MATI RASA

MATI RASA
Part 64 Bertemu Keluarga


__ADS_3

Kenzo melepaskan ciumannya. Menetralkan debaran jantungnya yang menggila. Ia menatap Alea yang terlihat terkejut.


"Ma--maaf Al, maafkan aku." Kenzo masih menangkup wajah Alea dengan raut wajah bersalah.


Sementara Alea menatap Kenzo dengan tatapan tak percaya.


"Ken ...."


"Maaf, maafkan aku ... kau boleh marah padaku, tapi aku mohon, maafkan aku." Kenzo merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia malah lepas kendali sampai berani-beraninya mencium Alea?


Sementara Alea masih terdiam, merasakan degup jantungnya yang berdetak cepat. Pandangannya tak lepas dari reaksi Kenzo yang menatapnya dengan rasa bersalah.


"Alea ... maafkan aku, maaf!" Kenzo menangkup kedua tangannya, dengan wajah memelas.


Alea kembali memeluk pria itu. Mencoba menyembunyikan kegugupannya di dalam pelukan Kenzo.


"Lupakan, aku memaafkanmu." Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Alea, membuat Kenzo bernafas lega, kemudian mempererat pelukannya.


"Maaf!" Kenzo masih dengan lirih mengatakan kata maaf berkali-kali.


Alea sendiri tidak tahu, harusnya ia marah pada Kenzo karena telah lancang mencium bibirnya. Tapi entah mengapa, ia tidak bisa marah. Karena ia sendiri merasa gugup, gugup karena ia sempat membalas ciuman Kenzo.


'Bisa-bisanya aku terbuai oleh ciumannya, untung saja Kenzo segera mengakhirinya kalau tidak ....'


"Maafkan aku Alea."


Alea melepaskan pelukannya, kemudian menatap Kenzo yang masih merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Kali ini, aku maafkan. Tapi lain kali, aku tidak bisa menjamin masih bisa memaafkanmu atau tidak." Alea menatap Kenzo dengan canggung, begitupun dengan Kenzo.


"Kau bilang, orang tuaku ingin bertemu denganku, bukan?" Alea mengalihkan pembicaraan.


"I--iya Al, aku akan memanggil mereka ke sini." Kenzo menjawab dengan gugup, kemudian segera beranjak dari ruangannya.


Alea menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


'Malunya aku ... semoga saja Kenzo tidak menyadari kalau aku juga sempat membalas ciumannya.'


Wajah Alea memerah karena merasa malu pada dirinya sendiri.


Sementara Kenzo bersandar di belakang pintu, menetralkan degup jantungnya.


'Gila! apa yang sudah aku lakukan? Beruntung Alea mau memaafkanku, kalau tidak ... aku tidak bisa membayangkan seandainya dia tidak bisa memaafkan perbuatanku.'

__ADS_1


"Ken, kamu kenapa?" Tiba-tiba saja Mamanya Kenzo sudah berada di sampingnya, membuat Kenzo tersentak kaget.


"Mama!"


"Kamu kenapa sih, kayak orang habis lari, ngos-ngosan begitu?"


"Mama ngagetin aja deh." Kenzo melirik kesal pada Mamanya.


"Kamu kenapa?"


"Aku nggak kenapa-napa Ma, kepo deh!"


"Dih! Di tanya bener-bener jawabnya malah begitu." Mama Kenzo mengerucutkan bibirnya,sebal dengan tingkah putranya itu.


"Alea ingin bertemu dengan keluarganya, Ma. Alea menyuruh mereka masuk ke dalam, karena dia takut keluarga Bian mengikuti mereka."


"Oh ... syukurlah!" Kedua mata Mamanya Kenzo langsung berbinar. Tadinya, ia sangat merasa bersalah, karena sudah membocorkan tempat tinggal Alea pada keluarga Bian. Mama Kenzo tidak mengetahui kalau Alea sedang mode kabur dari keluarganya. Karena ia tidak tahu permasalahan yang sedang dihadapi perempuan itu.


Kenzo mendekati keluarga Alea yang sedang duduk berkumpul dengan wajah cemas ditemani oleh Papanya Kenzo.


"Ken, bagaimana? Apa Alea mau bertemu dengan kita?" Anita, Mama Alea langsung mendekati Kenzo.


"Alea meminta kalian semua menemuinya di dalam." Kenzo menunjuk ke arah ruangannya.


Mereka semua bernafas lega. Mereka tahu, Alea sangat marah pada mereka karena telah menjodohkan Alea dengan Bian tanpa sepengetahuan Alea.


Mereka semua lah penyebab penderitaan Alea selama ini. Seandainya mereka tidak memaksa kedua orang tua Bian dan juga Bian untuk menikah dengan Alea, mungkin Alea tidak akan pernah mengalami penderitaan ini.


