Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
Chapter 10


__ADS_3

Hari ini adalah hari tersibuk yang dilalui Lena dan kedua sahabatnya. Setelah kemarin mereka pergi berbelanja di toko bahan kue. Tampak di depan dua orang karyawan barunya yaitu Nina dan Sasa, sedang membagi-bagikan brosur promo buy 1 get 1.


Promo tersebut hanya akan berlangsung pada pembukaan toko kue Lena selama tiga hari. Toko kue Lena terlihat ramai, banyak anak-anak remaja yang keluar masuk untuk makan di situ.


Sepertinya dari mereka ada yang penasaran dan ada juga yang memanfaatkan promo yang diberikan oleh toko kue Lena. Meskipun begitu, Lena senang karena banyak yang ingin mencoba kue dan rotinya.


Lena yang baru saja dari dapur membawa beberapa lava cake dengan berbagai isian, untuk dicoba kedua sahabatnya dan dua karyawan baru nya. Setelah meletakkan lava cake di meja, ia keluar memanggil Nina dan Sasa untuk beristirahat sejenak.


“Nina, Sasa, ayo masuk istirahat dulu.” Panggil Lena.


“Iya mbak.” jawab keduanya. Mereka segera bergegas masuk ke dalam dan istirahat.


“Mbak Lena, mobil hitam itu dari tadi pagi parkir di situ, seperti sedang memperhatikan toko mbak.” Ucap Nina sambil menunjuk mobil tersebut.


Sebelum Lena ikut masuk, ia melihat mobil hitam yang parkir disamping pohon dekat dengan tokonya tersebut. Ia hanya mengangkat bahunya.


“Mungkin mobil itu mogok atau hanya ingin beristirahat.” Ucapnya dalam hati.


Tak lama setelah Lena dan kedua karyawannya masuk, mobil tersebut menyalakan mesinnya dan berlalu menuju tempat seseorang yang menunggunya. Orang itu pun bergegas melajukan mobilnya, karena sedari tadi seseorang yang menunggunya selalu meneleponnya.


“Mbak ini enak banget.” Ucap Nina sambil memakan lava cake buatan Lena tersebut.


“Ini sih rasanya mirip seperti lava cake yang ada di tempat-tempat mahal itu mbak, Lumer di lidah.” Sasa memberikan kedua jempolnya.


“Aku yakin Len, lava cake kamu bakalan jadi terkenal dan primadona di toko kue mu ini. Lihat saja tadi banyak yang membelinya.” Rani memuji buatan Lena.


“Iya dong, siapa dulu yang ngajarin?” Ucap Lisa menunjuk dirinya penuh percaya diri.


“Heeh.... Kamu masak telur dadar saja suka keasinan kok.” Rani memukul sedikit lengannya Lisa. Lisa ingin membalas perbuatan Rani, namun sebelum Lisa memukulnya Rani menghindar dan menjulurkan lidahnya pada Lisa.


Lena dan kedua karyawannya yang melihat tingkah konyol Lisa dan Rani pun tertawa. Mereka makan siang dengan berbincang-bincang dan bersenda gurau, sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Setelah makan siang selesai mereka segera melanjutkan pekerjaan masing-masing sampai pukul 6 sore.


Di lain tempat tampak seorang pria memakai kaos dan celana panjang tergesa-gesa menuju kantor sahabatnya. Ia harus tiba sebelum sahabatnya tersebut murka karena sudah menunggu lama.


“Maaf dude, tadi di perjalanan macet.” Ucap Danu yang baru tiba di ruangan Farel.

__ADS_1


“Berikan aku informasinya sekarang.” Ucap Farel to the point.


Danu memutarkan matanya dengan kesal. “Hei.... Tidak bisakah kamu mempersilahkan aku duduk dan memberikan aku minuman? Aku kehausan karena sedikit berlari menuju ruanganmu.”


“Silahkan duduk. Dan ini minumanmu.” Farel memberikan minuman kaleng pada Danu. Segera Danu menerimanya dan duduk di sofa yang tersedia.


Baru saja Danu membuka minuman tersebut, Farel mengambil kembali minumannya. “Apa yang kau dapatkan? Berikan aku informasinya sekarang.”


Danu menghela napas dan mengambil kertas berisi informasi yang di inginkan Farel. ”Ini adalah berkas yang aku dapatkan setelah mengikuti kegiatan Lena beberapa hari ini.”


Farel mengambil berkas tersebut dan mengembalikan minuman kepada Danu. Farel membuka kemudian membacanya dengan teliti. Danu yang melihat hanya menggelengkan kepala dan meneguk minumannya untuk menghilangkan dahaga yang sedari tadi menghampiri.


