
"Seandainya Alea mau, aku pasti akan menikahi Alea segera. Karena selama ini aku sangat mencintai Alea, Om."
"Ken ...."
Alea menatap Kenzo tak percaya, sementara Kenzo menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Hanya saja, saat ini memang belum waktu yang tepat. Alea butuh waktu untuk menyembuhkan dirinya. Aku akan terus di samping Alea sampai dia bisa menghilangkan traumanya, siapa tahu suatu saat, dia mau melirikku untuk menjadi teman hidupnya."
"Ken!"
Rasanya, Alea ingin sekali protes dengan ucapan Kenzo. Tapi semua ucapannya seolah tersangkut di tenggorokannya.
Kenzo tersenyum melihat Alea yang melotot tajam ke arahnya.
"Aku tidak akan memaksamu, kalau kau tak mengizinkan," ucap Kenzo lembut.
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Kenzo dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Mama dukung kamu seratus persen, Ken, iya kan, Pa?" Papa Kenzo menganggukkan kepalanya sambil mengangkat dua jempolnya dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Semangat Kenzo Luiz! Papa mendukungmu!" Papa Kenzo mengangkat tangannya yang terkepal memberi semangat pada Kenzo, membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa, termasuk Alea. Sementara Kenzo hanya bisa menepuk jidat melihat kelakuan Papanya.
"Kami semua juga mendukungmu Ken, semangat berjuang!" Kali ini Rangga dan Vina yang memberikan semangat pada Kenzo, di ikuti oleh Rajasa dan Anita yang ikut mengangkat tangannya.
"Semangat!"
"Semangat Kenzo!"
Sekarang gantian Alea yang menepuk jidatnya. Tidak menyangka kalau keluarganya langsung ketularan oleh sikap jahil Mama dan Papa Kenzo.
"Semangat Kenzo Luiz!" Mama Kenzo kembali berteriak membuat semua orang tertawa terbahak-bahak termasuk Alea.
"Kamu harus buktikan pada Alea kalau kamu bisa membuatnya jatuh cinta padamu. Jangan menyerah!" Rajasa memberi semangat, membuat Kenzo tersenyum. Ia melirik ke arah Alea yang masih tersenyum.
"Jangan terlalu berharap Pa, karena aku belum tentu bisa mengabulkan harapan Papa kali ini," ucap Alea sambil menatap Rajasa.
"Tentu saja sayang, Papa juga tidak akan memaksamu. Papa hanya ingin tahu, apa pria di depan Papa ini benar-benar bisa diandalkan." Rajasa menatap Kenzo yang sedang tersenyum padanya.
"Aku tidak akan memaksa Alea, Om, aku hanya ingin tetap berada di sampingnya, menemani dia, membuat dia tersenyum dan bahagia. Terlalu banyak kesakitan-kesakitan yang telah dialaminya selama ini." Kenzo menatap Alea yang juga sedang menatapnya.
"Aku hanya ingin membuat Alea tersenyum bahagia, karena Alea memang pantas untuk bahagia."
Netra Kenzo dan Alea saling menatap.
"Kamu jangan khawatir, seperti yang sering aku katakan padamu, kamu hanya cukup menerima saja, asal kau bahagia, aku pasti akan merasa bahagia."
__ADS_1
Semua orang merasa terharu mendengar ucapan Kenzo. Pria ini benar-benar mengagumkan.
"Aku jatuh cinta pada Alea saat kita masih sama-sama duduk di bangku SMA. Hanya saja, Alea tidak pernah menyadarinya. Karena aku menyimpan rapat-rapat perasaan ini dalam hatiku."
"Ken ...."
Kenzo tersenyum menatap Alea.
"Sama sepertimu, yang menyimpan cinta dari dulu untuk pria itu. Begitupun aku, aku sudah cukup lama menyimpan perasaan ini di lubuk hatiku." Pernyataan Kenzo kali ini mengejutkan semua orang, termasuk Alea.
"Ken ...."
"Maafkan aku Al, aku lancang. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja. Aku hanya ingin semua orang tahu perasaanku padamu."
"Tapi Ken ...."
"Izinkan aku terus bersamamu, meski kau tak ingin. Aku janji, aku tidak akan melewati batas, selagi kau tak menginginkannya."
"Cukup Ken!"
Semua orang tersentak mendengar Alea berteriak. Begitupun Kenzo. Alea mendekati Kenzo, kemudian langsung masuk ke dalam pelukan pria itu.
"Jangan bicara lagi, kau sungguh sangat menyebalkan!" Alea membenamkan wajahnya di dada bidang Kenzo. Ia sangat tahu, bagaimana rasanya mencintai tapi tidak dicintai. Karena itu, Alea tidak ingin Kenzo merasakan semua itu. Kenzo adalah pria yang baik, dia yang selama ini selalu ada di sampingnya. Bahkan saat dirinya berada di titik paling terendah dalam hidupnya.
