Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
DINDA MASUK RUMAH SAKIT 2.


__ADS_3

Ketika bangun di pagi hari Dinda merasakan badannya sakit semua terutama bagian dada sebelah kanan.


"Kau sudh bangun Din... ?" tanya Raka yang ada disebelah tempat tidurnya.


"Saya berada di mana pak...?" tanya Dinda yang memandang wajah Raka penuh tanya.


"Kau ada di rumah sakit Din..." jawab Raka lembut.


"Kenapa saya ada di rumah sakit pak.." tanya Dinda bingung.


"Lo kamu sudah lupa aksi heroikmu..."


"Heroik....emang apa yang saya lakukan pak...?" tanya Dinda kembali.


"Kau tidak ingat kemaren kau di keroyok 4 orang penjahat ...?" tanya Raka. Dinda diam sejenak.


"Ya Allah....Dinda ingat pak .... Kemaren tiba- tiba Dinda di hadang oleh 4 orang penjahat itu, mereka menginginkan Dinda ikut mereka. Karena Dinda nggak mau mereka memaksa akhirnya terjadi perkelahian itu. Apakah kedua orang penjahat itu sudah di bawa ke kantor polisi pak..." tanya Dinda .


"Sudah Din mereka sudah di bawa ke kantor polisi , Kau sudah ingat semuanya....?" tanya Raka .


"Iya pak.... saya nggak ngerti kenapa merek mengharapkan saya ikut mereka . sepertinya mereka ingin menculik saya pak.... sebab mereka tidak menginginkan atau meminta apapun dari Dinda, mereka hanya ingin Dinda .." kata Dinda kembali.


"Iya Din aku juga berpikiran seperti itu tapi semua akan terjawab saat nanti polisi mengintrogasi penjahat yang sudah tertangkap..."jawab Raka.


"Iya pak...."ucap Dinda.


Ketika mereka sedang berbincang- bincang terdengar pintu di ketuk. Tak lama seorang dokter dan perawat masuk.


"Maaf ibu bapak saya akan memeriksa keadaan ibu dulu...."ucap pak Dokter ramah.


"Silahkan Dok.. " jawab Raka. Dokter pun memeriksa keadaan Dinda.


"Pak keadaan ibu semakin membaik apalagi mendapatkan kasih sayang dan perawatan dari suami seperti bapak, pasti ibu akan lebih cepat membaik...." ucap sang Dokter sambil tersenyum. Dinda yang mendengar ucapan Dokter itu terkejut.

__ADS_1


"Iya Dok itu pasti...." jawab Raka sambil menatap Dinda dengan senyuman menggoda. Dinda akan menyangkal tapi Dokter sudah mengundurkan Diri. Ketika Dokter keluar tiba- tiba sang Bunda masuk bersama Exsal.


"Mama......" teriak Exsal sambil berlari mendekati sang mama.


"Sayang sini sama Om jangan gendong mama dulu ya.... Mama masih sakit .." ucap Raka sambil berdiri menggendong


Exsal.


"Tapi Exsal pingin sama mama..." jawabnya sambil menangis.


"Baiklah tapi cium mama sebentar ya sayang. Exsalpun mengangguk dan berhenti menangis. Raka mendudukkan Exsal dekat Dinda dan perlahan Exsal mencium pipi sang mama.


"Ma...cepat sembuh ya...Exsal sayang mama..." ucapnya dengan wajah sedih.


"Iya sayang mama juga sayang Exsal ..." jawab Dinda sambil tersenyum.


"Nach sayang sekarang gendong Om lagi ya.....?" bujuk Raka. Exsal pun mengulurkan tangannya.


"Om di sini nungguin mama ya...?" tanya Exsal lugu dalam pelukan Raka.


"Sayang gimana kabarmu.....?" tanya bu Nuning sambil duduk di kursi yang tadi diduduki Raka.


"Baik Bun...oh ya Bun perkenalkan ini atasan Dinda pak Raka...." ucap Dinda memperkenalkan Raka pada sang Bunda dengan suara agak lemah.


Rakapun mendekati bu Nuning dan mencium tangannya.


" Oo kau atasan Dinda nak....?" sapa Bu Nuning ramah.


"Iya tante...." jawab Raka sopan.


"Trimakasih nak atas semua yang telah kau lakukan pada Dinda..." ucap Bu Nuning .


"Jangan Sungkan Tante itu memang sudah tanggung jawab saya..." jawab Raka tersenyum ramah.

__ADS_1


"Oh ya tante boleh saya tinggal sebentar soalnya ada urusan yang harus saya selesaikan dulu...." tanya Raka dengan sopan. Ia teringat ada janji dengan Hari akan kekantor polisi menemui pelaku.


"O ..boleh nak silahkan , saya akan menunggui Dinda...." jawab Bu Nuning.


Rakapun memberikan Exsal pada Bu Nuning. Setelah itu dia mendekati Dinda.


"Din aku keluar sebentar ya.... Aku akan cepat kembali.." ucap Raka.


"Iya pak ..." jawab Dinda pelan. Tiba - tiba Raka mencium kening Dinda yang membuat Dinda melototkan matanya karena kaget. Setelah mencium kening Dinda dengan sayang raka berpamitan pada Bu Nuning dan keluar ruangan. Dinda dan bu Nuning saling berpandangan. Bu Nuning menatap wajah Dinda dengan curiga.


"Din ...,." panggil bu Nuning menatap wajah sang putri.


"Ya Bun...."jawab Dinda dengan wajah yang sudah memerah.


"Ada hubungan apa kamu dengan atasanmu....?" tanya Bu Nuning penuh selidik.


"Nggak ada Bun....." jawab Dinda pelan.


"Jujurlah nak.....jangan kau rehasiakan apapun dari Bunda Din..."ucap Bu Nuning penuh tanya. Dinda diam mendengar perkataan Bundanya.


"Sepertinya pak Raka menyukai Dinda Bun, tapi Dinda masih berat menghilangkan kenangan mas Dirga " ucap Dinda .


"Nak....aku tahu kau masih mencintai mendiang suamimu tapi ingat nak ini sudah 2 tahun lebih Dirga meninggal Din masih ada Exsal yang membutuhkan figur papa nak....." nasehat bu Nuning.


"Tapi pak Raka belum tentu mencintai Dinda Bun.....mungkin perhatiannya hanya karena Dinda pegawainya..."ucap Dinda.


"Tetapi Bunda lihat sepertinya pak Raka mencintaimu nak....." jawab Bu Nuning.


"Jangan berprasangka Bun.... Pak Raka itu masih lajang tampan gaga juga kaya banyaknya yang mengejarnya bun.... Dinda hanyalah seorang janda itu tidaklah mungkin Bun....." jawab Dinda.


"Tapi jika pak Raka nanti mengutarakan Cinta apa kau mau menerimanya nak....?" tanya Bu Nuning kembali. Dinda terdiam ia ingat Exsal yang sudah dekat dengan Raka, Dinda menghela nafas.


"Insyaallah Bun kalau pak Raka memang jodoh Dinda dan Dia mencintai Dinda dan Exsal , Dinda akan berusaha mencintainya Dinda mau menerimanya Bun...." jawab Dinda perlahan.

__ADS_1


"Benarkah Din.....?" terlihat Raka yang berdiri di pintu kamar rawat Dinda.


BERSAMBUNG.


__ADS_2