MATI RASA

MATI RASA
Part 47 Rahasia Yang Terbongkar


__ADS_3

Vina mengamati alat perekam di tangannya, sebelum akhirnya ia menekan tombol dan ...


'Suamimu tahu kau pergi malam ini?' Terdengar suara pria.


'Tentu saja aku izin sama Bian, kalau tidak, dia bakalan ngamuk.'


'Memangnya kau izin kemana?'


'Kemana lagi kalau bukan urusan pekerjaan? Aku selalu menggunakan urusan pekerjaan untuk menemuimu.' Amara tertawa.


'Suami kamu itu benar-benar bodoh, mau saja di bohongi sama kamu.' Andre ikut tertawa.


Wajah Bian merah padam menahan amarah mendengar percakapan di alat perekam suara itu. Ia menatap Amara yang terlihat ketakutan. Dalam hati Amara sedang berpikir, dari mana Alea mendapatkan rekaman percakapannya dengan Andre.


Atau jangan-jangan perempuan sialan itu selama ini menyelidiki aku?


Amara ingin sekali merebut alat perekam itu, tapi Vina dengan cepat meraih tangan Amara.


"Bian, itu semua tidak benar, aku tidak pernah ...," ucapan Amara terhenti saat suara dirinya bersama Andre kembali terdengar.


'Gimana kabar anak kita?' Andre milirik ke arah perut Amara.


'Aku tidak tahu ini anakmu atau bukan, jadi jangan terlalu percaya diri kalau ini adalah anakmu.'


"Kau!" Bian berteriak marah.


'Sayang, ayo kita ke hotel, aku sudah tidak tahan ingin bermain denganmu." Suara Amara terdengar manja.

__ADS_1


'Iya sayang, aku juga sudah tidak tahan ingin menikmati kamu, dan bermain di atas tubuh kamu.'


Suara di alat perekam itu berhenti. Semua orang menatap perempuan hamil itu dengan pandangan tak percaya. Sementara Bian, wajahnya sudah memerah, ia menggeretakkan giginya, tangannya sudah terkepal karena amarah yang siap meledak. Bian menatap Amara dengan sorot tajam dengan mata yang sudah memerah.


"Brengsek kau! Dasar perempuan jalang!" Bian meraih rahang Amara kemudian memukul wajah perempuan hamil itu hingga tubuhnya terhuyung. Bian merasakan sakit di seluruh bagian hatinya. Rasa sakit karena telah di bohongi oleh orang yang di cintainya. Dadanya terasa sesak saat mengetahui orang yang selama ini di cintainya justru mengkhianatinya. Yang lebih menyakitkan lagi, perempuan ini adalah penyebab setiap kemarahannya pada Alea. Bahkan kejadian yang menyebabkan kepergian Alea pun karena ulahnya.


Saat Bian melihat video rekaman Amara yang terjatuh di tangga, Bian benar-benar seperti di jatuhkan dari atas gedung yang tinggi. Apalagi saat melihat dirinya sendiri dengan biadabnya memukuli tubuh Alea dengan ikat pinggang yang di pakainya, jantungnya serasa di remas-remas.


Bian kembali menampar Amara tanpa ampun, hingga kedua pipi Amara terlihat bengkak dan sudut bibirnya berdarah. Aditama yang melihat anaknya kehilangan kendali langsung melerai. Aditama memegangi tangan Bian, sementara Vina dan Rangga memegangi Amara yang berniat melarikan diri.


Rajasa, Anita, dan juga Laras kembali mengulang semua video rekaman cctv yang memperlihatkan Amara yang menjatuhkan dirinya di tangga, kemudian terlihat Bian yang begitu marah langsung menyeret Alea dan memukulinya.


Anita menangis melihat anaknya diperlakukan tidak beradab oleh suaminya sendiri. Begitupun Rajasa, pria paruh baya itu pun menitikkan air matanya, tak kuasa melihat apa yang sudah terjadi pada putrinya. Laras pun tak kalah kecewanya melihat kelakuan putranya.


"Aku pikir, putriku hidup bahagia bersama orang yang di cintainya, ternyata aku salah, Bian benar-benar keterlaluan." Anita menangis di pelukan suaminya.


"Mungkin karena alasan inilah, makanya Alea susah di hubungi, dan sengaja tidak menghubungi kita duluan, karena dia tidak ingin kita mengkhawatirkannya," isak Anita.


Rangga mendekati Bian, kemudian menghajar Bian habis-habisan. Aditama hanya terdiam melihat putranya itu di pukuli oleh Rangga, sementara Laras menangis histeris. Rangga baru berhenti setelah Rajasa berteriak menyuruhnya berhenti memukul Bian.


Bian terduduk di lantai sambil memegangi perutnya, darah mengalir di sudut bibirnya yang pecah karena pukulan Rangga.


Bian tiba-tiba menangis saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat pukulan dari Rangga. Bukan rasa sakit di tubuhnya yang membuatnya menangis, tapi rasa sesal di hatinya yang membuatnya menangis.


"Saat itu kau pasti sangat kesakitan Al, kau sudah berteriak meminta ampun, tapi aku terus saja memukulmu dan tidak mempercayaimu semua kata-katamu ...," batin Bian.


Seluruh ruang hatinya di penuhi rasa sakit, bahkan jantungnya serasa di remas-remas saat mengingat karena kejahatannya, ia telah membunuh darah dagingnya sendiri. Bian menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


"Alea ... maafkan aku, maafkan aku karena tidak mempercayai kata-katamu waktu itu," Bian berteriak dalam hati, mengucapkan maaf berkali-kali. Kata maaf yang sudah terlambat dan tiada arti. Karena meski, ia berteriak kencang pun Alea tidak akan pernah mendengarnya.


"Bian, kau pasti akan menyesal, kau pasti akan menyesal karena tidak mempercayaiku ...." Kata-kata Alea kembali terngiang di kepalanya.


"Alea ...." Bian kembali menangis, ia kemudian menatap nanar ke arah Amara.


"Kau! Perempuan brengsek! Gara-gara kau, aku kehilangan Alea juga calon anakku! Gara-gara kau aku menjadi pembunuh darah dagingku sendiri!" Bian berteriak marah sambil menunjukkan jarinya pada Amara.


Sementara semua orang yang ada di dalam ruangan itu tersentak kaget mendengar ucapan Bian, kecuali Amara yang menang sudah tahu kalau Amara mengalami keguguran akibat pukulan bertubi-tubi dari Bian.


"Brengsek kau Amara! Gara-gara kau aku kehilangan anakku!"


"Kau sendiri yang telah membunuh anakmu Bian, kenapa kau menyalahkan aku?!" Tiba-tiba Amara berteriak lantang.


.


.


.


Hari ini doble up ya ... jangan ngambek lagi gara-gara merasa di gantung 🤭


Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya 🙏 🙏🙏


Sambil nunggu up berikutnya, kalian boleh mampir dulu di novel aku yg lainnya yang judulnya CINTA KARMILA di jamin bikin kalian baper abis! Dan yang lebih penting, udah tamat, jadi kalian nggak perlu menunggu 🤭


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2