
Malam itu Lena pulang dengan pakaian yang basah karena di luar turun hujan. Ia segera mandi dan menaiki tempat tidurnya. Ia pun menangis meratapi takdir yang diberikan padanya, hingga akhirnya tidur karena kelelahan.
Lisa yang melihat keadaan Lena seperti itu merasa bingung sekaligus iba terhadapnya. Ia berpikir mungkin Lena dan Farel sedang bertengkar. Lisa berpikir untuk menanyakannya besok.
Keesokan harinya Lena bangun dengan mata yang sembab. Ia segera bangun dan menuju kamar mandi. Terlihat bayangannya yang menyedihkan di cermin. Cukup lama ia di sana, sebelum akhirnya membersihkan diri dan segera keluar menuju ruang makan.
“Pagi Lis, Ran.” Senyum Lena.
“Pagi Len.” Kedua sahabatnya menatap iba. Lisa akhirnya tahu apa yang terjadi malam tadi, karena pagi-pagi sekali Rina datang untuk menemui Lena dan akhirnya menceritakan segalanya kepada Lisa.
“Len ayo duduk, kita makan bareng. Ini aku sudah buatkan soto kesukaan kamu.” Lisa mulai mengambilkan Lena makanan.
“Makasih ya Lis.” Lena tersenyum.
“Len.” Panggil Rina takut.
“Ya, Rina. Ada apa?” Lena bertanya karena bingung terhadap sikap Rina sekarang.
“Apa kamu marah sama aku?”
“for what?” tanya Lena kembali.
“Emmm... Karena sikap kakak aku ke kamu.” Ucap Lisa takut. Terlihat air matanya mulai jatuh.
Lena menghentikan sarapannya dan mendekati Rani.” Aku tidak marah padamu Rani. Aku juga tidak marah pada kak Farel. Aku hanya kecewa padanya.”
Rani memeluk Lena dan menangis.” Terima kasih Lena, aku pikir kamu akan membenciku karena kesalahan kak Farel.”
Lisa pun tersenyum melihat kedua sahabatnya. Lena pun kembali ke kursinya.
“Tapi ada yang ingin aku katakan pada kalian.” Lena mengatakan dengan serius.
“Apa itu?” tanya kedua sahabatnya bersamaan.
“Aku hamil.”
“What?”
__ADS_1
“Kok bisa?”
Kedua sahabatnya bersamaan bertanya. Lena yang ditatap oleh kedua sahabatnya pun menatap balik. Ia pasrah jika kedua sahabatnya akan mengejek lalu meninggalkannya begitu saja, bahkan jika mereka mengusir Lena sekarang.
“Jangan bilang itu anak kak Farel?” tebak Rina tiba-tiba.
Lena yang mendengar itu langsung menunduk malu. Rina pun menatap Lisa dan mengangguk. Lisa segera memeluk Lena yang mulai menangis.
“Len, jangan menangis, aku tahu kamu wanita yang kuat.” Lisa mencoba menenangkannya.
“Aku harus menelepon kak Farel, aku akan memberitahukan kabar ini.” Rani mulai mencari nama Farel di handphone nya.
“No. please jangan beritahu dia Rani.” Lena memohon.
“Tapi Len, kakak aku harus tahu, jika dia tahu aku yakin ia akan membatalkan pernikahannya bersama nenek lampir itu.” Rani melembutkan suaranya.
“Iya Len, kamu seharusnya memberitahukannya. Ia berhak tahu tentang janin ini.” Lisa menimpali.
“Please..” Lena memohon dengan menangkup kedua tangannya.
Kedua sahabatnya yang melihat pun merasa iba, Lisa memberi isyarat mengangguk kepada Rina. Rina pun menyetujuinya. Mereka pun segera memeluk Lena.
Lisa dan Rani tersenyum hangat pada Lena.
Lisa segera menjitak kepala Lena. “Dengar ya tuan putri mau kamu seperti apa pun, aku dan Rani akan tetap menganggap kamu sahabatku.”
“Benarkah?” Lena mengusap kepala yang di jitak Lisa. Ia tak percaya apa yang ia dengar.
Kedua sahabatnya mengangguk mengiyakan. Lena merasa bahagia karena di saat seperti ini, masih ada yang mau menerimanya. Ia pun tersenyum dan kembali memeluk keduanya.
“By the way, sudah berapa lama keponakan aku ada disini? Rani mengusap perut Lena. Lisa pun ingin mengetahuinya. Pasalnya selama ini ia tidak pernah melihat Lena mual-mual seperti wanita hamil kebanyakan.
“Aku rasa sudah satu bulan.”
