
Marsha melangkahkan kakinya menuju apartemen Reyhan. Setelah meluapkan amarahnya, Marsha menelepon Reyhan. Marsha ingin membicarakan rencananya untuk menyingkirkan Alea.
Tapi karena hari sudah malam, pria itu tidak mau menemuinya di rumah. Dia justru menyuruh Marsha untuk datang ke apartemennya, itu pun kalau Marsha mau. Demi rencananya, Marsha akhirnya mau melangkahkan kakinya ke apartemen Reyhan. Apartemen yang kemarin ia kunjungi saat Reyhan memintanya untuk memuaskan hasratnya sebagai bayaran awal atau uang muka karena Reyhan setuju melakukan tugasnya untuk mencelakai Alea.
Marsha membuka tasnya, meraih benda pipih di dalamnya.
"Aku sudah di depan pintu."
Tak sampai satu menit pintu apartemen terbuka. Wajah tampan Reyhan muncul dengan senyum manis mengembang di bibirnya. Sejenak Marsha terpaku menatap pria di depannya itu. Reyhan adalah mantan pacarnya semasa SMA. Dulu mereka berdua memang terkenal sebagai pasangan tercantik dan tertampan di sekolah. Reyhan adalah cinta pertamanya sekaligus orang pertama yang telah membuka segelnya saat dirinya masih perawan.
Marsha tersadar dari keterkejutannya saat tiba-tiba Reyhan meraih pundaknya kemudian langsung mencium bibirnya. Marsha tak bisa menolak, entah mengapa pertemuannya dengan Reyhan sekarang agak berbeda. Kepingan-kepingan masa lalu saat kebersamaannya dengan pria itu tiba-tiba terlintas dan membuatnya ingin bernostalgia.
"Kau benar-benar hebat, Marsha. Masih sama seperti dulu, saat kita baru pertama kali melakukannya," bisik Reyhan dengan nafas memburu setelah pergulatan panas mereka.
Marsha terdiam, menetralkan deru nafasnya. Ia menatap wajah Reyhan yang terlihat sangat seksi dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.
Reyhan kembali mencium bibir seksi Marsha.
"Sepertinya kau sedang banyak masalah." Reyhan menatap manik mata Marsha yang masih terdiam menatapnya.
"Tebakanku benar bukan?" Marsha menatap Reyhan tak berkedip, dan tak menolak saat pria itu kembali meraih bibirnya.
" Ayo kita main lagi sampai puas, agar kau bisa melupakan semua masalahmu," bisik Reyhan dengan nada suara yang terdengar begitu memikat di telinga Marsha.
******
Alea berjalan menuju pusat perbelanjaan. Hari ini ia ingin menghabiskan waktunya untuk menghibur diri dengan belanja. Perempuan cantik itu melangkah dengan senyum sumringah saat kedua netranya melihat barang-barang yang diinginkannya terlihat dipandangnya.
Meskipun Alea bukanlah perempuan penggila belanja, tapi tetap saja, jiwa perempuannya meronta-ronta saat ia melihat pemandangan yang menyilaukan matanya.
Ah! Seandainya Kenzo ikut, pria itu pasti akan ikut memilih beberapa baju yang saat ini ada di depannya. Sayangnya pria itu tidak ikut. Kenzo tadi menelepon, kalau dirinya akan menyusul saat pekerjaannya sudah selesai.
Alea sibuk memilih beberapa baju yang disukainya. Saking asyiknya, ia tidak menyadari kalau di belakangnya ada seseorang yang sedang terburu-buru dan tak sengaja menabraknya. Alea hampir saja terjatuh kalau saja orang yang menabraknya itu tak segera meraih pinggangnya dan memeluk tubuhnya dari belakang.
Tertegun, Alea tiba-tiba merasakan aroma tubuh yang tidak asing baginya. Bau parfum yang terasa familiar di indera penciumannya selama bertahun-tahun. Memejamkan mata, dalam benak Alea hanya mengingat satu nama.
"Maaf, Mbak, aku sedang terburu-buru jadi tak sengaja menabrak …." Ucapan pria itu menggantung tatkala perempuan yang sedang ia peluk dari belakang itu menoleh. Niat hati ingin melepaskan, pria itu justru mengeratkan pelukannya saat melihat siapa perempuan yang baru saja ditabraknya.
__ADS_1
"Sayang, ini beneran kamu? Aku sangat merindukanmu." Pria itu mendekap erat tubuh perempuan itu dari belakang. Ia bahkan tak mempedulikan belanjaannya yang berserak di lantai.
Alea tertegun, merasa linglung untuk beberapa detik.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu …."
Ucapan pria itu membuat Alea tersentak. Wajahnya kembali menoleh hanya untuk mendapati wajah pria itu terlihat jelas bahkan tak berjarak dengan wajahnya. Sudah hampir dua bulan semenjak Alea mengusir pria ini dari depan rumahnya waktu itu, ia tidak pernah melihat lagi wajah pria ini.
Pria ini … kesadaran Alea pulih, dengan cepat ia melepaskan diri dari pelukan pria itu, kemudian mendorongnya kuat-kuat hingga pria itu terjatuh ke lantai dengan posisi duduk.
"Kau …! Berani-beraninya kau memelukku!" Alea berteriak marah.
"Maaf! Maafkan aku …." Bian bangkit, kemudian mendekati Alea.
"Maaf. Aku …."
"Jangan lagi kau berani menyentuhku, karena aku muak melihatmu!" Alea beranjak pergi dengan cepat. Ia tidak menyangka akan bertemu Bian di tempat ini. Apalagi, sampai melakukan adegan seperti tadi.
"Alea! Alea tunggu! Alea!" Bian terus memanggil, tapi Alea tetap berlari tak mempedulikan panggilannya.
Bian mengacak rambutnya frustasi. Seseorang di sebelahnya mengingatkan tentang belanjaannya yang berserakan di lantai.
Bian menatap punggung Alea yang menjauh dari pandangannya, kemudian ia berbalik mengambil semua belanjaannya yang berserak. Awalnya Bian terburu-buru hingga dirinya sampai menabrak Alea, tapi kini, ia berjalan santai melupakan alasan kenapa ia awalnya terburu-buru. Bian lupa, kalau saat ini dirinya meninggalkan Devan di dalam mobil sendirian.
Alea berlari meninggalkan tempat ia bertemu dengan Bian. Setelah memastikan kalau Bian tak mengejarnya, Alea bernafas lega. Pandangannya berkeliling, nafasnya memburu karena Alea buru-buru berlari. Ia takut Bian akan mengejarnya, makanya ia berlari menjauh dari Bian. Alea memutuskan untuk masuk ke dalam restoran cepat saji untuk memesan minuman karena ia merasa haus dan tenggorokannya terasa kering gara-gara berlari menghindari Bian.
Sementara di tempat lain tak jauh dari tempat Alea, seseorang yang diperintahkan oleh Kenzo untuk mengawasi Alea, mengirimkan kabar tentang Alea. Orang itu juga mengirimkan video yang sempat ia rekam saat kejadian Alea dipeluk oleh Bian.
Kenzo yang saat itu sedang meeting bersama beberapa kliennya, langsung berlari setelah berpamitan dan meminta maaf pada semua rekan bisnisnya. Kenzo menyuruh asisten pribadinya untuk menggantikannya melanjutkan meeting. Kemudian ia segera berlari dengan ponsel menempel di telinganya.
"Terus awasi, jangan sampai kau kehilangan dia. Mengerti?"
Kenzo sampai di parkiran dan bergegas naik ke dalam mobilnya, kemudian langsung tancap gas menuju pusat perbelanjaan di mana Alea berada.
Sementara di tempat lain, Marsha dan Reyhan terus mengawasi Alea dari jauh.
"Jadi, perempuan itu adalah targetmu?" Reyhan yang berada di samping Marsha tersenyum smirk.
__ADS_1
"Ya, dia adalah perempuan yang ingin aku singkirkan."
"Cukup menarik, dan juga sangat cantik!"
Marsha menoleh ke arah Reyhan yang tersenyum menatap Alea.
"Jangan macam-macam! Lakukan tugasmu dengan baik." Marsha menatap wajah tampan Reyhan dengan tajam.
"Jangan khawatir, selagi kau bisa memuaskanku, aku tidak akan macam- macam. Hanya saja, aku tidak berjanji, kalau aku tidak akan berbuat macam-macam denganmu." Reyhan tersenyum genit sambil mengedipkan matanya.
"Rey!"
Reyhan terkekeh, kemudian menatap ke arah video hasil rekamannya tadi.
"Ternyata bukan hanya pria pujaanmu saja yang tertarik pada perempuan ini, tapi pria dalam video ini juga terlihat sangat menyukai dia." Reyhan menekan tombol play dalam layar ponselnya.
"Aku ingin tahu, bagaimana reaksi Kenzo setelah melihat video ini." Marsha tersenyum smirk. Bibir seksinya melengkung sempurna, membuat Reyhan tidak tahan melihatnya.
"Kau harus -- hmpp!"
Marsha tak bisa melanjutkan ucapannya saat pria di depannya itu tiba-tiba meraih kepalanya kemudian mencium bibirnya dengan rakus.
"Rey!"
Teriakan itu tertahan di tenggorokan Marsha. Karena detik berikutnya ia pun mulai kehilangan kewarasannya.
Pria ini benar-benar ….
.
.
Yang suka ceritanya, komen yuk! Jangan lupa like dan Votenya juga ya kakak ² 🙏🙏🙏
__ADS_1