
"Mulai besok, tinggalkan perusahaan dan segera keluar dari rumah ini!" Suara Rajasa terdengar tegas, tak terbantahkan, membuat semua orang yang ada di ruangan itu tersentak kaget. Tak terkecuali Rangga yang tidak mengira kalau Papanya akan langsung mengusir Bian dari perusahaan.
"Kalau sampai besok kau dan wanita sampah mu itu belum keluar juga dari sini, aku akan menyuruh orang untuk mengusir kalian dengan paksa!" Rajasa menatap Bian yang masih terdiam menatapnya.
"Tapi, kenapa aku dan Bian harus keluar dari rumah ini? Bukankah Bian adalah pemilik rumah ini? Aku lihat sendiri kalau surat rumah ini dan juga semua yang ada di sini adalah milik Bian, semuanya atas nama Bian. Benar kan, sayang?" Semua orang menatap ke arah Amara. Begitupun Bian, yang langsung melotot ke arah Amara.
Rajasa menatap perempuan itu dengan muak.
"Jadi, maksudmu aku tidak bisa mengusir kalian karena Bian pemilik rumah ini?" Rajasa menatap tajam perempuan itu. Wajahnya memerah penuh amarah.
"Apa Bian tidak pernah mengatakannya padamu?" Rajasa tersenyum mencibir.
"Rumah dan segala isinya termasuk beberapa mobil yang ada di sini memang milik Bian, atas nama Bian, tapi apa kau tahu? Bian akan memiliki semuanya setelah pernikahannya dengan Alea berjalan tiga tahun. Karena Bian sebelumnya sudah menandatangani surat perjanjian pra nikah dengan Alea."
"Apa?" Amara tersentak kaget.
"Kenapa? Apa kau kaget? Karena buruan mu ternyata tidak sekaya yang kau kira?" Rajasa menatap Amara dengan senyum mengejek.
"Tidak mungkin." Amara menggeleng pelan.
"Sayang, apa itu benar?"
"Diam kau!" Bian membentak. Membuat Amara langsung terdiam ketakutan.
"Bian, apa perempuan seperti ini yang selama ini kau pertahankan? Perempuan seperti ini yang membuatmu menyiksa Alea ku?" Anita dengan tangan gemetar menuding Amara dan menatap Bian.
"Gara-gara pelacur seperti dia, kau tega menyakiti orang yang selama bertahun-tahun mencintaimu!" Kali ini Anita ikut bicara karena geram. Sedari tadi ia terus menangis. Menangis, membayangkan penderitaan yang dialami Alea selama ini.
"Apa kau tahu Bian? Kenapa aku menyuruhmu menikahi Alea?" Anita menatap wajah Bian dengan penuh amarah.
"Aku ingin menikahkan mu dengan Alea karena Alea sangat mencintaimu! Selama bertahun-tahun dia sangat mencintaimu. Dia bahkan sangat mencintaimu dari semenjak dirinya remaja, Mencintaimu diam-diam. Setiap hari, yang ada di otaknya hanya kamu, yang keluar dari mulutnya hanya nama kamu, sampai kami sekeluarga merasa bosan karena setiap hari ia terus mengulang-ulang kata-katanya saat berbicara tentang kamu!" Anita menangis. Sementara Bian, ia merasa terkejut saat mendengar pengakuan Anita.
Selama ini, ia memang tahu kalau Alea mencintainya, tapi ia tidak tahu kalau Alea mencintainya sejak dulu. Bian kembali menitikkan air matanya.
"Dia bahkan bersikeras tidak akan menikah, kecuali menikah denganmu." Anita kembali menangis, ia memeluk suaminya dengan erat.
__ADS_1
"Aku hanya ingin membahagiakan Alea, makanya, aku menikahkan dia denganmu. Karena menikah denganmu adalah mimpinya sejak dulu." Anita menatap Bian dengan rasa sakit yang dalam di hatinya.
"Alea tidak pernah tahu kalau aku menjodohkannya denganmu, dia juga tidak pernah tahu, kalau aku sengaja memberikan perusahaan dan rumah ini untukmu. Yang dia tahu, aku memberikan perusahaan dan rumah ini padamu, karena sebentar lagi kau akan menjadi suaminya, karena itu, kau berhak mengurus perusahaan miliknya."