“Sehat terus ya keponakan aunty. Lisa mencoba menyejajarkan wajahnya ke perut Lena.
“Kalau kamu ingin sesuatu, kamu harus beri tahu kamu ya? Aku tidak ingin keponakan aku lahir mengences karena permintaannya tidak dituruti.” Ucap Rani cemberut.
__ADS_1
Lena tersenyum sendiri mengingat perkataan Rani dua bulan yang lalu dan kejadian yang menguras air mata tersebut. Setelah berbincang-bincang diruang tamu, mereka bertiga memasuki kamar masing -masing untuk segera tidur.
Setelah beberapa menit kemudian, Rani dan Lisa sudah memasuki alam mimpi mereka masing-masing. Namun tidak dengan Lena, ia tidak bisa tidur sekarang. Ia menginginkan Farel berada di sampingnya, memeluknya dengan hangat.
“Maafkan mommy ya, tidak bisa membuat ayahmu bersama kita. Jadi kamu harus baik-baik di sana, jangan nakal ya” Lena mengelus perutnya yang rata.
Beruntungnya janin tersebut seakan mengerti dengan keadaan mommy nya, tak lama setelah itu, Lena pun mengantuk dan mulai terlelap.
Di rumah keluarga Atmaja di pagi hari, para pelayan sedang sibuk berlalu lalang membawakan minuman kepada tuannya. Entah sudah berapa kali mereka membuat minuman yang berbeda, namun tuannya tetap saja kembali lagi ke kamar mandi.
Orang tuanya yang melihat kelakuan anaknya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mereka berpikir bisa-bisanya anak sulungnya membuat kekacauan di rumah sepagi ini.
“Hoeek... Hoeek...” suara itu terdengar lagi setelah Farel berlari menuju kamar mandi.
Sarah segera menghampiri dan memberikannya air putih. Namun Farel menolak dan mendorong Sarah keluar.
“Jangan dekat-dekat denganku, aku tidak tahan mencium bau badanmu.” Farel kembali mengeluarkan isi perutnya ketika Sarah mencoba mendekatinya.
Ibunya yang mengerti keadaan Farel pun menarik Sarah menjauhi anaknya. “Sarah, sebaiknya kamu jangan dekati dia dulu. Sepertinya ia sedang tidak ingin bersamamu. Kamu mengerti bukan, ketika seseorang hamil disemester pertama akan seperti itu. Melihat kamu yang tidak mengalaminya, jadi dipastikan Farel yang mengalaminya.”
Muka Sarah memerah menahan amarah, dan ia segera pergi keluar rumah setelah mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ibu yang melihat sikap Sarah tersebut menghela nafas. Ia segera memberi perintah pada pelayan untuk membuatkan teh hijau.
Tak lama setelah Sarah keluar, Rani datang dan kebingungan melihat para pelayan berkumpul bersama kedua orang tuanya di kamar Farel. Ia berjalan masuk ke sana dan melihat keadaan kakaknya yang sedikit mengenaskan, kakaknya sedang terduduk lemas seperti sudah lari maraton ratusan kilo.
“Pagi mah, pah. Kak Farel kenapa mah?” tanya Rani setelah mencium kedua orang tuanya.
“Lemas karena mual-mual seperti ibu hamil, Ran.” Ibunya menjawab kembali memberikan teh hijau yang sudah dibuatkan oleh pelayannya.
Tiba-tiba Farel berlari ke kamar mandi dan kembali mengeluarkan cairan. Ia bingung dan sudah tidak tahan lagi. Ia merasa tubuhnya benar-benar lemas. Rani merasa iba pada kakaknya dan memberitahukan pada pelayan untuk membuatkan jus alpukat.
Tak lama kemudian pelayan kembali dengan membawa satu gelas jus alpukat ditangannya. Rani segera memberikan jus tersebut kepada Farel.
“Jus alpukat?” Farel bingung kenapa Rani memberikannya, padahal Rani tahu ia tidak menyukai jus alpukat.
“Minum saja dulu.”
Farel menerima minuman tersebut dan mencoba meminumnya. Aneh, rasanya enak dan ia tidak merasakan pusing lagi. Perutnya pun tidak memberontak kembali. Padahal ia tahu jika meminum jus alpukat, ia akan langsung memuntahkannya kembali. Ia pun menghabiskan minuman tersebut.
__ADS_1
Semua orang yang melihat itu akhirnya bisa bernapas dengan lega. Ayahnya pun menyuruh Farel untuk beristirahat di rumah. Rani tersenyum senang melihatnya, ternyata calon keponakannya memberikan pelajaran untuk daddy nya. Dan sepertinya tidak akan mudah bagi Farel kedepannya.