
"Maafkan aku Alea, maafkan aku, aku mohon ...."
"Aku tahu, kesalahanku begitu besar padamu tapi aku mohon, maafkanlah aku, Alea ...." Bian bersujud di kaki Alea, ia tidak mempedulikan tatapan-tatapan orang yang saat ini sedang memperhatikannya.
"Maaf! Aku bersalah padamu, maafkan aku, sayang ... kau benar, seandainya aku lebih percaya padamu aku pasti tidak akan pernah kehilangan anak kita. Maafkan aku Alea, maafkan aku ...." Bian menangis sambil terus bersujud di kaki Alea.
Sementara Alea masih bergeming tak mengucapkan sepatah katapun. Ia membiarkan Bian terus menangis sambil memegang kedua kakinya.
Entah apa yang dirasakan oleh Alea sekarang. Apakah Alea harus sedih atau senang. Melihat orang yang selama ini menyakitinya kini sedang bersujud di kakinya sambil meminta maaf padanya.
"Maafkan aku Alea, aku tahu aku salah, tapi aku mohon, maafkanlah aku." Bian menangkupkan kedua tangannya, sambil terus menangis kemudian menatap Alea.
"Aku mohon, maafkanlah aku Alea, tolong beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku, aku mohon ...."
"Aku mohon, beri aku kesempatan untuk kembali padamu dan memperbaiki semua kesalahanku, Alea. Aku janji, kali ini aku benar-benar akan membahagiakan kamu. Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi. Aku janji ... aku tidak akan pernah menyakitimu lagi." Bian masih terus menangis. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia berharap, semoga saja Alea bisa memaafkannya.
"Alea, aku mohon ...."
Alea menatap Bian dengan dingin.
"Maaf? Kesempatan? Apa kau ingat? Aku juga pernah memohon kepadamu, Bian. Saat itu aku juga memohon padamu, menangis dan bersujud padamu, tapi apa? Apa saat itu kau mengabulkan permohonan ku? Jangankan mengabulkan, kau bahkan menyiksaku! Lagi dan lagi!" Alea berteriak.
Kepingan-kepingan memori saat Bian menyiksanya dari awal pernikahan sampai akhirnya mereka berpisah terlintas satu persatu di kepalanya.
Saat ia menangis, saat ia memohon pada Bian dan bahkan saat ia bersujud di depan Bian seperti saat ini.
Begitu banyak kesakitan yang Alea rasakan, berapa banyak air mata yang sudah Alea keluarkan, dan berapa kali ia memohon pada pria ini dan bersujud padanya agar pria ini tidak meninggalkannya. Tapi, apa yang ia dapatkan dari pria ini?
Pria ini tidak pernah memberikannya kesempatan, pria ini justru semakin menyiksanya, lagi dan lagi! Seolah dirinya hanyalah barang rusak yang pantas untuk di injak-injak.
"Selama setahun pernikahan kita, kau hanya memberikan penderitaan dan kesakitan padaku, Bian, apa menurutmu kau pantas di maafkan?"
__ADS_1
"Apa menurutmu apa yang kau lakukan padaku selama ini pantas untuk aku maafkan? Jawab Bian! Apa kau pantas untuk aku maafkan?"
"Kau bukan saja menyakiti hatiku dengan membawa perempuan lain ke rumah kita, dan tidur dengannya. Tapi kau juga sering menyakitiku secara fisik. Kau seringkali menamparku, kau seringkali menyiksa tubuh ini, hanya karena aku mencintaimu dan tidak ingin kau meninggalkanku, Bian! Apa menurutmu, setelah semua kesakitan yang aku rasakan, kau pantas untuk mendapatkan maaf dariku?! Jawab Bian!"
"Apa orang sepertimu pantas aku maafkan?! Kau bahkan sudah membunuh anakku! Membunuh anakku yang baru saja hadir di dalam perutku! Kau membunuhnya, Bian! Kau membunuhnya!" Alea berteriak keras sambil mendorong tubuh Bian yang masih bersimpuh di kakinya. Air matanya mengalir, seiring rasa sakit yang kembali mencekik hatinya.
Bian menatap nanar perempuan di depannya dengan isak tangis dan air mata yang mengalir di pipinya.
Ingatan tentang masa lalunya, saat dirinya memperlakukan Alea dengan kejam dari awal pernikahan hingga akhir pernikahan mereka berputar di kepalanya, hatinya semakin sakit saat ia mengingat betapa kejamnya ia menyiksa perempuan ini.
"Kau pikir, rasa sakit di hatiku ini bisa sembuh hanya dengan kau meminta maaf, Bian? Apa kau pikir dengan kau meminta maaf dan bersujud di kakiku kau bisa menghilangkan semua rasa sakit di hatiku ini? Aku bahkan hampir saja gila karena rasa sakit yang kau berikan!" Alea menatap pria itu penuh kebencian.
Tidak! ia tidak bisa memaafkan pria itu begitu saja. Pria itulah yang telah membuat dirinya hancur selama beberapa tahun. Pria inilah yang telah membuatnya hidup dalam kesakitan, dan pria ini adalah pria yang selalu membuatnya menangis setiap hari. Tidak mungkin, ia bisa melupakan semua kesalahan pria ini dengan begitu mudah!