“Lena sekarang berada di kota lain. Dua hari yang lalu ia pindah ke kota tersebut bersama adikmu dan sahabatnya yang bernama Lisa.” Danu mulai menceritakan informasi apa yang ia dapatkan.


“Apa yang ia lakukan di kota tersebut?”


“Ia membuka sebuah toko kue.”


“Toko kue di kota tersebut?”


“Ya, aku pikir dia sedang menghindar darimu Farel. Dan hari ini dia membuka toko kue nya.”


“Aku pikir dia baik-baik saja, ia terlihat bahagia di sana. Dan aku yakin toko kue nya akan sukses.” Danu kembali menyeruput minuman kalengnya.


“Apa itu saja informasi yang kamu dapatkan?”


“Ya, untuk Lena hanya itu yang aku dapatkan. Tapi aku punya informasi penting lainnya tentang istrimu.”


“Jelaskan!”.


“Easy dude, apakah kamu tidak ingin mentraktirku makan siang terlebih dahulu?” Tanya Danu dan dihadiahi tatapan yang menusuk dari Farel.


“Oke-oke, jangan menatapku seperti kau ingin memakanku hidup-hidup. Aku hanya bercanda.” Danu mulai mendekatkan wajahnya ke arah Farel.


“Sebenarnya Sarah....” Ucapan Danu terhenti ketika pintu terbuka dan muncul seseorang yang sedang mereka bicarakan.

__ADS_1


“Farel, aku membawakan berkas yang kamu tinggal sekaligus bekal dari mama.” Sarah meletakkan berkas dan bekal tersebut di meja kerja Farel.


“Hai Sarah, bagaimana keadaanmu? Aku turut berduka cita atas meninggalnya janin kalian.” Danu berbasa-basi untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi.”


“Hai Dan, aku baik. Terima kasih. Apa yang kalian bicarakan?” Sarah bertanya kepada kedua pria tersebut.


“Bukan urusanmu.” Ucap Farel dingin.


“Tapi aku berhak tahu, aku adalah istrimu Farel.” Sarah berjalan ke arah mereka.


“Sepertinya kalian perlu berbicara, aku akan pergi. Rel aku balik ke tempatku dulu. Ah iya, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan tugasku sementara, aku akan pergi ke Singapura untuk beberapa bulan. Jadi sampai ketemu lagi.”


Danu tersenyum dan secepatnya pergi dari tempat yang mulai terasa panas. Ia terkekeh memikirkan wajah Farel yang penasaran karena ucapannya tentang Sarah. Danu berpikir akan memberitahukan informasi tersebut setelah ia pulang dari Singapura.


“Sebaiknya kamu pulang Sarah.”


“Aku ingin bersamamu Farel.” Sarah mulai merangkul tubuh Farel.


“Apa yang kamu lakukan, Aku sedang sibuk!”


“Aku menginginkanmu Farel.” Sarah berbisik di telinga Farel. Farel mendorong Sarah hingga jatuh ke sofa lain.


“Dengar Sarah, kamu hanya sebagai istri, tidak lebih. Aku tidak pernah mencintaimu, bahkan sebelum kamu membunuh janin itu!” Ucap Farel lantang.


Mendengar kata-kata itu, Sarah mulai menangis. Ia bergegas keluar kantor suaminya. Hati nya sakit mendengar perkataan Farel, sebenarnya ia juga ingin janin tersebut tetap ada.


Tak tahu kenapa perasaan sayang pada janinnya timbul begitu saja. Namun karena kesalahannya sendirilah membuat janin tersebut meninggal.


Kini ia akan selalu hidup dalam penyesalannya. Sarah bergegas menaiki mobil dan mengendarai ke suatu tempat. Tempat di mana janinnya dikebumikan.


“Maafkan Mama Nak, tidak bisa menjagamu dengan baik.”


“Mama sangat menyesal.” Sarah menangis di batu nisan sang janin. Ini terjadi karena ia telah membohongi Farel, dan sekarang tuhan memberikan hukuman padanya. Janinnya di ambil lalu Farel bersikap semakin dingin padanya.


Dulu sifat Farel begitu hangat padanya, Farel sudah menganggap Sarah sebagai sahabat sekaligus adiknya sendiri. Perlakuan Farel itu lah yang membuat Sarah menjadi bergantung pada Farel dan ingin memilikinya sendiri.

__ADS_1


Sekarang ia sadar bahwa dia tidak mencintai Farel, namun hanya terobsesi dengan Farel dan kekayaannya saja. Jika Farel mengetahui kebohongannya, maka sudah dipastikan hubungan mereka berdua akan berakhir di pengadilan.


Ia hanya perlu menunggu hari itu tiba, ketika hari itu datang maka ia harus menerima keputusan tersebut. Ia hanya berharap Farel akan memaafkannya.


__ADS_2