MATI RASA

MATI RASA
Part 56 Kedatangan Orang Tua Kenzo


__ADS_3

Amara menjerit kesakitan saat merasakan hujaman-hujaman dari tubuh bagian bawah Andre, yang bermain sangat kasar pagi itu. Apalagi, Andre melakukannya tanpa pemanasan sama sekali. Pria itu terus menyerang Amara tanpa ampun, bulir-bulir keringat sudah membasahi tubuhnya, tapi ia masih dengan penuh gairah, terus menghujamkan tubuhnya, tanpa mempedulikan teriakan Amara.


"Sakit, Ndre, sakit!" Amara berteriak sambil mendongakkan kepalanya ke arah Andre, bukannya menghentikan, Andre justru semakin menambah kecepatannya, membuat Amara semakin menjerit kesakitan sambil menangis. Andre terus bergerak, tak mempedulikan tangisan dan juga jeritan Amara, sampai beberapa menit kemudian, Andre pun mendapat kepuasannya. Ia berguling di sebelah Amara dengan nafas yang masih memburu. Senyum penuh kepuasan tersungging di bibirnya.


Sementara, Amara menangis, merasakan sakit di bagian bawahnya. Nafasnya memburu di selingi isak tangis yang keluar dari mulutnya.


Amara mengelus perut besarnya, sudah hampir dua bulan, ia tinggal di apartemen Andre, dan semenjak itu pula, Andre menjadikan dirinya sebagai budak nafsunya. Hampir setiap hari, Amara melayani Andre di tempat tidur. Entah itu malam, siang, ataupun pagi hari. Andre tidak mengenal waktu. Kapanpun Andre mau, Amara harus melayaninya. Entah dia suka atau tidak. Tidak ada kata penolakan dalam kamus Andre. Karena meski Amara menolak pun, Andre akan tetap memaksanya.


Sebenarnya, Amara ingin sekali pergi dari apartemen Andre, tetapi Amara tidak punya tempat tinggal yang lain, selain apartemen Andre. Semenjak berpisah dengan Bian, Amara jatuh miskin. Uang tabungannya menipis, karena sekarang, Bian tidak pernah mentransfer uang lagi padanya.


"Kamu benar-benar jahat Andre, kau bisa saja membunuh anakku!" Amara berteriak, sambil meringis karena merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya.


"Aku baru tahu, kalau ternyata, bermain dengan perempuan hamil jauh lebih nikmat." Andre tersenyum menatap Amara yang terlihat kesakitan.


"Brengsek! Aku tidak menyangka, kalau ternyata kau segila ini Andre, kau benar-benar pria brengsek!" Amara tak berhenti memaki Andre. Sambil terus mengusap perut besarnya.


Usia kandungan Amara kini sudah hampir delapan bulan. Perutnya makin membesar, dan ia juga sudah mulai gampang kelelahan. Apalagi, kalau harus melayani di atas ranjang, seperti yang baru saja terjadi padanya.


Dulu, permainan Andre tidak pernah sekasar ini, dia selalu bermain lembut, hingga membuat dirinya terbuai dan bertekuk lutut. Karena Andre selalu saja bisa memberikan kepuasan buat dirinya. Tetapi sekarang, jangankan kepuasan, yang ada, Amara selalu merasakan kesakitan di bagian bawah tubuhnya dan juga perut bagian bawahnya.


Andre menatap Amara yang justru terlihat sangat seksi dengan perut besarnya. Andre tersenyum smirk, dalam otaknya, terbersit sebuah rencana.


"Sayang, bersiaplah! Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke Bali."


"Apa?" Amara terlihat kaget.


"Ke Bali?"


"Iya sayang, ke Bali. Aku akan mengajakmu jalan-jalan, kebetulan, aku lagi dapet uang banyak."


"Oh, ya? Kau serius?" Kedua mata Amara langsung berbinar.


"Benar sayang, kita pesan tiket sekarang juga."


"Sekarang?" Amara menatap Andre tak percaya.


