Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
KESEDIHAN PAK DAMAR.


__ADS_3

Setelah memasukkan Sindy kedalam penjara keesokan harinya Raka dan Hari mendatangi rumah pak Damar sore hari. Mereka ingin menanyakan tentang keberadaan Dinda.


Ketika sampai di rumah Pak Damar mereka melihat kedua orang tua Dinda sedang duduk- duduk di teras rumahnya


"Asalamualaikum..... " Ucap Raka memberi salam .


"Walaikum salam..... " ucap pak Damar dan Bu Nuning hampir bersamaan membalas salam Raka.


"Hey nak Raka apa kabar.... ?" tanya Bu Nuning .


"Baik Tan....." jawab Raka sambil menyalami tangan kedua orang tua Dinda di ikuti oleh Hari.


"Ayo silahkan duduk....." seru pak Damar mempersilahkan Raka dan Hari duduk. Sedang Bu Nuning berjalan kedalam untuk membuatkan minuman buat mereka. Ketika bu Nuning kedalam pak Damar Mengajak Raka berbincang- bincang . tak lama Bu Nuning keluar membawa minuman dan sekedar cemilan buat mereka. Setelah menaruh minuman dan cemilan di atas meja bu Nuning ikut duduk bersama mereka.


"Nak Raka tumben kesini.....?" tanya bu Nuning.


"Iya Tan Raka ada kepentingan sedikit pada Tante dan Om Damar..." ucap Raka perlahan.


"Ada apa Nak..... ?" tanya pak Damar .


"Om bolehkah Raka minta alamat Dinda Om.....?" tanya Raka perlahan.


"Alamat Dinda.... ?" tanya pak Damar tak mengerti.


""Iya Om...."


"Maksudmu apa nak dengan meminta alamat Dinda....? Bukannya Dinda kau tugaskan ke luar kota.. ?" tanya pak Damar bingung.


"Maksud Om Dinda sekarang ada Diluar kota Om...?" tanya Raka kaget.


"Iya bukannya kamu yang menugaskan dia keluar kota selama beberapa bulan ?


Tanya pak Damar kembali. Rakapun kaget dia tertunduk sedih. Raka terdiam terlihat wajah yang penuh kekawatiran dan kesedihan.


"Ini sebenarnya ada apa nak Raka...?" tanya pak Damar curiga. Rakapun dengan perlahan menceritakan tentang kesalah pahaman antara Dia dan Dinda. pak Damar dan Bu Nuning kaget mendengar penjelasan Raka. Mereka tidak menyangka kepergian Dinda menghindar dari Raka.


"Nak kenapa kau tak menjelaskan pada Dinda tentang Sindy... ?" ucap pak Damar menyesali perbuatan Raka.

__ADS_1


"Ini memang kesalahan Raka Om..." sesal Raka.


"Om kalau boleh tahu Dinda ada di kota mana ya....?" tanya Raka.


"Nach itu dia..... Dinda tidak memberitahukan dimana kota yang dia tinggali dan Om juga lupa menanyakannya..." jawab pak Damar.


"Coba bu kau telfon Dia..... " ucap pak Damar.


"Tapi nomornya tidak aktif Om...." sela Raka.


"Oo nomor Dinda sudh diganti nak..." jawab pak Damar. Ya Allah segitu marah kah Dinda padaku batin Raka ketika mendengar nomor telfon Dinda telah di ganti. Bu Nuning pun mengambil telfonnya di dalam kamar.


***


Di kota M.


Dinda yang sedang di kamar mandi setelah pulang kerja tidak mendengar telfonnya berdering. Setelah selesai mandi dan solat Dinda menemui sang putra yang sedang bersama bik Sumi.


"Hey sayang sudah makan....?" tanya Dinda sambil duduk di sebelah Exsal yang sedang belajar menggambar. Kini Exsal sudah mengenal huruf dan mempunyai hobi menggambar. Di umurnya yang belum genap 5 tahun dia sudah mulai bisa membaca. Mungkin kepintaran mama dan papanya menurun pada nya. Ketika sedang memperhatikan Exsal menggambar Dinda baru sadar kalau dia belum melihat ponselnya sejak dia pulang kerja tadi. Diapun berpamitan pada sang putra untuk mengambil Hp yang ada di kamarnya.


