MATI RASA

MATI RASA
Part 130 Ijab Kabul


__ADS_3

Pandangan mata Kenzo menatap ke arah depan, di mana tamu undangan sudah mulai berdatangan. Terlihat banyak tamu yang sudah mulai masuk dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Namun, orang yang ditunggunya belum juga datang.


'Cepatlah datang, Sayang, aku mohon ....'


Kenzo dengan rasa gelisah terus menatap ke arah depan. Sementara Bella masih asyik menebar senyuman. Begitupun dengan Sarah dan Rudi. Mereka tidak pernah menyangka akan berada dalam situasi seperti saat ini. Rencana mereka benar-benar berhasil dengan sempurna.


Biasanya mereka akan langsung meninggalkan korban mereka setelah berhasil menipu dan menggasak semua hartanya. Namun kini, sepertinya rencana mereka akan mereka ubah. Chandra Adiguna adalah mangsa terbesar yang pernah mereka dapatkan. Mereka sangat yakin, dengan berada di tengah-tengah keluarga ini, hidup mereka pasti akan terjamin sampai tujuh turunan.


"Kali ini, Bella benar-benar mendapatkan ikan besar, Ma." Rudi berbisik di telinga Sarah dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Kamu benar, Pa. Setelah ini, kita tidak perlu capek-capek lagi cari mangsa baru. Aku yakin, kita bisa hidup enak di tengah-tengah keluarga ini." Sarah tersenyum tak kalah ceria.


Kenzo menatap Rania dengan putus asa. Sementara Rania tersenyum menguatkan Kenzo. Mereka semua saat ini sudah duduk di depan penghulu yang sudah bersiap untuk menikahkan Kenzo dan Bella. 


Bella menatap Kenzo dengan hati berdebar. Pria itu terlihat sangat tampan dengan memakai jas hitam yang membuat penampilannya semakin mempesona.


'Akhirnya, aku bisa juga memilikimu, Ken. Sebentar lagi, aku yakin kau pasti akan takluk padaku dan melupakan perempuan itu.'


"Apa kamu sudah siap?" Pak Penghulu yang sedari tadi duduk di depan Kenzo sambil mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melakukan ijab kabul menatap Kenzo yang terlihat gugup.


Pria paruh baya itu kemudian tersenyum saat melihat Kenzo yang terlihat tegang sekaligus gugup. Hal ini memang sering terjadi pada mempelai pengantin pria saat akan melakukan prosesi ijab kabul. Jadi, Pak Penghulu itu seolah memaklumi.


Kenzo menatap canggung sambil tersenyum. Jantungnya berdetak dengan cepat, rasa gelisah dan gugup bercampur jadi satu. Pandangannya kembali mengarah ke depan, meneliti satu persatu tamu undangan yang baru saja datang. Seketika dia bernafas lega saat pandangannya tak sengaja bertemu dengan orang yang sedari tadi ditunggunya.


"Akhirnya, kau datang juga, Sayang ....'


Kenzo menatap tak berkedip melihat perempuan cantik yang berjalan ke arahnya. Di sebelahnya terlihat Anita dan juga Rajasa mengapit tangan Alea. Mereka bertiga berjalan beriringan. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian seluruh tamu undangan. Bagaimana tidak, semua orang di dunia bisnis sudah pasti mengenal baik siapa Rajasa.


"Benar-benar pasangan yang serasi." 


Semua tamu undangan tersenyum saat Rajasa dan Anita menebar senyum ke arah mereka. Begitupun Alea. Meskipun dadanya berdebar-debar tak menentu seiring rasa sakit yang menyelinap di sudut hatinya, Alea mencoba tersenyum. Sekuat tenaga dia menahan rasa sakit dan air mata yang hampir saja tumpah di sudut matanya.


Kedua netranya bertemu pandang dengan pria itu. Hatinya berdenyut nyeri saat dia melihat pria itu duduk di sana, bersebelahan dengan perempuan cantik yang kini sedang tersenyum bahagia.


'Harusnya aku yang ada di sana saat ini, Ken, bukan perempuan itu.'

__ADS_1


'Apa kau benar-benar sudah melupakan aku?'


'Kau bahkan menggelar pesta pernikahan ini sesuai dengan pesta pernikahan impian kita.'


Alea menggenggam erat tangan Anita dan juga Rajasa.


"Aku nggak kuat, Ma." Bibir Alea bergetar menahan tangis.


Rajasa menatap Alea yang sudah terlihat berkaca-kaca.


"Kamu pasti kuat, Alea. Papa percaya sama kamu. Setelah hari ini, semua pasti akan baik-baik saja." Alea menatap papanya, kemudian mendongakkan kepalanya, agar air matanya tidak jadi keluar.


"Mama yakin, kamu pasti kuat menghadapi semua ini, Percayalah! Selalu ada hal baik setelah yang terburuk." Anita menggenggam erat tangan Alea, menguatkan hati putri tercintanya itu.


