Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
BAYI KEMBAR.


__ADS_3

Sepulang dari membeli perlengkapan bayi Dinda duduk dengan lelah di sofa ruang tamu. Akhir- akhir ini tubuh Dinda memang terasa cepat lelah mungkin karena bawahan sang bayi yang kini kandungan Dinda sudah berumur 9 bulan . mereka sudah menunggu saat - saat kelahiran sang bayi. Dinda sudah mempersiapkan dua box bayi karena ketika kandungan Dinda berumur 5 bulan ketika di usg bayi dalam kandungan Dinda kembar. Saat itu Raka sangat bahagia ketika mendengar bayi yang di kandung Dinda kembar. Kini sang jabang bayi akan segera lahir membuat keposesifan Raka pada Dinda semakin besar . Dinda tidak diperbolehkan kemana- mana tanpa ada Dia. Dia benar- benar menjadi suami siaga. Tak perduli siang atau malam jika Dinda minta sesuatu pasti akan dia turuti. Seperti sore ini Dinda sedang kelelahan setelah belanja, Raka tidak tahu ketika Dinda pergi belanja bersama bik Sumi dan pak Giman. Exsal tidak ikut karena bermalam di rumah pak Bima atas permintaan Bu Susi. Tiba- tiba Dinda merasa perutnya sakit tapi tak lama hilang. Karena Dinda sudah pernah merasakan tanda- tanda akan melahirkan ketika saat Exsal mau lahir kinipun Dinda curiga kalau dia akan melahirkan. Dinda agak ragu karena dokter memprediksi dua minggu lagi. Ketika rasa sakit itu sering datang Dindapun segera memanggil bik Sumi.


"Bik tolong ambilkan tas kecil di kamar lalu pak Giman suru kesini Bik..." seru Dinda .


"Non apa non akan melahirkan....?" tanya bik Sumi sambil mandang Dinda yang berwajah agak pucat.


"Sepertinya iya Bik..." jawab Dinda sambil menahan sakit pada perutnya. Bik Sumi pun segera cepat mengambilkan tas Dinda. Dinda segera mengambil Hp nya yang ada di tas yang dia bawah ketika belanja. Dinda segera menelfon Raka yang berada di kantor. Ketika sambungan telfon tersambung Dinda segera berucap.


"Assalamualaikum...." ucap Raka dari sebrang.


"Walaikum salam. " jawab Dinda.


"Ada apa yang.... Mas lagi meeting nich sebentar lagi mas telfon ya..." ucap Raka lalu menutup telfon ya. Dinda kesal tapi apa boleh buat. Dinda segera mengirimkan wa pada Hari.


Pak Hari tolong beritahu pak Raka aku pergi kerumah sakit sepertinya akan melahirkan. tulis Dinda lalu mengirimkan pesan tersebut pada Hari. Setelah itu Dinda segera berjalan ke luar rumah karena bik Sumi sudah bilang pak Giman sudah siap. Dengan susah paya Dinda yang menahan sakit di perutnya berjalan ke mobil di bantu Bik Sumi.


"Non sabar ya...." ucap bik sumi menghibur ketika melihat wajah Dinda yang semakin pucat menahan sakit.

__ADS_1


"Iya Bik...." jawab Dinda lalu naik ke dalam mobil bersama bik Sumi. Dan pak Giman pun segera melajukan mobilnya dengan cepat. Setelah sampai di Rumah sakit Dinda segera di bawah keruang bersalin untuk segera di tangani oleh Dokter.


Di perusahaan VGW.


Hari yang saat itu ada di sebelah Raka. Dia melihat ketika Raka menerima telfon lalu di matikan. Tak lama terasa Hp yang ada disaku bajunya bergetar dengan segera ia mengambil Hp nya. Tertera di layar ponselnya nama Dinda. Dengan cepat Hari melihat isi pesan . dia pun terkejut dan segera berbisik pada Raka. Raka yang mendengarnya kaget bukan kepalang, dengan panik dia meninggalkan meeting tanpa pamit pada peserta meeting. Raka berlari menuju mobilnya. Dengan cepat dia membawa mobilnya menuju rumah sakit. Ketika sampai di rumah sakit tempat Dinda di rawat dia segera menanyakan ruangan Dinda. Mereka mengatakan Dinda masih berada di ruang bersalin. Sesampainya di depan ruang bersalin Raka melihat bik Sumi dan pak Giman sedang menunggu dengan cemas. Raka segera masuk ke dalam ruang bersalin , Dokter yang semula akan marah malah membolehkan Raka menemani sang istri. Dinda pun ketika melihat Raka datang merasa gembira.


"Mas kau datang.... Gimana dengan meeting mu...?" tanya Dinda yang merasa perutnya tidak terlalu sakit.


"Maaf sayang mas tadi tak menghiraukan telfon darimu..." ucap Raka menyesali diri.


"Nggak apa...au...." tiba- tiba perut Dinda kembali sakit. terlihat tangan Dinda yang meremas tangan Raka menahan sakit. Keringat sudah bercucuran di wajah Dinda yang pucat.


"Bu sepertinya bayi ibu akan segera lahir tarik nafas bu lalu keluarkan ....nah terus begitu bu.... Nanti kalau saya menyuruh ibu mengejan ibu lakukan ya..." nasehat Bu Dokter. Dinda hanya bisa menganggukkan kepala. Dia melakukan semua perintah Dokter. Raka yang melihat perjuangan Dinda sangatlah terharu . Dia meneteskan air mata dia mengusap peluk yang semakin banyak Di wajah Dinda. Tak lama sang Dokter menyuruh Dinda yang kesakitan untuk mengejan, Dinda pun melaksanakan perintah Dokter.


.


Oeeek...oeeek....

__ADS_1


Terdengar tangisan bayi putra mereka, Raka menciumi wajah sang istri dengan rasa haru dan bahagia.


"Alhamdulillah Sayang terimakasih..." ucapnya bersyukur.


"Selamat bapak bayi bapak laki-laki.." ucap sang Dokter .


"Terimakasih Dok..." seru Raka. Tapi tiba- tiba Dinda merasa perutnya sakit kembali Dokterpun segera bersiap- siap kembali. Tak lama lahirlah bayi Dinda yang kedua.


"Bu bayi ibu yang kedua perempuan bu.. Selamat Pak Ibu...." ucap sang Dokter.


"Trimakasih Dokter jawab Dinda dengan wajah kelelahan. Raka tak henti- henti menciumi Dinda. Yang membuat Dinda malu pada Dokter dan Suster. Sedang Dokter dan para Suster hanya bisa tersenyum melihat tingkah Raka . tak lama dua orang Suster memberikan kedua bayi kembar mereka untuk di adzani. Setelah itu kedua bayi Dinda di taruh di atas dada Dinda bergantian


'Yang lihatlah mereka cantik dan tampan ya. ..?" kata Raka sambil menggendong salah satu bayi.


"Iya mas mereka lucu dan imut..."jawab Dinda.


"Pak silahkan tunggu di luar saya akan membersihkan sang mama..." ucap sang Dokter.

__ADS_1


"Baik Dok..." jawab Raka lalu beranjak meninggalkan Dinda dengan enggan. Sesampainya di luar ruangan Raka melihat keluarganya sudah pada berdatangan. Terlihat Papa dan Mama nya, Ayah dan Bunda mertua serta tak ketinggalan keluarga Pak Bima dan si kecil Exsal. Raka pun segera menghampiri mereka dan mencium tangan keenam orang tua tersebut. Terlihat kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.


"


__ADS_2