MATI RASA

MATI RASA
Part 76 Aku Mencintaimu


__ADS_3

'Selamat tinggal masa lalu. Kali ini, aku tidak akan pernah lagi menoleh ke belakang untuk menatapmu, apalagi untuk kembali padamu ....'


Alea membelakangi pintu yang sudah tertutup tirai panjang yang menutupi seluruh pintu.


Kemudian melangkah menuju ranjang. Tak dihiraukannya sosok yang menatapnya di ujung sana.


"Tamat sudah. Cerita kita kita sudah berakhir, Bian. Cukup sudah selama ini aku jadi orang yang bodoh, karena terus Mencintaimu," gumam Alea.


Dalam hati ia berpikir, kalau benar Bian juga tinggal di rumah itu, kenapa Mama dan Papa menyuruhku tinggal di sini? Bukankah mereka sangat tahu, kalau aku tidak ingin bertemu dengan Bian?


Alea menghela nafas panjang, kemudian mencoba memejamkan matanya. Tapi bayangan Bian menatapnya di ujung sana mengusiknya, hingga membuatnya berdecak kesal.


Alea kembali beranjak dari tempat tidur, kemudian mengintip dari balik tirai. Ia melihat, pria itu masih berdiri di sana, menatap ke arah kamarnya.


'Seandainya waktu bisa berputar ulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mencintaimu, Bian.'


Alea menatap pria itu, kemudian menghembuskan nafas kasar dan kembali menutup tirai kamarnya. Alea kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian memejamkan matanya.


Sementara di atas balkon rumah yang terletak tak jauh dari rumah Alea, Bian menatap ke arah kamar Alea. Ia bahkan menatap sampai tak berkedip dengan rasa tak percaya melihat Alea ada di depannya saat ini, dan hanya berjarak berapa meter saja dari pandangannya.


'Alea ... aku tahu, saat ini kau pasti tidak ingin melihatku. Kalau tidak, kau pasti akan tetap berdiri di sana seperti biasanya. Aku sangat ingat, kalau dulu kau selalu memperhatikanku dari sana. Memperhatikan semua tingkah lakuku dari sana. Semua yang aku lakukan setiap harinya, kau bahkan mengetahuinya dengan jelas. Karena kau selalu mengintipku dari sana, dari kamarmu.'


'Seandainya aku punya kesempatan, aku benar-benar ingin kembali padamu dan memperbaiki semua kesalahanku, Alea. Bahkan meski aku harus bersujud di kakimu. Aku akan terus meminta maaf padamu sampai kau benar-benar mau memaafkan aku.'


"Alea, aku benar-benar merindukanmu, sayang ...." Bian berbisik lirih, merasakan sesuatu yang terasa menyakitkan di ujung hatinya.


'Seandainya waktu bisa diulang, aku ingin kembali pada masa di mana kau begitu mencintaiku, Alea. Aku sangat ingin kembali pada waktu di mana kau dengan begitu lantang mengucapkan kata, kalau kau sangat mencintaiku.'


"Alea, sayang ... aku benar-benar merindukanmu."


Tangis Bian luruh seketika. Kedua matanya yang tadinya berkaca-kaca, kini sudah mengalirkan air mata. Bian menangis, menangisi kebodohan yang telah ia perbuat selama ini pada Alea.


'Seandainya waktu benar-benar bisa berputar kembali, aku akan memilih terus mencintaimu, sampai kapanpun. Tidak akan aku biarkan kau berpaling dariku meskipun hanya sebentar saja.'


'Hanya saja, ternyata waktu tidak pernah berpihak padaku. aku terlambat menyadari, kalau aku jatuh cinta padamu. Bahkan lebih dari yang kau bayangkan Alea.'


'Aku mencintaimu di saat aku sudah kehilangan hatimu yang selalu memujaku. Aku mencintaimu di saat kau mulai berpaling dariku, dan tak ingin melihat wajahku.'


'Alea, aku benar-benar merindukanmu, sangat merindukanmu ....'


Bian masih menangis dengan posisi berdiri di atas balkon sambil menatap kearah kamar Alea. Perempuan itu, jelas tidak ingin melihatnya sama sekali karena Alea langsung masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu juga tirai kamarnya.


Berbeda dengan Bian, Alea justru tertidur pulas. Mungkin karena kelelahan setelah membereskan semua barang-barang tentang Bian.


Sementara di dalam apartemen, Kenzo tidak bisa memejamkan matanya karena membayangkan Alea yang mungkin saja akan bertemu dengan Bian di rumah orang tuanya.


Kenzo merasa gelisah dan merasa terabaikan saat ia melihat kalau Alea bahkan tidak membuka chatnya sama sekali.


Kenzo bolak-balik melihat ke arah ponselnya. Ia melihat pesan yang ia kirim bahkan belum dibaca sama sekali oleh Alea.


"Rasanya, aku benar-benar Gegana malam ini. Gelisah galau merana." Kenzo tersenyum, tapi detik berikutnya ia berteriak frustasi sambil meremas rambutnya.

__ADS_1


"Alea ... kau benar-benar sedang mengujiku. Awas saja kalau kau pulang nanti, aku pasti akan menghukummu." Kenzo menggerutu.


Dirinya benar-benar galau malam ini. Tidak bisa tidur karena terus memikirkan Alea. Perempuan itu benar-benar sudah membuat Kenzo merasa gila.


'Alea, sayang ... baru sehari saja aku tidak bertemu denganmu, aku sudah merasa rindu.


Apalagi kalau kau tinggal lebih lama di sana? aku benar-benar akan menjadi gila rasanya.'