Mereka bertiga melangkah mendekat ke arah mempelai pengantin yang sebentar lagi melakukan ijab kabul.


"Kenapa kita tidak duduk di belakang saja?" tanya Alea. Dia benar-benar dengan sekuat tenaga menahan semua gejolak di dadanya.


Melihat orang yang dicintainya duduk bersama perempuan lain dan akan melakukan prosesi ijab kabul adalah hal paling buruk buat Alea. Jangankan di dunia nyata, di mimpi pun Alea tidak pernah membayangkannya.


"Mama tahu perasaan kamu, Alea. Tapi kamu harus kuat. Kita tunjukkan pada mereka, kalau kita baik-baik saja walaupun mereka sudah menyakiti kita." Alea mengangguk mendengar ucapan mamanya. Kemudian kembali berjalan penuh percaya diri sambil mengulas senyuman di bibirnya.


'Mama benar, aku harus terlihat baik-baik saja.'


Kenzo menatap tak berkedip ke arah Alea. Perempuan itu seolah menghipnotis dirinya.


"Apa sekarang kamu sudah siap?" Ucapan Pak Penghulu itu menyadarkan Kenzo.


Bella yang menyadari tatapan Kenzo pada Alea, merasa sangat kesal. Dalam hatinya, dia mengumpat habis-habisan.


'Sebentar lagi, Kenzo akan menjadi milikku. Kau lihat saja, setelah ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu mendekati Kenzo lagi.'


Bella menatap Alea dengan kesal. Merasa iri dengan penampilan Alea yang begitu cantik dan menawan. Gaun yang dipakai oleh Alea pun sangat bagus, tak kalah dengan gaun pengantin yang dia kenakan saat ini.


'Harusnya perempuan itu saat ini sedang menangis karena pria pujaannya menikah dengan perempuan lain, tetapi kenapa dia malah datang ke sini dengan penampilan yang begitu elegan?'

__ADS_1


'Sial!'


Bella mengepalkan tangannya di bawah meja. Namun, bibirnya tersenyum penuh pesona. Sebentar lagi proses ijab kabul dilaksanakan, Bella melirik ke arah Kenzo yang sedang mendengar arahan dari Pak Penghulu sebelum proses ijab kabul  berlangsung.


Pria itu terlihat gugup, tetapi tak mengurangi aura ketampanannya. Kenzo memperhatikan baik-baik saat Pak Penghulu itu sedang menjelaskan apa yang harus dilakukannya sebelum melakukan ijab kabul.


Pandangan Kenzo beralih pada kedatangan Alea yang melangkah mendekatinya. Kenzo benar-benar terpesona saat melihat perempuan itu terlihat sangat cantik dan memukau. Kenzo bahkan merasa kesal saat melihat beberapa pasang mata menatap tak berkedip ke arah Alea.


"Bagaimana? Apa kita sudah bisa mulai sekarang?" 


Kenzo menatap ke arah kedua orang tuanya yang menganggukkan kepalanya dan juga menatap ke arah kedua orang tua Alea yang juga menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, seolah ikut merestui pernikahannya dengan Bella. Kenzo juga menatap Bella dan kedua orangtuanya yang sedari tadi tak pernah lepas menyunggingkan senyum bahagia mereka.


Kenzo menjabat tangan Pak Penghulu, hatinya berdebar-debar, karena takut salah mengucapkan kata. Padahal dari semalam sebenarnya dia sudah menghapal di luar kepala, tetapi karena gugup, akhirnya apa yang sudah ada di kepalanya buyar seketika.


Alea menatap pria itu dengan berkaca-kaca, dadanya terasa sesak. Alea menatap Anita sambil menggelengkan kepalanya. Air matanya sudah menetes tak bisa di bendung lagi. Alea sungguh tidak kuat melihat pemandangan di depannya.


"Tenang, Sayang ...." Anita memegangi tangan Alea, memberikan kekuatan padanya untuk tetap sabar, tetapi Alea kini tidak lagi ingin menuruti kata-kata Anita. Perempuan itu bangkit dari duduknya tepat saat Pak Penghulu memulai proses ijab kabulnya.


"Kenzo Luiz Adiguna, engkau aku nikahkan dan kawinkan dengan Alea Karenina Rajasa binti Rajasa Yudistira yang wali bapaknya telah berwakil kepadaku dengan mas kawin xxx dibayar  tunai!"


Suara penghulu menggema di seluruh ruangan, Alea  menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Pak Penghulu.


"Aku terima nikah dan kawinnya Alea Karenina Rajasa binti Rajasa Yudistira dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Kenzo dengan lancar dan suara lantang mengucapkan kalimat ijab kabul.


Alea tercengang ....


"Kenzo! Kenapa kau menyebutkan nama perempuan itu?" 


.


.


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya Kakak² 🙏🙏🙏


 

__ADS_1


__ADS_2