
Rangga dan Vina memperhatikan Bian dan Amara yang berjalan beriringan dengan mesra. Mereka melihat Bian begitu perhatian pada perempuan hamil di sebelahnya.
"Kenapa dia pergi bersama perempuan lain? Dan sepertinya perempuan itu sedang hamil." Vina menatap suaminya, tapi suaminya justru terdiam masih memandangi Bian dan Amara. Kedua tangannya terkepal, wajahnya pun terlihat memerah.
Vina yang menyadari amarah suaminya, langsung meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
"Sabar dulu, kita cari dulu kebenarannya."
"Kebenaran apalagi? Jelas-jelas dia dan perempuan itu terlihat mesra, seperti suami istri yang sedang menunggu kelahiran anaknya." Rangga menatap istrinya.
"Apa sampai sekarang, Alea tidak bisa di hubungi Mas?" Rangga menggeleng.
"Anak itu benar-benar keterlaluan, sepertinya dia sudah mengganti nomornya, makanya aku, Mama dan juga Papa tidak bisa menghubunginya."
"Dan kalian diam saja? tanpa mengambil tindakan?" Vina menatap suaminya.
"Kamu tahu sendiri kan, aku sibuk mengurus perusahaan?"
"Ya ampun Mas, kamu tinggal menyuruh orang kepercayaanmu untuk menyelidikinya, ngapain repot-repot?" Vina terlihat kesal dengan pemikiran suaminya.
"Kenapa aku tidak berpikiran sampai ke situ ya?" Rangga menepuk jidatnya.
"Itu karena selama ini kau dan keluargamu mengira kalau Alea sudah bahagia, karena menikah dengan orang yang di cintainya."
Vina menatap suaminya,
"Kamu harus mencari tahu apa yang terjadi pada Alea Mas? aku yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi pada adikmu." Rangga mengangguk membenarkan.
"Kita tunggu Mama dan Papa sampai di Jakarta, nanti kita berkunjung ke rumah Alea bersama-sama." Vina mengangguk membenarkan.
"Ayo kita temui Pak Anjas." Vina mengangguk, kemudian berjalan beriringan dengan suaminya.
Pak Anjas adalah salah satu rekan bisnis Rangga yang sedang di rawat di rumah sakit ini karena kecelakaan.
*****
Sudah seminggu Alea berada di rumah sakit. Keadaannya kini sudah mulai pulih. Luka-luka di tubuhnya sekarang sudah terlihat membaik, wajahnya juga sudah tidak terlihat bengkak lagi. Hanya sedikit memar yang masih terlihat.
Kenzo menatap wajah Alea yang masih tertidur pulas. Selama di rumah sakit, Kenzo selalu menemani Alea. Dia bahkan meninggalkan semua pekerjaannya demi perempuan ini.
"Selamat pagi ...." Kenzo menyunggingkan senyumnya saat Alea menggeliat dan membuka kelopak matanya. Seandainya saja Alea itu adalah istrinya, ia pasti akan mencium bibir perempuan yang baru saja bangun itu.
Alea tersenyum sangat manis, membuat Kenzo sejenak terpaku.
__ADS_1
"Memangnya sekarang sudah jam berapa? kenapa kamu sudah ada di sini?"
Kenzo tersenyum, kemudian membantu Alea bangkit dari tidurnya.
"Aku membawa sarapan, kita makan bersama, perutku sudah kelaparan karena menunggu kamu bangun." Kenzo mengusap perutnya, membuat Alea tersenyum.
"Kenapa kau malah menungguku? bukannya makan duluan saja." Alea mengerucutkan bibirnya.
"Princess ku belum makan, mana bisa aku makan sendirian?"
"Ken!"
"Sepertinya mulai sekarang, kau harus terbiasa mendengar gombalan recehku." Kenzo tersenyum sambil merapikan rambut Alea yang terlihat berantakan.
"Aku baru tahu, kalau kau suka menggombal." Alea mengerucutkan bibirnya.
"Jangan-jangan bukan cuma aku saja yang kena gombalan kamu?" Alea menyelidik.
