
Alea menutupi tubuh polosnya dengan selimut setelah permainan Bian berakhir. Tubuhnya seolah remuk redam dengan rasa perih yang menghujam bagian intimnya.
Ini memang bukan pertama kalinya buat Alea setelah dua minggu yang lalu Bian mengambil kesuciannya dengan paksa. Tapi karena Bian memperlakukannya sedikit kasar dengan durasi cukup lama, membuat Alea masih merasakan sakit yang hampir sama seperti pertama kali Bian melakukannya.
Bian bangkit dari tempat tidur setelah mengecup lembut kening Alea dan mengecup bibirnya sekilas.
"Terima kasih sayang ...." Alea menatap tajam wajah Bian yang masih penuh dengan keringat, bukan hanya wajahnya, tapi seluruh tubuhnya pun penuh keringat.
Bian bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi dalam keadaan polos membuat wajah Alea memerah karena belum terbiasa dengan apa yang di lihatnya sekarang.
Tapi dalam hatinya ia menahan kemarahannya terhadap lelaki itu. Kemarahan dan kebencian yang semakin hari semakin menumpuk akibat perlakuan Bian padanya.
"Kau akan tetap di sini, atau mau pergi ke tempat yang ingin kau tuju sebelumnya." Bian berucap sambil mendekati Alea.
Wajahnya terlihat segar dan tampan dengan rambut basah dan wangi sabun menguar dari tubuhnya.
Alea menatap Bian dengan tatapan penuh kebencian, membuat Bian sejenak membeku karena tatapannya.
Alea yang dulu sering menatapnya dengan penuh damba, dengan senyum yang terukir di wajahnya kini sudah tak ada lagi.
Kedua bola matanya yang selalu berbinar saat menatapnya kini berganti dengan tatapan dingin penuh amarah yang membuatnya membeku dan merasakan desiran aneh yang serasa meremas jantungnya.
"Aku membencimu Bian, benar-benar membencimu!!" Alea berteriak di hadapan Bian, membuat Bian terlonjak kaget dan menatap Alea tak percaya.
"Alea ...." Bian mencoba meraih tubuh Alea, tapi Alea segera mendorongnya hingga Bian terjatuh dengan posisi duduk di lantai.
"Alea ...."
"Aku harap, ini adalah terakhir kalinya kau menyentuhku Bian, karena aku benar-benar membencimu, dan aku ingin segera bercerai denganmu." Alea menghapus air matanya, kemudian bangkit memunguti pakaiannya dan segera berlalu menuju kamar mandi.
Bian menggusar rambutnya dengan kasar.
"Kenapa sekarang aku makin hilang kendali saat bersama dengannya." Bian menatap pintu kamar mandi yang di banting dengan keras oleh Alea.
Alea keluar dari kamar mandi dengan memakai baju yang tadi ia pakai, rambutnya yang basah ia bungkus dengan handuk.
Sementara Bian sudah rapi dengan kemejanya dan juga jas yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
Bian mendekati Alea yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer. Ia mengambil hairdryer itu dari tangan Alea kemudian membantu mengeringkan rambutnya.
Bian tersenyum manis, senyum manis yang tak pernah dia berikan selama setahun menikah dengan pria itu.
"Biar aku bantu mengeringkan rambutmu." Alea hanya menatap sinis pada Bian tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya.
"Jangan pernah memotong rambutmu lagi tanpa seijin ku." Bian menatap Alea dari balik cermin sambil tersenyum.
"Ayo kita berangkat." ajak Bian
Alea membuka tasnya dan mengambil lipstik di sana.
"Tidak perlu dandan, kau sudah terlihat cantik seperti ini." Bian merebut lipstik yang hampir saja Alea poles di bibirnya.
"Bian! apa-apaan kau ini."
"Aku hanya tidak rela semua orang melihat wajah cantikmu."
"Bian! apa kau tidak melihat dengan jelas? aku bahkan seperti hantu berjalan karena wajah pucatku!" Alea berteriak dengan kesal.
Bian menatap wajah Alea, wajah cantik dan bersinarnya yang tadi pagi ia lihat, kini tak ada lagi. Alea terlihat kacau dengan mata sembab, bibir yang pucat dan sedikit membengkak, dan wajah cerianya yang tiba-tiba lenyap begitu saja.
Alea menatap Bian yang sedang menatapnya dari pantulan cermin.
"Bian ... bisakah kau melepaskanku? aku benar-benar ingin bercerai denganmu." Alea menatap Bian dengan datar.
