
Bian menangis di pelukan Laras Mamanya. Wajahnya babak belur, tubuhnya penuh luka bekas cambukan dari Rajasa, Papanya Alea. Rasa perih menjalar di seluruh tubuhnya, begitupun wajahnya yang terlihat memar dengan bercak darah di sudut bibirnya. Seluruh tubuh Bian memang terasa sakit, tapi Bian tidak mempedulikannya, yang ia rasakan adalah rasa sakit di hatinya. Rasa sakit karena penyesalan yang tiada berarti.
Rasa sakit di tubuhnya mengingatkan pada rasa sakit yang Alea rasakan karena perbuatannya. Pagi itu Alea berteriak kesakitan dan memohon ampun, tapi dirinya tak mempedulikannya sama sekali. Ia malah dengan membabi buta memukuli Alea tanpa ampun.
Bian masih mengingat dengan jelas saat Alea berteriak kencang karena karena ia memukul di bagian perutnya, tapi Bian tidak mempedulikannya sama sekali. Hatinya menjadi buta karena panik melihat Amara yang jatuh terguling di tangga. Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Amara membuat Bian bertindak seperti orang yang kehilangan akal.
Bian kembali menangis, saat teriakan Alea kembali terekam jelas di kepalanya. Bahkan semua kata-kata Alea saat Bian memukulinya kini seolah terdengar jelas di telinga Bian.
"Ma, Alea pasti sangat kesakitan saat aku memukulinya, aku bahkan tak memberinya kesempatan untuk bicara, padahal dia sudah berteriak dan memohon agar aku mempercayainya, tapi aku tetap memukulinya." Bian kembali terisak. Dadanya terasa sakit dan berdenyut nyeri.
"Maafkan aku Alea, maafkan aku karena aku tidak mempercayaimu saat itu. Maaf ...." Bian hanya bisa berucap dalam hati.
Laras mengusap punggung Bian yang berguncang karena menangis. Laras sudah lama tidak bertemu dengan putranya, sejak Bian menikah dengan Alea, ia tidak pernah bertemu mereka. Laras juga belum sempat menengok anak dan menantunya, karena kesibukannya. Tapi saat Anita menelepon kalau dia dan keluarganya baru saja pulang dari luar negeri dan mengatakan akan menjenguk Bian dan Alea, Laras dan suaminya akhirnya menyempatkan diri untuk mengunjungi Bian dan Alea.
Namun, siapa sangka, yang ditemuinya bukannya Bian dan Alea, tapi justru Bian dan istri barunya.
Laras tidak bisa mengatakan apapun pada Bian, kecuali ikut menangis, merasakan kesedihan yang putranya rasakan. Ia hanya bisa memeluk dan ikut menyesali perbuatan yang dilakukan oleh Bian terhadap menantu kesayangannya.
Rajasa dan keluarganya masih berada dalam ruangan itu. Mereka masih memandangi Bian dengan sorot mata marah dan kecewa. Anita bahkan tak berhenti menangis saat ia kembali melihat video dalam rekaman itu. Ia sangat menyesal, karena dulu ia menjodohkan Alea dengan Bian.
Sementara Amara, perempuan hamil itu duduk di tengah- tengah mereka sambil meringis kesakitan, karena tidak ada satupun yang mengizinkan ia pergi dari situ.
"Cepat kau tanda tangani surat cerai itu, aku tidak sudi mempunyai menantu sepertimu!" Rajasa menuding Bian. Sementara Anita dan Aditama hanya terdiam, karena mereka tahu apa yang dilakukan oleh Bian sudah sangat keterlaluan.
"Aku tidak akan tanda tangan Pa, aku tidak ingin bercerai dengan Alea. Aku mohon ...." Bian menangkup kedua tangannya.
__ADS_1
"Setelah semua kejahatan yang kau lakukan pada putriku, kau masih berharap putriku akan kembali padamu? Kalaupun putriku sendiri yang menginginkannya, aku tetap tidak akan mengizinkanmu untuk bersamanya!" Suara Rajasa sangat tegas dan tak bisa di bantah.
