Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
KERJA KEMBALI.


__ADS_3

Mereka berdua Dinda dan Sinta terlihat begitu serius. Hingga mereka berdua tak menyadari bu Fita keluar dari ruang pak Wijaya.


"Aduh...kalian berdua kok serius banget sich...." ucap Bu Fita sambil menghampiri Dinda dan Sinta. Merekapun mendongakkan kepala terkejut. Saking asyiknya mereka bekerja hingga tidak mengetahui bu Fita keluar dari ruangan pak Wijaya.


"Maaf bu kami nggak sadar ibu sudah keluar dari ruangan bapak.." jawab Sinta sambil berdiri di ikuti Dinda.


"Sudah lanjutkan aja pekerjaan kalian ibu cuma sebentar kok..."ucap bu Fita sambil mendekat. Dinda dan Sinta tersenyum pada bu Fita lalu kembali Duduk.


"Din setelah ini kamu sekertaris bapak ya...?tolong titip bapak ya ingatkan selalu waktu makan bapak..beliau senang bekerja Din sampai lupa makan , tolong kau ingatkan selalu ya...." ucap bu Fita sambil menatap Dinda dengan sayang. Dia sudah mengenal Dinda sejak Dinda bekerja dulu. Sejak dulu bu Fita sangat menyukai Dinda. Ketika mendengar Dinda keluar karena kehamilannya bu Fita sangat sedih.


"Insyaallah Dinda akan lakukan bu.." jawab Dinda sambil tersenyum menatap bu Fita.


"Trimakasih nak....kalau begitu ibu pulang dulu Asalamualaikum...."


"Walaikum salam..." jawab Dinda dan Sinta bersamaan. Bu Fita pun pergi meninggalkan mereka berdua. merekapun kembali bekerja. Karena tidak ada acara di luar buat pak Wijaya , Sinta bisa menjelaskan semua tugas Dinda sampai bisa di mengerti oleh Dinda.


"Din kalau bapak meeting kau harus ikut dan mencatat apa yang sedang mereka diskusikan...lalu sampai di kantor buatlah laporannya...' Sinta memberi penjelasan pada Dinda.


"Iya mbak...."


"Kau harus membuat agenda bapak dengan rapi dek , beliau suka kerapian.."


"Dinda mengerti mbak..." jawab Dinda sambil menata buku dengan rapi di meja karena sekarang sudah waktunya istirahat siang.


"Dek coba kamu tanyakan pada bapak mau makan di luar apa minta di pesankan..." ucap Sinta menyuruh Dinda.


"Baik mbak...." Dinda berjalan ke ruangan pak Wijaya.


Tok..tok..tok.


"Masuk..." seruan dari dalam.


"Permisi pak.." ucap Dinda.


"Ada apa Din...."


"Waktunya makan siang pak...bapak makan di luar apa di pesankan pak...?"

__ADS_1


Tanya Dinda sopan.


"Bapak makan di luar aja Din...soalnya bapak ada keperluan juga di luar ..." jawab pak Wijaya.


"Kalau begitu Dinda keluar dulu pak..."


"Iya silahkan...." Dinda pun meninggalkan ruang pak Wijaya. Dinda dan Sinta pergi ke kantin yang ada di lantai bawah. Ketika sampai di kantin terlihat sudah banyak karyawan yang datang untuk makan siang. Dinda bertemu dengan kawan -kawan lamanya mereka sangat senang melihat Dinda bekerja kembali.


"Hey Din selamat bergabung kembali bersama kita- kita ya...." ucap bu Indah yang sudah berada di kantin.


"Trimakasih bu...." jawab Dinda sambil menerima uluran tangan bu Indah yang ingin berjabat tangan.


"Kau sekarang jadi sekertari pak Wujaya ya.....?" tanya bu Indah.


"Iya bu Indah...kalau nggak ada Dinda aku nggak bisa cepat- cepat mengundurkan diri bu..." potong Sinta sebelum Dinda menjawab.


"Wah ini namanya sama- sama untung dong....." gurau bu Indah .Akhirnya Dinda menerima jabatan tangan dari teman- temannya satu persatu. makan siang pun diwarnai dengan canda mereka.


****


Tak terasa waktu pulang pun tiba Dinda dan Sinta merapikan meja mereka .


"Iya mbak..."


"Kalau ada yang tidak kamu mengerti telfon aja mbak Din...kau punya nomor mbak kan..." ucap Sinta lagi.


"Iya mbak Dinda sudah mencatat nomor mbak Sinta.." lanjut Dinda.


"Oh ya Din kamu harus hati- hati sama yuli dari bagian keuangan..." ucap Dinda sambil menatap Dinda.


"Emang kenapa mbak...?" tanya Dinda sambil menghentikan pekerjaannya lalu menatap Sinta.


"Sebab Dia berambisi ingin menggantikan tugasku sebagai sekertarisnya bapak..." jelas Sinta.


"Lalu kenapa bapak nggak memili dia mbak..."


"Ambisi dan otak nggak sepadan Din...dia pingin jadi sekertaris tapi otaknya nggak memenuhi syarat..."

__ADS_1


"Kasihan mbak...."


"Karna itulah Din kamu harus hati- hati takutnya dia akan manyerangmu.." nasehat Sinta .


"Trimakasih mbak ..Dinda akan selalu hati- hati. .." ucap Dinda tersenyum tulus. merekapun melanjutkan pekerjaan mereka kembali. Tak lama terlihat pak Wijaya keluar dari ruangannya.


"Kalian nggak pulang....?" tanya beliau.


"Ini kami mau pulang pak.." ucap Sinta.


"Kalau begitu ayo pulang ..' ajak pak Wijaya. Sambil berjalan meninggalkan ruangannya di ikuti Dinda dan Sinta. Sambil berjalan Dinda menelfon bik Sumi.


"Assalamualaikum....." ucap bik Sumi dari sebrang. bik Sumi memang dulu di belikan HP oleh Dinda ketika masih ada mendiang Dirga.


katanya agar bibik mudah Di hubungi.


"Walaikum salam ....Bik tolong bilang sama pak Giman suru jemput Dinda bik...."


"Pak Giman udah berangkat non sama nak Exsal..." jawab bik Sumi.


"Ooo ya udah bik...Dinda tutup ya Asalamualaikum...."


"Walaikum salam non...." Dinda pun mengakhiri panggilan. Sesampainya di luar kantor terlihat mobilnya sudah ada di depan gerbang kantor. Terlihat sang buah hati melambaikan tangannya. Dinda pun cepat- cepat berjalan mendekat.


"Aduh anak mama udah jemput mama ya....." seru Dinda sambil masuk ke dalam mobil dan mencium pipi sang putra.


"Iya ma...Exsal kangen mama..." ucap Exsal sambil memeluk sang mama.


"Ulu...ulu....kacian anak mama..." ucap Dinda sambil mengelus rambut Exsal.


"Exsal udah mandi sayang.....?" tanya Dinda


memperhatikan sang buah hati yang ada di pangkuannya.


"Uda ma bik Sumi yang bantuin Ecsal mandi..."


"Pinter anak mama.....kalau gitu kita pulang yuk...." ajak Dinda.

__ADS_1


"Ayuk siapa takut...." jawab Exsal dengan mimik wajah lucu. Dindapun tertawa lalu menyuruh pak giman menjalankan mobilnya. Merekapun akhirnya meninggalkan kantor Dinda. .


BERSAMBUNG.


__ADS_2