Kenzo membolak-balikan badannya di atas tempat tidur, ia benar-benar merasa gelisah malam ini. Ia melirik jam di ponselnya, kemudian setelah menimbang-nimbang, akhirnya Kenzo menelepon Alea. Ia benar-benar tidak tahan karena seharian ini tidak melihat Alea.


Alea membuka matanya dengan malas, saat mendengar suara ponselnya yang berdering nyaring. Tangannya meraba-raba di atas nakas, Alea menatap benda pipih itu sebentar dengan kedua mata yang masih mengantuk. kemudian ia langsung menggeser ponselnya saat tahu siapa yang menelponnya. wajah Kenzo terpampang di layar ponselnya.


Kenzo memang sengaja melakukan panggilan video dengan Alea. pria itu benar-benar rindu pada Alea.


Alea menatap Kenzo dengan kedua mata yang masih mengantuk.


"Ken, ada apa kau meneleponku?" Suara serak Alea terdengar memenuhi pendengarannya, sementara wajahnya, terlihat seperti orang yang baru bangun tidur. Alea bahkan masih terbaring di atas ranjang.


Kenzo tersenyum manis, saat wajah Alea terlihat di layar ponselnya.


"Sayang, kapan kau pulang? Aku kangen banget sama kamu. Kamu cepat pulang ya, kamu nggak boleh lama-lama di sana, aku kesepian nggak ada kamu."


"Aku ngantuk banget, Ken, kau sudah mengganggu tidurku. padahal aku lagi mimpi indah tadi." Alea menjawab dengan memejamkan matanya.


"Kamu sudah mengantuk?"


"Aku bahkan sudah tidur tadi Ken, tapi kau membangunkanku." bibir Alea mengerucut, sementara kedua matanya berkedip-kedip menahan kantuk. Kenzo yang melihat dari balik layar ponselnya tersenyum gemas.


"Kau curang, aku tidak bisa tidur makanya aku menelponmu. Tapi kau malah sudah tertidur?"


"Kelelahan?" Kenzo mengernyit heran.


"Aku habis beres-beres kamar. Aku membuang semua barang yang berhubungan dengan Bian di kamarku." Alea menghela nafas panjang, kemudian mulai membuka kedua matanya.


"Aku kangen."


Alea tersenyum melihat Kenzo yang merajuk seperti anak kecil.


"Aku Gegana, Al ...." Kenzo melanjutkan ucapannya. Sementara Alea terlihat bingung dengan apa yang yang diucapkan Kenzo baru saja.


"Apa itu Gegana?" ucap Alea penasaran.


"Gelisah galau merana. Kayak yang di lagu itu lho, Al, masa iya kamu nggak tahu."


"Lagu apa memangnya? Kok aku nggak tahu."


"Lagu dangdut."


Alea tertawa mendengar jawaban Kenzo.


"Sejak kapan kamu suka lagu dangdut?"

__ADS_1


"Di restoran, pegawaiku suka menyetel lagu itu, makanya aku hafal." Kenzo nyengir kuda.


"Lagunya pas banget buat aku sekarang. Aku benar-benar sedang gelisah mikirin kamu."


Alea kembali tertawa mendengar jawaban Kenzo.


"Aku benar-benar serius, Al, kenapa kamu malah tertawa?"


"Kamu kayak ABG yang baru jatuh cinta, Ken, benar-benar lucu." Alea kembali tertawa, sementara Kenzo, sejenak terpaku melihat Alea yang begitu cantik saat tertawa. Sudah lama sekali Kenzo tidak pernah melihat Alea tertawa dengan selepas itu.


"Sayang, apa kau tak merindukanku?" Kenzo terlihat cemberut karena Alea masih tertawa.


"Sayang ...."


"Aku juga merindukanmu," ucap Alea akhirnya, setelah tawanya mereda. Alea tidak berbohong. Ia memang mengingat Kenzo. Apalagi saat dirinya melihat Bian di sana. Saat itu, orang yang pertama kali ia ingat adalah Kenzo.


"Benarkah?"


"Benar, aku merindukanmu, Ken, sangat!" Alea menatap wajah tampan Kenzo dari balik layar ponselnya. Alea tersenyum, wajah itulah yang tadi sempat hadir saat ia tertidur, wajah itu yang tadi terlintas, saat ia melihat Bian menatapnya.


"Ken, aku merindukanmu, sungguh!" Alea menatap wajah Kenzo di layar ponselnya.


"Bisakah kau datang ke sini menjemputku?"


Alea menatap wajah tampan Kenzo yang terlihat semakin tampan di matanya.


"Aku merindukanmu, aku ingin bertemu."


"Al, apa terjadi sesuatu di sana?"


"Tidak."


"Kau bertemu dengannya?" Kenzo menatap wajah cantik Alea dari layar ponselnya.


"Aku hanya merindukanmu, ingin bertemu denganmu, dan ingin memelukmu. Kau bilang kau juga ingin bertemu denganku bukan?"


Kenzo tersenyum mendengar rentetan ucapan Alea.


"Aku mencintaimu."


Kenzo tertegun mendengar ucapan Alea. Ia bahkan hampir saja menjatuhkan ponselnya. Merasa tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Ken ...."


"Ken ...."


"Kenzo!"


.


.

__ADS_1


Maaf baru bisa update ya kakak², harap maklum, krna si kecil baru mau masuk sekolah jadi agak sibuk kemaren 🙏🙏🙏


Yang suka ceritanya ikutin terus ya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya ... Aku sayang kalian.


__ADS_2