MATI RASA

MATI RASA
Part 84 Restu Orang Tua Alea


__ADS_3

Bian menggendong Devan sambil sesekali mencium gemas pipi bocah laki-laki itu. Pagi itu, setelah Bian mengusir Lisa, perempuan itu benar-benar angkat kaki dari rumah. Awalnya kedua orang tua Bian tidak setuju kalau Bian memecat Lisa. Tapi setelah Bian memberitahukan perbuatan Lisa, akhirnya mereka setuju. Mereka tidak menyangka kalau Lisa akan berbuat senekad itu pada Bian.


"Mama tidak menyangka kalau Lisa akan berbuat serendah itu, Bi," ucap Laras, mamanya Bian.


"Aku juga tidak menyangka, Ma, kalau dia akan nekad, padahal aku sudah memperingatkannya berkali-kali." Bian menatap mamanya yang saat ini sedang menyuapi Devan.


"Mungkin karena kita terlalu baik dan selalu percaya padanya Bi, makanya dia seperti itu, ngelunjak! Dia pikir dia siapa?" Laras berucap kesal.


"Sudahlah, Ma, nggak usah dipikirin. Nanti kita cari lagi orang yang bisa membantu kita untuk merawat Devan."


"Tidak usah mencari perawat lain Den Bian, biar Bibi saja yang merawat Den Devan." Mbok Rasti menawarkan diri.


"Mbok Rasti yakin, bisa merawat Devan? Kerjaan Mbok Rasti kan banyak." Laras menatap ke arah asisten rumah tangga kepercayaannya itu.


"Kan sekarang ada Surti, Nyonya." Mbok Rasti menjawab dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Memangnya dia bisa diandalkan, Mbok?" Laras menengok ke arah Mbok Rasti yang sedang menyiapkan makan siang. Siang hari ini, Bian sengaja pulang untuk makan siang di rumahnya.


"Bisa Nyonya, selama ini dia bekerja dengan baik membantu pekerjaan saya," jawab Mbok Rasti.


"Kalau begitu baiklah, mulai sekarang, Mbok Rasti bisa membantuku untuk merawat Devan." Laras menatap Mbok Rasti dengan tersenyum.


"Siap Nyonya!" jawab Mbok Rasti semangat. Ia sangat senang bisa mengasuh Devan. Karena dengan berdekatan dengan Devan, Mbok Rasti bisa merasakan bagaimana rasanya merawat anak kecil.


Mbok Rasti bercerai dengan suaminya, karena dirinya belum juga hamil. Setelah bercerai dengan suaminya, baru di ketahui kalau Mbok Rasti sedang mengandung. Tapi keadaan saat itu tidak berpihak padanya. Karena terlalu stres akibat perceraiannya, akhirnya Mbok Rasti mengalami keguguran.


Dalam kondisi yang sangat buruk saat itu, akhirnya Mbok Rasti bertemu dengan Laras tanpa sengaja. Perempuan baik di depannya ini membawanya pulang ke rumah ini dan menyuruhnya kerja di sini hingga sampai saat ini.


Mbok Rasti mengajak Devan bermain di taman. Sementara Laras dan Bian menikmati makan siang yang sudah disiapkan oleh Mbok Rasti.


*****


Alea menatap kedua orang tuanya dengan tatapan kesal. Semenjak kepulangannya ke rumah ini, baru hari ini ia dapat bertemu dengan orang tuanya. Karena setelah Alea sampai di rumah, ternyata orang tuanya begitu sibuk, hingga mereka tidak sempat untuk berbincang lama.


" Mama dan Papa sengaja kan, biar aku ketemu Bian di sini?"


Rajasa dan Anita tersenyum melihat wajah kesal Alea.


"Kita memang sengaja menyuruhmu pulang ke sini agar kau bisa bertemu dengan Bian, Alea." Anita menjawab pertanyaan Alea dengan raut wajah menyesal.


"Kau harus bangkit, dan menyelesaikan masalahmu dengan Bian. Mama tahu ini berat, tapi kau harus bisa melewatinya." Anita menatap wajah cantik putrinya.


"Sayang, Mama tidak ingin kalau kamu terus menerus dihantui masa lalu, kau harus melupakannya."


"Mama dan Papa jangan khawatir, aku sudah melupakannya."


"Syukurlah ...." Anita dan Rajasa bernafas lega kemudian menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Apa sekarang kau sudah jatuh cinta pada pria itu? Menurut Mama, Kenzo pria yang sangat baik. Iya kan, Pa?"


"Mama!" Wajah Alea merona, membuat Anita dan Rajasa tersenyum.


"Kali ini, Mama dan Papa tidak akan memaksamu. Terserah kamu saja, Mama akan mendukung semua keputusanmu. Iya kan Pa?"


"Papa setuju."


"Setuju apa, Pa?" Alea menatap Rajasa.


"Setuju, seandainya kamu mau menikah dengan Kenzo."


"Papa!" teriak Alea dan Anita bersamaan.


"Kenapa? Kalian berdua sangat cocok. Papa sangat setuju seandainya kalian berdua memang berjodoh." Rajasa menatap Alea yang terlihat malu-malu.


"Sayang, Maafkan Papa karena selama ini Papa tidak pernah ada untuk mendukungmu. Gara-gara kesibukan Papa, Papa sampai tidak tahu apa yang kau alami selama ini. Maafkan papa sayang ...."


Alea beranjak dari duduknya, kemudian memeluk Papanya. Begitupun dengan Anita yang langsung memeluk Alea dengan haru.


