Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
BERITA DARI SINDY.


__ADS_3

Hampir 8 bulan Dinda dan Raka resmi menjadi sepasang kekasih. Kedua orang tua merekapun telah menyetujui begitu pula dengan pak Bima dan bu Susi mereka amat setuju Raka menggantikan Dirga sebagai papa sambung Exsal. Karena Raka amat menyayangi Exsal. Raka pun berniat akan melamar sang kekasih secepatnya. Hari itu ketika Dinda sedang membereskan meja kerjanya tiba- tiba hanfonnya berdering. Cepat - cepat benda pipih itu dia ambil dari dalam tasnya. Ternyata ada whatsap baru tanpa nama. Dinda pun membuka pesan tersebut.


Aku tunggu di cafe Citra jam 4 jangan sampai kau tidak datang kau akan menyesal.


Dinda penasaran dengan pesan tersebut. Siapa yang mengirim pesan dengan kalimat seperti itu.siapa orang ini temankah atau seorang musuh, kalau musuh rasanya aku tak pernah menyakiti seseorang batin Dinda bingung. Setelah jam kerja berakhir Dinda dengan hati penasaran berpamitan pada Raka untuk pulang duluan . untung hari ini Dinda membawa mobil sendiri. Setelah keluar dari kantor Dinda membawa mobilnya menuju Caffe Citra yang tidak terlalu jauh dari perusahaan CGW. Dinda memarkirkan kendaraannya di parkiran Cafe. Dengan penasaran Dinda memasuki Cafe. Ketika sampai di dalam seseorang melambaikan tangannya pada Dinda. Dinda mengerutkan dahinya. Dinda merasa mengenali orang yang melambaikan tangan padanya. Dinda pun mendekati orang tersebut. Setelah dekat baru Dinda sadar kalau orang itu teryata Sindy yang pernah datang ke ruangan Raka.


"Oo ternyata anda Nona Sindy...." ucap Dinda pada Sindy sambil duduk di depan Sindy.


"Halo apa kabar Dinda....?senang bertemu denganmu lagi.." ucap Sindy sambil mengulurkan tangan. Dinda pun menerima jabatan tangan Sindy.


"Baik Nona Sindy...maaf saya terburu- buru bisakah anda langsung mengutarakan kepentingan anda hingga ingin menemui saya....?" tanya Dinda langsung. Sebab dia merasa tidak nyaman bertemu dengan Sindy. Ada sifat sombong dan arogan yang mebuat Dinda tidak betah berlama- lama bersama Sindy.


"Kenapa terburu- buru NYONYA Dinda. ?" jawab Sindy dengan sengaja menekan kalimat nyonya untuk menghina Dinda. Dinda tersenyum mendengar kalimat Sindy.


"Saya tidak punya banyak waktu untuk menemani Nona bercengkrama masih ada anak saya yang sedang menunggu saya pulang " jawab Dinda dengan nada sopan.


"Waah ibu yang baik....baiklah kalau itu yang NYONYA mau....(sindy berhenti sejenak dan memandang Dinda dengan sinis ) aku ingin anda menjauh dari Raka.." ucapnya dengan nada angkuh.


"Apa...? Andaa meminta saya Menjauh dari Raka....apakah saya salah dengar Nona Sindy...?" tanya Dinda sambil tersenyum sinis.


"Tidak...anda tidak salah dengar....jauhi Raka karna dia tidak pantas denganmu"

__ADS_1


seru Sindy dengan marah.


"Ha..ha..tidak pantas....?apakah yang pantas dirimu Nona...?" tanya Dinda mengejek .


"Iya karena kami adalah sepasang kekasih sebelum kau hadir diantara kami. Kau membuat Raka menjauh dariku ... Aku berithu padamu sebenarnya Raka tidak pernah mencintaimu.. Dia hanya mengasihimu karena kau janda dari sahabat nya. Apakah kamu tidak malu hidup bersama orang yang hanya mengasihimu bukan mencintaimu ....?" ucap Sindy sambil tersenyum sinis.


"Ha...ha...kau pikir aku percaya dengan perkataanmu...?" jawab Dinda.


"Itu terserah kau ...percaya atau tidak Itu bukan urusanku Tapi ada satu rahasia yang mungkin belum kamu ketahui..." lanjut Sindy.


"Apa itu....?" tanya Dinda acuh.


"Akulah yng berusaha menculikmu waktu itu..." ucap Sindy yang membuat Dinda kaget .


