
"Alea ...." Bian berucap lirih, sambil terus menatap wajah cantik Alea.
"Alea ... sayang, kau sudah kembali?" ucap Bian lagi.
Alea menatap Bian dengan tatapan tidak percaya. Alea tidak menyangka akan bertemu dengan Bian saat ini. Meski Alea sudah menduga dan memperhitungkan hal ini, tapi ia tidak menyangka akan bertemu dengan Bian secepat ini.
Alea masih menggenggam erat tangan Kenzo. Jantungnya berdebar, kakinya bahkan terasa gemetaran.
"Tarik nafas dalam-dalam, sayang ...." Kenzo berbisik tepat di telinga Alea. Alea bergeming, kedua matanya terus menatap Bian.
Alea mengepalkan tangannya, rasa cinta dan kebenciannya pada pria ini seolah berperang dalam hatinya. kedua bola matanya terasa hangat, tapi bibirnya terasa kelu hanya untuk sekedar mengucapkan nama pria itu.
"Bi--Bian ...." Kata itu, serasa tersangkut di tenggorokannya. hingga Alea memilih diam, Alea mengatur nafasnya yang tiba-tiba memburu. Bayangan masa lalunya bersama pria itu kembali hadir, tapi sekuat tenaga Alea mencoba menghilangkannya.
Tubuhnya limbung, tapi sedetik kemudian ia memutuskan pandangannya pada Bian, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil setelah Kenzo membukakan pintu mobil untuknya.
"Alea!" Bian berteriak, kemudian mendekati Alea dan Kenzo.
"Alea!" Bian ingin mendekati Alea yang sudah masuk ke dalam mobil, tapi Kenzo langsung menghalanginya.
"Minggir! Brengsek!" Bian mendorong tubuh Kenzo.
"Kau yang brengsek Bian!" Kenzo membalas mendorong tubuh Bian, hingga Bian hampir saja terjatuh.
"Kau yang brengsek Kenzo, karena kau telah berani membawa istriku pergi!"
"Istri? Istri kau bilang? Siapa yang kau sebut istri itu?!" Suara Kenzo ikut meninggi.
"Brengsek! Alea ada istriku, kau membawanya pergi saat dia masih menjadi istriku!" Bian pun berteriak.
Mendengar teriakan Bian, Kenzo semakin geram.
"Memangnya kau pernah menganggap dia sebagai istrimu?" Kenzo dengan kasar menarik kerah baju Bian.
"Kau selalu saja menyakitinya, membuatnya menderita, dan sekarang, dengan tidak tahu malu kau masih menyebut dia istrimu? Dasar pecundang!" Kenzo melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Bian, kemudian mendorong Bian, hingga tubuh pria itu membentur mobilnya sendiri.
"Jangan kau coba-coba mengganggu Alea lagi, karena sekarang Alea adalah milikku!"Kenzo menatap Bian kemudian segera masuk ke dalam mobil. Kenzo dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Sementara Bian terus berteriak memanggil nama Alea.
"Alea!"
"Alea!"
Bian menggedor kaca mobil Kenzo, tapi mobil itu segera melesat tanpa mempedulikan teriakan Bian.
"Alea!"
"Alea!"
__ADS_1
"Brengsek! Kau Kenzo!" Bian berteriak kesal. sementara mobil Kenzo sudah melaju meninggalkan tempat itu.
"Brengsek!" umpat Bian. rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal erat.
"Awas saja kau Kenzo!"
Mobil Kenzo melaju dengan cepat meninggalkan pusat perbelanjaan. Alea masih terdiam menatap ke arah depan. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Dadanya masih berdebar dengan kencang. Alea berusaha menetralkan detak jantungnya dan berusaha menguasai emosinya.
Kenzo meraih tangan Alea yang terasa dingin. Menggenggamnya erat, seolah memberikan kekuatan pada perempuan itu.
"Tenang sayang, semua akan baik-baik saja." Alea menengok ke arah Kenzo.
"Ken ...."
Bibir Alea bergetar menahan tangis. Kedua matanya sudah berkaca-kaca. Kenzo mencari tempat yang aman kemudian menepikan mobilnya di sana. setelah mobil berhenti Kenzo membuka seatbelt kemudian langsung memeluk Alea.
"Sayang ... tenanglah!"
"Ken ...."
Alea langsung menangis di pelukan Kenzo.
"Tenanglah! Ada aku ...." Kenzo berbisik lembut di telinga Alea. Kenzo mengeratkan pelukannya, saat tubuh Alea mulai berguncang karena tangisannyanya.
Kenzo melepaskan pelukannya, kemudian kembali melajukan mobilnya menuju apartemen. Alea menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo.
Sedangkan Alea masih menangis sesenggukan. Kenzo memaki dalam hati.
'Kenapa Bian tiba-tiba ada di sana? Padahal, pusat perbelanjaan tadi letaknya sangat jauh dari tempat tinggal Bian.'