Membuat Bian salah paham karena mengira Alea lah yang telah meminta pada keluarganya agar dia menikahinya, dengan iming-iming rumah dan perusahaan.


Mama dan papanya Kenzo diikuti oleh putra dan menantunya memasuki ruangan Kenzo, setelah Kenzo terlebih dahulu masuk bersama Mama dan Papanya.


Di dalam ruangan, Alea sudah berdiri menunggu mereka.


"Alea!" Anita langsung berhambur memeluk anak perempuan satu-satunya itu.


"Alea sayang, anak Mama ...." Anita langsung menangis dipelukan Alea.


"Mama ...." Alea ikut menangis di pelukan Mamanya. Sudah hampir dua tahun mereka tidak pernah bertemu.


"Alea, maafin Mama, Mama yang salah, gara-gara Mama, kau harus mengalami ini semua," ucap Anita disela isak tangisnya.


Tak ketinggalan, Rajasa pun mendekati putrinya, dan bergantian dengan istrinya untuk memeluk putri tercintanya.

__ADS_1


"Papa ...."


"Alea, anak Papa, akhirnya Papa bisa bertemu denganmu, Nak." Rajasa memeluk putrinya, air matanya ikut menetes. Pria paruh baya itu sangat menyesali keputusannya, karena telah membiarkan Alea dan Bian menikah. Ia juga sangat menyesal, karena dengan bodohnya, mereka justru lepas tangan setelah Alea menikah dengan Bian. Mereka mengira, Alea sudah bahagia dengan Bian, karena Alea sangat mencintai pria itu. Mereka melupakan fakta, kalau Bian tidak mencintai Alea, melainkan dipaksa untuk menikah dengan Alea karena keegoisannya sebagai orang tua yang menginginkan kebahagiaan putri satu-satunya.


Setelah Papanya selesai memeluk Alea, kini gantian Rangga dan Vina yang mendekati Alea.


"Abang ...." Alea menatap Rangga dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Dasar gadis bodoh! Kenapa kau tidak memberitahukan padaku apa yang sudah terjadi padamu." Rangga memeluk adik perempuan satu-satunya itu sambil berkaca-kaca.


"Dari kecil sampai besar, aku selalu menjagamu dan melindungimu, tapi apa yang terjadi sekarang? Aku benar-benar merasa tidak berguna karena membiarkanmu terpuruk sendirian."


"Aku pikir, pria brengsek itu membahagiakanmu, tapi ternyata, dia justru memberikan kesakitan yang bertubi-tubi padamu. Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu di saat kau sangat membutuhkanku." Rangga kembali memeluk tubuh Alea, dan membiarkan tangis Alea di sana.


Vina ikut mendekati suaminya, kemudian ikut memeluk adik iparnya itu dengan meneteskan air mata. Ikut merasakan kesedihan yang diderita Alea selama ini.


Kenzo dan kedua orangtuanya pun ikut meneteskan air mata.


Setelah acara tangis menangis mengharukan, mereka berbincang-bincang sambil menunggu makan malam yang sedang disiapkan pegawai Kenzo.


"Terima kasih, Ken, karena sudah menolong Alea selama ini. Terima kasih karena sudah mendampingi Alea sampai detik ini," ucap Anita dengan berlinang air mata, sambil memeluk Alea di sampingnya.


Kenzo tersenyum menatap Anita.


"Aku hanya ingin melihat Alea bahagia Tante, karena aku sangat menyayangi Alea. Aku tidak tahan saat melihat Alea terus-menerus menderita karena perbuatan lelaki brengsek itu," jawab Kenzo datar, tapi tersimpan begitu banyak kemarahan di dalamnya.


"Terima kasih Ken, kau benar-benar pria yang baik. Kalau saja saya tahu, kalau Alea mempunyai sahabat sebaik kamu, saya pasti akan lebih memilih menjodohkan kamu dengan Alea daripada dengan pria brengsek itu."


"Papa ...."


"Maafkan Papa sayang ...." Rajasa menatap Alea kemudian merangkul bahu putri kesayangannya itu.


"Maafkan Papa, karena Papa mengira, kalau selama ini kamu sangat bahagia menikah dengan pria itu." Tidak ada yang berani menyebut nama Bian di depan Alea. Karena sebelumnya Kenzo sudah melarang untuk mengungkit masalah tentang Bian, dan apapun yang berhubungan dengan pria itu.


"Seandainya saja Alea mau, aku pasti akan menikahinya segera, karena selama ini, aku sangat mencintai Alea, Om."


"Ken ...."


Alea menatap Kenzo tak percaya. Sementara, Kenzo menyunggingkan senyum terbaiknya.


.


.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca ya, kakak² tercinta. Jangan lupa like, koment, dan Votenya y kk² ... 🙏🙏


__ADS_2