
Hari pernikahan Dinda tak terasa telah tiba. Dinda yang sudah kembali dari kota M satu minggu yang lalu kini telah dirias di dalam kamarnya oleh MUA. Akad nika akan dilaksanakan jam 10 pagi. Dengan memakai gamis putih dan hijab putih tampak wajah Dinda yang cantik semakin menawan dengan hanya memakai riasan yang natural. Dengan polesan lipstik warna pink membuatnya semakin anggun. Tepat jam 09.45 keluarga mempelai pria telah tiba. Terlihat Raka yang memakai pakaian jas pengantin berwarna putih dan celana putih senada dengan baju Dinda terliha gagah dan tampan. Terlihat wajah yang penuh kegembiraan. Tak lama pak penghulu meminta acara segera di mulai. Dinda di tuntun oleh Sela dan Tia menghampiri Raka yang telah duduk di depan pak penghulu. Sesaat Raka tertegun melihat kecantikan Dinda. Terlihat Dinda yang anggun dan cantik mempesona datang mendekatinya. Bukan hanya Raka yang tertegun tapi hampir semua kaum adam kagum melihat kecantikan Dinda. Hingga Dinda sudah ada di sampingnya Raka masih menatap Dinda.
"Mas..." Bisik Dinda pelan sambil memegang tangan Raka . Raka pun kaget lalu tersenyum pada Dinda. Bunda Nuning yang ada di belakang mereka menutup kepala kedua mempelai dengan selendang putih.
"Mas Raka sudah siap...?" tanya pak penghulu.
"Sudah pak...?" jawab Raka dengan wajah tegang.
"Mas Raka jangan tegang, santai aja.." goda pak penghulu .
Raka tersenyum mendengar ucapan pak penghulu yang sengaja menggodanya.
__ADS_1
Acara hijab kabulpun di mulai . Raka yang merasa tegang akhirnya bisa mengucapkan sumpah dengan lancar dan benar hingga pak penghulu berucap
"Gimana saksi SAH....?" ucap pak penghulu.
"SAH.....!"Jawab mereka serempak.
Raka menghembuskan nafas lega. Dinda lalu mencium tangan Raka dan Raka segera mencium kening Dinda. Tiba- tiba Exsal menghampiri Dinda dan Raka, dia mencium tangan keduanya bergantian. Dinda terharu dia memeluk Exsal dan mencium pipinya di ikuti Raka. Setelah itu Dinda meminta doa restu pada kedua orang tua mereka. Tak lupa juga pada pak Bima dan Bu Susi. Setelah acara sungkeman maka di lanjutkan dengan makan bersama. Acara bukan saja sampai di situ karena nanti malam akan di teruskan dengan acara resepsi di hotel yang masih milik keluarga Wijaya. Karena sudah lelah Raka dan Dinda undur diri , mereka ingin istirahat karena acara nanti malam masih banyak.merekapun di bawa ke dalam kamar Dinda yang sudah di jadikan kamar pengantin. Ketika sampai di dalam Raka sudah tak tahan di peluknya Dinda yang sedang membuka hijabnya dari belakang. Dinda kaget melihat tingkah Raka.
"Mas..." ucap Dinda pelan.
Setelah puas Raka melepas pelukannya dan memutar tubuh Dinda dan menatap wajah Dinda.
__ADS_1
"Yang lain kali jangan berdandan seperti ini lagi ya...." kata Raka sambil menangkup wajah Dinda dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa mas... Dinda kelihatan jelek ya....?" tanya Dinda cemas.
"Bukan..bukan jelek tapi aku tak ingin kecantikan istriku di lihat laki- laki lain, hingga terlihat mereka seperti ingin menerkammu.." jawab Raka dengan posesif.
"Ya ampun mas kamu cemburu... seharusnya kamu bangga melihat istrimu di kagumi orang.." jawab Dinda sambil tertawa.
"Nggak aku nggak suka.. Aku nggak suka melihat mata mereka yang menatapmu dengan mata memuja , tahu nggak ingin rasanya mas mencongkel mata mereka ketika mereka menatapmu tadi... " jawabnya dengan jengkel.
"Iya dech iya... Trus nanti malam adik harus pakai baju jelek aja Ya agar nggak di lihat orang...?" ucap Dinda menggoda.
__ADS_1
"Ya enggak lah... Nanti malam istriku harus tampil cantik dan anggun, tapi hanya untuk malam ini aja lo..." ucapnya sambil mencubit hidung Dinda.
"Au sakit mas..." Dinda mengadu smbil cemberut. Melihat itu Raka tak tahan lagi lalu mencium bibir Dinda yang sejak tadi sudah membuat dia gemas. Raka ****** bibir itu dengan lembut Dinda yang mulanya kaget lalu merespon membalas ciuman Raka.Raka yang merasa Dinda membalas ciumannya merasa bahagia. Raka yang sudah menunggu saat pernikahan ini menjadi sangat bahagia orang yang sangat dia cintai fan dia dambakan kini sudah menjadi miliknya. Merekapunberciuman dengan penuh kebahagiaan.