MATI RASA

MATI RASA
Part 13 Aku Ingin Berpisah Denganmu


__ADS_3

Alea meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya setelah tubuh Bian akhirnya ambruk di sebelah tubuhnya karena kelelahan.


"Tubuhmu benar-benar nikmat Alea .... " terdengar suara Bian berbisik lirih sebelum akhirnya ia memejamkan mata, tertidur sambil memeluk tubuh Alea.


Alea menangis tanpa suara, tubuhnya terasa remuk redam dengan rasa sakit yang tiada terkira di bagian intimnya.


Bukan hanya tubuhnya saja yang merasa sakit, tapi hatinya lebih sakit. Seandainya luka hati itu bisa terlihat, mungkin saat ini hati Alea sudah berdarah-darah saking sakitnya.


Alea meremas selimut yang ia pakai buat menutupi tubuhnya.


Dadanya terasa sesak, hatinya berdesir nyeri. Alea menangis dalam diam, air matanya tak berhenti mengalir di pipi mulusnya.


Alea menatap pria tampan di depannya yang saat ini sedang terlelap. Tak bisa di pungkiri, sesakit apapun dirinya, sebenci apapun dirinya terhadap pria ini, tetap saja, di dalam hatinya hanya ada pria ini. Di dalam hatinya ia tetap mencintai pria ini.


Alea memejamkan matanya saat Bian memeluknya lebih erat lagi. Dadanya berdebar, bahkan jantungnya berdetak lebih cepat. Tak bisa di pungkiri, dalam sudut hatinya yang paling dalam ada sedikit kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.


Ini pertama kalinya Bian memeluknya setelah setahun mereka menikah, ini pertama kalinya ia dan Bian dalam keadaan seintim ini.


Alea menyelusupkan wajahnya ke dalam pelukan Bian. Sekali ini saja, hanya sekali ini saja, ia ingin sedikit merasakan kebahagiaan karena bisa memeluk orang yang di cintainya.


Alea memeluk tubuh Bian yang terasa lembab akibat percintaan panas mereka.


Kenapa Alea? harusnya kau membencinya bukan? setelah apa yang baru saja dia lakukan padamu kau justru malah memeluknya?


Batin Alea menjerit, tapi itu tak bisa menghentikannya untuk memeluk Bian lebih erat.


Karena lelah, akhirnya ia pun tertidur sambil memeluk Bian, pria yang sudah setahun ini menjadi suaminya.


*****


Pagi-pagi sekali Alea terbangun dari tidurnya. Ia menggeliat pelan, tapi saat ia ingin menggerakkan tubuhnya, Alea melihat tangan Bian masih melingkar di perutnya, ia juga melihat wajah tampan itu begitu dekat dengan wajahnya.


Ada rasa bahagia terselip di sudut hatinya. Seandainya setiap hari aku bisa seperti ini denganmu, aku pasti akan menjadi perempuan yang sangat bahagia di dunia ini.


Alea menatap Bian dengan segala rasa yang berkecamuk di dadanya. Tapi kemudian tatapan memujanya berganti menjadi tatapan penuh amarah saat ia mengingat perbuatan Bian semalam.


Alea bangkit dari ranjang, menutup tubuhnya dengan selimut kemudian dengan langkah tertatih menahan nyeri, ia berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Dalam hati ia mengutuk Bian karena sudah menyiksanya semalaman. Pria itu bagaikan orang yang kerasukan, menyentuh dan menggempur tubuh Alea tanpa ampun. Bahkan teriakan dan jeritan Alea pun tak mampu menghentikan perbuatan Bian.


Alea mengguyur tubuhnya di bawah shower. Ia meringis saat rasa perih menerpa tubuhnya saat air itu mulai mengguyur di sekujur tubuhnya.


Alea merasakan perih di beberapa bagian tubuhnya yang terdapat bekas-bekas gigitan dari Bian.


Ia kembali menangis meratapi nasibnya.


"Ya Tuhan, seandainya bisa, hilangkanlah perasaan ini untuknya, aku benar-benar sudah tidak sanggup."


Alea meraih sabun cair kemudian menuangkannya di telapak tangan. Tapi belum sempat Alea menuangkan sabun tersebut, tiba-tiba tangan kekar seseorang sudah melingkar di perutnya kemudian menarik tubuhnya.


Hembusan nafas Bian terasa di belakang telinga Alea.


"Mandinya nanti saja, aku menginginkanmu lagi."


"Bian .... " Tubuh Alea bergetar, bayangan Bian saat menyiksanya semalam kembali terlintas. Semalam Bian bukan hanya memperkosanya, tapi juga memperlakukannya seperti wanita malam.


Menyadari raut ketakutan di wajah Alea, Bian berbisik lembut sambil mulai merayu tubuh Alea.


