
"Alea!!" suara Kenzo menggema di seluruh ruangan.
Kenzo berlari mendekati Alea yang terkapar di lantai dengan kepala terbaring di pangkuan Mbok Sumi.
"Alea, apa yang terjadi?!"
"K- Ken ...."
Tanpa berpikir panjang Kenzo langsung menggendong Alea keluar rumah di ikuti Mbok Sumi yang langsung mengunci pintu rumah dan pintu gerbang, kemudian dengan bergegas ikut masuk ke dalam mobil.
Kenzo dengan panik melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Beribu pertanyaan tersimpan di benaknya.
"Apa Bian yang melakukannya Mbok?" suara Kenzo terdengar geram menahan amarah.
"Iya." Mbok Sumi mengangguk sambil membelai wajah Alea yang nampak pucat, sementara darah masih terus mengalir disela pahanya.
"Bertahanlah Non ...." Isak Mbok Sumi.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai di depan rumah sakit. Kenzo dengan hati-hati menggendong Alea keluar dari mobil, kemudian segera berlari dengan cepat membawa Alea ke dalam rumah sakit sambil berteriak panik.
Beberapa orang perawat mendorong brankar dengan cepat ke arah Kenzo, Kenzo meletakkan tubuh Alea ke atas brankar kemudian ikut berlari bersama perawat yang mendorong brankar itu ke ruang IGD.
"Mas nya tunggu di luar saja, jangan ikut masuk." Dua orang perawat tadi langsung membawa masuk Alea ke dalam ruangan.
Kenzo menggusar rambutnya kasar. Wajah tampannya terlihat panik.
"Tuan ...." Mbok Sumi mendekati Kenzo dengan nafas terengah karena ikut berlari mengejar Kenzo tadi.
"Panggil aku Kenzo Mbok, " Kenzo menerima kunci mobil yang di berikan Mbok Sumi padanya. Mbok Sumi mengangguk dengan canggung, kemudian ikut duduk di sebelah Kenzo.
"Tenang Den , kita sama-sama berdoa saja, semoga Non Alea dan calon bayinya baik-baik saja." Mbok Sumi menutup wajahnya dengan kedua tangannya, saat kembali mengingat kejadian tadi pagi. Perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahunan itu kembali menangis.
"Calon bayi? Alea hamil?"
Mbok Sumi mengangguk sambil terisak.
"Jadi darah yang mengalir di kakinya tadi karena Alea mengalami pendarahan Mbok?"
Mbok Sumi kembali mengangguk.
"Ya Tuhan ...." Kenzo memeluk Mbok Sumi yang semakin menangis. Begitupun dirinya, tak terasa air matanya mengalir, membayangkan penderitaan dan kesakitan Alea.
"Baru tadi pagi Non Alea merasa sangat bahagia saat mengetahui kehamilannya, tapi sekarang ...." Mbok Sumi tak kuasa menahan tangisnya.
Kenzo merangkul pundak Mbok Sumi. Padahal tadi Mbok Sumi yang menenangkan dirinya, tapi sekarang Mbok Sumi sendiri yang malah menangis.
"Sebenarnya, apa yang terjadi Mbok?"
Mbok Sumi menceritakan dari awal sampai akhir semua kejadian tadi pagi sambil menangis, ia kembali mengingat saat bagaimana Bian mencambuk tubuh Alea dengan ikat pinggang.
__ADS_1
"Non Alea tidak salah Den, saya lihat sendiri kalau Non Amara yang sengaja menjatuhkan dirinya sendiri di tangga, Non Amara memang sengaja ingin menjebak Non Alea ...." Mbok Sumi kembali menangis.
"Selama ini Non Alea sudah banyak menderita, kenapa Den Bian begitu tega sama Non Alea, apalagi saat ini dia sedang Hamil."
Kenzo kembali memeluk Mbok Sumi, yang semakin menangis karena tak kuasa menahan kesedihannya.
Kau harus bertanggung jawab atas semua yang kau lakukan pada Alea Bian, kalau sampai terjadi apa-apa pada Alea, aku berjanji akan membuat perhitungan denganmu.
Kenzo mengepalkan tangannya, terlihat amarah yang terpancar di kedua matanya.
"Mbok Sumi."
Mbok Sumi langsung menoleh ke arah suara.
"Ujang."
"Non Amara di rawat di sini?"
Mang Ujang mengangguk, kemudian menghampiri Mbok Sumi, ia menatap ke arah pria tampan yang memeluk Mbok Sumi.
"Mbok ngapain di sini? Non Alea sama siapa kalau si Mbok ikut ke sini?" tanya Mang Ujang dengan nada khawatir. Alea adalah majikannya yang sangat baik, saat ia melihat Non Alea di pukuli oleh Bian, hatinya ikut terasa sakit.
"Non Alea ada di ruangan itu." Mbok Sumi menunjuk ke arah ruangan yang ada di depannya.
"Non Alea ada di sana? bagaimana keadaannya Mbok?" Mang Ujang dengan wajah panik memegang tangan Mbok Sumi.
Mang Ujang menggenggam tangan Mbok Sumi, kedua matanya berkaca-kaca. Mang Ujang memang menyayangi Alea bukan hanya sebagai majikan, tapi Mang Ujang juga sudah menganggap Alea itu seperti adiknya sendiri, seperti Mbok Sumi yang menganggap Alea seperti anaknya sendiri. Karena Alea sendiri memang tidak pernah menganggap mereka berdua sebagai pelayan di rumahnya.
"Apa di ruangan tempat kejadian ada cctv nya?" Kenzo menatap Mang Ujang dan Mbok Sumi bergantian.
"Ada Mas, memangnya kenapa?" tanya Mang Ujang penasaran.
"Alea di tuduh telah mendorong Amara hingga dia terjatuh dari tangga, hingga dia sampai di aniaya oleh suaminya. jadi, untuk membuktikan kalau Alea tidak bersalah, sebaiknya kita lihat rekaman cctv di rumah itu." Kenzo menatap Mang Ujang yang terlihat menganggukkan kepalanya.
"Mang Ujang, bisakah aku minta tolong pada Mang Ujang untuk memperlihatkan rekaman cctv itu padaku? kalian berdua menyayangi Alea bukan? Alea sering bercerita banyak tentang kalian. Dia bilang, hanya kalian berdualah yang menyayanginya selama ini."
Kedua mata Mbok Sumi dan Mang Ujang kembali berkaca-kaca mendengar ucapan Kenzo.
"Alea sangat menyayangi kalian berdua." Kenzo menepuk bahu Mang Ujang kemudian memeluk Mbok Sumi yang kembali menangis.
"Saya,akan membantu Non Alea, meski nantinya aku akan berhadapan dengan Den Bian dan Non Amara, Saya tidak takut meski nantinya bakalan di pecat sama Den Bian." Mang Ujang menatap Kenzo,
"Non Alea sudah banyak menderita Den, kasihan dia, masih muda tapi sudah harus menanggung beban seberat ini."
"Kalau begitu, kau segera cek rekaman cctv di rumah itu, tapi inget, Bian dan Amara tidak boleh mengetahui tentang ini, apalagi Amara, dia itu perempuan yang sangat licik, kalau dia tahu ada bukti yang menyatakan Alea tidak bersalah, ia sudah pasti akan menghancurkannya. Jadi kau harus berhati-hati Mang, " Kenzo menepuk bahu Mang Ujang.
"Aku akan segera memeriksanya, kebetulan tadi Den Bian menyuruhku pulang untuk melihat keadaan Non Alea."
"Apa maksudmu Ujang?" Mbok Sumi memastikan pendengarannya, begitupun Kenzo.
__ADS_1
"Iya Mbok, Den Bian menyuruhku untuk melihat kondisi Non Alea."
"Ujang!" Mang Ujang menoleh ke arah suara, begitupun Mbok Sumi dan Kenzo.
"Den Bian ...."
"Kenapa kau masih di sini? bukankah aku sudah menyuruhmu pulang dari tadi?"
Pandangan Bian mengarah pada Mbok Sumi dan pria yang merangkul bahu asisten rumah tangganya itu.
"Kenapa Mbok Sumi ada di sini?"
"Saya ...." Belum sempat Mbok Sumi menjawab, pintu ruangan di depannya itu terbuka.
"Dokter!" Kenzo dengan cepat menghampiri sang Dokter.
"Dengan keluarga pasien?"
"Saya temannya Dok, bagaimana keadaan teman saya? dia baik-baik saja kan Dok?"
"Mana suaminya?" Kenzo menunjuk ke arah Bian. Sementara Bian masih kebingungan, karena dia tidak tahu siapa yang ada di dalam ruangan itu.
Melihat kebingungan di mata majikannya, Mbok Sumi langsung berbisik pada Bian.
"Non Alea tadi pingsan Den, dan mengalami pendarahan, makanya saya membawa Non Alea ke sini." Bian menatap Mbok Sumi dengan kaget.
"Anda suami pasien?" Bian menganggukkan kepalanya, sementara Kenzo menatap Bian dengan aura kebencian.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha keras, tapi karena pasien mengalami pendarahan dan benturan yang cukup keras di bagian pinggang juga perutnya, janin dalam kandungannya tidak selamat, istri Anda mengalami keguguran."
"Kami akan melakukan visum, karena istri anda sepertinya baru saja mengalami tindakan kekerasan, seluruh tubuhnya terdapat luka bekas cambukan."
Sang Dokter menepuk bahu Bian, kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Bian terlihat linglung untuk sesaat, kemudian tubuhnya merosot ke lantai.
"Kau pasti akan menyesal Bian, kau pasti akan menyesal karena tidak mempercayaiku ...."
Ucapan Alea saat tadi pagi dirinya dengan membabi buta memukuli Alea dengan ikat pinggang.
"Istri Anda mengalami keguguran ...." Bian menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat kata-kata Dokter tadi kembali terngiang di kepalanya.
.
.
Maaf ya kakak² tercinta, aku baru bisa update hari ini.
Jangan lupa like, koment dan Votenya ya 🙏🙏🙏 biar authornya tambah semangat ...
__ADS_1