"Alea ...." Bian menangis tanpa suara. Memang benar semua apa yang Alea katakan.
Kesalahannya bukan hanya karena ia telah menyiksa Alea pagi itu hingga menyebabkan Alea harus kehilangan calon anak mereka, tapi dari awal pernikahan, Bian memang sudah menyakiti Alea.
Di mulai dari ia membawa Amara ke rumah, Bian sadar, ia telah melukai hati perempuan ini. Apalagi saat Amara mengambil alih kamar yang seharusnya menjadi kamar tidur miliknya dan Alea. Tapi dengan tanpa perasaan, Bian bahkan membiarkan Amara mengusir Alea dari kamarnya sendiri hingga perempuan itu harus rela tidur di kamar tamu.
Tak berhenti sampai di sana, Bian bahkan seringkali menampar dan memukuli perempuan itu. Bian seringkali mengancamnya, kalau ia akan mengusir perempuan itu dan meninggalkannya seandainya dia tidak menurut. Karena Bian tahu, perempuan itu begitu tergila-gila padanya.
Bian kembali meraih kedua kaki Alea dan menundukkan wajahnya di sana. Kesakitan mulai menjalar di hatinya. Jantungnya seakan diremas-remas, saat ia mengingat apa yang sudah ia lakukan terhadap perempuan di depannya ini.
Alea benar, setelah semua perbuatan yang ia lakukan terhadap Alea, apa ia pantas untuk di maafkan? Sekarang, dengan tidak tahu diri, ia malah menginginkan Alea kembali padanya. Alea mau berbicara dengannya saja, seharusnya ia sudah merasa beruntung.
"Hanya karena aku mencintaimu, kau bahkan selalu menyiksaku setiap hari. Menyiksaku secara batin, dan juga secara fisik, dan sekarang, dengan tidak tahu malunya kau menyuruhku untuk memberimu kesempatan? Kau benar-benar sangat menyedihkan, Bian! Apa kau tahu? Aku bahkan sangat membencimu!"
Bian mendongakkan wajahnya menatap Alea yang menatapnya dengan penuh kebencian. Hatinya serasa ditusuk ribuan jarum saat ia melihat perempuan yang saat ini sangat dicintainya itu menatapnya dengan penuh kebencian.
"Aku membencimu, Bian. Sangat membencimu!" Alea berteriak sambil terus menatap tajam ke arah pria yang selama bertahun-tahun dicintainya itu.
__ADS_1
"Aku membencimu, sangat membencimu! Jangan pernah lagi kau coba menemuiku ataupun mengikutiku, karena aku muak melihatmu! Aku membencimu Bian! Sangat membencimu!" Alea menatap pria yang masih bersimpuh di hadapannya sambil menangis. Air mata Alea mengalir membasahi pipinya, hatinya terasa sakit. Setelah sekian lama, ternyata rasa sakit yang di tinggalkan pria itu masih begitu terasa menyayat hatinya.
'Selamat tinggal, Bian. Setelah ini, aku benar-benar akan melupakanmu!'
Alea kemudian pergi meninggalkan Bian, dengan rasa sakit di hatinya. Air matanya terus mengalir di pipinya. Tapi baru beberapa langkah kakinya berjalan, sosok wajah tampan tersenyum menatapnya kemudian meraih tubuhnya ke dalam dekapannya.
"Ken ...."
"Tenanglah, ada aku di sini, semuanya akan baik-baik saja."
Tubuh Alea yang sedari tadi bergetar, terbenam lemas di pelukan pria itu.
Sementara Bian menatap mereka berdua dengan kedua mata yang masih mengeluarkan air mata.
Kata-kata Alea barusan begitu menusuk di hatinya. Bian teringat saat dirinya pun dulu pernah mengatakan kata-kata yang sama terhadap Alea, dan kini, ia merasakan bagaimana rasa sakit saat seseorang yang kita cintai justru sangat membenci, bahkan sampai muak saat melihat kita.
'Dulu, kau pasti sangat kesakitan, sama seperti rasa sakit yang sekarang aku rasakan.'
Bian menatap Alea yang kini tengah berada dalam pelukan pria yang kini menatapnya dengan tajam. Teringat kembali bagaimana saat dirinya dulu memaki Alea dengan kejam, membuat rasa sakit di hati Bian semakin dalam.
'Pergi sejauh mungkin dari sini, karena aku muak melihatmu!'
'Tapi aku istrimu, Bian. Aku mencintaimu!'
Kata-kata itu kembali terngiang di telinga Bian, bagaimana ia begitu kejam terus menyiksa Alea secara batin, dan saat ini, ia merasakan betapa sakit hatinya saat Alea mengucapkan kata-kata yang sama terhadapnya. Apalagi, saat ia melihat Alea berada di dalam pelukan pria itu. Seketika ingatannya pun kembali saat dirinya bercumbu dengan Amara dan Alea melihatnya.
'Alea, maafkan aku ... kau benar, aku memang tidak pantas untuk mendapatkan maaf darimu. Tapi aku mencintaimu Alea, aku sangat mencintaimu ....'
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak² 🙏🙏🙏
ikutin terus kelanjutannya ya ....