Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
DINDA TERLUKA.


__ADS_3

Pagi itu dinda benar- benar sibuk. Kemaren sudah pulang sampai larut pagi ini pun harus berangkat pagi karena jam 7 pagi ada rapat di kantor.setelah solat dan membersihkan kamar Dinda turun ke bawah menemui bik Sumi. Ketika Dinda sampai di dapur bik Sumi sedang membersihkan dapur.


"Bik tolong Dinda buatkan susu sama roti isi telor setengah matang ya bik "


"Iya Non...".jawab bik Sumi . bik Sumi pun melaksanakan permintaan Dinda.


"Dinda ke kamar dulu bik mau ganti baju..." seru Dinda yang sudah ada di tangga.


"Iya Non...." teriak bik Sumi pula. Dinda berjalan masuk kekamarnya untuk mengganti baju dengan baju kerja. Setelah mengenakan hijab dan memoles bibirnya dengan tipis Dinda membawa tas kerjanya dan keluar dari kamarnya. Dia menengok sebentar kamar Exsal dihampirinya pembaringan sang putra dengan perlahan diciumnya pipi montok itu .


"Mama berangkat ya sayang.." ucapnya lirih. diciumnya dahi sang putra prlahan dia keluar dari kamar Exsal.di turuninya tangga dengan cepat dia berjalan menuju meja makan. Sesampainya di meja makan terlihat pesanannya sudah tersedia di meja makan.


"Bik kalau Exsal bangun mandikan dan suapin ya bik, kalau tanya Dinda bilang mama buru- buru.kalau dia rewel telfon Dinda bik...." pesan Dinda beruntun.


"Baik Non..."


"Ya udah bik Dinda berangkat bilang sama pak Giman Dinda bawa mobil sendiri...." kata Dinda . setelah mengisi perut Dinda berangkat kerja. Ketika sampai di kantor waktu sudah hampir jam 7 pagi dengan terburu- buru Dinda menaiki lift. Ketika sampai di ruangan kerjanya terlihat masih sepi , untung si bos belum datang batin Dinda. Dinda cepat- cepat mempersiapkan fail- fail yang akan di butuhkan dalam rapat nanti. Tak lama terlihat Raka datang bersama asistennya pribadinya.


"Pagi pak....." sapa Dinda .


"Pagi Din....lo kamu berangkat jam berapa...?" tanya Raka ketika terlihat Dinda sudah menata berkas- berkas yang akan di butuhkan.


"Tadi pak jam 6 ...." jawab Dinda.

__ADS_1


"Trus Exsal siapa yang memandikan...?" tanya Raka lagi.


"Ada bik Sumi dan pak Giman pak..." jawab Dinda cepat.Rakapun masuk ke ruangannya.tak lama merekapun menuju ruang rapat.


***


Sore pun tiba Dinda segera membereskan dokumen serta fail- fail yang harus Raka periksa. Setelah tersusun rapi dia membawanya keruangan Raka . sesampainya di dalam ruangan terlihat Raka yang sedang sibuk dengan leptopnya. Ketika melihat Dinda masuk Raka menghentikan kegiatannya.


"Din kau sudah mau pulang...?" tanya Raka.


"Iya pak.. itupun kalau bapak memperbolehkan...." jawab Dinda.


"Pulanglah sudah tidak ada kerjaan lagi kok kasihan Exsal dirumah ..."jawab Raka menatap Dinda.


"Walaikum salam...." Dinda pun keluar dari dalam kantor Raka , mengambil tas kerjanya dan melangkah pulang . Ditengah perjalanan Dinda teringat kalau bahan masakan di rumah banyak yang habis akhirnya dia membelokkan mobilnya memasuki supermarket. Setelah mendapatkan semua yang dia butuhkan Dinda baru pulang . ketika sampai di jalan yang sepi apa lagi sore begini tiba- tiba sebuah mobil hitam memotong laju mobilnya , otomatis Dinda menginjak rem mobil dengan keras . terlihat 4 orang laki- laki berbadan besar keluar dari mobil itu dan berjalan mendekati Dinda. Salah satu dari mereka menggedor pintu mobil Dinda. Dinda kaget tapi tak ada sedikitpun dia merasa takut. Dengan pelan Dinda membuka pintu dan turun dari mobil.