"Maafkan Mama dan Papa sayang ...."


Alea memeluk kedua orang tuanya bergantian. Dalam hati, ia sudah memaafkan semua kesalahan orang tuanya yang telah menjodohkan dirinya dengan Bian waktu itu.


Kenzo datang ke rumah Alea, dengan senyum sumringah menghias bibirnya. Kenzo melangkah ke ruang keluarga setelah asisten rumah tangga Alea memberitahukan bahwa Alea dan kedua orang tuanya sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Sore, Om, Tante." Kenzo menyapa kedua orang tua Alea dengan senyum mengembang di bibirnya.


Kenzo tersenyum sambil mengangguk.


"Duduklah!" Rajasa mempersilahkan Kenzo duduk di sebelah Alea.


"Terima kasih, Om."


Rajasa dan Anita saling pandang saat melihat senyum yang terpancar di wajah Alea dan Kenzo.


"Mereka berdua sangat serasi ya, Pa." Anita berbisik di telinga Rajasa.


"Benar, Ma. Kelihatannya tebakan kita benar, kalau saat ini mereka sedang menjalin hubungan. Hubungan yang lebih dari sekadar teman." Rajasa juga berbisik sambil terus menatap putrinya.


"Kenzo, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu." Rajasa menatap Kenzo dengan serius. Pria ini adalah pria yang paling berjasa pada Alea. Pria yang selalu menemani putrinya saat keadaannya sedang terpuruk. Hingga Alea akhirnya bisa bangkit seperti sekarang.


"Om Rajasa mau bicara apa? Aku siap mendengarkan, Om." Kenzo sedikit gugup. Ia memang sering bertemu dengan Rajasa, tapi baru kali ini ia merasakan begitu gugup saat berbicara dengan ayah dari kekasihnya itu.


"Kenzo, apa selama ini kau mencintai putriku?" Rajasa menatap pria itu dengan tajam.


"Benar, Om. Aku sangat mencintai Alea, dari dulu sampai sekarang," jawab Kenzo mantap.

__ADS_1


"Apa kau mau berjanji, kalau kau tidak akan menyakiti Alea?"


"Tentu saja, Om. Aku tidak akan pernah menyakiti Alea. Selama ini, Alea sudah mengalami hal-hal yang terburuk. Aku tidak mungkin akan mengulangi kesalahan yang sama untuk menyakiti Alea, Om."


"Aku mencintainya, aku akan melakukan apapun untuk membahagiakannya. Aku janji, Om." Kenzo berucap dengan mantap sambil menatap Rajasa.


"Izinkan aku untuk tetap bersama Alea, Om. Aku mencintainya, aku ingin sekali membahagiakannya."


Rajasa dan Anita saling berpandangan. Mereka menatap satu sama lain, kemudian mengangguk bersamaan.


"Kau sangat tahu apa yang sudah Alea lewati selama ini, Ken. Bahkan sebagai orang tua, kami berdua merasa gagal karena tidak bisa membahagiakan Alea. Kami terlalu sibuk, hingga kami tidak tahu apa yang sudah terjadi pada putri kami." Rajasa berbicara dengan suara bergetar menahan tangis.


"Papa ...."


"Sayang, maafkan Papa, karena selama ini Papa tidak memperhatikanmu, Papa bahkan tidak tahu kalau selama ini kau sangat menderita." Buliran bening akhirnya menetes di pipi Rajasa.


"Maafkan Papa, karena Papa tidak bisa menjagamu dengan benar." Rajasa menatap putrinya dengan raut wajah menyesal.


"Papa ...." Alea mendekati Rajasa kemudian memeluk pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu.


"Bukan salah Papa, seandainya waktu itu aku tidak bodoh karena terlalu mencintai dia, aku juga pasti tidak akan menderita."


"Sayang ...." Mereka berdua kembali berpelukan. Anita bahkan sudah ikut menangis, sementara Kenzo menatap Alea dengan tatapan tak terbaca.


"Aku merestui kalian berdua. Kenzo, berjanjilah padaku, kalau kau akan menjaga putriku. Bahagiakan dia, jangan sampai kau membuatnya kembali terluka."


"Aku janji, aku akan membuat Alea bahagia, Om. Aku tidak akan membiarkan dia menangis lagi. Terlalu banyak luka yang sudah Alea alami. Aku akan membuat Alea bahagia, hingga dia lupa bagaimana rasanya menangis karena sedih," ucap Kenzo dengan penuh keyakinan.


"Kami percaya sama kamu, Kenzo, jaga Alea baik-baik, seperti yang selama ini kau lakukan. Kami merestui kalian berdua." Rajasa dengan kedua mata berkaca-kaca menatap ke arah Kenzo dan Alea bergantian.


"Terima kasih, Om, Tante. Karena telah memberikan aku kesempatan untuk menjaga Alea.


"Papa, terima kasih."


"Kamu pantas bahagia, Nak."


"Mama ...." Alea kembali menangis haru sambil memeluk Anita.


Kenzo tersenyum bahagia, tidak menyangka kalau restu dari orang tua Alea datang begitu cepat. Padahal, dirinya dan Alea bahkan belum punya rencana apapun untuk hubungan mereka yang baru berumur seminggu. Ya! Hari ini, tepat seminggu setelah mereka meresmikan hubungan mereka.


Kenzo menatap Alea yang kini sedang menatapnya.


'Aku janji, aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu, Alea.'


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, dan Votenya ya kakak ² 🙏🙏🙏


Aku sayang kalian 😘😘😘


__ADS_2