Andre mengangguk membenarkan. Membuat Amara langsung bersorak kegirangan. Sudah lama, ia tidak pernah jalan-jalan atau liburan. Selama tinggal di apartemen Andre, Amara tidak pernah keluar kemanapun, karena Andre melarangnya. Andre tidak memperbolehkannya keluar selain keluar bersamanya.


Setelah memesan tiket, Amara dan Andre bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka. Kemudian, mereka berdua langsung menuju Bandara saat itu juga.

__ADS_1


*****


Alea menatap Kenzo yang saat ini sedang berbicara dengan kedua orangtuanya. Mama dan Papa Kenzo baru saja sampai di restoran Kenzo, restoran tempat Alea bekerja saat ini. Mereka berdua, baru datang dari Jakarta.


"Ken, siapa perempuan cantik ini?" Mama Kenzo menatap ke arah Alea, membuat Alea langsung tersenyum padanya. Alea kemudian mengulurkan tangannya.


"Namaku Alea, Tante." Alea mengulurkan tangannya, menjabat tangan Mama Kenzo, kemudian mencium punggung tangan perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu. Tak lupa, Alea juga menjabat tangan Papanya Kenzo sambil menyebut namanya. Sementara, Kenzo hanya tersenyum melihat mereka bertiga.


"Kenapa kau memakai seragam pegawai restoran?" Papa Kenzo mengernyit heran.


"Karena aku juga kerja di sini Om, aku pegawainya Kenzo." Alea menjawab malu-malu.


"Waahh ... pantesan Kenzo betah di sini Pa, pegawainya cantik begini," ledek Mama Kenzo sambil melirik Kenzo yang sedang tersenyum menatap Alea.


"Mama benar, kelihatannya, pegawai yang satu ini, pegawai spesial buat Kenzo, Ma." Papa ikut memanas-manasi.


"Nggak usah ngeledek, dia itu nggak bakalan mau sama aku Ma, jangan berharap terlalu banyak." Kenzo menepuk bahu Mamanya.


"Yaahh ... kok gitu sih Ken, padahal Mama udah langsung jatuh cinta pada pandangan pertama deh, iya kan, Pa?"


Papa Kenzo mengangguk membenarkan. Sementara, raut wajah Mama Kenzo langsung berubah sedih.


"Berarti gagal dong, tadinya, Mama udah seneng banget, mau dapet menantu dalam waktu dekat. Iya kan, Pa?"


Sang Papa mengangguk, kemudian merangkul bahu Mama Kenzo.


Kenzo menepuk keningnya, kedua orang tuanya ini memang pasangan yang unik. Kenzo yakin, kedatangan mereka itu, pasti karena ingin menyuruh Kenzo menikah.


"Memangnya Mama nggak keberatan, dia itu cuma pegawai aku lho, Ma, Pa," ucap Kenzo sambil melirik Alea yang terlihat masih tersenyum.


"Mama nggak akan memandang status Ken, siapapun perempuan itu, asal dia perempuan baik-baik, Mama pasti akan menerimanya. Bener, kan, Pa?" Mama Kenzo melirik suaminya.


"Tentu saja, lagian, keluarga kita ini, keluarga kaya, kekayaan kita juga nggak bakalan habis tujuh turunan, jadi, ya, kita tidak memerlukan menantu yang kaya juga. Uang kita sudah banyak, bener kan, Ma?" Kesombongan Papa Kenzo mulai kumat, Mama yang biasanya menatap jengah pada suaminya, kalau dia sedang berbicara konyol, kali ini malah mendukung. Sementara, Kenzo kembali menepuk keningnya, melihat pasangan paruh baya ini. Sedangkan Alea, ia hampir saja tertawa kencang, namun, sekuat hati, Alea menahannya.


"Benar kata Papa Ken, Mama nggak perlu menantu kaya, yang penting baik, dan kamu mencintainya. Karena selama kau bahagia, Mama dan Papa pasti akan bahagia juga." Mama Kenzo menatap Ke arah Kenzo dan Alea.


