MATI RASA

MATI RASA
Part 106 Kabar Tentang Bian


__ADS_3

Alea menatap pria yang kini terlelap di sampingnya. Mereka saat ini masih berpelukan dalam selimut yang sama. Entah apa yang merasuki Alea hingga ia mau memberikan semuanya pada Kenzo, padahal mereka belum terikat oleh tali pernikahan.


Dalam hati Alea, semalam ia hanya ingin melakukan itu karena ia ingin Kenzo percaya padanya. Alea ingin membahagiakan Kenzo, seperti pria itu yang selalu membahagiakannya.


Alea baru saja berniat bangkit dari tidurnya, saat Kenzo tiba-tiba mengeratkan pelukannya pada tubuh polosnya.


"Sayang, mau kemana?" Kenzo mendekap erat tubuh perempuan yang sangat dicintainya itu. Menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.


"Aku mau mandi, Ken, gerah." Alea mencoba menggeser tubuhnya, tapi Kenzo justru makin mengeratkan pelukannya.


"Nanti, sebentar lagi. Aku belum puas peluk kamu. Nggak akan pernah puas malah," ucap Kenzo dengan suara khas bangun tidur.


Wajah Alea bersemu merah mendengar ucapan Kenzo. Akhirnya ia membiarkan pria itu memeluknya erat dari belakang. Bibir pria itu bahkan sudah mulai nakal.


"Hentikan, Ken. Kau sudah melakukannya berulang kali semalam, aku lelah." Alea menatap wajah tampan Kenzo yang saat ini sudah ada di hadapannya dengan posisi tubuh Kenzo menghimpit tubuh Alea di bawahnya.


"Apa kau marah? Atau kau menyesal karena sudah memberikannya padaku?" Netra Kenzo menatap Alea, memindai wajah Alea yang terlihat cantik, meski ia baru saja bangun tidur.


Alea tersenyum tipis, membelai wajah tampan di depannya itu.


"Bangun, Ken, tubuhmu berat." Alea menggeser tubuhnya, agar Kenzo segera bangun dari atas tubuhnya. Namun, bukannya bangun, Kenzo malah semakin merapatkan tubuhnya.


"Ken!" Alea mendelik kesal saat tiba-tiba Kenzo malah dengan iseng menggerakkan tubuhnya.


Kenzo terkekeh, mengecup bibir Alea sebentar, kemudian bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Alea menghela nafas lega. Ia pikir Kenzo akan kembali kehilangan kendali, tetapi pria itu ternyata justru lebih memilih menyelesaikannya sendiri di kamar mandi.


******


Alea melingkarkan tangannya di perut rata Kenzo. Alea baru saja selesai mandi saat melihat Kenzo sedang asyik memasak di dapur. Pria itu terlihat keren bahkan saat dirinya sedang memasak.


"Kau sudah selesai mandi?"


"Hmm."


"Aku sedang memasak sayang ...."


"Aku tahu."


"Terus?"


"Aku hanya ingin memelukmu. Kenapa tidak boleh?" Alea mengerucutkan bibirnya di balik punggung Kenzo. Kenzo tertawa kecil. Pria itu kemudian berbalik, menatap wajah cemberut Alea.


"Bukan nggak boleh, hanya saja aku lagi memasak, sayang." Kenzo mematikan kompor kemudian menyuruh Alea duduk di meja makan.


"Kau tunggu di sini saja." Meski dengan raut wajah cemberut, tapi Alea menurut saat Kenzo menyuruhnya duduk dan menunggu pria itu di meja makan.

__ADS_1


Tiba-tiba saja bayangan masa lalunya bersama Bian terlintas. Saat Alea masih menjadi istri Bian, hampir setiap hari ia memasak untuk Bian. Bukan hanya memasak untuk Bian, tapi juga untuk Amara, perempuan simpanan yang dipilih Bian untuk menjadi madunya.


Tidak ada satupun kenangan indah selama Alea hidup bersama Bian, yang ada hanyalah kenangan-kenangan pahit yang menyakitkan.


Alea tersenyum getir. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan bersama Kenzo sekarang. Kenzo, pria itu, setiap harinya selalu memberikan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan saat dirinya masih bersama Bian.


'Aku sangat mencintaimu, Ken. Terima kasih atas semua kebahagiaan yang selalu kau berikan padaku.'


Alea menatap Kenzo yang sedang tersenyum ke arahnya dan berjalan menuju meja makan sambil membawa piring berisi nasi goreng spesial.


"Kita sarapan ini saja dulu, aku lupa belum belanja buat isi kulkas." Kenzo nyengir kuda sambil meletakkan piring berisi nasi goreng itu di depan Alea.


