
Mobil ambulans yang membawa Amara, tiba di rumah sakit. Beberapa orang perawat mendorong brankar, menghampiri mobil, kemudian dengan cekatan memindahkan tubuh Amara ke atas brankar dan mendorongnya dengan cepat menuju ruang IGD.
Seorang pria berlari sepanjang koridor rumah sakit, dengan wajah panik. Dengan perasaan bersalah dan cemas secara bersamaan, Andre berlari tanpa mempedulikan tatapan orang-orang padanya. Ia bahkan hampir saja menabrak orang-orang yang lewat di depannya saking paniknya.
Sesaat setelah Andre menerima uang dari tiga orang pria hidung belang yang menginginkan Amara, ia langsung pergi ke kafe yang letaknya tidak jauh dari penginapan yang ia sewa bersama Amara. Andre sedang membutuhkan uang, karena itu ia nekad menjual tubuh Amara pada pria hidung belang, yg juga penasaran ingin merasakan sensasi bercinta dengan perempuan hamil.
Andre tidak menyangka, kalau mereka justru ingin menikmati tubuh Amara secara bersamaan. Padahal, dalam perjanjiannya, mereka akan melakukannya secara bergantian.
Saat Andre sedang menikmati minumannya, ia melihat ada kerumunan orang di depan penginapan tempat dia menginap. Karena penasaran, Andre langsung menuju lokasi kejadian.
Tetapi, saat ia menuju ke sana, tiba-tiba mobil ambulans datang menghalangi pandangan nya. Andre menyerobot masuk dalam kerumunan orang. Hingga dirinya langsung terkejut, dengan kedua mata membelalak tak percaya. Andre melihat wajah Amara yang bersimbah darah, karena darah yang berasal dari kepalanya, mengalir ke wajahnya. Andre juga melihat, darah yang mengalir di sela kaki Amara. Saking terkejut, Andre memaku tubuhnya dengan gemetar.
Tubuhnya limbung, dan hampir saja terjatuh, kalau saja tidak ada orang yang tiba-tiba memeganginya dari belakang.
"Maaf," ucap Andre pada orang yang telah menolongnya. Orang itu mengangguk, kemudian pergi.
Saat berbalik, pintu mobil ambulans tertutup, dan mobil itu pun langsung melaju membelah jalanan padat kendaraan dengan bunyi sirine yang khas.
Andre terduduk lemas di depan ruang IGD. Seorang dokter dan perawat yang baru saja menangani Amara keluar dari ruangan itu, membuat Andre segera bangkit dan langsung mendekati sang dokter.
"Bagaimana keadaannya Dok?"
"Apa Anda keluarga pasien?"
"Iya Dok, bagaimana keadaannya?"
__ADS_1
"Maaf, kami semua sudah berusaha keras, tapi takdir berkata lain." Sang dokter menepuk pundak Andre dengan pelan. Membuat Andre menatap sang dokter dengan tatapan tak percaya.
"Tidak mungkin Dokter, Amara tidak mungkin meninggalkan aku, tidak mungkin!" Andre berteriak, merasa terkejut dan tak percaya mendengar perkataan dari dokter yang baru saja memeriksa Amara.
"Sekali lagi maaf, kami, semua dokter yang tadi menangani istri Anda, sudah bekerja keras, tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Istri Anda sudah kehilangan nyawa saat sampai di rumah sakit," jelas dokter dengan raut wajah menyesal.
"Tidak! Tidak mungkin Dokter, Dokter pasti salah, Amara tidak mungkin meninggal, beberapa saat yang lalu dia masih baik-baik saja, dia tidak mungkin meninggal." Andre terus berteriak histeris sambil menangis, membuat beberapa perawat akhirnya memegangi tubuh Andre yang tiba-tiba ingin menyerang sang dokter.
"Dokter pasti salah, Amara tidak mungkin meninggal! Tidak mungkin!"
Sang dokter menatap Andre dengan iba. Sebagai dokter, kejadian seperti ini sudah sering di hadapinya, jadi ia tidak merasa kaget dengan reaksi lelaki di hadapannya ini.
"Tapi ada kabar baik, bayi Anda masih hidup, sebentar lagi, kami akan segera melakukan operasi Cesar."
