
Bian baru saja pulang dari pemakaman. Pagi itu, jenazah Amara langsung di kebumikan. Kenzo dan keluarganya mengantarkan Amara ke tempat peristirahatan terakhirnya. Bagaimanapun bencinya Bian pada Amara, tetap saja ia tidak bisa memungkiri kalau Amara adalah istrinya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Bian mendekati bayi mungil yang baru saja dua hari melihat dunia ini. Bian menyewa perawat untuk merawat bayi yang dilahirkan oleh Amara. Meski Bian tidak yakin kalau bayi itu adalah anaknya, tapi apa yang dikatakan oleh Andre adalah benar. Kalau dirinya pun ikut andil dengan keberadaan bayi ini.
"Dia baru saja tertidur, setelah minum susu," jelas perawat itu, saat Bian bertanya padanya.
"Apa tadi dia menangis?"
"Tidak Pak, dia tidak menangis." Perawat itu tersenyum pada Bian.
"Baiklah, kau jaga dia, kalau perlu sesuatu, kau bisa langsung mengatakannya pada saya, atau kedua orang tua saya."
"Baik Pak." Perawat itu mengangguk, kemudian menatap kepergian Bian.
"Kasihan banget, masih muda sudah menjadi duda. Duda ditinggal istrinya meninggal pula," batin si perawat menatap punggung Bian dengan perasaan iba.
Perawat itu mendengar dari pelayan yang bekerja di dapur, kalau majikannya itu baru saja kehilangan istrinya. Istrinya meninggal dunia saat melahirkan bayi yang sedang ia rawat sekarang.
Bian melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sudah lama sekali semenjak ia menikah dengan Alea, baru kali ini, ia kembali menginjakkan kakinya lagi ke dalam kamarnya. Karena setelah orang tua Alea mengusir Bian dari rumah besar itu, Bian langsung pindah dan tinggal di apartemennya.
Selama beberapa bulan Bian tinggal di apartemen setelah kepergian Alea. Bian menghabiskan waktu di sana hanya untuk memikirkan Alea.
Menyalahkan diri sendiri hingga depresi dan membuatnya nekad untuk mengakhiri hidupnya. Beruntung, mama dan papanya datang tepat waktu. Kalau saja waktu itu mereka tidak datang, mungkin saja nasibnya sekarang sudah seperti Amara. Meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Bian mendesah panjang sambil menatap langit-langit kamar. Kesedihannya bertambah sekarang. Kehilangan Alea, dan juga kehilangan Amara.
Meski sekarang ini ia sangat membenci Amara, tapi perempuan itulah yang selama ini bersamanya. Perempuan itulah yang selama ini ia perjuangkan sampai akhirnya ia menelantarkan Alea dan menyakitinya tiada henti.
Bian memejamkan matanya, saat tiba-tiba bayangan teriakan kesakitan Alea kembali terlintas. Bayangan itu terus berputar-putar di kepalanya, membuat Bian mendesah frustasi.
Bian menjambak rambutnya, teriakan kesakitan Alea kembali terngiang, bayangan-bayangan dirinya memukul Alea pun kembali terlintas.
'Brengsek! Aku memang benar-benar brengsek! Pria macam apa aku ini, yang tega memukuli istrinya sendiri?'
Bian memukul-mukul kepalanya. Perasaan bersalah, perasaan sedih, juga perasaan kehilangan menghantuinya. Rasa Penyesalan yang datang terlambat menambah kesakitan Bian.
__ADS_1
Pagi itu, kalau saja Amara tidak memprovokasinya, pasti kejadian kekerasan itu tidak akan menimpa Alea. Ia tidak mungkin menyakiti Alea hingga membuat Alea kehilangan bayinya.
Bian berteriak sambil menangis. Setiap kali mengingat semuanya, Bian seolah kehilangan kewarasannya. Rasa sakit dan penyesalan yang Bian rasakan membuat Bian hilang kendali.
"Alea ...!" Bian berteriak kencang. Suara teriakannya sampai terdengar keluar kamar, membuat Laras dan suaminya yang baru saja duduk di ruang tamu langsung bergegas menuju kamar Bian.
Laras berteriak melihat keadaan Bian yang terlihat begitu menyedihkan.
"Bian!" Laras dan suaminya langsung mendekati Bian yang sedang mengamuk. Semua barang-barang di dalam kamarnya sudah hancur berantakan, termasuk kaca lemari yang sudah retak bahkan hancur menjadi serpihan kecil yang berserak di lantai.
