
Kenzo memeluk Alea yang berteriak histeris. Sementara kedua orang tua Kenzo terlihat terkejut melihat reaksi Alea. Mereka berdua baru saja mengenal Alea, jadi mereka belum tahu apa yang terjadi pada Alea sebenarnya.
Di balik telepon, Mama Bian masih terus berbicara.
"Alea sayang, kamu kenapa, Nak?"
"Alea ...." Mama Bian ikut menangis mendengar teriakan Alea.
"Sayang ...."
Mama Kenzo meraih ponsel Alea.
"Halo, saya Mamanya Kenzo, anak saya menelepon, karena ingin memberitahukan pada anak Anda, kalau istrinya yang sedang hamil mengalami kecelakaan. Sekarang dia di rawat di rumah sakit. Kabar terakhir yang saya dengar, nyawanya tidak bisa diselamatkan, tapi bayi dalam kandungannya selamat. Sekarang, tim dokter sedang melakukan operasi cesar untuk menyelamatkan bayinya," jelas Mama Kenzo panjang lebar. Padahal, ia belum tahu cerita yang sebenarnya. Mama Kenzo melirik ke arah Kenzo yang mengangguk padanya, yang berarti membenarkan semua ucapannya.
"Maksudnya apa?"Mama Bian terdengar kebingungan.
"Istri anak Anda, menantu Anda, masa iya tidak kenal?"
"Menantu saya hanya Alea, saya tidak punya menantu lain."
"Hah?" Mamanya Kenzo terlihat kaget.
"Jadi kau tidak mengakui menantumu yang sedang hamil besar itu? Alea bilang, dia adalah istri dari anakmu."
"Aku tidak mengenalnya. Mereka menikah tanpa sepengetahuanku , jadi aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai menantu. Lagipula, anak dalam kandungannya itu bukanlah anak Bian, jadi aku tidak peduli. Gara-gara dia, aku kehilangan menantu sebaik Alea." Tiba-tiba mamanya Bian kembali menangis.
"Mana Alea? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia berteriak?" berondong Mama Bian dengan nada khawatir.
"Sepertinya, Anda memicu traumanya. Alea berteriak histeris setelah Anda menceritakan tentang anak Anda," terang Mama Kenzo, meski sebenarnya, ia asal menebak saja.
"Bian pembunuh! Dia telah membunuh anakku!" Terdengar suara Alea kembali berteriak. Mama Kenzo segera mengakhiri panggilannya, setelah sebelumnya, memberikan alamat kecelakaan Amara dan juga rumah sakit di mana Amara di rawat.
"Ken, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia langsung histeris seperti ini?" Mama Kenzo mendekati Kenzo yang sedang berusaha menenangkan Alea yang terus memberontak.
"Alea mengalami trauma karena perlakuan jahat mantan suaminya Ma," ucap Kenzo terus berusaha memeluk Alea.
"Syukurlah, berarti jawaban Mama bener."
"Apa maksud Mama?" Kenzo menatap Mamanya dengan kesal.
"Itu lho Ken, tadi kan Mama asal jawab saja pertanyaan mantan mertuanya Alea, bukannya Mama bersyukur dengan apa yang terjadi sama Alea, kamu jangan salah paham." Mama Kenzo menatap anaknya dengan perasaan bersalah.
"Maaf Ma."
"Tidak apa-apa sayang, sebaiknya, kita bawa Alea ke rumah sakit."
__ADS_1
"Tidak usah Ma, dokter sedang dalam perjalanan menuju ke sini."
"Dia pembunuh! Dia telah membunuh anakku!" Alea kembali berteriak.
"Aku membencinya! Aku tidak ingin bertemu dengannya, aku benar-benar membencinya!"
"Aku tidak akan pernah memaafkannya ...." Alea menangis sejadi-jadinya. Kenzo terus memeluk Alea, meski perempuan itu terus memberontak. Kenzo mengepalkan tangannya erat, menahan kesedihan serta kemarahan di dadanya.
"Sayang, tenanglah! Ini aku, Ken! Kau akan baik-baik saja selama bersamaku, tenanglah!" Kenzo menangkup wajah Alea, menyadarkannya, agar perempuan itu menatapnya.
"Lihat aku, ini aku, Kenzo! Sahabatmu Alea ...." Kenzo menatap lembut pada Alea.
Sementara kedua orang tua Kenzo terlihat berkaca-kaca, mereka berdua berpelukan, merasa iba melihat keadaan Alea yang begitu menyedihkan.
"K--Ken ...."
"Iya sayang, ini aku."
"Ken ...." Alea menatap pria di depannya dengan air mata yang mengalir deras dimatanya. Kenzo kembali memeluk perempuan itu dan menyembunyikan wajahnya di dadanya. Hatinya sungguh sangat sakit melihat keadaan Alea. Luka dalam yang ditinggalkan Bian benar-benar sangat membekas dan meninggalkan trauma yang mendalam pada Alea.
"Ken, aku membencinya, aku tidak ingin bertemu dengannya, dia telah membunuh anakku Ken, aku membencinya ...."
"Iya sayang, aku tahu, tenanglah!"
Kedua orang tua Kenzo pun tak bisa menahan kesedihannya, apalagi melihat anaknya menangis.
"Sepertinya, Kenzo sangat mencintai gadis itu, Pa."
"Mama benar, Kenzo bahkan ikut menangis. Anak kita ternyata sudah dewasa Ma, Papa pikir, selama ini dia tidak pernah menyukai perempuan, karena Kenzo terlalu dingin terhadap perempuan, kecuali Mama dan saudara perempuannya." Mama Kenzo tiba-tiba mencubit pinggang suaminya, membuat Papa Kenzo meringis.
"Kenapa dicubit sih, Ma?"
"Papa ngomongnya sembarangan. Papa pikir, anak ganteng Mama itu homo, nggak suka sama perempuan?" kesal Mama Kenzo.
"Kan Mama juga sering ngomong begi--"
"Jangan berisik," potong Kenzo pelan, membuat kedua orang tua itu langsung menutup mulutnya.
Suara ketukan pintu, membuat mereka semua menoleh ke arah pintu. Seorang pegawai perempuan Kenzo terlihat bersama seorang dokter di sampingnya.
"Silahkan masuk Dok," Mama dan Papa Kenzo langsung mempersilahkan sang dokter, sementara pegawai Kenzo menundukkan kepalanya sopan, kemudian kembali menutup pintu meninggalkan ruangan Kenzo.
Dokter Santi yang biasa menangani Alea, langsung mendekati Alea yang masih menangis dalam pelukan Kenzo.
"Apa dia berteriak seperti biasanya?"
__ADS_1
"Iya, Dok, tapi sekarang sudah agak tenang."
Kenzo menggendong Alea, membawa ke dalam kamar yang terdapat dalam ruangannya, dan membaringkan tubuh Alea dengan hati-hati.
"Jangan tinggalkan aku, Ken ...."
"Aku di sini, tidak akan kemana-mana, tenanglah!" Kenzo menatap Alea dengan lembut sambil mengelus rambutnya yang berantakan.
Dokter Santi mendekati Alea, kemudian mulai memeriksanya.
"Apa dia baru saja mengalami kejadian yang memicu traumanya?"
"Seseorang dengan tidak sengaja memicu ingatannya pada kejadian yang pernah dialaminya," jelas Kenzo, sambil menatap Alea yang masih menggenggam erat tangannya. Alea masih menangis sambil memejamkan matanya, tapi sudah kembali tenang.
"Apa masih perlu obat penenang untuk mengatasinya Dok?"
"Kalau Anda bisa terus menenangkannya seperti ini, sebaiknya tidak usah. Tapi kalau malamnya dia terus gelisah dan tidak bisa tidur, kita bisa memberikannya."
"Mulai besok, ulang kembali jadwal pertemuannya dengan saya. Kita lanjutkan terapi, dan memastikan kalau dia benar-benar sembuh," ucap Dokter Santi setelah selesai memeriksa Alea.
"Baik Dok, terima kasih. Maaf, sudah merepotkan." Kenzo menyunggingkan senyumnya.
"Sudah menjadi tugas saya, kalian tidak usah sungkan." Sang dokter tersenyum.
"Kalau begitu, saya permisi." Dokter Santi kemudian keluar dari ruangan Kenzo di antar Mama Kenzo di belakangnya.
"Ken ... sampai kapan aku akan seperti ini?" ucap Alea lirih.
"Aku yakin, kau pasti akan segera sembuh Al, percayalah padaku." Kenzo menggenggam erat tangan Alea, menatap lembut perempuan itu, kemudian mendaratkan sebuah ciuman yang cukup lama di kening Alea.
"Tetaplah bersamaku, aku janji, aku akan menggantikan semua kesedihanmu dengan kebahagiaan. Karena kau pantas bahagia Alea ...." Kenzo berbisik lirih, kemudian membenamkan wajah Alea ke dalam pelukannya.
"Aku janji, akan memberikanmu seluruh kebahagiaan yang kau inginkan Alea, berilah aku kesempatan untuk mewujudkan semuanya Al, aku mencintaimu, sungguh-sungguh mencintaimu Alea ...."
Alea mengeratkan pelukannya, saat kata-kata Kenzo serasa obat yang membalut lukanya.
"Aku mencintaimu Alea, dari dulu sampai sekarang, aku selalu mencintaimu ...."
.
.
Yang suka ceritanya, ikutin terus kisah mereka ya ... jangan lupa like, koment, dan Votenya ya, biar tambah semangat updatenya 🙏🙏🙏
Terima kasih sudah membaca...
__ADS_1