Namun untuk menjalin hubungan dengan pria itu, Alea jelas belum bisa. Ia tidak mungkin mudah untuk membuka hatinya meski ia tahu Kenzo adalah orang yang tepat dan terbaik. Tapi, luka di dalam hati Alea begitu dalam. Apalagi, ia juga baru beberapa bulan ini resmi bercerai. Jadi, tidak mungkin ia dengan mudah menerima perasaan Kenzo.
Kenzo membalas pelukan perempuan itu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
Kenzo tahu, tidak akan mudah meluluhkan Alea apalagi sampai mendapatkan hatinya. Karena ia tahu persis, luka yang ditinggalkan pria brengsek itu pada Alea.
Mama dan Papa Alea menatap mereka berdua dengan mata berkaca-kaca. Begitupun Rangga dan Vina.
"Kelihatannya, pria itu begitu tulus mencintai Alea ya, Mas?"
"Iya sayang, sama seperti aku yang begitu tulus mencintaimu." Rangga merangkul bahu istrinya.
"Aku masih marah padamu, jadi jangan merayuku. Hukuman kamu aku tambah," ucap Vina galak.
"Sayang ...."
Rangga menatap istrinya dengan wajah memelas. Gara-gara perempuan sialan yang menjebaknya kemarin, Rangga kini sedang dalam mode bertengkar dengan istrinya.
Sementara kedua orang tua Kenzo menatap Kenzo dengan rasa iba. Mereka sangat tahu bagaimana Kenzo selama ini. Putranya itu, selalu menutup akses untuk perempuan manapun yang mendekatinya. Jangankan menyukai semua perempuan itu, meliriknya saja, tidak pernah.
Makanya mereka berdua sangat khawatir, takut kalau Kenzo itu tidak normal. Tapi sekarang, mereka baru tahu alasan yang sebenarnya. Kenzo tidak bisa jatuh cinta pada perempuan manapun, karena pintu hatinya sudah terkunci pada Alea.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, kau hanya perlu mengizinkan aku untuk tetap di sampingmu, itu saja sudah cukup membuatku bahagia, Alea," bisik Kenzo tepat di telinga Alea. Bahkan bibir Kenzo sudah menempel di telinga Alea, membuat Alea meremang, kemudian melepaskan pelukannya.
"Kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi," celetuk Mama Kenzo dengan senyum mengembang di wajahnya.
Semua orang menatap Alea dan Kenzo, ikut membenarkan ucapan Mama Kenzo.
"Semoga kalian berdua bahagia." Anita menatap Alea dan Kenzo bergantian. Kedua matanya berkaca-kaca.
Seandainya dulu ia tidak ikut campur, dan nekad menjodohkan Alea dengan Bian, putrinya itu pasti tidak akan pernah menderita seperti ini.
Dulu, Anita berpikir, Alea pasti sangat bahagia bila menikah dengan Bian, karena Alea sangat mencintai pria itu. Makanya, Anita melakukan segala cara agar Bian mau menikah dengan Alea.
Dia hanya memikirkan, putrinya pasti akan sangat bahagia karena berada di samping pria yang sangat dicintainya, tanpa memikirkan perasaan Bian yang tidak pernah mencintai Alea.
Anita bahkan sangat ingat saat Bian menolak dengan alasan sudah mempunyai kekasih. Tapi dengan sedikit ancaman, akhirnya, Bian pun menyetujui untuk menikah dengan Alea. Karena keegoisannya, pernikahan yang ia pikir bisa membahagiakan putrinya, ternyata malah justru menghancurkan kehidupan putrinya.
"Alea, maafkan Mama, Nak, gara-gara Mama, kamu harus merasakan semua penderitaan yang seharusnya tidak kau alami ...." Air mata Anita akhirnya tumpah, membuat Alea kemudian langsung beranjak memeluk perempuan yang sangat dicintainya itu.
"Mama tidak salah, aku yang bodoh, karena mencintai orang yang salah. Aku bertahan, karena aku pikir, dia akan berubah dan mau membuka hatinya untukku, tapi ternyata ...."
"Jangan diteruskan sayang, Mama tidak mau kau mengingatnya lagi." Alea mengangguk, kemudian mempererat pelukannya.
Tidak ada yang salah dalam mencintai, karena tidak ada yang salah dalam cinta.
Kenzo menatap Alea yang sedang menangis dipelukan Anita.
'Setelah ini, aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi Alea ... aku janji.'
.
.
.
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, komen, dan Votenya ya kakak Β²....
Author: Semangat Kenzo Luiz!
Aku mendukungmu! π
Kenzo: Makasih thorr ...ππ
Author: Tapi jangan senang dulu,
karena nasibmu ada di
__ADS_1
tanganku!
Kenzo: Yaahh ... thorr ... π₯Ίπ₯Ί