
Alea memaksa pulang dari rumah sakit saat dirinya baru saja terbangun, setelah hampir satu jam tak sadarkan diri. Sebenarnya beberapa menit yang lalu Alea terbangun, tetapi saat ia mengingat kabar tentang Bian, Alea kembali pingsan.
Sebenarnya, dalam hati, Kenzo teramat cemburu, tapi ia meyakinkan dirinya untuk tidak egois. Ia sangat mengerti, Alea pasti sangat terpukul atas kematian Bian. Apalagi, Bian meninggal karena telah menyelamatkannya.
Kenzo dengan setia masih terus menemani Alea hingga Alea kembali tersadar. Kenzo sudah menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Bian. Kenzo merasa penasaran, kenapa keluarga Bian tidak memberitahu Alea tentang kematian Bian.
Kenzo menatap Alea yang saat ini sedang memohon karena Kenzo tidak mengizinkan dia pulang.
"Ken ... aku ingin pulang, aku ingin ketemu Tante Laras. Aku ingin ketemu Bian, Ken. Aku mohon, aku ingin pulang." Alea memohon dengan air mata yang mengalir di pipinya, membuat Kenzo akhirnya luluh dan mengalah.
Kenzo mencoba mengerti dan memahami perasaan Alea sekarang. Walaupun dalam hati ia tidak rela. Tentu saja tidak rela. Pria manapun pasti tidak akan terima jika kekasih yang di cintainya menangisi pria lain.
"Baiklah, kau boleh pulang, tapi kau harus makan dulu."
"Tapi, Ken ...." Alea ingin protes, tetapi akhirnya ia menurut saat melihat tatapan Kenzo. Alea sadar, tak ada gunanya berdebat dengan Kenzo. Ia tidak akan menang, karena pria di depannya ini sudah jelas tidak akan pernah mengalah. Apalagi kalau sudah menyangkut soal jadwal makan dirinya. Pria itu pasti akan terus memaksa sampai ia mau makan.
"Selesai makan, kita langsung ke rumah Tante Laras."
Alea mengangguk patuh sambil mengunyah makanan yang Kenzo suapkan ke dalam mulutnya.
Setelah selesai makan, Kenzo mengajak Alea keluar dari rumah sakit.
Di tempat lain, Rajasa dan Anita masih berdiri di depan pagar rumah Bian. Rumah itu dalam keadaan sepi. Bahkan penjaga pintu gerbang pun tak ada di dalam pos tempat biasa mereka berjaga.
"Pa, kenapa Laras tidak bisa di hubungi? Coba Papa hubungi Aditama, Pa. Siapa tahu Aditama mau mengangkat telepon dari Papa," ucap Anita cemas.
"Papa sudah berulang kali menghubunginya, Ma, tapi nggak diangkat-angkat." Rajasa juga terlihat cemas.
"Sebenarnya mereka kemana? Apa benar yang dikatakan oleh pihak rumah sakit, kalau Bian sudah meninggal?" tanya Anita penasaran sekaligus cemas.
"Orang-orang Papa masih mencari tahu di rumah sakit. Papa yakin, orang-orang Kenzo juga saat ini pasti sedang menyelidiki masalah ini." jawab Rajasa berusaha menenangkan, meski sendirinya pun sebenarnya merasa cemas.
__ADS_1
"Yang Mama heran, kenapa mereka seolah sengaja menghilang? Padahal kemarin mereka masih baik-baik saja sama kita."
"Entahlah, Ma. Papa juga bingung. Kenapa mereka harus menyembunyikannya dari kita?" Rajasa terlihat gelisah.
Meskipun ia sangat membenci Bian karena perbuatannya yang telah menyakiti Alea, tetapi Rajasa juga sangat bersimpati karena Bian telah menyelamatkan Alea. Rajasa sangat berterima kasih karena Bian sudah menyelamatkan putri kesayangannya. Entah apa yang akan terjadi pada Alea seandainya Bian tidak mendorong tubuh Alea saat itu. Rajasa benar-benar tidak bisa membayangkannya.
Rajasa dan Anita masih menunggu di depan pintu gerbang rumah Bian. Namun, beberapa orang suruhannya datang mendekatinya. Mereka memberitahukan kalau keluarga Bian dari semalam sudah meninggalkan rumah ini. Mereka juga memberitahukan hasil penyelidikan mereka di rumah sakit.
Rajasa dan Anita kemudian kembali ke rumah mereka setelah mendengar penjelasan dari orang-orang suruhannya.
"Menurut Papa, apa Bian benar-benar sudah meninggal?" ucap Anita saat mereka sudah sampai di rumah mereka.
