
Bian berdiri di depan pintu gerbang rumah Alea, hari ini ia memutuskan untuk menemui Alea. Apapun resikonya akan Bian hadapi meskipun harus diusir oleh orang tua Alea ataupun Alea sendiri nantinya. Bian sedikit menyingkir saat tiba-tiba pintu gerbang dibuka dari dalam. Terlihat wajah Alea muncul bersama pria itu, mereka berdua bergandengan tangan, dengan senyum sumringah di wajah Alea juga pria itu.
Sungguh pemandangan yang begitu menyakitkan buat Bian. Melihat seseorang yang kita cintai bergandengan mesra bersama pria lain dengan senyum bahagia terpancar di wajahnya, adalah pemandangan yang sangat menyakitkan hati.
Bian jadi teringat saat dirinya masih bersama Amara, setiap hari Alea harus melihat kemesraannya bersama Amara. Saat itu, Bian tidak pernah berpikir kalau Alea akan merasa sakit hati atau apapun. Karena, yang ia tahu, saat itu ia begitu mencintai Amara dan sangat membenci Alea.
Dulu, kau juga pasti merasakan sakit seperti apa yang kurasakan saat ini. Tapi dulu aku tidak pernah mempedulikannya. Aku tidak pernah memperdulikan bagaimana perasaanmu saat kau melihatku bermesraan dengan Amara setiap hari, di depan matamu. Aku hanya tahu, saat itu aku membencimu. Membencimu, karena aku pikir kau telah menggunakan kekuasaan orang tuamu agar aku bisa menikah denganmu, aku membencimu karena kau adalah penyebab rusaknya hubunganku dengan Amara saat itu.
Sejenak Bian tertegun menatap mereka berdua. Begitupun mereka berdua, Alea dan Kenzo terlihat kaget saat melihat Bian tiba-tiba berdiri di depan pintu gerbang.
"Mau apa kau kesini?" Kenzo menatap Bian dengan tajam.
"Aku ingin bertemu Alea," jawab Bian tenang.
Kenzo menatap ke arah Alea, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aku beri kau waktu lima menit untuk bicara dengan calon istriku." Kenzo menatap Bian sambil tersenyum tipis. Sementara Bian tersentak kaget mendengar kata 'calon istri' dari Kenzo.
' Benarkah secepat itu mereka akan menikah?'
Bian tersenyum getir, saat hatinya serasa ditusuk ribuan paku mendengar ucapan Kenzo. Bagaimana mungkin, ia sanggup mendengar orang yang dicintainya menikah dengan orang lain?
Bian menatap Alea yang masih terdiam. Perempuan itu terlihat begitu cantik. Melihat Alea, rasanya bahagia bercampur luka. Bahagia, karena akhirnya Bian bisa bertemu dengan orang yang dicintai. Terluka, karena sepertinya Bian tak lagi mempunyai kesempatan untuk memiliki perempuan itu.
"Alea, aku ingin bicara padamu." Bian menatap perempuan di depannya, rasa sakit bercampur bahagia jadi satu. Tangan perempuan itu masih memeluk lengan Kenzo, seolah enggan melepaskannya. Membuat hati Bian dipenuhi rasa cemburu.
Dulu, aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya berjalan beriringan denganmu dengan begitu mesra, karena akulah yang selalu memaksamu dan menarik tubuhmu masuk ke dalam pelukanku, meski kau berkali-kali menolak.
'Aku hanya akan menggenggam tanganmu, saat aku ingin memaksamu untuk melayaniku.'
Bian kembali mengingat bagaimana ia dengan brutal selalu memaksa Alea untuk melayani hasratnya. Tanpa memperdulikan teriakan Alea, Bian begitu kejam terus memaksa perempuan itu untuk memuaskannya.
"Aku tidak ingin bicara padamu, Bian. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita." Alea menatap Bian yang kini menatapnya.
"Alea, aku hanya ingin meminta maaf padamu."
"Dengan meminta maaf, kau tidak bisa mengembalikan semua yang telah kau ambil dariku."
"Maafkan aku … aku janji, aku akan menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu." Bian memohon.
"Sayang, aku tunggu kau di sana." Kenzo menunjuk ke arah pos satpam tak jauh dari mereka berdiri. Ia ingin memberikan kesempatan buat Alea dan Bian untuk kembali berbicara berdua. Kenzo mencium pipi Alea dengan mesra, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Alea dan Bian yang masih berdiri di depan pintu gerbang.
Sementara Bian hanya bisa mengepalkan tangannya erat, saat rasa sakit mengalir di rongga hatinya, melihat kemesraan mereka berdua.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Alea menatap Bian dengan kedua tangan bersedekap. Kedua bola matanya yang indah menatap Bian tak berkedip. Sedangkan Bian, menatap Alea dengan penuh kerinduan.
"Sayang …."
"Aku bukan sayangmu! Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!"
"Maaf …!"
"Cepatlah! Aku tidak punya waktu banyak untuk berbicara denganmu, Bian!"
"A--aku … aku mohon beri kesempatan agar aku bisa menebus kesalahanku, Alea." Bian menatap wajah cantik di depannya itu dengan tatapan memohon.