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya Alea tahu, kalau aku sudah memberikan perusahaan dan rumah ini sebagai kompensasi agar kau mau menikah dengannya. Mungkin, Alea akan sangat membenciku."
"Alea sudah tahu, Aku sudah mengatakan semua padanya," potong Bian lirih.
"Apa?" Anita dan Rajasa terkejut, begitupun Rangga.
"Aku sudah memberitahunya sejak awal kami menikah. Aku sangat membencinya karena aku pikir, dia lah yang telah membujuk kalian agar aku menikah dengannya."
"Kau benar-benar --" Anita menatap Bian marah, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ya Tuhan, pantas saja Alea tidak bisa dihubungi dan juga tidak pernah menghubungi kita Pa," ucap Anita putus asa, kemudian kembali memeluk Rajasa.
"Dasar brengsek kau Bian!" Rangga kembali maju dan langsung menyerang Bian dengan tinjunya.
******
Alea menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya. Angin semilir memainkan rambutnya. Ombak bergulung-gulung saling berkejaran ke tepi pantai. Pandangan seperti ini, sudah lama sekali tak pernah lihat. Karena sejak menikah dengan Bian, kehidupannya semua berubah. Semua yang menjadi favoritnya, menjadi tak berarti setelah ia menikah dengan pria itu. Karena setelah menikah dengan pria itu, Alea hanya mengabdikan hidupnya untuk pria itu.
Mengingat Bian, hati Alea kembali menjadi kacau. Semua bayangan dan perlakuan-perlakuan Bian selama ini, saling berkejaran dan kembali terekam berulang-ulang di kepalanya.
Kenzo meraih tangan Alea dan menggenggamnya erat, saat senyum di wajah Alea memudar dan wajahnya kembali sendu.
"Jangan memikirkan dia lagi," bisik Kenzo saat dirinya meraih tubuh Alea dipelukannya.
"Lupakan dia, meski tak mudah, tapi kau harus berusaha melupakannya." Alea mengangguk dalam pelukan Kenzo.
"Aku sudah menemukan tempat tinggal untukmu." Alea menatap Kenzo, ingin melayangkan protes.
"Kau tenang saja, hanya rumah sederhana, seperti yang kau minta." Seolah tahu apa yang di pikirkan perempuan di depannya ini.
"Besok kita langsung pindah ke sana, aku akan membantumu."
__ADS_1
"Terserah kamu saja, memangnya aku bisa melarang mu?" Alea mengerucutkan bibirnya, membuat Kenzo terkekeh kemudian mengelus kepala Alea dengan sayang.
"Kau berhak bahagia, hidupmu yang baru berawal dari sini, atau, kau ingin pergi ke tempat lain selain kota ini?" Kenzo menatap Alea lembut, tangannya terulur merapikan rambut Alea yang tertiup angin.
"Tidak perlu, aku sangat menyukai tempat ini." Alea menatap Kenzo sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih Ken ...."
"Apapun akan kulakukan untukmu, asal kau bahagia." Senyuman manis menghias wajah tampan Kenzo.
"Kau sangat baik, aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa."
"Cukup tersenyum, dan tetap berada dalam jangkauanku, itu sudah cukup untukku."
"Ken ...."
"Jangan khawatir, aku tidak akan memaksamu." Kenzo kembali meraih perempuan itu ke dalam pelukannya.
Entah mengapa, rasa cintanya pada perempuan cantik ini semakin hari semakin bertambah. Kenzo memejamkan matanya, merengkuh tubuh perempuan itu semakin erat dalam pelukannya.
Semenjak Alea memutuskan melepaskan Bian, semenjak itu pula, Kenzo bertekad untuk mengejar perempuan ini. Meski mungkin takkan mudah, tapi bisa terus berada di sampingnya seperti ini saja, sudah membuat dirinya bahagia.
"Mbok Sumi menelepon, katanya kedua orang tuamu dan mertua kamu saat ini sedang ada di rumahmu."
"Ya, aku sudah tahu."
.
.
Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak 🙏🙏🙏
Novel ini alur ceritanya memang lambat, jadi jangan protes ya, kalau ada beberapa bab yang ternyata masih membahas tentang masalah yang sama.
Terima kasih sudah membaca, salam sayang 😘
__ADS_1