MATI RASA

MATI RASA
Part 100 Terima kasih


__ADS_3

Bian baru saja selesai menjalani operasi di bagian kepala dan juga kakinya. Bian mengalami cidera kaki yang cukup parah, karena pada waktu kejadian, ban mobil itu berhasil menggilas kaki Bian. Sementara kepalanya terluka karena terlalu keras menghantam aspal jalan saat tubuh Bian terlempar akibat mobil yang menabraknya begitu kencang.


Saat ini, Bian masih di ruangan ICU dan belum sadarkan diri pasca operasi. Kondisi Bian memang cukup parah, beruntung, operasinya berjalan dengan lancar. Selain cidera di kepala dan juga bagian kakinya, seluruh tubuh Bian juga terdapat banyak luka akibat tabrakan itu.


Laras dan Aditama masih berada di depan ruangan ICU. Mereka sedang menunggu dokter yang sedang memeriksa kondisi Bian setelah operasi.


Selain Laras dan Aditama, ada juga Anita dan Rajasa, juga keluarga Kenzo yang baru saja datang untuk menjenguk Bian. Ketiga pasangan suami istri itu kini duduk bersisian di depan ruangan, menunggu sang dokter keluar dari ruangan itu.


Sementara itu, tidak jauh dari mereka, terlihat beberapa orang yang terus mengawal dan mengawasi mereka.


Tak berapa lama kemudian, dua orang dokter spesialis keluar dari ruangan. Mereka adalah kedua dokter yang menangani operasi Bian.


Aditama dan Laras segera beranjak dari duduknya, mendekati mereka.


"Bagaimana keadaan anak kami, Dokter?" ucap Laras dan Aditama bersamaan.


Mereka berdua saling berpandangan, memberi memberi kode siapa yang harus menjawab.


"Kondisi pasien saat ini masih stabil, tapi kita masih terus memantau kondisi kesehatannya. Untuk sementara, pasien masih akan tetap berada di ruangan ini. Nanti, kalau keadaannya sudah membaik, pasien baru bisa di pindahkan ke ruangan rawat inap," jelas sang dokter, membuat Laras dan Aditama mengangguk paham.


"Apa kami bisa masuk ke dalam, Dok?"


"Boleh. Tapi kalian harus mengikuti peraturan, agar tidak menggangu pasien."


"Baik, Dok. Terima kasih."


Kedua orang dokter itu tersenyum, kemudian berjalan beriringan meninggalkan ruangan itu.


Aditama dan Laras di perbolehkan masuk bersamaan ke dalam ruangan itu. Setelah mereka mencuci tangan dan menggunakan baju khusus, mereka berdua masuk ke dalam ruangan.


Laras dan Aditama menatap Bian yang terbaring di ranjang pasien dengan beberapa alat yang disambungkan pada tubuhnya.


Di sana juga terlihat monitor yang menampilkan grafis kinerja organ tubuh, seperti detak jantung dan kadar oksigen dalam darah pasien.


Laras dan Aditama meneteskan air mata melihat kondisi Bian, mereka tidak berani terlalu dekat karena takut mengganggu Bian, Keadaan Bian yang penuh luka membuat hati Laras dan Aditama hancur seketika. Merasa tidak kuat, Aditama dan Laras keluar dari ruangan. Mereka hanya beberapa menit di dalam ruangan itu. Baru saja keluar dari pintu ruangan, tubuh Laras langsung ambruk tak sadarkan diri.


Dengan panik, mereka kemudian membawa Laras ke ruang rawat inap yang masih kosong. Kedua orang tua Alea dan Kenzo mengikuti Aditama yang menggendong Laras ke dalam ruangan.

__ADS_1


Beberapa perawat dan seorang dokter juga mengikuti mereka dari belakang, karena Aditama meminta mereka untuk memeriksa kondisi istrinya.


Di ruangan lain, Alea masih memaksa dan merayu Kenzo agar dirinya di izinkan pulang. Karena Alea merasa kalau keadaannya baik-baik saja. Namun, Kenzo bersikeras agar Alea tetap di rawat sampai besok pagi.


"Ken, aku ingin pulang."


"Sabar, sayang, kondisimu belum pulih."


"Belum pulih apanya? Lenganku hanya tergores sedikit, dan ini cuma luka lecet, Ken, tidak usah berlebihan!" Alea dengan muka cemberut menatap Kenzo dengan kesal.


"Menyebalkan sekali ...." Alea terus menggerutu, tapi Kenzo hanya santai tak menanggapi kekesalan Alea. Pria itu asyik mengupas buah apel, kemudian menyuapkan pada mulut Alea yang terus menggerutu.


"Ken!" Alea yang tak siap memonyongkan bibirnya saat buah apel itu sudah masuk ke dalam mulutnya.


"Kenapa? Kau tak suka? Atau kau lebih suka aku menyuapimu dengan mulutku?"


"Ken!" Alea mencubit pinggang Kenzo membuat Kenzo langsung meringis karena merasakan perih di pinggangnya. Sementara wajah Alea langsung merona.


"Kau benar-benar ...." Alea tak bisa melanjutkan ucapannya karena pria tampan di depannya itu langsung mengunci bibirnya dengan bibir milik pria itu.