"Kalau kalian berdua memang cocok, Mama akan segera menikahkan kalian berdua. Iya kan, Pa?"


"Mama!"

__ADS_1


"Apa Ken? Apa Mama salah ngomong? Kalau kamu memang cinta sama dia, Mama akan segera menikahkan kalian berdua, Mama nggak masalah, walaupun, dia, sudah pernah meni --" Kenzo langsung membungkam mulut Mamanya, sebelum kata-kata aneh keluar dari mulutnya.


Sebenarnya sih, tidak aneh, hanya saja, karena perempuan yang mereka bicarakan itu adalah Alea, yang jelas-jelas belum bisa menerimanya, makanya, Kenzo merasa aneh. Ia tidak mau, gara-gara kekonyolan Mama dan Papanya, Alea marah padanya, dan tidak mau lagi bertemu dengannya.


"Al, jangan di dengerin ya, Mama sama Papa memang suka becanda," ucap Kenzo sambil melepaskan tangannya dari mulut Mamanya.


"Kualat kamu nanti Ken, berani-beraninya kamu bungkam mulut Mama." Kenzo nyengir kuda. Sementara Alea menahan tawanya melihat tingkah konyol orang tua Kenzo. Seumur-umur, baru kali ini, Alea melihat pasangan konglomerat yang begitu konyol. Di saat semua orang-orang kaya seperti mereka itu seringkali menjodohkan anaknya demi kemajuan bisnis mereka, orang tua Kenzo justru sebaliknya. Dia bahkan tidak mempermasalahkan, meskipun pasangan hidup Kenzo hanya seorang pelayan restoran, seperti dirinya saat ini.


Alea bukannya tidak tahu, kalau perempuan yang mereka bicarakan adalah dirinya, hanya saja, ia berpura-pura, untuk tidak menanggapinya.


"Sebaiknya kita makan siang dulu, aku udah laper." Kenzo mengalihkan pembicaraan. Kemudian mengajak kedua orang tuanya keluar dari ruangannya.


"Kedua orang tua Pak Bos, bener-bener unik, aku langsung menyukai mereka, benar-benar mertua idaman," bisik Alea saat kedua orang tua Kenzo sudah berlalu dari hadapan mereka.


"Maksudmu? Berarti, sekarang kau mau menerimaku?"


"Ken!"


"Sudah aku duga ...." Ken memperlihatkan wajah masamnya, membuat Alea tertawa. Kemudian, menggandeng tangan Kenzo keluar dari ruangannya.


Alea dan Kenzo, beserta kedua orang tuanya, akhirnya, makan siang bersama di restoran Kenzo. Hampir semua pegawai perempuan Kenzo, menatap iri pada Alea, tapi mereka tak berani mengatakan apapun tentang Alea, karena Kenzo sudah memperingatkan semua pegawainya untuk tidak menggangu Alea.


*****


Sementara itu, di sebuah kamar, di dalam penginapan yang tak jauh dari restoran Kenzo, seorang perempuan hamil sedang berteriak ketakutan sambil terus memberontak, saat tiba-tiba tiga orang laki-laki paruh baya mendekatinya, dan menyuruhnya untuk melayani hasrat mereka.


Perempuan hamil itu berteriak ketakutan. Namun, ketiga lelaki itu justru semakin bersemangat. Mereka bertiga melucuti pakaian yang di pakai perempuan hamil itu, dengan merobeknya dengan paksa.


"Lepaskan aku brengsek! Lepaskan!"


"Tenang sayang, kekasihmu bilang, kau sangat lezat, meski kau sedang hamil. Makanya, kamu bertiga sangat penasaran, dan sekarang, kami bertiga ingin membuktikannya."


.


.


Jangan ngambek plus marah kalau author telat update ya, 🙏🙏🙏


Yang suka sama ceritanya, ikutin terus ya, kisah mereka. Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak² tercinta ...😘😘

__ADS_1


__ADS_2