
Alea duduk di meja makan bersebelahan dengan Rajasa Papanya. Sementara Anita duduk di depan suaminya. Mereka makan malam bersama. Sebenarnya Kenzo malam ini mengajak Alea makan malam, tapi Alea menolak karena malam ini ia ingin makan malam bersama keluarganya.
"Biasanya makan malem bareng pacar, tumben sekarang ada waktu buat Mama." goda Anita sambil menatap Alea yang langsung cemberut mendengar ucapan Mamanya.
"Nggak usah meledek, Ma. Nanti giliran Alea nggak ada, Mama nangis lagi kayak kemarin." Rajasa menatap istrinya yang mulai iseng. Sedangkan Anita nyengir kuda.
"Habisnya, Mama kan kangen, Pa." Anita menatap suaminya kemudian tatapannya beralih pada Alea.
"Mama lebay deh, padahal tiap hari juga ketemu," sungut Alea. Semenjak Alea berkumpul lagi dengan kedua orang tuanya, Alea merasa kedua orang tuanya sekarang sedikit demi sedikit sudah mulai berubah. Mereka tidak lagi seperti dulu. Mereka berdua sekarang lebih perhatian dan mulai mau mengerti dirinya.
Dalam hati Alea bersyukur, karena kedua orang tuanya mungkin sudah menyadari kesalahannya waktu itu.
"Pa, ada yang ingin aku bicarakan." Alea menatap Papanya.
"Tinggal bicara saja, Papa mendengarkan."
"Nanti selesai makan, Pa." Rajasa mengangguk, kemudian mereka bertiga melanjutkan makan malam mereka dalam diam.
Selesai makan malam, mereka bertiga duduk di ruang keluarga.
Alea duduk di bawah sofa dengan beralaskan karpet tebal. Sementara Mama dan Papanya duduk di atas sofa.
"Kamu mau ngomong apa, Al?" Rajasa membuka pembicaraan.
"Apa ini soal hubunganmu dengan Kenzo?" Rajasa menatap putrinya dengan seksama.
Alea mengangguk, kemudian menghela nafas panjang.
"Ada apa? Apa dia menyakitimu? Bilang sama Mama, sayang ...." Anita mengusap kepala Alea.
"Bukan, Ma. Kenzo sangat baik. Tidak mungkin dia berani menyakitiku," ucap Alea menatap kedua orang tuanya.
"Hanya saja ... ada yang mau merusak hubunganku dengan Kenzo."
"Maksudnya?" Rajasa dan Anita berucap bersamaan.
Alea menceritakan semua masalah yang terjadi pada keluarga Kenzo. Menceritakan tentang Marsha yang mengancam keluarga Kenzo, dan juga tentang kekhawatiran keluarga Kenzo terhadap keselamatan dirinya.
Rajasa dan Anita mendengarkan cerita Alea dengan seksama. Mereka ikut prihatin sekaligus senang karena keluarga Kenzo lebih memilih kebahagiaan Kenzo dan Alea dibandingkan perusahaannya.
"Papa akan bantu sebisa Papa nanti. Papa juga tidak akan membiarkan calon besan Papa menanggung masalah ini sendirian."
"Bener, Pa. Kita harus bantuin mereka," ucap Anita.
"Alea, mulai sekarang kamu harus hati-hati, Nak. Mama tidak akan membiarkan kamu pergi sendirian sekarang. Mama akan suruh orang untuk mengawasimu." Anita menatap Alea dengan khawatir.
"Papa akan siapkan bodyguard untukmu."
"Papa ...." Alea menatap kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Jangan berlebihan deh, Pa."
"Kami khawatir sama kamu, Nak. Mama dan Papa tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu." Anita menatap Alea dengan khawatir.
"Mama tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa sama aku, Ma. Kenzo juga sudah siapin orang untuk menjagaku. Jadi Mama jangan khawatir." Alea menatap Mamanya. Kemudian memeluk perempuan itu.
"Mama kasihan sama kamu, Nak. Giliran mau bahagia, ada saja cobaan yang menghalangi." Anita menangkup wajah Alea.
