
Alea kembali melanjutkan pekerjaannya setelah puas menangis di pelukan Kenzo. Pria itu ... dia memang benar-benar sahabat sejati buat Alea. Karena selalu ada di saat Alea membutuhkannya.
Meski sekian tahun mereka berpisah dan baru kembali di pertemukan, tapi pria itu tidak pernah berubah. Kenzo tetap seperti Kenzo yang dulu, sahabat baiknya yang selalu melindunginya.
Tepat jam tujuh malam, Alea pulang dari restoran. Ia pulang menggunakan taksi online. Hingga setengah jam kemudian Alea sampai di rumahnya.
Mang Ujang membukakan pintu gerbang, sementara Mbok Sumi bergegas melangkah mendekatinya.
"Saya sudah siapin air hangat buat Non, "
"Makasih Mbok."
Mbok Sumi mengambil alih tas yang di pegang Alea, membuat Alea tersenyum.
"Apa mereka belum pulang?"
"Den Bian dan Non Amara belum pulang Non, "
"Oh ...."
"Siapin makan malam ya Mbok."
"Baik Non."
Alea masuk ke dalam kamar, ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Tak berapa lama kemudian Alea keluar menuju dapur untuk makan malam.
"Makan bareng sama aku Mbok, "
"Tidak usah Non, tadi saya sudah makan bareng Mang Ujang."
"Oh, ya sudah." Alea kemudian mulai melahap makanan yang baru saja di siapkan oleh Mbok Sumi.
Saat Alea hampir selesai menikmati makan malamnya, dari luar terdengar deru mobil yang sudah di pastikan siapa pemiliknya.
"Sepertinya dia sudah pulang Mbok, "
"Iya Non, biar saya ke depan dulu "
"Iya Mbok."
Alea segera menyelesaikan makan malamnya, karena ia tidak ingin bertemu dengan Bian dan perempuan itu saat ini.
Bian melangkahkan kakinya beriringan dengan Amara. Ia sudah menyerahkan tas kerjanya pada Mbok Sumi.
__ADS_1
Kalau biasanya Alea yang menyambutnya dengan mengambil tas kerja dari tangannya, kemudian membantunya melepaskan sepatu juga jasnya. Alea bahkan sudah menyiapkan air hangat untuknya, kemudian menyiapkan makan malam. Meski Bian tidak pernah memperdulikannya, tapi Alea dengan senang hati terus melakukannya. Tapi semenjak kedatangan Amara, Alea tidak pernah melakukannya lagi. Kecuali kalau Amara tidak menginap, baru dia kembali melakukan tugasnya sebagai seorang istri, yaitu melayani dirinya.
"Huuuhhh!!! kenapa aku sekarang seolah merindukannya?" Bian menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa Bi?" Amara menoleh ke arah Bian sambil terus melangkah naik ke atas tangga menuju kamar mereka.
"Tidak apa-apa, hanya lelah sayang ...."
"Sama. Aku juga lelah banget Bi, lagi banyak kerjaan." ujar Amara memelas.
"Kamu jangan terlalu capek Mara, kamu inget kan, kalau kamu lagi hamil." Amara mengangguk.
"Kau tenang saja, aku baik-baik saja." Amara tersenyum manis pada Bian.
Sesampainya di dalam kamar, mereka berdua langsung menuju kamar mandi, dan mandi bersama, Kemudian mereka berdua turun untuk makan malam.
"Mbok, tolong panggil Alea untuk makan malam." Bian menyuruh Mbok Sumi saat sang asisten rumah tangga itu selesai menyajikan makan malam untuk mereka.
"Bian, kenapa harus manggil dia sih? kan kita bisa makan berdua saja." Amara merajuk sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kita sudah sepakat sayang, bagaimanapun, Alea juga istriku. Mulai sekarang, aku ingin kalian berdua berbaikan, jangan saling bermusuhan lagi." ucap Bian datar.
"Bian! jangan bilang kau sudah mulai menyukainya?"
"Sayang ...." Bian menggenggam tangan Amara.
Ia dan Bian memang sudah sepakat untuk menerima Alea di tengah-tengah mereka. Itu karena mereka masih membutuhkan Alea, karena perusahaan yang Bian pimpin sekarang masih atas nama Alea, tidak seperti rumah besar ini yang langsung menggunakan nama Bian sebagai pemiliknya, begitupun beberapa mobil yang dihadiahkan langsung untuk Bian, saat pria itu setuju menikahi Alea.
"Kau lihat saja Alea, begitu Bian memiliki perusahaan itu, aku pasti akan mendepakmu keluar dari rumah besar ini." Amara tersenyum smirk sambil menatap Bian yang sedang berbicara dengan Mbok Sumi.
