MATI RASA

MATI RASA
Part 134 Akhir Bahagia


__ADS_3

Alea dan Kenzo keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sama-sama basah. Senyuman manis tersungging di wajah Kenzo, sementara Alea terlihat cemberut.


"Dasar nyebelin!" sungut Alea dengan bibir mengerucut.


"Nyebelin, tapi kamu suka kan? Tadi aja minta nambah."


"Ken!" 


Wajah Alea memerah mendengar ucapan Kenzo. Sementara Kenzo terkekeh.


"Habis ini kita makan dulu, isi tenaga, biar lebih kuat mainnya." Kenzo mengedipkan matanya pada Alea sambil membantu mengeringkan rambut Alea dengan handuk kecil di tangannya.


"Ya, Tuhan, Ken!" Belum sempat Alea mengomel, Kenzo langsung membungkam mulut Alea dengan bibirnya. Alea yang tak siap dengan aksi Kenzo, sedikit terkejut.


Kenzo semakin memperdalam ciumannya, begitupun Alea yang langsung terlena dengan permainan Kenzo. Setelah cukup lama, ciuman mereka terlepas. Kedua mata mereka saling mengunci, seiring deru nafas yang memburu. Tak lama kemudian, bibir mereka kembali bertaut. Kenzo menggiring tubuh Alea ke tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya.


Keduanya sudah mulai terbakar gairah, saat Kenzo baru saja ingin membuka baju Alea dan memulai aksinya, tiba-tiba bel pintu kamar berbunyi.


Kenzo mendesah frustasi, kemudian kembali memakai pakaiannya  sambil berjalan menuju pintu.


'Sial!' 


Kenzo mengusap senjatanya yang sudah siap tempur. 


"Kita makan dulu, nanti baru lanjutin yang tadi." Kenzo membawa beberapa bungkus makanan yang baru saja di antar oleh pegawai hotel yang membuatnya kesal karena telah mengganggu malam pertamanya.


Alea tersenyum merapikan bajunya, wajahnya merona merah. Kemudian mendekati Kenzo. Pria itu terlihat sedikit kesal. Bagaimana tidak kesal, sedang di puncak gairah tiba-tiba ada yang mengganggu.


"Salah sendiri, sudah tahu sedang memesan makanan, tapi malah macam-macam," cibir Alea.


Kenzo melirik ke arah Alea sambil merapikan makanan itu ke dalam piring.


"Aku tahu, kamu juga kecewa kan?" Kenzo tersenyum jahil.


"Siapa bilang? Aku nggak tuh! Malahan senang, jadi aku bisa istirahat sebentar," kilah Alea. Padahal yang sebenarnya tadi dirinya juga tidak bisa menahan diri. 


"Kenapa tidak memesan makanan dari hotel saja?"


"Aku lebih suka makanan di restoran aku," ucap Kenzo sambil mengunyah makanannya.


Kenzo dan Alea melahap makanannya. Mereka berdua memang belum sempat makan malam. Saat mereka ingin makan malam, tamu undangan masih banyak yang berdatangan, akhirnya dengan terpaksa mereka menunda makan malam mereka.


Selesai makan, mereka berdua duduk di depan televisi. Kenzo memeluk tubuh Alea dari belakang, dia menyandarkan dagunya di bahu Alea sambil sesekali mencium pipi perempuan yang kini resmi menjadi istrinya.


'Istri?' Kenzo bahkan masih merasa belum percaya kalau Alea sekarang sudah menjadi istrinya.


"Sayang ... rasanya aku masih tidak percaya kalau kita sekarang sudah menikah," ucap Kenzo sambil mengecup pipi Alea.

__ADS_1


"Harusnya aku yang ngomong begitu sama kamu, kan kamu yang merencanakan pernikahan kita tanpa sepengetahuanku." Alea mengerucutkan bibirnya yang langsung disambut oleh bibir Kenzo.


"Aku ingin memberimu kejutan," ucap Kenzo setelah melepaskan tautan bibirnya.


"Kejutan apa? Kejutan karena kau akan menikah dengan Bella?"


Wajah Kenzo berubah suram.


"Jangan membicarakan perempuan itu, nanti kena sial!" Kenzo kembali membungkam mulut Alea dengan bibirnya. Kali ini lumayan lama.


"Aku ceritain tentang perempuan itu nanti saja," ucap Kenzo dengan nafas terengah.


"Kamu harus percaya padaku, Alea. Aku benar-benar tidak pernah melakukan apapun dengan dia. Apalagi sampai berbuat di luar batasanku. Aku sangat mencintaimu, sangat cinta!" Kenzo mempererat pelukannya pada Alea.


"Di dunia ini, perempuan yang aku cintai adalah kamu, hanya kamu, dan cuma kamu. Aku tidak memerlukan perempuan manapun di dunia ini selain kamu. Sampai kapanpun, aku hanya akan selalu mencintaimu, mencintaimu dan terus mencintaimu!"


Alea memalingkan wajahnya, kedua matanya berembun menatap sosok pria di depannya itu.


"Aku mencintaimu, Alea. Sangat!"


"Aku juga sangat mencintaimu, Ken. Aku hampir saja berhenti bernapas saat tahu kau akan menikah dengan perempuan lain dan meninggalkan aku." Air mata Alea mengalir di pipinya.