"Ada apa mas....?" tanya Dinda tegas.


"Ikut kami...jangan coba- coba melawan...." perintah dari orang yang menggedor mobil Dinda.


"Untuk apa....?" tanya Dinda kembali.


"Jangan cerewet ikut saja kami jangan sampai kami memaksamu dengan kekerasan....?" jawab pria itu dengan garang.

__ADS_1


"Boleh kalau kalian bisa...." ucap Dinda tenang. Untung saat ini Dinda memakai setelan celana.


"Wah berani melawan ....ayo kita tangkap dia kawan..!"teriaknya pada teman- temannya. Dan salah satu mereka maju akan menangkap Dinda. Tiba- tiba pria yang memegang Dinda sudah jatuh terkapar mendapat bantingan dari Dinda. Kontan saja teman- temannya kaget mereka tidak menyangka kalau Dinda pandai bela diri. Merekapun mengeroyok Dinda namun Dinda tidak mudah di tumbangkan. Dinda mengambil kayu yang ketepatan berada di dekat mobilnya. Dinda melawan mereka dengan memakai kayu itu sebagai senjatanya. Tiba - tiba sebuah mobil berhenti di sebrang jalan. Hari yang ada di dalam mobil itu kaget. Saat itu Hari bersama teman- temannya tak sengaja melintasi daerah itu. Dia yang seyogyanya mau pergi menjemput temannya melihat perkelahian itu .


"Gila Har kasihan cewek itu....dia sendirian melawan 4orang segede- gede gitu....!" teriak teman Hari yang bernama Rizal. Hari merasa mengenali sosok wanita yang sedang melawan para pria itu Ketika sudah dekat Hari terkejut ternyata dia Dinda teman sekantornya.


"Dinda...." seru Hari kaget.


"Kau mengenalnya.....?" tanya Dendi.


Mereka memang bertiga di dalam mobil itu.


"Dia teman sekantorku....." teriak Hari sambil menghentikan mobilnya di pinggir jalan .


"Cepat kita bantu Dia ..." teriak Rizal sambil keluar dari mobil. Haripun cepat keluar dari mobil setelah mematikan mesin mobil.


"Hay...kalian pengecut. ...!" teriak Hari sambil berlari bersama teman- temannya mendekakati Dinda yang kebetulan sebelum Hari datang sudah kewalahan walaupun salah satu dari mereka sudah terkapar kena tendangan Dinda. Tapi tanpa setahu Dinda salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah pestol. Dan bertepatan dengan teriak Hari pria itu menembak Dinda tepat di dada sebelah kanan. Dinda kaget ada benda panas menghantam dadanya. Namun sebelum Dinda roboh Dinda melemparkan sebatang kayu yang dia pegang kearah orang yang menembaknya.kayu itu tepat mengenai tengkuk pria yang saat itu berusaha lari ketika mendengar teriakan Hari. Pria itu jatuh dan pingsan. Dinda pun terkulai roboh.namun sebelum jatuh ke tanah Hari telah menangkap tubuhnya. Dinda terkulai di pangkuan Hari. Baju dan jilbab Dinda sudah berlumuran darah.


"Pak Hari.....?" ucap Dinda yang masih sadar perlahan . Dia menatap. wajah Hari dengan mata sayu.


"Iya Din...tenang lah kami akan membawamu ke rumah sakit..." kata Hari cemas melihat keadaan Dinda yang berlumuran Darah.


"Tolong bawa mereka ke kantor polisi pak.. .." ucap Dinda pelan dan akhirnya kesadarannya hilang. Dengan cemas Hari mengangkat Dinda membawanya kedalam mobil. Di baringkannya tubuh Dinda di bangku belakang lalu dia menyuruh Rizal dan Dendi membawa para penjahat ke kantor polisi sedang dia sendiri membawa Dinda kerumah sakit. Hari membawa mobilnya dengan cepat dia cemas dengan keadaan Dinda.

__ADS_1


__ADS_2