
Kenzo berkali-kali menghubungi Alea, tetapi perempuan itu tidak mau mau menerima panggilan teleponnya. Kenzo juga setiap hari datang ke rumah Alea. Namun, tetap saja Alea tidak mau menemuinya. Setiap ke rumah Alea, Kenzo berdiri di depan pintu kamar Alea karena perempuan yang dicintainya itu tidak mau menemuinya.
Kenzo tanpa lelah menjelaskan kejadian malam itu, tetapi Alea tetap diam, tidak terpengaruh. Meski terkadang pria itu sampai meneteskan air mata sambil bersandar di depan pintu. Namun, Alea sepertinya tidak peduli.
Rajasa dan Anita merasa prihatin melihat Kenzo. Alea sangat keras kepala, meski Rajasa dan Anita juga sudah ikut menjelaskan semua kejadian malam itu. Alea bilang, dia tidak bisa melupakan kejadian malam itu begitu saja. Bayangan Kenzo tidur dengan Bella seolah terus menari-nari di kepalanya.
Saat mendengar jawaban dari Alea, Rajasa dan Anita tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sangat mengerti perasaan Alea. Memang tidak mudah melupakan kejadian yang membuat kita terluka, apalagi, Alea juga pernah merasakan sakitnya pengkhianatan. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Bian.
Mengingat Bian, Anita tiba-tiba ikut bersedih. Berbulan-bulan semenjak Bian dinyatakan meninggal, sampai sekarang Laras dan Aditama tidak pernah kembali.
Kedua orang itu hanya menelepon saat memberitahukan kalau Bian sudah meninggal. Laras dan Aditama memintanya menjaga Alea hingga Alea bisa menikah dengan orang yang dicintainya nanti. Mereka bilang, itu adalah pesan terakhir dari Bian sebelum Bian kembali kritis dan akhirnya meninggal dunia.
Kenzo turun dari lantai atas setelah dia puas berbicara dan menjelaskan semuanya pada Alea. Meski Alea tak sedikit pun menanggapinya, tetapi pria itu tidak pernah menyerah. Kedua mata pria itu terlihat memerah. Anita sudah menebak, kalau Kenzo pasti habis menangis. Terkadang Anita bingung, kenapa Kenzo terlihat begitu cengeng saat di depan Alea. Padahal dia termasuk orang yang tegas dan sangat disegani di dunia bisnis. Apalagi dia adalah pewaris Adiguna.
Terkadang, cinta yang berlebihan itu memang bisa membuat kita bodoh dan bertingkah di luar kendali.
"Kau mau langsung pulang?" Anita menatap Kenzo yang melangkah mendekatinya. Wajah tampannya terlihat tak bersemangat.
"Aku mau ke restoran, ada pertemuan dengan klien, Ma," sahut Kenzo.
"Menemui klien? Dengan penampilan seperti ini?" Anita meneliti penampilan Kenzo.
Kenzo berdecak sebal. Calon mertuanya itu pasti akan selalu mengomentari penampilannya setiap kali dia habis menengok Alea.
"Pengusaha sukses masa penampilannya begini sih? Kucel? Nggak semangat? Gimana klien mau percaya sama kamu?"
"Ma!"
Anita tersenyum melihat Kenzo yang terlihat kesal. Perempuan itu mengelus pundak Kenzo.
__ADS_1
"Bersihin wajah kamu dulu, habis itu makan, baru ke restoran menemui klien. Di sana juga sudah ada Bagas, kan?"
Kenzo mengangguk mendengar ucapan Anita, kemudian dia bergegas ke kamar mandi, menuruti perintah Anita.
Selesai mencuci muka, Kenzo menuju meja makan. Rutinitas Kenzo selama sebulan ini di rumah Alea. Tidak terasa sudah hampir sebulan berlalu semenjak kejadian itu. Namun, Alea belum juga menunjukkan tanda-tanda akan memaafkan Kenzo. Perempuan itu setiap hari masih mengurung diri di dalam kamarnya.
"Sebaiknya, mulai besok kau tidak usah datang lagi ke sini," ucap Anita hati-hati.
"Apa maksud Mama? Apa Mama tidak suka aku ke sini?" Kenzo menghentikan suapannya.
"Bukan begitu, Ken. Kamu selesaikan dulu urusan kamu dengan Bella. Baru kamu fokus kembali ke Alea." Kenzo menatap Anita, merasa tidak suka dengan jawaban calon ibu mertuanya.
"Ini semua demi kebaikan kamu, Ken. Sampai saat ini, Alea masih butuh waktu untuk benar-benar bisa memaafkan kamu."
"Aku akan menunggunya sampai dia mau memaafkan aku." Kenzo tetap bersikeras, kemudian dengan cepat menghabiskan makanannya.