"Maafkan aku, Sayang ... harusnya aku memberitahumu tentang semua rencana yang aku buat dengan Mama dan Papa." Kenzo kembali memeluk Alea.


"Saat aku melihatmu menangis, rasanya duniaku pun ikut hancur. Aku ingin sekali memberitahukan kebenarannya padamu, tapi Mama melarangku. Mama takut semua rencananya berantakan."


"Bukan hanya menangis, aku bahkan tahu semua yang kau lakukan di kamarmu. Termasuk ... saat kau mandi," bisik Kenzo sambil mengecup cuping telinga Alea.


"Ken! Apa maksudmu?" Wajah Alea memerah saat mendengar ucapan Kenzo.


Kenzo meraih ponselnya, kemudian menunjukkannya pada Alea. 


"Setiap hari aku memantaumu dari sini." Kenzo memperlihatkan gambar yang saat ini sedang menunjukkan kamar Alea dari berbagai sisi termasuk kamar mandi.


"Kau memasang cctv di kamarku?" Alea menatap tak percaya.


Sementara Kenzo tersenyum sangat manis.


"Kau bahkan memasangnya juga di kamar mandiku?" Alea memperlihatkan gambar kamar mandi di ponsel Kenzo dengan muka merah padam.


"Ken! Kau benar-benar ...." Alea tak melanjutkan kata-katanya karena Kenzo langsung membungkam bibirnya dengan ciumannya.


"Maafkan aku, Sayang, aku hanya sangat khawatir padamu. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Karena itu, aku meminta izin pada Papa untuk memasang kamera di kamarmu.


"Papa?" Kali ini Alea benar-benar menggeleng tak percaya.


"Tapi Papa tidak tahu kalau aku juga memasang kamera di kamar mandi, kalau dia tahu, habislah aku!"

__ADS_1


"Kalau begitu, besok aku beritahu Papa kalau kamu memasang kamera pengintai di kamar mandiku, dasar mesum!" kesal Alea. Sementara Kenzo tersenyum manis membuat Alea bertambah kesal. 


"Aku mencintaimu, Alea. Terima kasih kau sudah mau menerima cintaku dan memberiku kesempatan untuk menjagamu selama ini. Aku sungguh-sungguh mencintaimu!"


"Tetaplah bersamaku, dan jangan kau coba-coba menghilang dari pandanganku." Kenzo menatap Alea dengan dalam. Kedua bibirnya mulai mendekati bibir Alea.


"Aku ingin, malam ini menjadi malam spesial bagi kita." Kenzo mengecup bibir Alea lembut.


"Meski malam ini bukan malam pertama kali kita melakukannya, tapi aku ingin malam ini tetap menjadi malam pertama kita." Kenzo kembali mencium bibir Alea. 


"Aku mencintaimu, Ken." Alea memejamkan matanya saat bibir Kenzo sudah mulai menyusuri lehernya.


"Aku lebih-lebih mencintaimu, Alea Karenina ...."


Mereka berdua larut dalam cumbuan. Kenzo mengangkat tubuh Alea tanpa melepaskan ciumannya. Kenzo membawa Alea ke atas ranjang pengantin milik mereka. Ranjang itu masih bertaburan bunga berwarna merah. Pihak hotel memang menghias kamar pengantin mereka layaknya kamar-kamar pengantin baru lainnya.


Alea menggeliatkan tubuhnya saat bibir Kenzo sudah bermain dan merayu tubuhnya. Malam ini, mereka menikmati malam panjang penuh gairah layaknya pengantin baru lainnya.


Mereka berdua berpacu, saling berlomba meraih kenikmatan dunia.


Malam ini, mereka melupakan segala kesedihan dan air mata yang tertumpah sebelumnya, dan malam ini, adalah awal dari kebahagiaan yang akan mereka raih bersama.


"Aku mencintaimu, Alea ...." Kenzo berbisik di telinga  Alea dengan nafas memburu.


"Aku juga mencintaimu, Ken, sangat!" Alea seketika memeluk tubuh Kenzo dengan erat.


Malam ini, mereka larut dalam kebahagiaan yang selama ini mereka impikan. Meski banyak godaan dan rintangan, akhirnya cinta mereka dapat bersatu.


Terkadang, kita memang harus berkorban terlebih dahulu untuk mencapai kebahagiaan yang kita inginkan. Seperti kisah mereka berdua yang akhirnya berakhir dengan bahagia.


Di tempat lain, di sebuah villa di kota B, seorang pria duduk di kursi roda menghadap jendela kamar yang  memperlihatkan langit malam yang tampak gelap tanpa cahaya. Angin dingin meniup rambutnya.


Pria itu memegang benda pipih di tangannya. Memutar berulang-ulang sebuah video bersuara. Kedua netranya menatap langit yang tak tertangkap oleh penglihatannya.


"Aku terima nikah dan kawinnya Alea Karenina Rajasa binti Rajasa Yudistira dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"


"Saahh ...!" Riuh suara tepuk tangan terdengar.


Pria itu menyunggingkan senyuman yang tampak samar oleh kegelapan malam.


"Semoga kau bahagia ...." 


TAMAT


Terima kasih buat yang setia mengikuti cerita ini sampai akhir. Terima kasih buat yang selalu memberi semangat lewat komentar kalian dan terima kasih buat like dan vote kalian. Pokoknya terima kasih buat semuanya yang sudah mau baca cerita ini.


Salam sayang dari Author untuk kalian semua 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2