"Enak sekali ...." Alea mengunyah makanannya dengan mata berbinar.


"Pasti dong, sayang, kan masaknya pakai cinta." Kenzo mengedipkan matanya sambil tersenyum yang sialnya justru membuat wajah tampannya semakin terlihat tampan. Membuat Alea seketika terpesona.


"Makan dulu, sayang, lihatin akunya nanti saja." Kenzo dengan jail meniup kedua mata Alea yang menatapnya tak berkedip.


Wajah Alea merona malu, kemudian melahap makanannya.


'Bisa-bisanya aku terpesona melihatnya. Padahal, setiap hari juga aku melihat wajahnya.'


"Pelan-pelan makannya sayang, " ucap Kenzo sambil mengusap sudut bibir Alea, membuat Alea semakin salah tingkah.


Selesai makan, kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu duduk sofa sambil menonton film romantis yang sengaja Kenzo siapkan sebelum Alea datang ke apartemennya. Kebiasaan mereka berdua saat menghabiskan waktu bersama, mereka pasti selalu menonton film romantis. Bahkan terkadang juga menonton drama korea kesukaan Alea.


"Papa?" Alea memberikan ponsel itu pada Kenzo.


"Ada apa Papa menelepon kamu, Ken?"


"Papa?" Kenzo balik bertanya. Tapi tangannya menerima ponsel yang diberikan Alea.


"Mungkin dia nanyain kamu karena semalem kamu nggak pulang," ucap Kenzo sambil menatap wajah cantik Alea.


"Gedein suaranya," perintah Alea yang langsung di ikuti oleh Kenzo.


"Halo, Ken, apa Alea ada bersamamu?" Suara Rajasa di seberang sana terdengar khawatir.


"Iya, Pa. Alea ada di apartemen bareng sama aku. Ada apa, Pa?"


"Papa dapat kabar tentang Bian, Ken. Baru saja Laras dan Aditama memberi kabar pada Papa kalau Bian ...."


"Bian kenapa, Pa!" Alea merebut ponsel Kenzo.


"Alea!" Rajasa berteriak kaget di ujung telepon. Padahal niatnya ia ingin biar Kenzo saja yang menyampaikan kabar itu.

__ADS_1


"Ada apa dengan Bian, Pa?"


"Alea, Bian ...."


"Kenapa, Pa? Apa tante Laras sudah menelepon? Bian baik-baik saja kan, Pa?" potong Alea cepat.


"Sayang, biarkan Papa bicara dulu," tukas Kenzo.


"Tapi, Ken ...."


Kenzo mengambil alih ponselnya dari tangan Alea. Meletakkan jarinya di depan hidungnya, memberi isyarat pada Alea agar Alea tetap diam.


"Halo, Pa. Ada apa?" ucap Kenzo. Ponselnya masih dalam mode pengeras suara, hingga Alea pun masih bisa mendengarnya.


"Bian, Ken. Bian semalam kritis, dan akhirnya nyawanya tidak bisa di selamatkan."


"Apa?" Kenzo berteriak kaget.


"Baru saja Aditama dan Laras menelepon, mereka menyuruh kita untuk memberitahu Alea," lanjut Rajasa.


Alea terpaku mendengar suara papanya yang terdengar dengan jelas. Sedangkan Kenzo merasa tak percaya dengan kabar yang baru saja ia dengar.


"Ken, Kenzo! Kau dengar apa yang Papa katakan bukan?"


"Ken!"


"I--iya, Pa ...."


"Papa sudah kirimkan bukti video yang Aditama kirim ke nomor ponselmu, nanti tolong kamu kasih tahu Alea, Papa tidak tega. Papa benar-benar tidak menduga kalau Bian akan pergi dengan cara seperti ini." Rajasa menghela nafas panjang.


"Kamu harus menjaga Alea, Ken, Papa takut Alea akan kembali terguncang saat mendengar kabar tentang Bian," ucap Rajasa mengakhiri pembicaraan.


"Baik, Pa."


Kenzo menutup panggilan teleponnya dengan tangan gemetar. Sementara Alea berdiri dengan tatapan mata kosong, kepalanya menggeleng pelan. Merasa tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


'Tidak! Kau tidak boleh mati, Bian. Tidak boleh.'


"Sayang ...." Kenzo mendekati Alea kemudian langsung menahan tubuh Alea yang sedikit limbung.


"Bian .... " Suara Alea lirih, sebelum akhirnya tak sadarkan diri.


"Alea!"


.

__ADS_1


.


Yang suka ceritanya, jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏


__ADS_2