"Maaf Den, Non Alea tadi sudah makan sebelum Den Bian dan Non Amara datang, Non Alea sangat lapar, jadi dia makan duluan Den ...." Mbok Sumi menundukkan kepala.
"Oh ... ya sudah kalau begitu." ucap Bian, dalam hatinya ia sedikit kecewa, karena entah mengapa ia begitu ingin melihat perempuan itu.
Alea merebahkan tubuh lelahnya. Kerja di restoran Kenzo ternyata lumayan capek.
Alea mencoba memejamkan matanya, bayangan kejadian tadi pagi kembali terlintas. Bayangan bagaimana Bian menguasai tubuhnya hingga membuatnya tak berdaya.
"Asal kau mau bertahan di sisiku, aku pasti akan memberikan semua yang kau inginkan Alea, semuanya, termasuk hatiku ... seandainya kau memang menginginkannya." Kata- kata Bian tadi pagi kembali terngiang.
"Semua sudah terlambat Bian, meskipun aku sangat menginginkanmu, tapi aku tidak mau kembali menjadi perempuan bodoh yang akan mengemis-ngemis cintamu lagi." Alea berbisik lirih kemudian mulai memejamkan matanya karena kelelahan.
Selepas makan malam Bian menyuruh Amara ke kamar terlebih dahulu, sementara dirinya langsung ke ruang kerjanya, karena ada sedikit pekerjaan yang belum ia selesaikan.
Bian melirik sebentar ke arah pintu kamar Alea, Ia tersenyum samar, kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
Hampir satu jam kemudian Bian keluar dari ruang kerjanya. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda gara-gara Amara mengajaknya pulang tadi. Ia kemudian memutar kenop pintu kamar Alea dengan pelan, kemudian masuk ke dalam kamar Alea. Sepertinya, karena kelelahan, Alea sampai lupa mengunci pintu kamarnya.
Bian duduk di tepi ranjang, menatap wajah cantik Alea yang tertidur pulas. Bian menyusuri wajah cantik itu dengan jarinya. Bian sangat ingat, kalau dirinya sering membuat wajah itu terluka karena pukulan tangannya.
Bian menghembuskan nafas panjang, saat dadanya tiba-tiba terasa sesak karena mengingat perbuatannya dulu.
Alea menggeliatkan badannya, saat ia merasa ada sesuatu yang menindih perutnya. Ia terlonjak kaget saat merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Maaf membangunkanmu." Bian berbisik lirih di telinga Alea. Deru nafasnya terasa menerpa di kulit leher Alea, membuat Alea meremang. Jantungnya bahkan terasa berdebar membuat Alea merutuk dalam hati, karena sekuat apapun Alea mencoba membenci pria ini, tetap saja, debaran jantungnya tak bisa membohongi kalau pria ini masih dengan sombongnya bertahta di hatinya.
Alea mencoba memberontak, namun Bian justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Biarkan seperti ini Al, aku cuma pengen peluk kamu." Bian kembali berbisik.
Alea langsung terdiam, tak lagi berontak. Percuma saja ia memberontak, karena ia tidak akan menang melawan Bian.
Alea mencoba kembali memejamkan matanya. Meresapi debaran jantungnya yang berirama. Dekapan hangat pria ini ....
"Maaf!"
Entah Bian sedang bermimpi atau tidak, tapi kata Maaf yang terucap dari bibir pria ini, membuat perasaan Alea menghangat.
"Maaf!"
Kali ini bibir Bian bahkan mengecup lembut telinganya, kemudian menyerukkan wajahnya pada leher Alea dan mendekap tubuh Alea dengan erat.
Buliran bening menetes satu persatu di pipi Alea, perlakuan Bian kali ini membuat dirinya kembali melemah dan ingin sekali berbalik memeluknya.
"Tetaplah di sisiku, aku janji, aku akan mencoba memberikan hatiku untukmu ...."
Alea menghapus air matanya dengan kasar. Ucapan Bian baru saja kembali menyadarkannya.
"Ayo Alea, jangan lemah! karena sampai kapanpun kau bertahan, pria ini tidak akan pernah menjadi milikmu!" batin Alea mengingatkan.
"Alea ...." Suara Bian terdengar merayu.
"Alea ...." Bian mulai menciumi leher Alea.
"Diamlah! aku benar-benar mengantuk Bian." sentak Alea, membuat Bian terlonjak kaget. Namun dengan segera Bian langsung kembali mendekap Alea.
"Sepertinya, aku harus bersabar untuk kembali mendapatkan hatinya ...."
.
.
__ADS_1
Maaf ya kakak² telat updatenya 🙏🙏🙏
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya...