
Kenzo dan Alea berjalan beriringan. Senyum terkembang di kedua bibir mereka. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Setelah mereka berdua sama-sama mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Hati mereka berbunga-bunga, bak remaja yang baru jatuh cinta.
Kenzo menatap Alea dengan penuh cinta. Begitupun Alea yang menatap pria itu dengan wajah berbinar. Sudah lama sekali, Alea tidak pernah merasa sebahagia ini. Bahkan saat dirinya jatuh cinta pada Bian, Alea pun tidak pernah merasa sebahagia ini. Bagaimana mau bahagia, cintanya saja bertepuk sebelah tangan.
Ternyata, rasanya sebahagia ini, bisa mencintai seseorang yang juga mencintai kita. Mencintai dan dicintai ternyata lebih membahagiakan, daripada harus mencintai seseorang yang tidak pernah mencintai kita.
'Dulu, aku berpikir, mencintai Bian adalah kebahagiaan terbesar yang akan aku rasakan. Meskipun pria itu tidak pernah mencintaiku. Tapi, ternyata tidak hanya cukup mencintai saja yang membuat kita bahagia.'
'Dulu aku terlalu naif. Aku pikir hanya dengan mencintai saja bisa membuatku bahagia. Tapi ternyata, meski bertahun-tahun kita mencintai, semuanya tidak akan berarti apa-apa untuk orang yang tidak mencintai kita.'
Memang benar, mencintai tidak harus memiliki. Tapi, kalau mencintai seseorang ternyata tidak bisa membahagiakan kita, untuk apa kita terus bertahan?
'Aku tidak pernah jatuh cinta pada siapapun selain Bian. Hanya pada Bian pertama kali hatiku menjatuhkan pilihan, sampai bertahun-tahun. Hanya pada pria itu duniaku berputar setiap harinya. Tiada hari tanpa memikirkan pria itu, tiada malam tanpa memimpikan pria itu.'
Semuanya, hanya tentang dia dan dia ....
Sekarang aku sadar, begitu bodohnya aku dahulu. Menganggap bahwa mencintai seseorang yang tidak mencintai kita adalah suatu kebahagiaan. Hingga membiarkan diriku semakin terjatuh dan terluka lebih dalam.
'Bian ... selamat tinggal. Lihatlah! tanpamu pun aku bisa bahagia.'
Alea mengeratkan genggaman tangannya pada Kenzo, wajahnya berbinar, tersenyum memperhatikan wajah pria itu.
'Aku tidak pernah menyangka, akan jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Selama ini, aku membiarkan dia tetap sampingku. Aku sudah merasa nyaman dengannya. Aku pikir hanya sekedar nyaman, ternyata lebih dari itu. Aku selalu tidak bisa untuk tidak memikirkan dia. Hanya dia yang selama ini selalu ada bersamaku.'
"Kenapa kau menatapku terus? Apa karena aku terlihat lebih tampan hari ini?" Kenzo dengan penuh percaya diri tersenyum menatap Alea.
"Kau benar-benar menyebalkan!"
Alea tertawa.
"Tapi kau benar, kau memang sangat tampan hari ini, jauh lebih tampan dari biasanya." Alea kembali tertawa.
"Itu karena kau menyukaiku, makanya aku terlihat tampan." Kenzo tertawa sambil mengacak-acak rambut Alea.
"Ken!" sungut Alea kesal.
Kenzo kembali tertawa, kemudian merapikan rambut Alea.
"Aku mencintaimu." Kenzo mengecup lembut kening Alea kemudian memeluk perempuan itu sebentar.
__ADS_1
"kita sudah sampai."
Alea tersenyum melihat pemandangan indah di depannya. Deru ombak berkejaran dan semilir angin pantai langsung memanjakan kan dirinya.
Alea memejamkan matanya, dan merentangkan kedua tangannya, menghirup dalam-dalam udara di pantai itu. Kenzo tersenyum, kemudian memeluk perempuan itu dari belakang, membuat Alea sedikit tersentak, tapi kemudian menyunggingkan senyumnya.
Kenzo menempelkan dagunya di bahu Alea, sambil memeluknya erat. Sesekali pria itu mencuri ciuman di pipinya.
"Kau senang?"
"Sangat senang. Terima kasih, sudah mengajakku ke sini."
"Sama-sama sayang, aku tahu, kau sangat suka dengan pantai, makanya aku membawamu ke sini untuk kencan kita hari ini."
"Kencan kita?" Alea menengok ke arah Kenzo, membuat pria itu langsung mengecup bibir Alea.
"Ken!" Kenzo terkekeh melihat Alea melotot kesal padanya.
"Aku mencintaimu." kembali Kenzo mencium sekilas pipi Alea, kemudian kembali memeluk perempuan itu dengan erat.
"Hari ini, adalah kencan pertama kita sebagai seorang kekasih." Kenzo menatap Alea yang terlihat takjub dengan pemandangan di depannya.
"Terima kasih, karena kau sudah mewujudkan impianku untuk bersamamu, Alea."
Alea tersenyum membalas tatapan teduh milik Kenzo.
"Aku juga berterima kasih karena kau selalu ada di sampingku selama ini. Kalau bukan karena kau, saat ini mungkin aku masih terus terperangkap dalam duka yang berkepanjangan." Alea menatap Kenzo dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Kau pantas bahagia, sayang. Aku hanya membantumu untuk meraih kebahagiaanmu," ucap Kenzo sambil merapikan rambut Alea yang berantakan tertiup angin pantai.
"Kita ke sana, Ken." Alea menunjuk ke tepi pantai.
"Ayo."
Kenzo menggandeng tangan Alea menuju tepi pantai. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan di tepi pantai. Saling bercanda, tertawa, berkejaran di tepi pantai. Deburan ombak melewati kaki mereka yang berlari saling berkejaran. Sesekali, Kenzo memeluk Alea, kemudian menggendongnya. Mereka berdua tertawa bahagia, seolah dunia hanya milik mereka.
Kenzo menatap Alea yang tertawa bahagia sambil berlari menghindari ombak yang akan menerpa kakinya. Ia tersenyum lega, dengan kebahagiaan yang sama, yang terpancar di wajah tampannya.
'Akhirnya, saat ini tiba. Saat di mana, aku bisa melihatmu tertawa bahagia, Alea.'
__ADS_1
Sementara di tempat lain, tidak jauh dari Kenzo dan Alea di sana, Bian mengepalkan tangannya, saat melihat kemesraan mereka berdua. Kedua matanya tak lepas menatap Alea yang tersenyum begitu bahagia.
Senyum yang tak pernah Bian lihat, saat Alea masih bersamanya.
Bian tersenyum getir, betapa bodohnya ia selama ini, karena membiarkan perempuan secantik dan sebaik Alea pergi meninggalkan dirinya.
'Haruskah aku menyerah saja? melihatmu bahagia bersama pria itu, rasanya tidak mungkin kau akan kembali menerimaku, Alea.
Karena aku yakin, kau sangat membenciku sekarang.'
Pandangan Bian tidak beralih dari mereka. Bian memang sengaja mengikuti kepergian mereka berdua. Ia akan mencari celah, agar dirinya bisa bertemu dengan Alea. Meskipun ada Kenzo bersamanya.
Setelah cukup puas bermain di pantai, Alea dan Kenzo akhirnya kembali pulang saat malam tiba. Mereka berdua mampir di restoran milik Kenzo yang ada di sekitar tempat itu. Mereka berdua makan malam di sana. Setelah makan malam, mereka berdua kembali pulang. Awalnya Kenzo menawarkan Alea untuk menginap di hotel terdekat, tapi Alea tidak mau. Alea memilih untuk pulang, dan Kenzo pun menurutinya.
Di belakang mereka, mobil Bian masih terus mengikuti mereka. Kedua tangannya mencengkram setir mobilnya kuat-kuat saat menyaksikan kemesraan demi kemesraan yang Kenzo dan Alea tunjukkan di depan matanya.
Saat Alea masih bersamanya, Bian belum pernah mengajak jalan-jalan ke manapun. Bian bahkan tidak pernah mengajak Alea bulan madu setelah pernikahan mereka. Berbeda saat dirinya menikah dengan Amara. Bian membawa perempuan itu pergi kemanapun yang Amara inginkan.
Bian mencibir dalam hati.
Lagi- lagi, seandainya waktu bisa terulang kembali ....
Sayangnya, waktu terus berjalan dan tak akan kembali terulang.
Di mobil lain, Kenzo tersenyum. Di sampingnya, Alea sudah tertidur karena kelelahan. Kenzo mengusap lembut rambut perempuan itu dengan satu tangannya, sementara tangan yang lainnya memegang kemudi.
Kenzo menatap mobil Bian dari kaca spion mobilnya. Ia tersenyum smirk melihat mobil itu melaju tepat di belakang mobilnya.
Dari awal perjalanannya dengan Alea, Kenzo memang sudah mengetahui kalau Bian mengikutinya.
'Ini belum seberapa, Bian. Belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang sudah di rasakan Alea saat dia masih bersamamu.'
'Aku berjanji, aku akan membalas satu persatu semua yang pernah kau lakukan pada Alea, Bian. Kau akan merasakan kesakitan yang selama ini Alea rasakan. Kau harus membayarnya! Kau harus membayar setiap tetes air mata yang Alea keluarkan karena dirimu.'
Kenzo mencengkeram kemudi, raut wajah tampannya di penuhi kemarahan oleh kemarahan.
Dulu, ia terus menekan emosinya, karena Alea melarangnya. Tapi sekarang, Alea adalah miliknya. Kenzo tidak akan membiarkan pria itu kembali mengusik Alea apalagi sampai menyakitinya.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan Votenya y kakak² 🙏🙏🙏