
Alea dan Kenzo sudah bersiap menuju bandara. Setelah susah payah membujuk Alea, akhirnya Alea mau menerima tawaran Kenzo untuk menetap di Bali.
Semua urusan Alea sudah selesai, gugatan cerainya di kabulkan oleh pengadilan. Jadi ia bisa bernafas lega sekarang. Alea tinggal memikirkan jalan ke depannya. Alea menatap Kenzo yang terlihat begitu tampan seperti biasanya. Seandainya saja Alea tidak jatuh cinta pada Bian terlebih dulu, mungkin saja ia akan jatuh cinta pada pesona pria itu. Pria itu adalah sahabatnya semenjak SMA, Alea tahu benar bagaimana kepribadian pria itu.
Kenzo menggandeng tangan Alea, menautkan jemarinya dan menyunggingkan senyumnya.
"Kau sudah siap?" Alea tersenyum simpul, kemudian mengangguk dengan penuh percaya diri.
"Kebahagiaan menantimu di tempat yang baru." Kenzo mengusap kepala Alea dengan pelan.
*****
Tak terasa sudah sebulan Bian mencari Alea. Ia sudah berputar-putar mencarinya kemanapun. Tak lupa Bian pun membayar orang untuk mencari Alea. Ia juga mengerahkan seluruh orang kepercayaannya untuk mencari di mana Alea berada. Namun, sampai sekarang hasilnya tetap nihil. Bian sama sekali belum mendapatkan kabar di mana Alea berada.
"Alea, kamu ada di mana sayang? aku merindukanmu ...." Bian mengusap foto Alea di
layar ponselnya, foto yang ia curi secara diam-diam saat perempuan itu tertidur.
Bian menggusar rambutnya, kepalanya berdenyut sakit, saat ini Bian sedang di ruang kerjanya. Beberapa dokumen menumpuk di meja kerjanya.
Bian menyandarkan tubuhnya di kursi. Semenjak kepergian Alea, Bian seolah kehilangan separuh hidupnya. Meski ada Amara di sisinya, tapi Bian masih merasa ada yang kurang. Bayangan wajah Alea saat tersenyum, saat bersedih, dan saat menangis masih teringat jelas di kepalanya.
Apalagi bayangan saat Alea berteriak kesakitan, semua terekam jelas, seperti baru kemarin terjadinya.
Bian menelungkup kan wajahnya di atas meja. Bahunya berguncang, Bian menangis. Selalu seperti itu, saat ia kembali mengingat bagaimana teriakan kesakitan Alea saat ia memukulnya dengan ikat pinggang, hingga membuat perempuan itu kehilangan calon anaknya. Anaknya yang merupakan darah dagingnya sendiri.
"Maaf! Maafkan aku Alea ... Maafkan Papa juga sayang, karena kejahatan Papa hingga telah membuatmu tiada sebelum lahir ke dunia." Bahu Bian berguncang semakin keras. Ia bukan hanya menangis sekarang, tapi ia juga berteriak. Mbok Sumi yang tadinya akan mengantarkan kopi yang di pesan Bian, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruang kerja Bian. Kedua mata Mbok Sumi berkaca-kaca.
"Setelah Non Alea pergi, Den Bian baru menyesal dan merasa kehilangan. Penyesalan ini belum seberapa Den, setelah Den Bian tahu Non Alea tidak bersalah, Den Bian pasti akan menangis darah karena penyesalan. Atau mungkin, akan mati sesak nafas saat mengetahui kalau perempuan pujaannya tidak sebaik seperti yang dia bayangkan. Hanya tinggal menunggu waktu, sebentar lagi semua kebenaran pasti akan terkuak," batin Mbok Sumi, kemudian mengetuk pintu ruang kerja Bian.
__ADS_1
*****
Bian dan Amara sedang duduk bersantai di sofa ruang tamu saat tiba-tiba terdengar suara bel pintu rumahnya. Amara yang duduk tak jauh dari pintu, segera bangun dari duduknya kemudian membukakan pintu.