"Cepat tanda tangani, atau aku akan melaporkanmu ke polisi karena telah melakukan KDRT pada putriku. Dengan semua bukti yang ada, aku yakin, kau bisa di penjara selama beberapa tahun."
Aditama dan Laras saling berpandangan.
"Pak Raja ...." Laras dan Aditama berucap bersamaan.
"Kenapa? Apa kalian keberatan dan ingin membela putra kalian?"
Laras dan Aditama saling melempar pandang. Mereka berdua tahu, mereka takkan pernah menang melawan Rajasa, apalagi mereka sadar, kalau anaknya memang melakukan kesalahan yang sangat fatal.
"Pa, tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk bersama Alea, aku mohon Pa," Bian masih mencoba membujuk.
"Tapi Pa, aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi, aku janji akan memperbaiki semua kesalahanku." Kali ini air mata Bian kembali keluar, ia sudah tidak peduli lagi kalau semua orang menertawakannya saat ini. Amara bahkan sudah melotot dengan kesal melihat kelakuan Bian.
"Keputusanku sudah final, aku tidak akan mengizinkanmu bertemu dengan putriku, apalagi untuk kembali bersamanya!" Rajasa menatap Bian dengan marah.
"Aku akan mencari Alea, aku akan memohon padanya agar dia mencabut gugatan cerai ini." Bian masih terus memaksa.
"Putriku sendiri yang sudah tidak menginginkanmu Bian, kenapa kau sangat bersikeras seolah aku yang memaksamu untuk berpisah?" Bian terdiam sambil sesunggukan, karena apa yang di katakan oleh Rajasa memang benar.
Rajasa menyodorkan surat gugatan cerai yang sudah ditanda tangani oleh Alea. Rajasa juga memberikan pena yang selalu tersimpan di saku kemejanya.
Dengan gemetar, Bian menanda tangani surat cerai itu. Sebenarnya, ia lebih memilih untuk di penjara dari pada bercerai dengan Alea. Tapi jika dirinya di penjara, bagaimana caranya ia mencari Alea?
__ADS_1
Rangga dan istrinya menatap Bian yang terlihat menyedihkan.
"Aku tidak pernah menyangka, kalau pernikahan Alea akan berakhir begitu cepat," lirih Vina yang masih terdengar di telinga Rangga. Rangga menatap istrinya dengan wajah sedih.
"Kau benar, aku kakak yang sangat buruk karena tidak mengetahui kalau adikku selama ini menderita. Harusnya aku tetap menjaganya dan memperhatikannya meski dia sudah menikah." Rangga menundukkan pandangannya. Wajah adiknya, Alea, terlintas di kepalanya.
"Kakak, sekarang aku sudah menikah, jadi kakak jangan khawatir lagi, sudah ada suamiku yang akan menjagaku."
"Aku mencintainya kak, Bian sangat baik."
Itu adalah percakapan terakhir, sebulan setelah Alea menikah dengan Bian, sebelum Alea akhirnya tidak bisa di hubunginya sama sekali. Rangga tidak pernah tahu, kalau setelah dirinya menelepon Alea saat itu, Alea langsung menangis, karena tepat setelah Rangga menelepon, Bian datang sambil membawa Amara, dan sejak saat itulah, penderitaan Alea di mulai.
Bian menangis di depan semua orang setelah ia menanda tangani surat cerai itu. Ia sungguh sangat menyesal karena tidak pernah mempercayai Alea selama ini. Rasa cintanya pada Amara membuatnya buta dan selalu mempercayai setiap ucapan perempuan itu.
Mengingat Amara, darah Bian langsung mendidih. Ia melirik tajam ke arah Amara yang masih duduk di tengah-tengah mereka dengan wajah gelisah.
"Mulai besok, tinggalkan perusahaan, dan segera keluar dari rumah ini!"
.
.
.
Maaf ya kakak ², baru bisa update. Jangan lupa like , koment dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏
__ADS_1