"Anggap saja ini sebagai cobaan hubungan kamu dengan Kenzo. Semoga kalian berdua bisa melaluinya dengan baik." Alea menganggukkan kepalanya mendengar ucapan mamanya.
"Kalau kamu memang mencintai Kenzo, kamu harus percaya sama dia, Nak. Kamu harus yakin sama dia. Mama yakin, perempuan itu pasti akan menghalalkan segala cara untuk memisahkan kalian."
Alea mengangguk membenarkan ucapan Mamanya. Kemarin, setelah Marsha pergi dari rumah Kenzo, Kenzo dan Alea sudah berbicara dari hati ke hati.
'Meski nantinya, aku dalam keadaan yang tidak mungkin bisa kau percaya, aku harap kau tetap mempercayaiku. Karena aku, Kenzo Luiz, tidak akan pernah menyakitimu.'
Ucapan Kenzo kemarin kembali terngiang di telinganya.
"Tapi Papa tetap akan mengawasimu, Alea. Papa nggak mau ambil resiko."
"Mama juga. Bila perlu, Mama akan ikut kemanapun kamu pergi."
"Mama!"
"Sayang, Mama khawatir sama kamu."
"Tapi nggak berlebihan kayak gitu juga, Ma. Kalau nanti aku mau kencan sama Kenzo, memangnya Mama mau ikut juga?" sungut Alea kesal.
"Kalau kamu kencan sama Kenzo, Mama ngumpet lah! Mama janji, nggak bakalan ngintip."
"Mama!"
Anita dan Rajasa tertawa, sementara Alea terlihat kesal.
"Kamu tenang saja, Mama dan Papa akan mengawasimu diam-diam. Tapi kamu juga harus ingat, harus berhati-hati dan selalu kirim lokasi di manapun kamu berada. Mengerti?" ucap Rajasa. Dalam hati, sebenarnya ia sangat khawatir. Hanya saja, Rajasa tidak menunjukkan pada Alea dan istrinya.
Meski Rajasa belum pernah bertemu dengan Marsha, tapi dari cerita Alea, ia sudah bisa menebak, orang seperti apa perempuan yang bernama Marsha itu.
*****
Marsha berteriak kesal saat ia baru saja selesai bicara dengan Papinya di telepon. Marsha membanting ponsel pintarnya hingga hancur berkeping-keping.
'Bisa-bisanya, Papi menolak keinginanku!'
Marsha menggeram marah, sambil menggeretakkan giginya. Tangannya terkepal erat seiring emosinya yang meledak-ledak. Kata-kata Daniel, Papinya beberapa saat lalu di telepon kembali terngiang.
"Kamu pikir, menghancurkan perusahaan seseorang itu perkara gampang? Semudah membalikkan telapak tangan? Jangan gila kamu, Marsha!" Daniel, Papinya Marsha berteriak marah di ujung telepon.
"Tapi, Pi ... mereka sudah menolakku dan juga mempermalukan aku, Pi. Mereka sangat sombong! Bukankah selama ini Papi masih memberikan suntikan dana buat perusahaan Om Chandra?"
__ADS_1
"Marsha! Kamu tahu apa tentang perusahaan? Papi sudah lama tidak membantu mereka lagi. Perusahaan mereka saat ini sudah menjadi salah satu perusahaan terkuat di negara ini. Bahkan perusahaan Papi saja sekarang berada di bawah perusahaan mereka." Marsha tersentak kaget mendengar ucapan papinya.
"Perusahaan Om Chandra yang saat ini dipegang oleh Sean di negara ini, maju pesat. Jadi, jangankan menghancurkan, berniat menyentuhnya saja, itu sama saja kita bunuh diri!" ucap Daniel penuh penekanan.
"Marsha, Papi menyuruhmu pulang ke Indonesia bukan untuk membuat onar, tapi biar kamu bisa introspeksi diri. Sudah banyak masalah yang kau buat di sini, makanya Papi menyuruhmu pulang. Tapi jika kamu membuat masalah lagi di sana, Papi pastikan, kali ini Papi tidak akan membantumu lagi!"
"Papi ...."