Di balik pintu, terlihat dua perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik berdiri dengan heran menatap Amara dengan perut buncitnya.
"Siapa kamu?"
"Harusnya aku yang nanya siapa kalian, mau apa kalian berdua datang ke rumahku?" Amara bersidekap dengan sombong.
"Rumahmu?" Perempuan di depan Amara mengernyit bingung, kemudian ia meneliti rumah itu dengan benar.
"Sayang, siapa yang datang?"
Kedua perempuan paruh baya itu saling berpandangan.
Bian berdiri di belakang Amara karena penasaran ingin melihat siapa yang datang. Kedua matanya membeliak kaget saat mengenali siapa yang datang.
"Bian, siapa perempuan hamil ini? Mana Alea?" Bian terlihat gugup, kemudian dengan segera ia menyuruh kedua perempuan baya itu duduk. Sementara Amara menatap canggung pada kedua orang itu. Ia tidak menyangka kalau yang baru saja datang itu ternyata Mamanya Bian.
"Siapa perempuan itu Bian? Di mana menantuku?" Dari arah pintu datang dua pria paruh baya yang terlihat masih gagah dan juga seorang pria muda yang menggandeng perempuan cantik di sampingnya.
"Papa ...." Bian kembali terkejut saat melihat Papanya juga datang bersama Papa mertuanya, tak ketinggalan, kakak iparnya pun ikut datang bersama mereka.
Apa-apaan ini, kenapa mereka semua tiba-tiba datang?
Wajah Bian terlihat pucat saat melihat tatapan membunuh dari Rangga, sang kakak ipar.
"Mana Alea Bian? Kenapa Alea tidak bersamamu? Lalu, siapa perempuan hamil ini?" Laras Mamanya Bian, mencecar Bian, membuat Bian tak berkutik karena kehilangan kata-kata.
__ADS_1
"Aku Amara, istrinya Bian Tante." Semua orang melihat ke arah Amara.
"Apa kamu bilang? Kamu istrinya Bian?" Aditama berteriak, membuat Amara terlonjak kaget. Dalam hati Bian merutuki kebodohan Amara yang malah dengan jujur mengakui siapa dirinya.
"Bian, cepat kamu jelaskan, siapa perempuan ini sebenarnya? Lalu, di mana Alea, kenapa dia tidak ada di sini?" Bian menatap semua orang dengan gugup. Mendengar pertanyaan dari Papa mertuanya, Bian sedikit bergetar.
"Alea pergi dengan kekasihnya, sudah sebulan lebih ia tidak pulang ke rumah ini." Lagi-lagi Amara menjawab dengan entengnya.
"Apa?!" Semua orang menatap Amara dengan pandangan tak percaya.
"Apa maksudmu?" Tiba-tiba Rangga dengan penuh amarah mendekati Amara.
"Adikku tidak mungkin melakukan hal yang kau tuduhkan, Alea bukan perempuan seperti itu." Darah Rangga mendidih, rasanya ia ingin sekali mencekik leher perempuan di depannya ini, karena telah berani menjelek-jelekkan Alea.
Sementara Bian masih bungkam, ia tidak berani menjawab. Tapi melihat tatapan tajam Rangga yang seolah ingin menelannya, Bian mau tak mau harus menjawab pertanyaan Rangga.
"Ayo Bian, jawab! Di mana Alea?"
Belum sempat Bian menjawab, suara ketukan pintu terdengar, membuat mereka semua menoleh ke arah pintu.
Mang Ujang tersenyum, dan menunduk sopan, di tangannya terlihat amplop besar berwarna coklat.
"Den Bian, ada paket buat Den Bian, dari Non Alea." Mang Ujang menyerahkan amplop itu pada Bian, kemudian langsung berpamitan kembali menuju pos nya.
Sementara di dalam ruangan itu semua orang saling berpandangan. Suasana yang tadinya tegang, bertambah tegang saat tiba-tiba Papa mertuanya Bian menyuruh Bian membuka amplop berisi paket dari Alea itu di depan mereka.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