"Aku pergi dulu, nanti malam aku ke sini lagi." Kenzo berpamitan pada Anita sambil tersenyum tipis. Namun, saat dia baru saja menghilang dari balik pintu, Anita langsung mengejarnya.
Kenzo menghentikan langkahnya, kedua netranya menatap wanita itu dengan terkejut.
"Apa maksud Mama? Dia akan pergi meninggalkan aku?"
"Bukan begitu, Ken. Alea hanya ingin menenangkan diri. dia butuh waktu untuk melupakan semuanya dan memaafkanmu tentunya."
Kenzo menggusar rambutnya kasar.
"Tenanglah! Semua akan baik-baik saja. Beri Alea waktu, untuk menenangkan hatinya dan menyadari semua perasaannya padamu."
"Tapi, Ma ...."
__ADS_1
"Selesaikan urusanmu dengan Bella dan keluarganya. Setelah semuanya selesai, kamu boleh kembali lagi untuk meyakinkan Alea. Mama percaya padamu, Ken." Anita menepuk pundak Kenzo.
"Tenanglah! Mama dan Papa akan menjaga Alea dengan baik. Kamu fokus saja sama urusan Bella. Buat perempuan itu membayar semua air mata Alea dan juga kesedihanmu."
Kenzo memeluk Anita dan menangis di sana.
"Aku benar-benar takut kehilangan Alea, Ma. Aku mencintainya. Aku ingin menikah dengannya, bukan menikah dengan perempuan lain apalagi perempuan itu adalah Bella. Perempuan yang sudah menghancurkan hubungan aku dengan Alea," ucap Kenzo terisak dipelukan Anita.
"Kau harus sabar, ini ujian buat kamu, buat cinta kalian berdua. Mudah-mudahan, setelah ini kalian berdua bisa bahagia. Meskipun tak bisa bersama nantinya. Tapi Mama berharap, kamu adalah satu-satunya pria yang akan menjadi menantu Mama."
Kenzo semakin terisak mendengar ucapan Anita. Tak berapa lama kemudian, pria itu melepas pelukannya. Setelah itu melangkah gontai meninggalkan rumah Alea dengan hati sedih.
"Kau tenang saja, Mama dan Papa akan menjaga Alea dengan baik," ucap Anita sebelum pria itu benar-benar pergi meninggalkan rumahnya.
Malam itu, Alea benar-benar pergi ke Bali. Alea akan tinggal di tempat di mana dia pernah menikmati hari-harinya bersama Kenzo. Alea ingin mengenang semua kebersamaannya dengan Kenzo.
Hatinya yang terluka membuat dia kehilangan arah. Alea tidak mau mengulang kesalahan yang sama seperti masa lalunya. Dulu, saat dirinya sangat mencintai Bian, Alea selalu memaafkan kesalahan Bian dan terus mencintai pria itu. Selama pernikahannya dengan Bian, Alea terjebak dalam penderitaan karena sangat mencintai pria itu. Hingga pada suatu hari, Alea memutuskan untuk berhenti mencintai Bian.
Namun, baru saja Alea ingin merasakan kebahagiaan dengan cinta yang lain, cobaan demi cobaan datang menggoyahkan rasa cintanya pada Kenzo.
Alea sangat yakin kalau sampai saat ini dia masih sangat mencintai Kenzo. Hanya saja, apa yang terjadi malam itu membuat sakit di hatinya kembali muncul. Bayangan rasa sakit atas perbuatan Bian di masa lalu berputar di kepalanya. Alea tidak mau semua itu terulang kembali kepadanya saat ini.
Dia mencintai Kenzo, tapi dia tidak bisa menerima perbuatan yang dilakukan oleh Kenzo malam itu. Meskipun sudah berkali-kali Kenzo menjelaskan kalau tidak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Bella. Namun, bayangan Kenzo bersama Bella bermain diatas ranjang dengan tubuh polos membuat sakit di hatinya tak kunjung menghilang.
Meskipun Kenzo juga sudah menjelaskan, kalau dirinya masih memakai celana terakhir yang menutup asetnya, tetapi, Alea tetap tidak sedikitpun mempercayainya.
Menjauh dari Kenzo adalah pilihan yang tepat untuk Alea saat ini. Dengan menjauh dari pria itu, mungkin dia akan sadar, betapa pentingnya Kenzo dalam hidupnya.
"Ken, aku merindukanmu, sangat!" lirih Alea di keheningan malam. Saat ini, dirinya sedang berdiri di tepi pantai. Pantai yang mengingatkan dirinya tentang Kenzo.
__ADS_1
.
Yang masih selalu setia mengikuti ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya, Kakak ² 🙏🙏🙏