
Sekitar jam sembilan malam Alea pulang ke rumahnya dengan barang belanjaan yang ia bawa di tangan kanan dan kirinya, di ikuti oleh Mang Ujang yang menenteng tak kalah banyak belanjaan untuk keperluan dapur.
Di ruang keluarga, terlihat Bian yang sudah menunggunya dari tadi dengan wajah kesal. Tapi melihat istrinya yang ternyata membawa begitu banyak belanjaan, membuat Bian bernafas lega. Apalagi saat ia melihat Mang Ujang yang ikut membantu Alea membawakan barang belanjaannya.
"Kenapa tidak membawa Mbok Sumi sekalian biar dia bisa membantumu." Bian mengambil alih beberapa barang belanjaan di tangan Alea.
"Mbok Sumi udah capek kerja di rumah, jadi aku tidak mau dia tambah kelelahan." Jawab Alea santai, sambil meletakkan barang belanjaannya ke dapur.
Untung Mbok Sumi sempat menelepon tadi, kalau tidak, Alea sudah pasti ketahuan kalau dirinya bekerja saat ini.
"Tumben masih diluar, biasanya udah masuk kamar."
"Aku menunggumu untuk makan malam bersama." Bian menatap Alea yang terlihat lelah.
"Kau belum makan?" Bian menggeleng.
"Aku ingin makan bersamamu." Melihat Bian yang terlihat memohon, Alea merasa kasihan.
"Baiklah, kau tunggu aku di meja makan, aku mau mandi dulu."
Bian mengangguk, kemudian ia langsung menuju meja makan.
Mbok Sumi yang memang sengaja menunggu Alea pulang, langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk majikannya.
Tiga puluh menit kemudian, Alea keluar dari kamar dengan wajah segar, dengan rambut basah sehabis keramas.
Alea melayani Bian sebagaimana seorang istri melayani suaminya. Ia mengambilkan nasi untuk Bian, kemudian baru mengambil untuk dirinya sendiri.
Bian menatap Alea takjub. Perempuan ini, semakin hari semakin terlihat cantik di matanya. Entah apa yang salah, padahal dulu ia sangat membenci perempuan di depannya ini, karena ia merasa perempuan ini telah menghancurkan impiannya bersama Amara. Tapi sekarang ...
"Makanlah! tadi kau bilang ingin makan bukan?" Alea menatap Bian yang sedang menatapnya.
Bian kemudian menyantap makanannya, sambil sesekali melirik ke arah Alea.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak makan malam dari tadi?"
"Aku sengaja menunggumu."
"Biasanya juga kau langsung makan dengan istrimu, kenapa sekarang kau menungguku?"
Bian menatap Alea yang saat ini sedang menyantap makanannya.
"Kau juga istriku Alea, memangnya salah, kalau aku juga ingin makan malam denganmu."
Alea menghentikan suapannya, kemudian menatap pria di depannya itu dengan seksama.
"Kau hanya menganggapku istri jika perempuan itu tidak ada, kalau saat ini dia ada di sampingmu, memangnya kau masih akan menganggapku istrimu."
"Alea ... bisakah kita tidak usah bertengkar sekali saja? aku hanya ingin makan malam denganmu, apa itu salah?" Bian mencoba menekan kemarahannya, karena malam ini ia memang berniat ingin memperbaiki hubungannya dengan Alea, jadi ia tidak ingin bertengkar dengan Alea malam ini. Apalagi malam ini tidak ada Amara, jadi ia bisa leluasa berbicara dengan Alea.
Alea menatap sebentar ke arah Bian, kemudian kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
Bian benar, setiap kali ia dekat dan bicara dengan Bian, ujung-ujungnya pasti bertengkar.
Tapi semenjak Bian dan perempuan itu terus menyakitinya lagi dan lagi, Alea sudah memutuskan untuk tidak lagi menurut pada Bian, sampai saat ini keinginannya untuk berpisah dengan Bian pun masih kuat.