"Bukankah kau sudah bahagia dengan perempuan itu? kau juga sudah menikahinya bukan? kenapa kau tak melepaskanku saja? bukankah kau sangat membenciku?"
Bian terdiam, tapi sorot matanya menggelap.
"Ayo kita berangkat, sebentar lagi aku ada meeting." Bian menarik tangan Alea dengan kesal. Entah mengapa ia sangat marah saat Alea mengatakan ingin bercerai dengannya.
"Bian, kau belum menjawab pertanyaanku." Alea berusaha melepaskan tangannya, tapi Bian dengan erat memegang tangannya.
"Bian, lepaskan aku!"
Bian dengan kesal mendorong Alea hingga sampai ke dinding, kemudian ia mencengkram kedua bahu Alea.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu saja membuatku marah?! bukankah kau mencintaiku?! tapi kenapa kau ingin sekali bercerai dengan ku?!" Bian menatap Alea dengan amarah yang siap meledak.
Alea menatap wajah tampan Bian yang saat ini ada di depannya. Dulu, beberapa tahun yang lalu dia sangat mencintai pria ini, hingga akhirnya menikah dengannya. Ia berharap banyak kebahagiaan pada pria ini setelah menikah dengannya.
Namun sayang, bahkan belum genap sebulan pernikahannya, pria ini sudah membawa perempuan lain ke dalam rumahnya. Menyakitinya dan menghancurkannya hingga berkeping-keping.
Dan sekarang, setelah semua kesakitan yang pria ini berikan padanya, dia mempertanyakan cintanya?
Alea tersenyum mengejek, sambil menatap Bian sinis.
"Bian ... setelah apa yang kau lakukan selama ini padaku, apa kau pikir, kau masih pantas mendapatkan cintaku?" Alea menatap Bian dengan dingin, Bian terkesiap, tatapan Alea membuat dirinya seketika membeku dan melepaskan cengkeraman tangannya. Bian bahkan menelan salivanya saat melihat tatapan Alea yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Cintaku bahkan sudah pupus sebelum berkembang, karena kau sudah terlebih dahulu menghancurkannya."
"Selama setahun ini aku selalu menderita karenamu, aku selalu menangis karena dirimu, dan selalu mengemis untuk di cintai olehmu. Tapi apa yang kau lakukan padaku Bian? Kau selalu saja menyiksaku, selalu menyalahkan aku karena hadir diantara hubunganmu dengan perempuan itu." Alea menjeda ucapannya, ia masih menatap datar kedua mata Bian yang masih menatapnya penuh keterkejutan.
"Setelah beribu- ribu luka dan kesakitan yang kau berikan padaku, apa menurutmu, kau masih pantas mendapatkan cintaku?" Alea tersenyum pahit
"Saat ini aku hanya ingin mewujudkan keinginanmu, bukankah dulu kau sangat membenciku? sangat ingin tidak melihatku? bahkan kau juga bilang kalau kau sangat muak melihatku, dan menginginkan aku pergi sejauh mungkin darimu, jadi, kenapa sekarang kau tidak melepaskan aku saja." Bian masih terdiam membisu menatap Alea sambil mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Alea.
Rasanya hatinya bagai di hantam sebuah palu besar saat mengingat perbuatan-perbuatan yang pernah ia lakukan terhadap sosok cantik di depannya ini.
"Bian ... ayo kita bercerai. Aku sudah tidak menginginkanmu lagi, aku sudah tidak mencintaimu lagi, jadi ku mohon, bercerailah denganku, dan aku berjanji padamu kalau aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu."
"Aku mohon ... ceraikan aku Bian, dan berbahagialah bersama perempuan itu dan juga calon anakmu." Alea menangkupkan kedua tangannya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Kau terlalu banyak bicara Alea, " Bian dengan penuh amarah langsung menyambar bibir Alea, membuat Alea tak bisa mengelak.
"Meskipun saat ini kau bersujud di kakiku , aku tetap tidak akan pernah menceraikanmu Alea, tidak akan pernah!" ucap Bian geram, kemudian kembali menyambar bibir Alea dan menciumnya dengan penuh perasaan.
.
.
Sebenarnya mau kamu itu apa Bian? 😠😠😠
Yang suka ceritanya, ikutin terus yuk kelanjutannya!
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya...🙏🙏🙏
Sambil nunggu authornya update, kalian boleh intip novel author yg satunya yg judulnya CINTA KARMILA, di jamin bikin kalian baper abis deh! 😊😊🤭