
Sore itu raka keluar dari mobilnya dengan wajah yang lesuh .hari ini bayak sekali pekerjaan yang ia kerjakan bersama Dinda. Setelah mengadakan rapat sore tadi dengan para kepala bagian di kantornya, dia memutuskan untuk segera pulang. Karena dia juga melihat wajah Dinda yang terlihat lelah sekali. Dengan lesuh dia memasuki rumahnya. Ketika sampai di pintu tiba- tiba seseorang memeluk tubuhnya.
"Sayang.....akhirnya kau datang juga.." seru Sindy sambil memeluk Raka tanpa rasa malu walau ada papa dan mama Raka. Terlihat wajah mama yang gusar.
"Sindy jangan seperti ini ...ada mama sama papa...." seru Raka sambil melepaskan tangan Sindy yang ada di perutnya .
"Kenapa sich sayang....kan aku kekasihmu..." ucapnya manja. Terlihat mama dan papanya pergi ke dalam.
"Ka....selesaikan urusanmu.." ucap sang papa tegas sebelum melangkah masuk ke dalam.
"Cukup Sind....!" teriak Raka sambil menghempaskan lengan Sindy.
"Maksudmu apa sich sayang..."tanya Sindy manja sambil berusaha memeluk Raka kembali.
"Sudah berapa kali aku katakan padamu aku bukan kekasihmu dan tidak akan pernah jadi kekasihmu ...tidak ada cinta di antara kita, kau itu ku anggap adikku sendiri Sind.....karena kau adiknya si Rendy..." jelas Raka pada Sindy sambil berjalan duduk di sofa. Dirga Raka dan Rendy adalah tiga sahabat di masa SMA. Mereka bersahabat bagai saudara
"Tidak sayang...aku nggak mau...aku mau jadi pacarmu bukan adik....!" teriak Sindy sambil mendekat ke arah Raka dan berusaha memeluk raka kembali.
"Cukup...aku bilang cukup sind.....kau nggak bisa memaksa aku untuk mencintaimu, aku mohon jauhi aku..." jawab Raka sambil menghindar dari pelukan Sindy.
"Nggak...Sindy nggak mau....pokoknya kakak harus jadi pacar Sindy..!" teriak Sindy histeris.
"Cukup Sendy.....jangan paksa aku berbuat kasar padamu...sekarang aku mohon pulanglah...." seru Raka.
"Tidak...aku tidak mau." teriaknya kembali.
"Pulanglah Sendy....jangan kau paksa aku memanggil satpam...." ucap Raka datar.
"Baiklah kak aku pulang tapi ingat kau milikku hanya milikku tak ada satu perempuanpun yang bisa memilikimu selain aku..." serunya sambil mengambil tasnya yang ada di sofa dan pergi keluar rumah. Setelah Sindy pergi Raka menghela nafas berat dia menyenderkan tubuhnya di sofa. Terlihat sang mama menghampirinya. Mama dan papa Raka mendengar pertengkaran Raka dan Sindy. Inilah yang mereka takuti dari dulu. Mereka tidak suka dengan sifat Sindy yang sombong dan arogan.
"Raka....itulah makanya Mama dan papa tidak suka kamu dekat dengan gadis itu. Dia sangat manja arogan dan sombong, maunya menagng sendiri....."ucap sang mama sambil duduk di dekat Raka dan mengusap rambut Raka lembut.
"Iya Ma...semua ini salah Raka , Raka bersikap baik padanya karena Raka menganggap dia adik...Raka nggak nyangka akan jadi begini ma..."sesal Raka.
"Sifat orang tidak sama nak...." jawab sang mama lembut. Raka hanya bisa menghela nafas berat dia tersandar di sofa dengan lesuh.
__ADS_1
"Ma apa yang harus Raka lakukan ma.."
tanya Raka frustasi.
"Jauhi dia tegaskan sikapmu padanya " nasehat sang mama.
"Aku takut kalaudia tahu aku mencintai Dinda dia akan melakukan sesuatu pada Dinda ma .... " kata Raka pada sang mama.
"Kalau begitu kau harus melindungi Dinda dan putranya nak...mama lebih suka kau dapat Dinda daripada gadis itu..." jawab sang mama menatap Raka .
"Iya ma... Rakapun lebih memilih Dinda daripada Sindy...."
"Ya udah sana mandi ganti baju lalu solat nanti kau akan lebih tenang..." nasehat sang mama.
"Iya ma....." jawab Raka sambil beranjak pergi kekamarnya.Sesampainya di kamar Raka masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin di bawa shower tanpa membuka pakaian kerjanya. Air dingin sedikit menghilangkan perasaan setres dan marahnya karena perbuatan Sindy. setelah cukup lama Raka mengguyur tubuhnya diapun merasa segar dan mengakhiri mandinya. Setelah mandi dia menunaikan solat ashar. Setelah melaksanakan solat Raka merasakan ketenangan di dalam dirinya. Dengan masih memakai baju koko dia turun kebawah menemui kedua orang tuanya yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
****
Siang itu Dinda sedang menggarap laporan hasil meeting tadi pagi, jam sudah menunjukkan pukul 10.46.sebentar lagi waktu istirahat siang. Dinda asyik dengan tugasnya.tiba- tiba datang seseorang menuju ruang Presdir. cepat- cepat Dinda berdiri.
"Hey kau siapa....minggir aku mau bertemu dengan bos mu...!" teriaknya sambil mendorong Dinda kasar.
"Maaf mbak pak Direktur tidak bisa di ganggu beliau sibuk..." ucap Dinda menghalangi karena raka sudah mewanti Dinda agar tidak ada yang mengganggunya karena banyaknya pekerjaan yang sedang dia kerjakan.
"Hey....kau ini siapa hanya seorang sekertaris aja berani menghalangiku, minggir aku ini kekasih bosku tahu....!"teriaknya kembali sambil mendorong Dinda dengan keras dan berjalan masuk je dalam kantor Raka.
"Tapi mbak....." seru Dinda sambil mengikuti wanita itu masuk kedalam ruangan Raka. dia langsung membuka pintu kantor,
"Sayang......!" serunya sambil berjalan memeluk Raka.
"Maaf pak saya sudah menghalangi wanita ini yang mengaku kekasih bapak tapi dia memaksa..." Dinda dengan takut berkata pada Raka. Raka yang mendapat pelukan dan cuma di pipinya menjadi kaget. reflek dia mendorong tubuh itu.
"Sindy jaga sikapmu.....! untuk apa kamu datang kesini...?" seru Raka marah.Raka marah pada Sindy yang sudah berani mencium dirinya apalagi di depan Dinda. dia takut Dinda salah paham.
"Sayang aku kangen...." serunya manja .
__ADS_1
"Sindy harus kubilang berapa kali aaku minta jauhi aku Sind.... aku tidak mencintaimu..!" seru Raka jengkel.
"Tidak...aku tidak mau...." jawab Sindy.
"Din panggilan Hari......" perintah Raka pada Dinda yang masih berada di dalam ruangan itu melihat pertengkaran Raka dan Sindy.
"Baik pak....." Dindapun cepat- cepat keluar memanggil Hari yang ada di ruang sebelah. tak lama Dinda dan Hari masuk.
"Saya pak...ada yang bisa saya bantu...?" ucap Hari sopan.
"Bawa wanita ini keluar dan jangan biarkan dia masuk kembali kesini sampai kapanpun" seru Raka dengan jengkel.
"Baik pak..." jawab Hari sambil menghampiri Sindy .dan menarik tubuhnya keluar.
"tidak....aku tidak mau....kak ...kak Raka aku mau disini....lepaskan aku...!" teriaknya smbil merontah- rontah tidak ingin di bawah pergi. tapi apa daya tenaga sindy melawan Hari yang betubuh kekar. Dinda hanya bisa diam melihat kejadian itu.
"Din maaf kau melihat kejadian ini...."ucap Raka perlahan sambil menatap Dinda.
"Nggak apa- apa pak....Sepertinya dia wanita yang bersama bapak tempo hari ya....?" tanya Dinda .
"Iya Din.....dia adik sahabatku. aku menganggap dia seperti adikku sendiri tapi dia salah paham...." jawab Raka pada Dinda . Dia takut Dinda akan salah paham.
"Oo...mungkin bapak perhatiannya terlalu berlebihan pak hingga dia salah menafsirkan perhatian bapak...." ucap Dinda perlahan. ya Tuhan kenapa aku ngomong kayak gini. batin Dinda.
"Maaf pak saya nggak bermaksud menggurui bapak..." lanjut Dinda.
"Nggak apa- apa Din....mungkin benar apa kata kamu aku yang salah memberikan perhatianku padanya...' jawab Raka sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dinda merasa kasihan melihat wajah Raka yang terlihat sendu.
"Pak kalau begitu boleh saya kembali ke meja saya ...?" pamit Dinda .
"Oh ya Din silahkan... Din aku minta tolong kalau ada wanita itu datang lagi kemari tolong jangan kau perbolehkan dia masuk. kalau dia maksa panggil satpam.." perintah Raka.
"Baik pak...." jawab Dinda lalu keluar ruangan kembali ke meja kerjanya.
"
__ADS_1
"