"Aku mohon …." Bian menangkupkan kedua tangannya di depan Alea.
Alea menatap wajah tampan di depannya. Wajah itu, wajah yang pernah dikaguminya selama bertahun-tahun.
"Beri aku kesempatan agar aku bisa kembali bersamamu dan menebus semua kesalahanku, Alea. Aku mohon …."
"Kau pikir, kau pantas mendapatkan kesempatan setelah semua yang kau lakukan padaku?" Alea mencibir.
"Alea, aku yakin, kau juga masih mencintaiku. Tidak mungkin kau melupakan aku begitu saja, kau sudah bertahun-tahun mencintaiku, Alea. Tidak mungkin kau bisa melupakan aku dengan begitu mudah." Bian menatap Alea dengan penuh percaya diri.
Sementara Kenzo mengepalkan kedua tangannya erat mendengar ucapan Bian yang begitu jelas terdengar di telinganya.
"Alea yang dulu sudah mati, Bian. Karena kau sendiri yang telah membunuhnya!" Alea berteriak keras.
"Alea …." Rasa sakit menjalar di hati Bian. Mendengar ucapan Alea, hatinya serasa ditusuk ribuan jarum.
"Aku membencimu, Bian! Sangat membencimu!"
"Dulu aku memang sangat mencintaimu, Bian. Mencintaimu dengan setulus hatiku. Tapi apa saat itu kau menghargai rasa cinta yang ku punya untukmu?"
"Tidak! Kau sama sekali tidak menganggapku. Kau bahkan terus saja menyiksaku, seolah rasa cinta yang aku punya untukmu itu adalah sebuah kesalahan. Kau terus menyiksaku hanya karena aku mencintaimu!"
Alea menatap Bian dengan penuh kebencian. Sementara Bian terus menekan rasa sakit yang semakin menusuk di sudut hatinya.
"Alea …."
"Aku Membencimu! Sangat membencimu! Aku tidak akan pernah memberimu kesempatan apapun, karena kau tidak pantas! Kau tidak pantas untuk aku maafkan, Bian!"
Butiran air bening menetes di pipi Bian, Sementara Alea berusaha mati-matian agar air matanya tidak keluar.
"Alea … aku tahu, aku tidak pantas untuk dimaafkan. Kesalahanku terlalu banyak padamu. Tapi aku mohon, tak bisakah kau mengizinkan aku untuk tetap disampingmu?" Bian bersikeras. Sementara Alea mencibir.
__ADS_1
"Mengizinkanmu tetap disampingku? Kau pikir kau siapa?"
"Alea …."
"Pergilah, Bian! Pergi sejauh mungkin, karena aku muak melihatmu!"
"Alea …." Bian menatap perempuan itu dengan rasa sakit di hatinya.
"Alea …."
Alea menoleh ke arah Kenzo dengan senyum manis di bibirnya.
"Sayang, aku sudah selesai bicara dengannya. Ayo kita pergi. Bukankah kau bilang ingin mengajakku jalan-jalan?" Kenzo mengangguk, kemudian mendekati Alea.
Mereka berdua bergandengan tangan sambil tersenyum mesra. Tak mempedulikan Bian yang masih berdiri di depan mereka berdua.
Alea dan Kenzo menatap Bian acuh, Alea bahkan tanpa sengaja menabrak bahu Bian yang menghalangi jalannya. Mereka berdua berjalan melewati Bian tanpa menoleh lagi ke arah pria itu.
Alea dan Kenzo memang sengaja ingin berjalan-jalan menuju taman yang terletak tak jauh dari rumah Alea. Mereka ingin menikmati pagi ini dengan berjalan-jalan sambil bergandengan tangan.
Bian menatap kepergian Alea dan Kenzo dengan hati yang hancur.
'Kenapa rasanya sesakit ini? Apa dulu kau juga merasakan sakit yang saat ini aku rasakan, Al?'
Bian menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Niat hati ingin bertemu Alea dan berharap Alea akan memberinya kesempatan, ternyata harapan hanyalah tinggal harapan.
Alea benar, ia tidak pantas untuk dimaafkan. Kesalahannya terlalu besar. Bian berjalan pulang meninggalkan rumah Alea. Bertemu dengan Alea, ternyata hanya membuat hatinya semakin terluka.
Semakin terluka ….
Bian tersenyum getir. Sakit di hatinya semakin bertambah, saat dia mengingat betapa Alea dulu pun merasakan kesakitan yang sama saat dirinya memilih Amara dan dengan sangat egois memaksa Alea terus di sisinya.
Alea … kebencianmu padaku, tak sebanding dengan apa yang sudah aku lakukan padamu. Kau benar, aku memang pantas menerimanya.
.
.
Bagaimana rasanya sekarang, Bian? Sakit bukan? Itu belum seberapa dibandingkan sakit hati yang Alea rasakan karena perbuatanmu ….
Kayaknya aku belum puas menyiksa Bian 😡😡( author tertawa jahat)
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya 🙏🙏🙏
__ADS_1
Maaf telat updatenya ….