"Jangan khawatir, aku akan melakukannya dengan pelan-pelan." Alea memejamkan matanya. Kedua tangannya terkepal erat, saat mulut Bian sudah mulai menjelajahi tubuhnya.


Bian mempererat dekapannya menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja di rasakannya.


"Kau membenciku, tapi tubuhmu tak bisa berbohong kalau kau begitu menginginkanku Alea .... "


Alea kembali memekik, saat tiba-tiba Bian kembali bermain di dalam tubuh bagian bawahnya. Bian kemudian menggendong Alea, membawanya menuju ranjang.


Bian kembali menggempur Alea tanpa ampun. Alea yang sudah lemas dan tak bertenaga hanya bisa menangis. Sekali lagi, hatinya hancur berkeping-keping karena perbuatan Bian.


Bian ambruk di atas tubuh Alea, nafasnya naik turun. Ia benar-benar merasa puas bermain di tubuh Alea.


"Kalau aku tahu kau senikmat ini, aku pasti akan menyentuhmu dari dulu Alea, aku benar-benar puas." Bian menatap wajah lelah Alea yang bersimbah air mata.


Bian mengusap air mata Alea dengan jarinya. Memandang wajah cantik perempuan yang baru saja memuaskan hasratnya itu.


"Saat ini memang masih terasa sakit, tapi besok, akan aku pastikan, kau tidak akan menangis lagi ketika berada di bawahku. Karena aku akan membuatmu merasakan kenikmatan yang akan membuatmu ketagihan." Suara Bian lirih berbisik dengan nada merayu membuat Alea meremang.

__ADS_1


"Menjijikkan!" batin Alea, kedua tangannya mengepal erat, kemudian ia mendorong tubuh Bian yang tersenyum smirk ke arahnya.


Alea dengan pelan bangkit menuju kamar mandi. Tubuhnya sakit, hampir saja ia merangkak karena ia tidak bisa berjalan. Rasa perih dan nyeri di area bagian sensitifnya membuat Alea meringis karena tak tahan merasakan sakit yang tiada terkira.


Bian tiba-tiba meraih tubuh Alea kemudian menggendongnya ke kamar mandi. Ia mengisi bathub dengan air hangat, kemudian melepaskan selimut yang membalut tubuh Alea.


"Kamu berendam saja dulu biar rasa sakitnya berkurang." Bian mengangkat tubuh polos Alea lalu memasukkan tubuh Alea dan mendudukkannya ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat.


Alea hanya diam, rasa sakit di tubuhnya membuat ia kehilangan tenaga. Bian menatap Alea dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Alea ... hari ini aku akan pergi ke Bandung, besok aku akan menikahi Amara, karena saat ini dia sedang hamil anakku."


Lagi, sekali lagi, pria itu membuat hatinya hancur tanpa sisa. Luka semalam belum sembuh, tapi sudah ditambah lagi dengan luka yang baru. Alea merasa, ribuan jarum saat ini sedang menusuk- nusuk hatinya. Ibarat luka yang masih menganga tersiram air garam, begitulah yang dirasakan Alea saat ini.


Meski dari awal ia sudah tahu dan bersiap kalau suatu saat Bian akan menikahi perempuan itu, tapi tetap saja, hatinya bagai di iris sembilu saat kata-kata itu keluar dari mulut Bian.


Alea menatap Bian dengan datar tanpa emosi. Ia mati-matian menahan air mata yang sebentar lagi pasti akan turun hanya dalam satu kedipan mata.


Dadanya sesak, amarahnya sudah naik ke ubun-ubun. Sementara hatinya ....


Pria di depannya ini benar-benar kejam, setelah puas menikmati tubuhnya sampai ia tidak bisa berjalan, dengan tanpa dosa dia mengatakan akan menikahi perempuan lain.


Benar-benar pria tak beradab!


"Alea, aku akan tetap menikah dengan Amara, meski dengan ataupun tanpa persetujuan darimu, aku mengatakannya padamu agar kau tahu kalau mulai besok, posisi Amara dan posisimu sama, sama-sama istriku. Jadi mulai sekarang, kau juga harus menghormati Amara." peringat Bian.


"Tapi, meskipun kau adalah istriku, tetap saja, di hatiku cuma ada Amara, jadi kau jangan berharap kalau aku akan memperlakukanmu seperti aku memperlakukan Amara."


Alea masih terdiam, tapi kedua matanya masih menatap datar ke arah Bian.


"Bian ... aku ingin berpisah denganmu, benar-benar ingin berpisah denganmu, ayo kita bercerai." Suara Alea terdengar lembut tanpa emosi.


Bian terpaku menatap wajah cantik Alea yang begitu tenang, tidak ada tangis, tidak ada kesedihan.


Bian merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya, sesuatu yang seolah meremas jantungnya.


.

__ADS_1


Jangan lupa like n koment ya kakak², biar authornya semangat updatenya 🙏🙏🙏


jangan lupa votenya juga 😊😊


__ADS_2