"Yach akulah orang yang ada di balik orang- orang yang mengeroyokmu dan membuat kamu masuk rumah sakit. Aku yang ingin menculikmu juga ingin membunuhmu. Akulah yang mengirimkan para pembunuh bayaran itu. Raka juga sudah mengetahuinya tapi kau lihat aku masih bebas... karena Raka sangat mencintaiku makanya dia tidak akan pernah tega memasukkan ku dalam penjara " ucap Sindy sambil tersenyum sinis. Dinda sock mendengar penjelasan Sindy...dia takpernah berfikir kalau akan mendengar ucapan seperti ini.


"Kau bohong...." ucap Dinda ragu. Sindy melihat keraguan di mata Dinda tertawa senang.


"Kau fikir aku bohong..... Kau bodoh... mana mungkin Raka yang tampan dan kaya itu mau sama seorang janda yang sudah mempunyai seorang anak , berfikirlah secara rasional NYOYAH kau terlalu percaya diri..."seru Sindy dengan marah. Dinda terdiam mendengar omongan Sindy.


Ya Allah...benarkah ini...batin Dinda sedih. Dinda menahan air mata yang akan jatuh dari kelopak matanya.

__ADS_1


"Kalau kau tak percaya datanglah besok malam ke hotel xxx jam 7 malam kau akan mendapat buktinya. .." ucap Sindy lagi.


"Baik aku akan membuktikan ucapanmu..." jawab Sindy lalu berdiri dan melangkah keluar cafe sebelum air matanya jatuh. Sindy yang melihatnya tersenyum licik. Kalau aku tak mendapatkan Raka maka kaupun tak akan bisa mendapatkannya seru Sindy dalam hati.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang merekam dan memvidiokan kejadian tadi. Yach dia Hari... Hari yang saat itu sedang ada di dalam cafe . setelah mengantar Raka kekantor Hari pergi ke cafe yang tidak terlalu jauh dari kantor karena dia ada janji dengan teman- temannya. Ketika dia sedang duduk menunggu para sahabatnya dia melihat Dinda yang datang. Hari yang duduk di pojokan melihat Dinda datang dan menemui seorang wanita. Ketika tahu siapa yang di temui Dinda Hari menjadi curiga . secara diam - diam dia pindah duduk di belakang Dinda yang sedang berhadapan dengan Sindy. Sindyyang tak mengenal Hari tak curiga. Hari berpura- pura berfoto selfi yang sebenarnya memvidiokan kejadian itu. Hari menyaksikan Dinda yang keluar dari cafe dengan wajah tegar. Tapi ketika sampai di mobil sebelum masuk mobil Hari sempat melihat Dinda mengusap matanya. Ketika Hari berniat menelfon Raka tiba-tiba para sahabatnya datang ke cafe tersebut dan membuat Hari lupa dengan niatnya akan menelfon Raka.


Dengan cepat Dinda meninggalkan Cafe Citra. Dalam perjalanan pulang dia merasakan sakit dihatinya. Dinda memang pernah bertanya pada Raka soal orang- orang yang telah menyerangnya. Saat itu Raka menjawab bahwa mereka telah di tangkap dan di masukkan ke dalam penjara. tapi Dinda memang salah kenapa dia tidak menanyakan tentang kelanjutan masalah kejadian tersebut. kini Dinda mendengar semuanya dari Sindy dan itu membuat hati Dinda sakit. tak terasa mobil Dinda telah sampai di rumahnya. Setelah memasukkan mobil kedalam garasi Dinda masuk kedalam dan bertemu dengan Exsal yang sedang bermain dengan Bik Sumi.


"Mama....." teriak Exsal sambil berlari kearah Dinda. Dinda pun membawa sang putra dalam pelukannya. perasaan gunda yang dirasakan Dinda sedikit terobati ketika sang buah hati berada dalam pelukannya.


"sayang sudah mandi....?" tanya Dinda sambil mencium wajah lembut Exsal . .


"Sudah ma.....Exsal tadi mandi sendiri ditemani bik Sumi ma...." ucap Exsal dengan wajah imutnya.


"Benarkah....?" tanya Dinda . dan di jawab oleh Exsal dengan anggukan bangga.


"Waaa...anak mama sudah besar dan pintar ya....?" jawab Dinda senang. dan Exsalpun merasa bangga mendapat pujian dari sang mama.


"sayang....sekarang mama mau masuk kekamar mama belum mandi dan solat Exsal mau ikut mama apa disini sama. bik Sumi....?" tanya Dinda pada sang putra.Exsalpun terdiam sejenak.


"Exsal mau ikut mama aja...." jawabnya.

__ADS_1


"Ok. kita kekamar...bik bersihka mainan Exsal ya Dinda dan Exsal kekamar dulu. Dinda belum solat bik..." ucap Dinda pada bik Sumi yang sudah dianggap orang tuanya.


"Iya Non..." jawab Bik Sumi sambil merapikan mainan Exsal. Dinda pun berjalan bersama Exsal menuju kamar.


__ADS_2