"Papa nggak yakin, Ma. Mama dengar sendiri kan, apa yang mereka bilang?" jawab Rajasa sambil meraih bahu istrinya. Mereka berdua kemudian duduk di ruang tamu.
"Mereka bilang, Bian sempat kritis. Kemudian pihak keluarga memutuskan membawa Bian pergi ke rumah sakit lain." Rajasa mengulang kata-kata anak buahnya saat di depan gerbang rumah Bian tadi.
"Kalau benar kejadiannya seperti itu, berarti kemungkinan besar, Alea dan Kenzo sudah mendapatkan informasi yang salah." Laras menghembuskan nafas panjang.
"Iya, Pa. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Bian. Meskipun Mama pernah membencinya karena dia sudah menyakiti Alea, tapi Mama sangat mengkhawatirkan keadaan Bian sekarang, Pa."
"Mama benar, biar bagaimanapun, Bian sudah menyelamatkan anak kita." Rajasa membenarkan ucapan Anita kemudian memeluk perempuan yang sangat dicintainya itu.
"Kita tunggu kabar dari Laras dan Aditama." Rajasa mengangguk pelan.
*******
Alea dan Kenzo sampai di depan rumah Bian. Sama seperti saat Rajasa dan Anita ke sana, rumah itu terlihat sepi. Dua orang penjaga yang biasanya terlihat di dalam pos penjagaan pun tak terlihat.
Alea berteriak memanggil nama Bian juga nama Laras, bahkan nama Aditama pun tak lupa Alea teriakan. Tapi tak ada jawaban.
"Kenapa rumahnya terlihat sepi, Ken?" Alea menatap Kenzo yang yang terlihat tenang.
__ADS_1
"Biaann!" Alea kembali berteriak. Biar saja Alea di sangka gila, karena berteriak memanggilnya Bian, padahal ia tahu keadaan Bian seperti apa.
"Tante Laras ...! Tolong buka pintunya. Aku ingin ketemu Bian!" Kedua tangan Alea menggedor pintu gerbang dengan keras.
"Sayang, sabar! Sepertinya rumah ini memang sepi. Mungkin mereka semua belum pulang ke rumah mereka," ucap Kenzo menenangkan Alea.
"Tapi mereka pergi kemana, Ken? Bukankah di rumah sakit juga mereka tidak ada? Kemana mereka membawa Bian! Aku ingin ketemu Bian, aku yakin kalau Bian pasti masih hidup. Bian belum meninggal kan, Ken? Bian baik-baik saja kan?"
"Sayang ...." Kenzo memeluk Alea yang kembali menangis.
"Aku yakin Bian belum meninggal, Ken. Dia tidak boleh meninggal. Kalau dia sampai meninggal, bagaimana aku akan menanggung rasa bersalah ini seumur hidup?" Alea menangis dalam pelukan Kenzo.
"Tenang sayang ... tenang!"
"Bian tidak boleh meninggal, Ken. Aku tidak mau berhutang budi padanya, aku tidak mau dia meninggal karena telah menyelamatkan aku. Aku tidak mau ... aku tidak mau terus dihantui perasaan bersalah seumur hidup karena telah menjadi penyebab Bian meninggal, Ken ...." Tubuh Alea merosot, beruntung Kenzo memeluknya dengan erat.
"Aku tidak mau Bian sampai meninggal, Ken. Tidak boleh! Bian tidak boleh meninggal. Dia harus melihat aku bahagia dulu sama kamu, baru dia boleh pergi. Bian harus merasakan sakit seperti sakit yang pernah aku rasakan. Bian tidak boleh pergi dulu, Ken. Tidak boleh ...."
"Tenang, sayang. Tenanglah!" Kenzo mempererat pelukannya pada Alea. Ia sangat mengerti dan memahami apa yang Alea rasakan saat ini.
'Bian, meski aku akui pengaruh dirimu masih begitu kuat pada Alea, tapi aku sangat yakin, saat ini dan seterusnya, hati Alea hanya milikku. Kau hanya masa lalu. Masa lalu yang sudah terlupakan. Hanya saja, kau sedang beruntung. Beruntung karena telah mempertaruhkan nyawa untuk Alea, hingga membuat Alea kembali mengingatmu. Ingat! Hanya mengingatmu, bukan untuk kembali padamu, apalagi kembali memberikan hatinya untukmu.'
Kenzo memeluk erat tubuh Alea yang tiba-tiba limbung, kemudian menggendong perempuan itu menuju rumahnya yang tak jauh dari rumah Bian.
.
.
Maaf ya kakak² kesayangan, authornya baru sempat up hari ini. Maklum, emak²! Banyak kerjaan di dunia nyata yang tak terduga 🤭
Jangan lupa, like, koment dan Votenya ya 🙏🙏🙏
__ADS_1