"Kalau kau tidak ingin bertengkar denganku, kenapa kau tak akhiri saja pernikahan kita, jadi kau bisa bebas dengan perempuan itu, dan tidak usah memikirkan aku lagi."
"Alea!" Bian menggeretakkan giginya menahan amarah.
Ia tadinya berharap, Alea sedikit melunak, karena ia sudah menunggunya untuk makan malam, meskipun sudah agak terlambat, karena Alea pulang begitu malam.
Tapi Bian sengaja menahan lapar malam ini, karena ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Alea.
"Tidak bisakah sedikit saja kau menghargai aku?" Bian menatap tajam dan meletakkan sendoknya hingga terdengar suara berdenting yang cukup keras.
"Memangnya selama ini aku tidak menghargaimu? aku sangat menghargaimu sampai- sampai aku menjatuhkan harga diriku di depanmu dan perempuan itu! Dan sekarang kau mengatakan aku harus menghargaimu? aku bahkan sampai bertekuk lutut padamu karena aku sangat menghargai dirimu dan semua keputusanmu Bian!" Alea berseru dengan keras menumpahkan semua kekesalannya.
__ADS_1
Alea sekarang bukan lagi Alea yang dulu yang sangat ketakutan saat Bian marah padanya, Alea yang sekarang bukan lagi Alea yang langsung menangis dan memohon saat Bian mengancamnya untuk menceraikannya.
Bian terdiam menatap Alea yang menatapnya tajam dengan nafas naik turun karena marah.
Dulu, perempuan ini selalu menunduk takut padanya, bertekuk lutut memohon padanya untuk tidak meninggalkannya dan menceraikannya. Ia masih ingat perempuan ini selalu menangis di depannya dan mengatakan kalau ia sangat mencintai dirinya.
"Aku istrimu Bian, aku mencintaimu!" teriak Alea saat itu.
Tapi dirinya hanya menanggapi dengan senyum sinis dan mentertawakannya, sambil memeluk Amara dan membawanya ke kamar mereka, kamar yang tadinya ia tempati bersama Alea.
Bian bahkan membiarkan Alea yang menangis meraung memanggil dirinya.
"Alea, kau sudah berubah, kau bukan lagi Alea yang dulu ku kenal." Bian berucap pelan sambil menatap Alea tak berkedip.
Alea tertawa sinis.
"Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau pikir aku akan tetap menjadi Alea yang dulu?" Alea menatap Bian, pria di depannya ini adalah pria yang bertahun-tahun di cintainya, dari semenjak ia masih berseragam abu-abu, bohong, kalau dirinya sudah tidak lagi merasakan apa-apa saat berhadapan dengan pria ini.
"Alea yang dulu sudah mati Bian, karena aku sendiri yang membunuhnya." Alea menjeda ucapannya.
"Aku sendiri bahkan sangat muak pada diriku sendiri, karena pernah memohon dan menangis di depanmu agar kau mencintaiku." Alea tersenyum sinis, mentertawakan dirinya sendiri di masa lalu.
"Kali ini, aku benar-benar ingin berpisah denganmu Bian, aku membencimu, tidak ada lagi cinta yang tersisa di hatiku untukmu, karena pria sepertimu tidak pantas untuk mendapatkan cintaku." Alea beranjak dan bergegas menuju kamarnya meninggalkan Bian yang terpaku karena kaget.
"Aku tahu kau masih mencintaiku Alea, kalaupun tidak, aku akan membuatmu kembali mencintaiku!" Biar berseru keras, sehingga suaranya terdengar menggema di seluruh ruangan.
Alea menghentikan langkahnya.
"Semua sudah terlambat Bian, karena hatiku sudah patah dan hancur, sehingga tidak akan pernah kembali utuh meskipun kau memperbaikinya." Alea menjawab tanpa menoleh pada Bian sedikitpun.
.
.
__ADS_1
Maaf, baru bisa update hari ini.
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya 🙏🙏🙏