Laras menjerit, saat melihat darah yang mengalir di kedua tangan Bian yang masih mengepalkan tinjunya.
"Bian!"
Laras dan suaminya langsung memeluk Bian agar pria itu tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Papa Bian memegangi lengan putranya yang terus memberontak.
"Aku ingin bertemu Alea Pa, aku bertemu dengannya. Papa harus cari laki-laki yang sudah membawa Alea pergi, Papa harus cari dia Pa!" Bian berteriak ke arah Papanya.
"Ma, cari Alea, Ma, cari Alea ... aku mohon ...."
"Laki-laki itu membawa Alea pergi, Ma, cari laki-laki itu, dan suruh dia mengembalikan Alea padaku, Ma ... aku ingin bertemu dengan Alea ...." Bian menangis dipelukan Laras.
Rasa sakit dan penyesalan di hatinya, membuat Bian terus menyalahkan dirinya.
"Seandainya saja, aku lebih percaya pada Alea, dia pasti tidak akan meninggalkan aku Ma, Saat ini pasti aku dan Alea sedang bahagia menantikan kelahiran anak kami." Bian berucap lirih disela tangisnya.
"Seandainya aku tidak pernah membawa Amara ke rumah dan menikahinya, saat ini aku dan Alea pasti masih tetap bersama."
"Seandainya saja dari awal aku mau belajar mencintai Alea seperti Alea yang sangat mencintaiku, pasti saat ini kami berdua akan hidup bahagia."
"Seandainya pagi itu Amara tidak berpura-pura jatuh dari tangga, aku pasti tidak akan pernah sampai begitu kejam memukuli Alea, hingga Alea harus kehilangan calon bayi kami."
"Seandainya saja aku menyadari lebih awal, kalau aku sangat mencintainya, pasti saat ini kita berdua akan hidup bahagia."
__ADS_1
"Seandainya ...."
"Cukup Bian cukup!" Laras sungguh tidak tahan mendengar semua ucapan Bian. Perempuan baya itu memeluk putranya sambil menangis. Sementara Papa Bian pun ikut berkaca-kaca.
"Aku yang salah, Ma, aku yang salah ... aku yang sudah menyebabkan Alea pergi meninggalkan aku."
"Tapi aku mencintai Alea, Ma, sangat mencintainya ... aku ingin sekali bertemu dengannya dan mengucapkan beribu-ribu kata maaf padanya. Aku bersalah padanya, aku benar-benar menyesal."
"Bian ...."
Laras hanya bisa menangis melihat keadaan putranya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Selama ini, Laras tidak pernah tahu keadaan rumah tangga Bian. Ia pikir, Bian akan bahagia bersama Alea, meski dia tidak mencintainya.
Dia tidak tahu kalau Bian membawa perempuan lain masuk ke dalam kehidupan rumah tangganya. Karena setelah Bian menikah, Laras hanya sering bertukar kabar dengan Bian melalui telepon. Itu pun bisa dihitung dengan jari, beberapa kali ia menelepon anaknya itu.
Saat menelepon Bian, Laras tidak pernah diizinkan Bian untuk berbicara dengan Alea, dengan alasan kalau Alea sedang sibuk.
Sekarang, akhirnya ia mengerti, kenapa Bian tidak memperbolehkannya bicara dengan Alea. Alasannya pasti karena Bian takut, takut kalau Alea akan menceritakan semua tentang kehidupan rumah tangganya.
Bian takut, Alea akan membongkar rahasianya karena telah membawa perempuan lain ke dalam rumahnya. Rumah pemberian keluarga Alea untuk Bian, setelah Bian menyetujui menikah dengan Alea.
"Bian ... tenanglah! Nanti kita cari Alea sama-sama ya, kamu jangan menyerah seperti ini Bian," hibur Laras.
"Aku sudah mencarinya ke mana-mana, Ma, tapi sampai sekarang aku belum bisa menemukannya."
"Sabar Bian, kalau kalian memang berjodoh, suatu saat kalian pasti akan bertemu lagi." Papa Bian ikut menimpali.
Bian memeluk kedua orang tuanya sambil menangis.
'Alea ... di manapun kau berada, semoga kau baik-baik saja. Pulanglah sayang, aku merindukanmu, sangat merindukanmu ....'
.
.
Jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak² 🙏🙏🙏
__ADS_1