'sial! apa dia sengaja datang?'
Kenzo tersadar, ia benar-benar lengah kali ini. Saat sampai di Jakarta, Kenzo terlalu bahagia saat bersama Alea, hingga Kenzo lupa, kalau ia harus menjaga perempuan ini dari Bian dan anak buahnya yang selama ini mengincar Alea.
Mereka berdua akhirnya sampai di depan gedung apartemen. Alea masih sesunggukan. Dengan cepat, Kenzo membuka pintu mobil, membantu Alea melepas seatbelt, kemudian menggendong tubuh perempuan itu.
"Aku bisa jalan sendiri, Ken," ucap Alea lirih, saat Kenzo menutup pintu mobil sambil menggendong dirinya. Kenzo tak menjawab, pria itu justru membenarkan posisi Alea dalam gendongannya.
"Ken ...."
Kenzo menatap Alea dengan tajam, membuat Alea langsung terdiam. Alea bahkan langsung melingkarkan tangannya ke leher Kenzo. Percuma saja, Kenzo tidak akan mendengarkannya. Apalagi, pria itu saat ini terlihat sangat kesal.
Kenzo masuk ke dalam apartemen Alea, setelah perempuan itu menekan sandi apartemennya. Kenzo kemudian langsung membawa Alea masuk ke dalam kamarnya. Kemudian membaringkan perempuan itu di atas ranjang. Setelah itu, Kenzo pun berbaring di sebelah Alea.
Tidak mempedulikan kedua tangannya yang terasa pegal setelah menggendong Alea, Kenzo kemudian meraih tubuh Alea dan membenamkannya ke dalam pelukannya.
Alea terdiam dalam pelukan Kenzo, air matanya kembali mengalir. Pria ini, selalu saja tahu apa yang di inginkannya. Pelukan hangat Kenzo adalah obat terbaik yang Alea punya. Obat yang tidak bisa di beli di tempat manapun.
Untuk beberapa saat lamanya mereka masih terdiam sambil berpelukan. Tidak ada lagi suara tangis Alea yang terdengar, dan juga tak ada lagi raut wajah penuh kemarahan di wajah tampan Kenzo. Yang terasa hanya rasa nyaman di hati keduanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan pria brengsek itu kembali mengganggumu Al," batin Kenzo, ia semakin mempererat pelukannya.
Setelah sekian lama Alea berusaha melupakan pria itu, Kenzo tentu tidak akan membiarkan perjuangan Alea menjadi sia-sia. Sudah sekian lama Kenzo melihat Alea sangat menderita, dan kini, ia tidak akan pernah lagi membiarkan perempuan yang sangat dicintainya ini kembali menderita.
"Ken ...."
"Iya sayang ...."
"Maafkan aku."
"Maaf untuk apa?"
"Maafkan aku karena telah membuatmu kesal."
Kenzo melepas pelukannya, menatap dalam wajah Alea yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Maafkan aku, karena aku ...."
"Bukan salahmu, kau sudah berusaha keras selama ini. Kau hanya kaget, karena tidak menyangka akan bertemu dengannya secepat ini."
"Kau benar Ken, aku belum siap."
Alea menatap wajah Kenzo dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
"Sudah ku bilang, jangan menangis lagi karena pria lain, aku tidak mengizinkannya." Kenzo mengusap air mata Alea dengan jarinya.
"Aku percaya padamu, aku akan terus berusaha agar kau juga bisa mencintaiku sebesar cinta yang pernah kau punya untuknya."
"Ken ...."
"Aku akan terus berusaha membantumu, agar kau bisa segera menghapus pria itu dari hatimu."
"Ken ...."
"Aku akan terus menunggumu sampai suatu saat nanti kau juga bisa mencintaiku seperti kau mencintainya."
"Ken!"
"Aku akan terus di sampingmu, sampai kau bisa melihat --" Kenzo tidak bisa melanjutkan ucapannya, saat tiba-tiba Alea membungkam mulutnya dengan bibirnya. Kenzo terkesiap untuk beberapa detik, merasa tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Alea.
Tapi detik berikutnya, Kenzo menarik tubuh Alea, kemudian kembali meraih bibir Alea yang berniat mengakhiri ciumannya.
Tidak! Kenzo tidak mungkin membiarkan semuanya berakhir begitu saja. Tidak akan pernah!
Meski ia sadar, saat ini nama Bian masih bertahta di hati Alea yang paling dalam, tapi ia yakin, suatu saat ia pasti akan punya kesempatan untuk mendapatkan hati perempuan ini seutuhnya.
Hanya tinggal menunggu waktu!
"Aku akan selalu di sampingmu, sampai kapanpun, apapun yang akan terjadi, rasa cintaku padamu tidak akan pernah berubah, Alea."
__ADS_1