Alea kembali mencubit pinggang Kenzo kemudian menyembunyikan wajahnya di dada Kenzo. Deru nafas mereka saling bersahutan satu sama lain.


"Setelah aku memastikan kalau Bian baik-baik saja, aku akan menikah denganmu," sahut Alea mempererat pelukannya pada Kenzo.


"Benarkah? Sayang, kau tidak berbohong kan?" Kenzo ingin melepaskan pelukannya agar dia bisa melihat wajah Alea, tetapi Alea justru makin mempererat pelukannya.


"Sayang? Kau tidak berbohong kan?" Kenzo kembali mengulang pertanyaannya.


Alea mengangguk dalam dekapan Kenzo. Dalam hatinya, Alea sudah yakin, kalau ia akan tetap bersama Kenzo. Alea mencintai pria itu, dan ia tidak ingin kehilangan pria itu, seperti saat dirinya kehilangan Bian di masa lalu.


Saat mengingat Bian, Alea langsung melepaskan pelukannya.


"Ken, aku ingin menemui Bian. Apa sekarang Bian sudah boleh di temui?" Alea menatap Kenzo penuh harap.


Kenzo mendesah panjang. Perempuan ini benar-benar telah merusak suasana. Hatinya sedang berbunga-bunga karena perempuan ini baru saja mengatakan kalau dia mau menikah dengannya. Namun, gara-gara ucapannya barusan, suasana hati Kenzo mendadak berubah.


Tidak salah bukan, kalau dirinya sedikit egois kali ini?

__ADS_1


"Ken ...." Alea memilin kerah baju Kenzo, saat ia melihat raut wajah Kenzo yang berubah masam.


"Maaf!" Alea menundukkan wajahnya tak berani menatap Kenzo. Kenzo menangkup wajah Alea kemudian mendaratkan bibirnya cukup lama di kening Kenzo.


"Aku yang seharusnya minta maaf, sayang. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak boleh egois, walau bagaimanapun, Bian sudah menyelamatkanmu. Kalau bukan karena dia, mungkin orang yang saat ini menangis dan hancur adalah aku." Kenzo menjeda ucapannya.


"Aku tidak bisa membayangkan seandainya Bian tidak menyelamatkanmu saat itu, mungkin saat ini aku sudah gila karena tidak tahan melihatmu terbaring di ranjang pesakitan seperti yang Bian alami sekarang." Kenzo meneteskan air matanya, begitupun Alea. Perempuan itu menghapus air mata Kenzo dan kembali memeluknya.


"Maafkan aku, karena aku sudah membuatmu khawatir."


Kenzo membalas pelukan Alea lebih erat. Sungguh! Ia tidak bisa membayangkan seandainya Bian tidak menyelamatkan Alea dan malah memilih membiarkan Alea tertabrak bersamanya. Entahlah! Mungkin Kenzo akan benar-benar gila karena dirinya pasti tidak akan sanggup jika melihat Alea terluka parah. Terluka parah seperti yang Bian alami.


"Maafkan aku, sayang ...."


*******


Kenzo menatap wajah pucat penuh luka di depannya.


"Bian, aku berterima kasih padamu karena kau telah menyelamatkan Alea. Kau bahkan rela bertaruh nyawa dan membiarkan dirimu yang terluka, demi melindungi Alea.


Perempuan yang pernah kau benci dan kau sakiti begitu dalam. Namun, aku tahu pasti, jika saat ini perasaanmu telah berbalik. Kau yang dulu begitu membencinya, sekarang justru begitu mencintainya. Karena itu, kau rela menyelamatkan dirinya dan mengorbankan dirimu. Mengabaikan fakta kalau nyawamu juga sangat berharga."


"Aku sangat berterima kasih padamu. Hanya berterima kasih. Jadi sebaiknya, kau jangan berpikir, karena kau sudah menyelamatkannya, kemudian kau bisa kembali memilikinya."


"Tidak! Dulu Alea memang sangat mencintaimu, bahkan teramat sangat mencintaimu. Namun, kau dengan begitu bodohnya terus melukai dan menyakitinya."


"Bian, sekali lagi aku berterima kasih padamu. Aku berterima kasih karena kau telah membiarkan Alea selamat. Namun, kau harus ingat, kau adalah masa lalu Alea, dan aku adalah masa depannya. Bahkan jika suatu hari kau memaksanya untuk tetap di sampingmu, aku sangat yakin, kalau dia tidak akan pernah bahagia bersamamu. Raganya bisa bersamamu, tapi hatinya adalah milikku. Alea sudah memberikan hatinya untukku, dan dia saat ini sangat bahagia bersamaku."


"Bukankah kau sangat mencintainya? Jadi biarkan aku menjaganya dan membuatnya terus bahagia."


"Bian, semoga kau cepat sembuh. Aku yakin, suatu saat kau pasti bisa mendapatkan cinta sejatimu. Terima kasih, terima kasih karena kau telah menyelamatkan Alea-ku ...."


Kenzo berbalik, melangkah mendekati pintu, menatap sebentar, kemudian keluar dari ruangan itu.


Sementara di atas ranjang, jari tangan Bian bergerak perlahan, mengepalkan tangannya.


*

__ADS_1


*


Yang suka ceritanya, jangan lupa Votenya ya kakak², like dan komentarnya juga jangan lupa ...😘😘😘😘


__ADS_2