"Jangan sembarangan. Kau pikir aku pria perayu yang suka bicara asal pada semua perempuan?" Kenzo mencebik kesal sambil menyiapkan sarapan yang sudah di bawanya dari rumah.
"Aku sengaja memasak untukmu hari ini."
"Benarkah?" Kedua bola mata Alea berbinar-binar seperti anak kecil yang mendapatkan permen.
"Aku hanya senang kau memasak untukku, soalnya aku lagi rindu masakan di restoran kamu." Alea tersenyum malu.
"Nanti siang aku akan menyuruh orang untuk membawa makanan dari restoranku, kau boleh memesan makanan apapun yang kau suka."
"Baiklah, kau memang yang terbaik." Alea tersenyum, membuat Kenzo langsung mengacak rambut Alea gemas.
"Bersihkan dirimu dulu, baru kita sarapan bersama."
"Ken!" Alea memekik saat Kenzo mengangkat tubuhnya menuju kamar mandi.
"Dasar kebiasaan." Alea mencubit lengan Kenzo, membuat pria tampan itu meringis.
"Aku menunggumu di luar," tiba-tiba Kenzo mengecup pipi Alea setelah ia menurunkan Alea dari gendongannya.
"Ken ...!"
Kenzo tertawa kemudian segera bergegas keluar dari kamar mandi.
******
__ADS_1
Bian mengacak-acak rambutnya frustasi. Sudah seminggu ini ia terus mencari keberadaan Alea, tapi tetap belum bisa menemukannya. Ia sudah berkeliling ke semua rumah sakit di seluruh kota ini. Dari rumah sakit besar sampai rumah sakit kecil ia datangi, tapi ia belum juga menemukan jejak istrinya.
Bian bahkan nekad mendatangi semua pasien yang bernama Alea, berharap salah satu dari mereka adalah Alea yang sama, tapi, harapannya ternyata sia-sia.
"Sebenarnya kamu kemana Al?"
Bian memukul setir mobilnya. Tampangnya sudah berantakan seperti orang yang tak terurus. Beberapa hari ini Bian bahkan tidak berangkat ke kantor karena sibuk mencari Alea. Sebenarnya Bian pun sudah menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk mencari Alea. Namun, entah mengapa tidak ada satupun dari mereka yang menemukannya, sama seperti dirinya.
"Kenzo brengsek! Kemana kau membawa istriku brengsek!" Bian kembali memukul setir mobilnya dengan perasaan kacau.
Bayangan saat dirinya memukul Alea kembali terlintas. Tangisan dan jeritan Alea, kembali terngiang di telinganya.
"Kau pasti akan menyesal karena tidak pernah mempercayaiku Bian ...."
Bian menutup wajahnya dengan kedua tangannya, bahunya bergetar, Bian menangis ... untuk pertama kalinya dalam sejarah Bian menangis karena perempuan selain Ibunya. Apalagi, perempuan yang ia tangisi adalah perempuan yang selama ini ia benci.
Benci? Apa benar dia membencinya? Kalau benar Bian membencinya, keadaannya pasti tidak akan kacau seperti sekarang. Baru ditinggal seminggu saja Bian sudah seperti orang gila.
Apa benar dia membencinya?
Mungkin hanya Bian saja yang tahu jawabannya.
"Alea ... kau ada di mana sayang? aku merindukanmu, sangat merindukanmu ...."
Di tempat lain, di sebuah kamar hotel, Amara justru sedang mendesah nikmat di bawah tubuh kekar seorang pria yang saat ini sedang memacu tubuh bagian bawahnya dengan penuh gairah.
"Pelan-pelan sayang, aku sedang ham ...." Amara tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena pria itu dengan rakus meraih bibirnya.
"Kau tenang saja, aku tidak akan menyakiti anakku ...." Andre berbisik di sela deru nafasnya yang memburu, sambil terus memacu tubuh bagian bawahnya yang bersatu dengan milik Amara.
.
.
.
.
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏
.
.
__ADS_1
Author ketawa jahat ngeliat Bian menangis. Ini belum seberapa Bian ... karena aku akan membuatmu hancur sehancur-hancurnya! 😠😡