"Sayang ...Exsal sama bik Sumi dulu ya mama mau ambil Hp mama di atas.." ucap Dinda pada Exsal.


"Bik titip Exsal dulu ya.....?" ucap Dinda pada bik Sumi.


"Iya Non....." jawab Bik Sumi yang lagi melihat tayangan TV. Dindapun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar Dinda mengambil Hpnya yang masih berada di dalam tas kantornya. Ketika menyalahkan ponselnya terlihat puluhan panggilan tak terjawab dari sang Bunda.


"Ya Allah ada apa ini ...kenapa Bunda menelfon puluhan kali..." setu Dinda. Dengan perasaan was- was Dinda pun menelfon sang Bunda. Baru deringan ke dua panggilan sudah di angkat.


"Assalamualaikum nak....." ternyata Ayah Damar yang mengangkat.


"Walaikum salam Yah......" jawab Dinda .


"Ayah kenpa menelfon Dinda puluhan kali tidak terjadi apa- apa kan Yah...?" tanya Dinda penuh khawatir.


"Ndok kenapa kau sembunyikan semua dari Ayah dan Bunda ndok....?" tanya pak Damar dengan nada sedih.


"Maksud Ayah.....?" tanya Dinda tak mengerti.

__ADS_1


"Din...Ayah dan Bunda sudah tahu semua tentang kesalah pahaman antara kau dan nak Raka Din....." ucap pak Damar sedih. Dinda kaget mendengar ucapan sang Ayah.


"Darimana Ayah tahu tentang semua masalah itu.." tanya Dinda.


"Nak Raka sudah menjelaskan semua kesalahan pahaman kalian berdua Din"


Jawab pak Damar.


"Kesalah pahaman.....? Ayah itu bukan kesalah pahaman Yah...itu kenyataan.. Dinda lihat sendiri..." jawab Dinda .


"Tapi itu semua tidak srperti yang kau fikirkan nak...." jawab sang Ayah.


"Sudalah Yah Dinda minta kita jangan ngomongin persoalan itu dulu , Dinda mau melupakan persoalan itu Yah..." ucap Dinda dengan nada sedih.


"Baiklah nak kalau itu keinginanmu... Ayah hanya pingin kamu jujur pada Ayah


Sekarang kamu tinggal di mana..?"


Tanya pak Damar kemudian.


"Dinda ada di kota M Yah.... Dinda bekerja di perusahaan Papa Bima. Dinda mewakili Papa Bima di kota ini Yah..." jawab Dinda.


"Kau tak ingin pulang nak....?" tanya Pak Bima dengan sedih. Ada kerinduan dalam hatinya.


"Pulang Yah...Dinda pasti pulang tapi bukan saat ini Yah....mungkin nanti ketika luka di hati Dinda sudah sembuh "


jawab Dinda semakin sedih, tanpa terasa air mata menetes di pipi Dinda.


"Nak berilah kesempatan pada Nak Raka untuk menjelaskan persoalan yang membuat kesalah pahaman di antara kalian ndok...." nasehat pak Damar. Dinda terdiam mendengar nasehat sang Ayah.


"Din....."kata pak Damar ketika tidk terdengar suara dari sang putri.


"Ya Ayah..... Dinda tahu maksud Ayah tapi jangan sekarang Yah.....Dinda masih sakit hati...." jawab Dinda dengan nada sedih.


"Baiklah ndok kalau itu kemauanmu Ayah harap kau pikirkan perkataan Ayah. Ayah akhiri dulu ya percakapan kita...salam buat cucuku, tolong jangan kau jauhkan dia dari kami ndok Asalamualaikum.." ucap pak Damar


"Iya Yah Walaikum salam..." Dindapun mengakhiri percakapannya dengan sang Papa. Dinda terduduk di atas tempat tidur Kini semua telah di ketahui keluarganya. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Tak terasa air matanya kembali berderai. Kenapa pak Raka mesti bercerita pada Ayah. Apa sich maunya dia omel Dinda dalam hati. Setelah puas menangis Dinda masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar tak terlihat kalau dia habis menangis. Setelah terlihat wajahnya segar Dinda kembali menemui Exsal yang sedang bermain.

__ADS_1


terlihat sang putra sedang bermain dengan di temani bik Sumi.


__ADS_2