata. Lena hanya bisa menangis di tempat tidurnya.
__ADS_1