Andre menatap dokter tampan itu dengan tatapan tak percaya. Tetapi melihat anggukan kepala dari sang dokter, membuat air mata Andre kembali menangis, dan berusaha melepaskan diri dari cekalan dua perawat yang memeganginya.
"Berdoalah, semoga operasinya berjalan lancar." Dokter itu kembali menepuk bahu Andre kemudian segera berlalu dari hadapan Andre diikuti oleh beberapa perawat yang mengikutinya dari belakang. Sesaat kemudian, Andre melihat tubuh Amara di bawa keluar dari ruang IGD. Beberapa tim medis bergegas mendorong brankar, dengan tubuh Amara yang berbaring di atasnya dengan wajah pucat.
Jantung Andre serasa di paksa berhenti berdetak. Saat ia melihat wajah pucat Amara, rasa sakit seketika menyapu seluruh ruang hatinya.
'Amara ... sayang ....'
Andre menangis sejadi-jadinya, kemudian dengan cepat ikut berlari di belakang tim medis yang membawa Amara ke ruang operasi. Tubuh Andre kembali limbung, saat ia melihat pintu ruangan itu tertutup.
'Amara, sayang ... ini tidak mungkin, kamu tidak akan mungkin meninggalkan aku begitu cepat kan?'
__ADS_1
'Amara ... maafkan aku. Kalau bukan karena aku, kamu tidak akan mungkin mengalami kecelakaan.'
'Sayang ... Amara ...."
Andre menangis sejadi-jadinya, ia sungguh merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Amara. Perbuatan bejatnya, yang begitu tega menjual tubuh Amara pada lelaki hidung belang, ternyata berakibat fatal buat Amara.
'Amara, sayang ... maafkan aku.'
Andre menangis sambil terus menyebut nama Amara. Rasa bersalah dan rasa penyesalan, perlahan menusuk hatinya.
Amara, perempuan cantik itu adalah perempuan yang berlahan memasuki hatinya, entah sadar atau tidak, Amara lah satu-satunya perempuan terlama menjadi yang pasangan bercintanya.
Biasanya, Andre terus saja bergonta-ganti pasangan untuk memuaskan hasratnya. Andre selalu menggunakan pengaman, setiap kali berhubungan dengan perempuan-perempuan di luar sana, tapi entah kenapa, saat dirinya bermain dengan Amara, Andre tidak menggunakannya. Ia ingin sekali memiliki dan menikmati tubuh Amara dan memasukkan benihnya di rahim Amara. Karena ia berharap, bisa memiliki Amara setelah perempuan itu hamil.
Tetapi ternyata, saat Amara hamil, perempuan itu justru memutuskan untuk menikah dengan Bian. Kemarahan muncul di hatinya. Awalnya ia sangat marah, tapi setelah Amara kembali menghubunginya, kemarahan Andre perlahan memudar. Apalagi, saat perempuan itu masih tetap memberikan tubuhnya, meski dia sudah menikah dengan Bian.
Namun, Andre tetaplah Andre, seorang bajingan seperti Andre pasti tidak akan gampang berubah, apalagi mengakui kalau sebenarnya ia sudah jatuh cinta pada Amara. Saat ia kembali mempunyai kesempatan untuk mendapatkan perempuan itu, dia justru terus menyakitinya, dengan menjadikan perempuan itu sebagai budak pemuas hasratnya. Karena semenjak Amara tinggal di apartemennya, Andre tidak pernah lagi bermain dengan perempuan lain, selain Amara. Karena bagi Andre, tidak ada perempuan lain yang sehebat Amara saat bermain di atas ranjang. Hanya Amara lah, perempuan satu-satunya yang selama ini bisa memuaskan hasratnya, bukan hanya memuaskan hasratnya, tapi juga memuaskan hatinya. Memuaskan hatinya yang benar-benar telah jatuh cinta pada perempuan itu.
Andre masih terus menangis, menyesali perbuatannya, perbuatan yang akhirnya membuat orang yang di cintainya meninggal dunia.
'Amara ... sayang, maafkan aku, maafkan aku ....'
.
.
__ADS_1
Maaf ya kakakΒ² tercinta, baru bisa up sekarang πππ jangan marah ya ...βΊοΈ
Yang sukar ceritanya, ikutin terus kelanjutannya ya, jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak Β².....πππ