"Lupakan obsesimu pada Kenzo! Lupakan keinginan gilamu itu untuk menghancurkan perusahaan Om Chandra. Karena kau bukanlah tandingan mereka, Marsha, kau bukanlah apa-apa buat mereka!" Daniel masih berteriak marah.
"Papi peringatkan sekali lagi, Marsha. Jangan pernah membuat masalah lagi di sana. Papi sudah cukup muak menangani semua masalah yang kau timbulkan di negara ini. Jika suatu hari Papi dengar kamu terlibat masalah lagi, Papi tidak akan membantumu! Ingat itu Marsha!"
Marsha kembali berteriak marah. Ia melemparkan semua barang-barang yang ada di kamarnya.
"Keterlaluan! Kenapa mereka tidak pernah mengerti keinginan aku?" teriak Marsha.
Kedua tangannya meraih apa saja yang ada di atas nakas, kemudian melemparkannya. Mulutnya tak berhenti berteriak dan memaki.
"Dasar Alea sialan!"
"Kalau bukan karena perempuan brengsek sepertimu, Kenzo pasti sudah lama jatuh dipelukanku!"
"Brengsek kau, Alea ...!"
Marsha berteriak kencang, penuh amarah. Tapi kedua matanya mengeluarkan air mata.
"Kenapa, Ken? Kenapa kau tak mau melihatku sedikit saja? Bertahun-tahun aku mencintaimu, tapi kenapa tak sedikitpun kau mau menatapku?" lirih Marsha.
Marsha mengenal Kenzo saat dirinya sama-sama menjadi mahasiswa di sebuah universitas yang cukup bergengsi di negara J. Saat itu, Marsha juga baru pindah dari Indonesia ke negara J menyusul kedua orang tuanya yang sudah terlebih dahulu tinggal di sana.
Saat bertemu Kenzo, Marsha jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi sikap Kenzo yang begitu dingin membuat Marsha susah untuk mendekatinya. Kenzo begitu tertutup, apalagi terhadap perempuan.
Karena penasaran dan juga perasaan yang sudah tidak bisa dibendung lagi, Marsha yang pada dasarnya adalah gadis yang agresif, akhirnya langsung mengungkapkan perasaan cintanya pada Kenzo. Dengan penuh rasa percaya diri, Marsha mendekati Kenzo dan mengungkapkan perasaannya. Tapi sayang, Kenzo menolaknya mentah-mentah.
Marsha yang dari dulu tidak pernah ditolak oleh pria manapun akhirnya merasa tertantang. Harga dirinya jatuh di hadapan Kenzo, tapi bukannya malu, Marsha justru semakin berambisi untuk memiliki Kenzo.
Setahun mengejar Kenzo, Marsha masih juga belum berhasil menaklukkan pria itu. Sampai pada suatu hari saat Marsha kembali mengatakan perasaannya, Kenzo hanya menjawab dengan datar seperti biasanya. Alasan yang sama setiap kali ia menyatakan cintanya pada pria itu.
"Aku tidak bisa menerimamu atau perempuan manapun, karena dalam hatiku, hanya ada satu perempuan yang aku cintai di dunia ini. Hanya ada dia yang selalu tersimpan di hatiku, sampai kapanpun!"
Semenjak penolakan Kenzo yang terakhir kali, Marsha kemudian sedikit menjauh. Mencoba melupakan Kenzo, Marsha akhirnya menerima ajakan kencan dari beberapa pria di kampusnya. Tapi bukannya melupakan, melihat Kenzo setiap hari di kampus yang sama justru membuatnya semakin tergila-gila. Saking gilanya, Marsha seringkali membayangkan wajah Kenzo setiap kali dirinya memuaskan hasratnya dengan pria-pria yang berkencan dengannya.
Marsha mencintai Kenzo, tapi ia juga tak menolak saat pria-pria itu memuaskan hasratnya. Buat Marsha, yang terpenting hatinya tetap milik Kenzo, sedangkan tubuhnya, tergantung siapa yang mau memuaskannya.
"Alea, tunggu saja pembalasanku, kalau aku tidak bisa memiliki Kenzo, jangan harap, kau pun bisa memilikinya."
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, koment dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